Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Mogok
Malam menyapa, Zella memutuskan untuk melaksanakan sholat isya di hotel ini. Begitu juga Saman, Indri dan Taufik. Keluarga Zella yang lain sudah pulang saat acara selesai.
"Bu, kami tunggu di mobil ya." ucap Saman.
"Iya, aku mau pamit dulu sama Zella, soalnya kan kita nggak langsung pulang, tadi Bapak bilang mau mampir di tengkulak dulu."
Indri mengayunkan sepasang kakinya cepat, tak sabar bertemu Zella.
Ceklak!
Saat yang sama pintu terbuka, tangan Indri hampir mengetuk wajah Zella.
"Panjang umur! Tadi aku mau panggil mama." Zella langsung menarik Indri ke dalam kamarnya.
Indri mengamati keadaan kamar hotel yang Zella tempati. "Sayang banget ya Zell, kamar seindah ini tak kalian gunakan untuk malam pertama."
"Hush mama mikirnya kejauhan! Kalau Abi dengar takutnya dia tersinggung."
"Memangnya kenapa?"
"Kata Arumi, Abi tak bisa melakukan itu."
"Jadi sebab ini kalian memilih pulang malam ini juga?"
"Bukan, di hotel ini tak ada alat bantu seperti di rumahku, kata Abi dia tak mau mempersulitku karena harus membantunya berpindah."
"Oh iya kamu benar. Lalu Abi mana?"
"Entah, tadi dia pergi sama Miko." Zella langsung teringat pesan Abi padanya.
"Aku mau repotin mama lagi, boleh?"
"Apa? Selama mama bisa, mama bantu."
"Abi berpesan, mas kawinku jangan dibawa ke kediamannya. Dia minta aku simpan sendiri. Nggak mungkin kan aku tinggalin di rumah. Jadi mama yang bantu simpan ya."
"Emas antam 400 gram." Indri menatap kepingan emas yang ada dalam kotak itu. Yang sebelumnya hanya dia lihat sekilas, kini benda itu berada di tangannya. "Berat banget rasanya kalau mama nyimpan ini. Kalau mama mati gimana kamu ambilnya?"
"Tolong ya ma."
Tak ada orang lain lagi selain dirinya yang bisa membantu Zella, dengan berat hati Indri mengiyakan untuk menyimpan kepingan emas itu. "Jangan lupa kamu keluarkan zakat disetiap tahunnya, emas simpanan seperti ini wajib dikeluarkan zakatnya."
"Insya Allah, mama. Tapi mama juga jangan lupa ingatin aku saat sampai waktunya."
Dengan berat hati Indri pergi membawa kepingan logam mulia itu. Sedang Zella di kamar sana tengah membereskan semua pakaiannya, kini dia mengenakan setelan santai ternyamannya. Kegiatan Zella terjeda, saat handphonenya berdering. Terlihat pesan dari Abi, kalau dia dan Miko menunggu di mobil.
Perhatian Zella tertuju pada icon kecil bewarna merah yang ada di sudut kanan atas handphonenya, "sepuluh persen? Huh, semoga bisa bertahan sampai rumah."
Abi yang berada di mobilnya. Jas rapi yang sebelumnya membungkus tubuh itu, kini sudah terlepas, hanya tersisa kemeja putih yang setengah bagian atas kancingnya terbuka, yang masih menempel di bagian atas tubuh pria itu.
Obrolannya bersama Thom sebelum Akad, sangat menganggu pikiran Abi. Bermacam kekhawatiran muncul saat mengetahui adiknya itu mengagumi Zella.
"Cantik juga calon istrimu, bi. Nggak nyangka aku, Anjani bisa menemukan wanita secantik itu. Masih ada lagi nggak yang seperti itu, aku juga mau." ucap Thom.
"Kan sudah ibu bilang padamu Bi, Thom juga pasti pengen istri seperti Zella kalau sudah melihatnya," ucap Melvita.
Namun keduanya langsung diam, saat Anjani mendekat.
Mungkin bagi mereka hanya sebatas angin lalu, namun bagi Abi, ini seperti badai yang siap menerjang rumah tangganya. Thom selalu ingin mengambil apa saja yang dia miliki. Bahkan Anjani yang berstatus istrinya sudah dikuasi Thom. Melihat Zella berjalan ke arah mobilnya, tiba-tiba satu ide muncul di kepala Abi.
"Miko, kamu ada kenalan seorang wanita karir sukses kaya dan cantik?"
"Pak Abi mau nikah lagi?" Miko balas bertanya.
"Hus! Bukan buat saya. Tapi buat Thom."
"Bisa-bisa Anjani ngamuk kalau Thom nikah." jawab Miko.
