NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 jiwa yang saling menyalahkan

Saka terbangun dengan sentakan hebat. Keringat dingin membasahi sprei rumah sakit yang kasar. Ia segera memeriksa selang infusnya—kosong. Cairan misterius yang disuntikkan "Dokter Aris" semalam telah habis terserap ke dalam darahnya.

Ia menoleh ke samping, berharap melihat Anita tertidur di kursi kayu itu. Namun, kursi itu kosong. Hanya ada sisa kupasan apel yang sudah mencokelat karena oksidasi.

"Anita?" panggil Saka, suaranya parau dan bergetar.

Tidak ada jawaban. Keheningan rumah sakit pagi itu terasa menekan, seolah-olah dinding-dinding beton ini sedang membisikkan sebuah rahasia gelap. Dengan sisa tenaganya, Saka mencabut paksa jarum infus dari punggung tangannya—mengabaikan rasa perih dan darah yang merembes—lalu turun dari ranjang.

Langkahnya gontai saat ia keluar menuju koridor. Di sana, ia melihat kerumunan perawat dan beberapa polisi di depan ruang administrasi.

"Permisi, Suster," Saka mencegat seorang perawat yang tampak pucat. "Pasien yang menunggu saya... di mana dia?"

Perawat itu menatap Saka dengan tatapan nanar. "Dek Saka... kamu tidak tahu? Tadi subuh ada kecelakaan di depan gerbang rumah sakit. Seorang gadis tertabrak lari saat hendak membelikan sarapan untukmu."

Dunia Saka seakan runtuh. Hutang nyawa. Kata-kata Dokter Aris terngiang seperti kutukan. Ia berlari—mengabaikan rasa sakit di perutnya—menuju ruang IGD. Di sana, di balik tirai hijau yang setengah terbuka, ia melihat sesosok tubuh mungil yang ditutupi kain putih.

Saka jatuh berlutut. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa aku kembali kalau hanya untuk membunuhnya lebih cepat?

Namun, saat ia hendak menyentuh kain putih itu, sebuah tangan dingin memegang bahunya.

"Jangan menyentuhnya jika kamu belum siap melihat konsekuensi dari keberadaanmu," bisik sebuah suara.

Saka menoleh cepat. Itu Dokter Aris, tapi kali ini ia tidak mengenakan jas dokter. Ia memakai setelan hitam rapi dengan jam saku perak yang berdetak nyaring di genggamannya. Anehnya, orang-orang di sekitar seolah tidak melihat keberadaan pria itu.

"Kamu pelakunya, kan?!" Saka mencengkeram kerah baju Aris dengan kemarahan yang meluap. "Kamu yang mengatur kecelakaan ini!"

Aris tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Bukan aku, Saka. Itu Paradoks. Waktu adalah penyeimbang yang kejam. Kamu hidup di masa lalu yang seharusnya bukan milikmu lagi, maka waktu mengambil 'jangkar' terdekatmu agar aliran sejarah tetap stabil."

"Ambil nyawaku saja! Jangan dia!" teriak Saka.

"Bisa saja," Aris mengangkat jam sakunya ke depan mata Saka. Jarum jamnya berputar ke belakang dengan kecepatan tinggi. "Tapi ada syaratnya. Kamu harus masuk ke dalam 'Celah'. Tempat di mana waktu tidak bergerak, di mana kamu harus melawan versi dirimu yang lain—Saka yang asli dari tahun 2014 ini, yang jiwanya terlempar ke kegelapan saat kamu mengambil alih tubuhnya."

Saka tertegun. Jadi, selama ini jiwa Saka yang asli masih ada di suatu tempat, meronta ingin kembali ke tubuh remajanya?

"Jika kamu menang, kamu bisa menukar garis waktu ini. Anita hidup, tapi kamu akan terlupakan oleh semua orang. Kamu akan menjadi hantu dalam sejarah. Bagaimana?"

Saka menatap kain putih yang menutupi Anita, lalu menatap Aris. Tidak ada keraguan di matanya. "Bawa aku ke sana."

Tiba-tiba, lantai rumah sakit itu seolah mencair menjadi tinta hitam. Aris membuka jam sakunya, dan sebuah ledakan cahaya putih membutakan segalanya. Saka merasa tubuhnya ditarik ke dalam pusaran vakum yang menyakitkan.

Saat ia membuka mata lagi, ia tidak berada di rumah sakit. Ia berada di sebuah tempat yang sangat ia kenal: Lorong gelap tempat ia tewas di masa depan.

Namun, di ujung lorong itu, berdiri seorang remaja dengan seragam SMA yang compang-camping dan wajah yang penuh amarah. Itu adalah Saka versi 2014.

"Kamu mencuri hidupku," ucap Saka remaja itu dengan suara bergema. Di tangannya, ia memegang pisau yang sama yang pernah membunuh Saka dewasa.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!