Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Pagi yang menyenangkan.
Sisi merasa puas dengan apa yang dilakukannya pada Lucien semalam. Ia mendengar pria itu mengutuknya sepanjang malam, tapi ia tidak peduli. Bukan kebiasaan Sisi mengingkari janji pada orang yang sudah membuat kesepakatan dengannya terutama jika orang itu penting.
“Selamat pagi, Kak,” sapa Lyra dengan riang.
Sisi membalas dengan senyum manis, tetapi senyum itu langsung lenyap saat melihat Lucien masuk ke ruang makan sambil membawa beberapa tas belanja.
“Aku punya oleh-oleh,” ujar Lucien singkat sambil duduk di samping Sisi.
Sisi tidak menanggapi.
Lucien membagikan hadiah untuk keluarganya kecuali Sisi. Menyebalkan.
“Kenapa Sisi tidak dapat?” Lady langsung menyinggung.
“Tidak apa-apa, Ibu. Yang penting Lucien pulang dengan selamat tanpa membawa wanita lain, aku sudah senang,” jawab Sisi dengan nada manis yang jelas-jelas palsu.
“Tidak, ambil saja punyaku, Kak,” kata Lyra sambil menyodorkan hadiah dari kakaknya, sebuah tas Louis Vuitton.
“Tidak usah. Itu untukmu,” tolak Sisi.
“Lucien, aku kembalikan punyaku kalau Sisi tidak dapat,” ujar Lyra sambil meletakkan kembali hadiahnya. Lady dan Lord melakukan hal yang sama.
Mata Sisi membulat melihat reaksi mereka.
Astaga.
“Wow,” gumam Lucien dengan tatapan takjub.
“Ibu, terima saja. Tidak apa-apa,” ujar Sisi sambil mengembalikan hadiah mereka satu per satu dengan senyum meyakinkan. “Aku harus pergi. Ada pekerjaan.”
“Tapi Kak, bukankah kau cuti seminggu?” tanya Lyra heran.
Sisi terdiam sesaat.
“Hmm… ada hal mendesak. Aku harus masuk,” jawabnya cepat sambil menghindari tatapan tajam Lucien.
“Baiklah,” ucap Lyra meski jelas tidak percaya.
Sebenarnya Sisi tidak memiliki pekerjaan apa pun. Ia hanya lebih memilih bekerja daripada berada satu ruang dengan Lucien.
Lagipula, kenapa ia harus peduli soal oleh-oleh? Ia juga menolak ajakan Lucien semalam. Mereka impas.
Sisi baru saja hendak masuk ke mobilnya, tiba-tiba seseorang meraih pergelangan tangannya.
Ia terkejut saat melihat Lucien berdiri di hadapannya dengan tatapan gelap.
Sisi berusaha menarik tangannya.
“Ada apa?” tanyanya heran.
“Kau tidak akan ke kantor,” ucap Lucien dingin.
Mulut Sisi terbuka.
“Apa?” tanyanya tak percaya.
“Jangan buat aku mengulanginya,” kata Lucien dengan nada rendah.
“Sialan, Lucien! Aku ada pekerjaan!” protes Sisi.
Lucien menyeringai jahat.
“Kau pilih. Tidak masuk hari ini… atau tidak masuk selamanya.”
Sisi terengah.
“Apa masalahmu? Kenapa tiba-tiba seperti ini?” serunya hampir berteriak.
Lucien tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu sebelum menyeret Sisi masuk ke dalam mobil BMW-nya.
Sisi mencoba keluar, tapi pintu sudah terkunci otomatis.
“Dasar gila,” geramnya.
“Kau ikut denganku, Istri,” ujar Lucien sambil menyeringai.
Sisi mulai gugup.
“Ini penculikan, bajingan!” bentaknya panik.
Lucien tertawa kecil sambil menyetir.
“Aku suamimu. Sejak kapan itu disebut penculikan?”
Sisi menghela napas dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
“Katakan saja mau membawaku ke mana. Kita sama-sama sibuk,” ucapnya berusaha tenang.
“Aku tidak bisa melewatkan waktu bersama istriku,” ejek Lucien.
Sisi mendengus.
“Mana kameranya? Berhenti berakting. Ini tidak cocok untukmu,” sindirnya.
Lucien menatapnya lama, lalu tertawa tanpa humor.
“Kau benar-benar tidak tertarik padaku, ya?”
“Iya. Menyebalkan kalau tertarik padamu,” jawab Sisi santai. “Jadi jangan salah paham.”
Senyum Lucien menghilang seketika.
“Kuharap kau serius,” ucapnya dingin saat mobil berhenti di depan restoran mewah.
Sisi mengangguk tanpa ragu dan turun dari mobil. Lucien mengikutinya. Seorang resepsionis langsung menyambut dan mengantar mereka ke meja reservasi.
“Mau pesan apa?” tanya Lucien datar sambil membuka menu.
Sisi menutup menunya kembali.
“Terserah. Samakan denganku saja,” jawabnya malas sambil membuka ponsel.
Pesan masuk dari: baby boy
Jangan lupa makan malam kita nanti :)
Sisi tersenyum tipis saat membacanya, lalu membalas.
Iya, tapi di tempat murah ya.
Jericho selalu menjadi tempat nyaman baginya.
“Kau terlihat seperti sedang jatuh cinta.”
Sisi tersedak meski tidak sedang minum. Ia langsung menurunkan ponselnya.
Lucien menatapnya dengan sorot gelap.
“A--” suara Sisi terpotong saat ponselnya kembali berdering.
Aleta.
Sisi menghela napas lega.
“Boleh aku angkat?” tanyanya. Lucien mengangguk.
“Tapi di depanku.”
Menyebalkan.
“Halo, Aleta.”
(Wow, sekarang Aleta? Biasanya ulet bulu) sindir Aleta.
“Ada apa?”
(Kau tidak bilang kau ada kencan dengan Jericho?)
“Penggosip,” gumam Sisi.
(Bukan itu. Ada rapat mendesak. Cuti kamu dipotong.)
Sisi melirik Lucien.
“Kirim detailnya lewat pesan. Aku sedang bersama suamiku,” ucapnya singkat.
(Oke.)
Telepon ditutup tepat saat makanan datang.
“Ada tempat lain yang harus kita datangi?” tanya Sisi tiba-tiba.
Lucien menatapnya.
“Harusnya ada. Tapi sepertinya kau lebih sibuk dariku,” jawabnya dengan nada kecewa.
“Aku sudah bilang aku ada urusan,” balas Sisi.
Lucien mengerucutkan bibir.
“Lucu. Istriku menolak makan malam denganku dan lebih memilih pekerjaannya,” katanya dramatis.
Sisi memutar bola mata dan kembali makan.
Ia benar-benar tidak mengerti Lucien, kadang posesif, kadang dingin seperti es. Hidup memang rumit. Sama seperti matematika: mencari X, lalu tiba-tiba muncul Y.