"Cuma bisa ngamuk dibelakang layar, mana berani dia ngamuk terang-terangan, ingat status dia istriku."
"Kenapa Pak Abi tak ceraikan saja wanita durjana itu, nggak sakit mata Pak Abi lihat dia?"
"Terlalu mudah jika cerai, aku masih menyusun rencana untuk membalas Anjani."
"Bagaimana perasaan Anjani saat Pak Abi dan Zella menjalani ikatan suami-istri sepenuhnya? Sedang dia sejak menikah tak pernah Pak Abi sentuh."
"Itu juga yang aku pikirkan. Apakah dia ngamuk atau merasa terhina? Aku juga penasaran."
"Kali ini kita memikirkan hal yang sama, pak." Miko tertawa membayangkan Anjani tak terima melihat Abi dan Zella mesra.
"Lagian bukan salahku tak menyentuh dia, kan tujuan dia nikah sama aku agar bisa lebih dekat sama Thom, apa yang dia tuju itu yang aku bantu. Aku hanya memanfaatkan dia untuk membuat Fatma cemburu."
"Anda harus ingat juga, kalau Anjani orangnya Thom!"
"Itu selalu aku ingat."
"Dulu Fatma dibuat cemburu sama Anjani, sekarang Nyonya Zella yang membuat Anjani cemburu." Miko tertawa membayangkan yang akan terjadi.
Abi juga tertawa membayangkan hal serupa. Namun melihat Zella mengetuk pintu mobil, keduanya kompak berhenti tertawa. Miko langsung membuka kan pintu untuk Nyonya baru mereka.
"Bagaimana? Semuanya sudah?" tanya Abi.
"Sudah, tak ada yang tertinggal." Zella langsung masuk dan duduk di kursi tepat di samping Abi.
"Mahar milikmu sudah kamu amankan?"
"Seperti permintaanmu, aku sudah menyerahkan maharku buat disimpan mama. Kalau suatu saat kau membutuhkannya, aku siap memberikannya padamu."
"Aku tak akan membutuhkannya. Mengapa aku memintamu menyerahkan mahar itu pada ibumu? Karena aku akan memberimu lebih dari itu."
Zella menatap dalam wajah lelaki yang sudah sah menjadi imamnya, bukan harta yang dijanjikan Abi yang membuatnya terpana. Entah ketampanan lelaki itu sangat meningkat saat sah menjadi suaminya.
Miko tersenyum sendiri melihat keadaan di belakangnya. Perlahan Miko melajukan mobil meninggalkan area Hotel. Merasa keadaan canggung, dia inisiatif menekan tuas yang membuat sekat antara ruang depan dan belakang naik. Kini dia tak bisa lagi melihat dan mendengar keadaan di bagian belakang itu.
"Hey Miko! Kenapa kamu aktifkan sekat pembatas!" Suara Abi terdengar dari speaker kecil yang ada di samping Miko.
Miko meraih benda yang menjadi alat komunikasinya dengan orang yang ada di belakangnya. "Salah saya apa Pak? Saya hanya memberi kenyamanan buat pengantin baru."
"Turunin Miko! Kami tak kekurangan tempat hanya untuk bermesraan!"
Miko tertawa, dia terpaksa menurunkan kembali pembatas yang terlanjur dia naikkan.
"Dikira orang puber yang lagi kasmaran di mana aja digas terus!" omel Abi saat pembatas sudah sepenuhnya terbuka.
"Saya hanya memberi ruang, barang kali Pak Abi dan Nyonya Zella malu karena adanya saya di sini."
"Nggak ada malu-malu, kami bukan anak muda yang malu-malu sama pasangan!" Zella menambahi.
"Jadi kamu nggak akan malu-malu sama saya?" tanya Abi.
"Eh malu apa dulu?" Zella tak mengerti kemana arah bicara Abi.
Miko dibuat tersenyum melihat wajah Zella yang memerah karena Abi. "Justru sekarang kebanyakan anak muda nggak ada malu-malunya, ngalah-ngalahin yang berumur."
"Udah bahas malunya, kau fokus nyetir saja!" tegur Abi.
"Siap Tuan!"
Beberapa waktu keadaan hening, Abi sibuk dengan handphonenya, Miko fokus dengan pekerjaannya mengemudikan mobil ini. Sedang Zella, memandangi jalanan yang dilewati.
Sebentar lagi aku harus meninggalkan kota ini. Bagaimana kehidupanku di kota yang baru nanti?
Tak terasa, mobil yang Miko kemudikan memasuki jalanan kecil menuju rumah Zella. Hanya mobil mereka yang melintasi jalan itu.
