NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Selesai makan malam, Karina kembali ke kamarnya. Ia duduk dekat jendela, menatap ke tengah taman. Anak kecil itu membuatnya sangat penasaran dan malam ini ia berharap bisa melihat anak itu lagi.

Setengah jam lebih Karina duduk disana, tidak melihat apapun kecuali kesunyian malam yang membuatnya merasa kecil. Karina beberapa kali menguap, matanya sangat berat karena dari kemarin tidak bisa tidur puas.

Karina menarik tirai jendela untuk menutup kaca, namun haru setengah gerakan, ia melihat gadis kecil itu berdiri di tengah taman. Gadis itu menatap kearahnya. Mulutnya bergerak sedikit, dia sedang mengatakan sesuatu.

“Apa yang dia katakan?” Sebelum Karina bisa memahami, gadis itu berbalik dan pergi. Sama persis seperti tadi pagi.

Karina tidak jadi tidur, ia mengambil jaket tebal dari dalam lemari yang tersedia di kamar itu. Setelah membungkus tubuhnya dengan jaket yang kebesaran di tubuhnya, Karina pun keluar dari kamarnya.

Ia turun ke lantai dasar sambil mengawasi sekitar, takut Hugo tiba-tiba muncul dan –

“Mau kemana?”

Tuh kan! Baru juga di pikirin langsung muncul suaranya dari atas. Karina mendongak dan mendapati Hugo tengah berdiri di anak tangga paling atas. Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, dia memasukkan tangannya ke saku celana kemudian turun dan dalam sekejap tiba di belakang Karina.

“Aku mau keluar sebentar,” Jawab Karina

Hugo menarik tangan Karina hingga gadis itu membentur dada bidangnya. “Kabur?”

“Nggak,” Karina menggeleng. “Aku nggak kabur, aku beneran ingin keluar sebentar.”

Tanpa berkata apa-apa lagi Hugo menarik pinggang Karina lalu membawanya turun. Karina mendongak menatap wajah Hugo, ia tidak mengerti kenapa pria ini terkadang memperlakukannya seolah ia kekasihnya.

Mereka tiba di lantai satu dengan Hugo yang masih merangkul pinggangnya.

“Kita mau kemana?” Tanya Karina

“Keluar,” Hugo membawa Karina ke pintu belakang yang langsung menghadap ke taman belakang. “Kamu mau keluar kan?”

Karina hanya bisa mengangguk kaku.

“Ayo,”

Pintu terbuka lebar, angin malam menyusup masuk ke dalam rumah membuat beberapa tirai bergoyang. Karina mengikuti Hugo keluar.

Mata Karina tertuju ke tengah taman, tempat anak kecil itu selalu berdiri dan menatapnya.

“Apa anak kecil itu anakmu?” Tanya Karina saat mereka sampai di tengah taman, keduanya hanya berdiri karena bangku panjang basah oleh embun dan tidak bisa di duduki.

“Anak kecil?”

Karina memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Hugo, untuk pertama kalinya sejak bertemunya, Karina bisa sedikit menebak. Hugo terkejut, namun Karina tidak bisa menebak Hugo terkejut karena apa. Mungkin karena pertanyaannya atau mungkin karena Karina melihat anaknya.

“Nggak ada anak kecil di rumah ini,” Wajah Hugo kembali tenang, nada suaranya tetap santai.

“Ada, kamu terkejut barusan. Kamu mengelak karena takut anak itu aku jadikan sandera supaya kamu mau membebaskan aku, iya kan?” Entah keberanian darimana Karina dengan lancar mengatakan itu.

“Kamu pikir bisa pergi dengan cara seperti itu?”

“A–aku…”

Hugo mengangkat dagu Karina, menekan keras sudut bibirnya. Matanya berubah dingin. “Apa karena aku memperlakukan kamu lebih baik daripada yang lain, kamu bisa berkata semaumu?”

Karina menggigit bibirnya, cemas, mulai menyesali tindakan sok beraninya. Bagaimana mungkin tadi sesaat ia lupa kalau pria yang sedang berdiri di sampingnya adalah pria yang mengerikan.

“Dengar Nona Joram, kamu masih berdiri disini karena aku masih butuh tubuhmu untuk memuaskan nafsuku. Setelah aku puas, kamu tidak lebih dari seseorang yang tidak berharga.” Hugo menyeringai lebar, tangannya turun menyusuri leher putih Karina yang masih menyisakan bekas percintaan tadi siang. “Jadi mulai sekarang bersikaplah lebih manis dan sadar dimana posisimu.”

Dengan sekuat tenaga, Karina menahan diri agar tidak menangis. “Y–ya, aku tahu.”

“Bagus. Masuk sekarang!”

Karina mengangguk cepat kemudian memutar badannya dan berlari masuk ke dalam. Tepat saat kakinya hampir melangkah ke ambang pintu, ia tersandung, terjatuh di dekat pintu.

“Aduhh…” Karina menatap nanar ke lututnya yang berdarah, ia menangis tanpa bisa dicegah. Bukan karena sakit di kakinya, tapi karena sakit di dalam hatinya setelah mendengar perkataan Hugo.

“Jangan nangis,”

Karina melihat sepasang kaki mungil berdiri di depannya, Karina mengusap matanya untuk melihat lebih jelas. Anak kecil bergaun putih itu sekarang berdiri di depannya.

“Kamu siapa?” Tanya Karina menekan dadanya yang kian sesak, isakannya masih tersisa tetapi sebisa mungkin Karina menghentikan tangisnya.

“Jangan nangis,” Tangan mungil anak itu mengusap air mata Karina untuk kedua kalinya hari ini. Karina menatap wajah anak itu lama, sangat lama hingga mungkin bisa membuat tidak nyaman.

Anak itu pergi setelah mengusap air mata Karina, dia berlari kecil ke ujung taman. Karina bangun, kali ini ia akan mengikutinya dan melihat kemana anak itu sebenarnya pergi.

Baru melangkah beberapa langkah pergelangan tangannya di cekal oleh Hugo, lalu dengan seenaknya mengangkat Karina dan membawanya ke dalam.

“Turunin! Aku bisa jalan sendiri,” protes Karina sambil berusaha turun dari bahu Hugo.

Namun pria itu tidak memperdulikan protesannya, dia membawa Karina ke ruang keluarga. Hugo melemparkan Karina ke sofa, kemudian pria itu pergi begitu saja. Entah kemana.

“Nggak jelas banget,” gerutu Karina, selagi tidak ada Hugo dalam jarak dekat, ia cukup berani untuk menggerutu dan mengumpat.

Pandangan Karina jatuh ke lututnya yang tergores dan mengeluarkan darah. “Shit! Tadi nggak sakit, sekarang malah sakit.”

Ia mengusap lututnya yang berdarah sepelan mungkin, saling fokusnya ia tidak menyadari Hugo kembali sambil membawa kotak obat.

Pria itu berjongkok di depan Karina, membuat Karina kaget.

“Astaga, hantu!” Teriak Karina, ia menatap Hugo sambil mengerjapkan matanya. “Lho… Tuan Fuller, anda kembali?”

“Panggil Hugo,” koreksi Hugo, kemudian meraih lembut kaki Karina.

“Eh! Apa yang kamu lakukan?”

Hugo menatapnya tajam. “Mengobati, kamu nggak boleh terluka kecuali aku yang melukai.”

Hampir saja Karina tersenyum, tapi langsung luntur mendengar lanjutan kalimatnya.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!