Perhatian Abi tertuju pada Zella. "Jalanan menuju rumah kamu lumayan jauh area sepinya. Kalian nyaman aja dengan lingkungan itu?" tanya Abi.
"Sejauh ini nyaman. Karena Ayah Saman buka perkebunan, jadi memilih area yang jauh dari perkampungan, agar tak ada tetangga yang terganggu dengan kegiatan berkebun keluarga kami. Apalagi peternakan, ini sangat mengganggu kalau di tengah pemukiman."
"Kata Pak Abi saat pertama kali menyusuri jalanan ini, seperti tempat jin buang anak, sepi pake banget!" Miko menambahi.
"Namanya juga perkebunan dan peternakan, sangat nyaman di tempat yang jauh dari pemukiman, ya saat proses pembersihan akan berisik. Kalau ada tetangga pasti terganggu. Apalagi Ayah punya peternakan, ini mengganggu banget buat tetangga, selain bau, lalatnya juga minta ampun!"
"Aku suka dengan pemikiran Ayah sambungmu. Dia membeli lahan yang luas banget, dia memikirkan tempat tinggal dan usaha sepaket."
"Ayah Saman pendatang di sini, karena pekerjaan lama berkebun dan beternak. Jadi saat memilih tempat tinggal baru, beliau memikirkan bagaimana menjalankan usaha yang beliau geluti sebelumnya di tempat baru. Ya rumah kami sekarang."
"Paling nyaman sih jauh dari tetangga," ucap Miko.
"Tapi Ayah Saman sangat disukai warga desa terdekat, karena perkebunan yang dibuka menjadi lapangan pekerjaan buat mereka."
"Penerangan jalan di sini bagus. Walau jalan dan sekitar hanya perkebunan, jadi tak terasa horor." Abi menikmati pemandangan malam yang dilewati.
"Karena hanya rumah kami yang ada di sana, pekerja kalian yang menginap di tenda nggak ada yang kepo. Andai di tengah pemukiman, wah rame dah diintrogasi setiap orang yang lewat."
"Berapa kilometer lagi sampai rumah Zella?" tanya Abi.
"Kurang lebih dua kilometer lagi Pak." sahut Miko.
"Bisa ngebut?" tanya Abi.
"Sudah nggak tahan ya?" goda Miko.
"Ngawur! Ini obatku ketinggalan di rumah Zella. Kayaknya yang di mobil nggak sengaja kebawa juga." Abi memeriksa kabinet penyimpanan di dekatnya.
"Pak Abi gimana? Masih aman?" Miko mulai menaikan kecepatan mobil.
"Sepertinya aman, tapi yang nggak aman ini AC kenapa kurang dingin ya?" Abi merasa sekujur tubuhnya tak enak, wajahnya mulai dibasahi keringat dingin.
"Miko! Lebih cepat! Sepertinya keadaan Abi memburuk." Zella panik melihat Abi kesulitan bernapas.
Nguung ....
Suara halus yang panjang, membuat mobil yang dikemudikan Miko tiba-tiba berhenti.
"Ada apa Miko?" Zella semakin panik.
"Mobilnya mogok!" Miko tak kalah panik, melihat keadaan Abi, sedang mobil tiba-tiba mati, Miko merasa berada di tepi jurang.
"Mogok? Mobil sebagus ini bisa mogok?" Zella sangat frustasi.
"Namanya juga benda, bisa mati juga. Manusia aja sampai ajal juga mati." Miko masih berusaha menyalakan mobil itu dengan pengetahuannya.
Keringat Miko mengucur deras, apa saja yang dia setel, tak bisa menghidupkan kembali mobil ini. "Bagaimana ini? Jalanan sepi! Mobil mogok! Obat Pak Abi ketinggalan! Ya Tuhan ...." Miko meluapkan kekesalan dan ketidak berdayaannya dengan memukul setiran berulang kali.
"Bisa di otak-atik buka kap depan atau gimana gitu?" Zella semakin cemas melihat Abi yang mulai tak sadarkan diri.
"Memeriksa kendala mobil ini dengan komputer, tidak bisa cek manual!"
"Kita harus gimana??" teriak Zella.
"Ya kita harus membawa Pak Abi ke Rumah Sakit terdekat secepatnya!"
Zella mengambil handphone dan langsung menghubungi ibunya. Panggilannya tak dijawab ibunya membuat Zella semakin panik. Zella menghubungi anggota keluarga lain, namun sialnya batrai handphonenya di angka 1 persen.
"Ya Allah!" Zella merasa putus asa. Mengapa saat genting seperti ini ada saja yang merintangi jalannya.
Sedang di depan, Miko berusaha mencari informasi Rumah Sakit terdekat di maps lewat handphonenya, berharap bisa meminta pelayanan darurat.