Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Nikah, Yuk!
BAb 30
...Tim Pencari Kitab Suci 🤸...
Rama P. : Sa, belum selesai?
Yuli Imut : Emang Lisa kemana? Pantes nggak ada di puskes
S4pri : Pergi sama Bang Beni
Yuli Imut : Serius? Dokter Oka nggak marah
Rama P. : Pergi bawa pasien, memang pergi kemana @Yuli Imut
Yuli Imut : Oh, Kirain
Rama P. : Dok, sungkem dulu saya. Tadi sempat negatif thinking, kirain lagi pada marahan terus Lisa dikirim tugas yang agak jauh
Asoka membaca pesan di grup, sama halnya dengan Rama dia pun khawatir karena kekasihnya itu belum kembali. Padahal sudah jam dua siang. Tidak bisa membalas pesan-pesan itu, karena berada di tengah pertemuan yang diadakan oleh pihak kecamatan. Dia hadir bersama Wahid selaku kepala puskes.
Tangannya sudah gatal untuk kembali mengirim pesan pada Lisa. Pesannya yang dia kirim satu jam lalu belum juga dibaca
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Asoka Harsa : sayang, masih di mana? Kok belum ada kabar, jadi khawatir
Yuli Imut : So Sweet
Rama P. : Padahal ‘kan bisa japri aja kalau mau sayang-sayangan. Bikin Sapri iri aja
Yuli Imut : Lo, kali yang iri
Beni Ganteng : [Foto]
Beni Ganteng : [Foto]
Yuli Imut : Ya ampun, kecapekan kali. Lagi tidur juga tetep imut ya, pantesan Abang dokter terLisa-lisa
Rama P. : Iya, sampai ada yang pengen emuut. Dari tadi nggak bersuara, padahal mengawasi dari jauh 🙄
Asoka menghela lega, melihat foto yang dikirimkan Beni. Dalam perjalanan dan foto berikutnya, Lisa tertidur kepalanya bersandar pada pintu mobil. Akhirnya acara pun usai, Asoka pikir dia bisa kembali ke puskes menunggu kekasihnya di sana, tapi Wahid mengajaknya menemui Pak Camat.
“Ah ini toh dokter baru kita, baru sempat bertemu ya dok,” seru Pak camat sambil menjabat tangan Asoka. “Ayo, kita ngobrol di dalam,” tunjuknya ke dalam ruangan.
Panjang lebar pembicaraan mereka, tentu saja lingkupnya urusan puskes. Wahid sempat menyinggung rencana Cecep pada Asoka saat masih di puskes dan tidak ada sedikitpun pak camat membahas masalah itu. Rupanya hanya ancaman, Cecep saja.
“Apapun programnya, kalau baik dan kita mampu akan didukung. Kalaupun tidak sanggup, ya kita usahakan. Sampai sekarang kita masih usaha pengajuan tim nakes dari pemerintahan pusat,” tutur pak Camat diangguki oleh Asoka dan Wahid.
“Berapa lama tim dokter Asoka bertugas di sini?”
“Surat tugas kami untuk satu tahun.”
Pak Camat mengangguk pelan. Wahid pun menutup perbincangan mereka. Permintaan terima kasih kembali disampaikan oleh pak camat pada tim yang diwakili oleh Asoka. Jarak dari kantor kecamatan dengan puskes sebenarnya tidak jauh, tapi Wahid masih ada acara ke tempat lain. Asoka menunggu Ujang menjemputnya.
...Lisa Kanaya❤️...
Baru sampe dok
Tadi ketiduran
^^^Hm, aku khawatir^^^
^^^Kangen kamu, sayang^^^
Asoka tersenyum dan tertawa tanpa suara, dengan fokus menatap ponsel. Mungkin kalau orang melihatnya dipikir tidak waras. Dibonceng Ujang dengan motor, ambulance sudah terparkir di depan puskes dan sosok yang dia rindukan padahal baru beberapa jam terpisah, duduk di undakan tangga menuju lobby puskes.
Beni dan Rama sedang berbincang sambil merokok, berdiri agak jauh dari Lisa. Asoka menghampiri kekasihnya setelah turun dari motor, ikut duduk di samping gadisnya itu.
“Capek?” tangannya terulur merangkul bahu.
Lisa menggeleng. “Aku ngantuk, perjalanan lumayan jauh. Rumah sakit pertama menolak, jadi kita ke rumah sakit provinsi.”
Asoka mengangguk.
“Eh iya, ada yang mau aku bicarakan.”
“Oh, oke. Mau sambil ke luar atau ….”
“Di rumah aja. Sumpah dok, udah mumet banget. Tadi kita lewati jalan yang rusak parah.”
“Iket Sa, jangan kasih kendor. Takut Lo disayang orang,” ujar Rama dibalas Lisa dengan cebikan.
***
Asoka masih menggunakan setelan kemeja lengan panjang dan celana bahannya, hanya dua kancing kemeja paling atas sudah terbuka dan bagian lengan digulung sampai siku. Berbeda dengan Lisa, sudah berganti dengan setelan rumah. Kaos serta celana pendek. Membawa tablet lalu duduk di samping Asoka.
“Belum kirim laporan?”
Lisa menggeleng. “Nanti malam aku kirim, kita bahas yang lain.”
“Apa?” tanya Asoka heran. Mendapati Lisa duduk berjarak, tentu saja ia berpindah merapatkan duduknya. Tidak peduli dengan Sapri baru saja lewat menuju kamarnya.
“Mau mengakui dosa nggak?” tanya Lisa memeluk tablet menyembunyikan layar yang akan ditunjukan pada Asoka.
“Dosa apa? Aku salah apa?”
“Ck, dosa di masa lalu,” sahut Lisa.
Asoka mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud Lisa. “Nggak ada Yang, aku nggak selingkuh atau ada pacar selama ini. Setia sama kamu, kok.”
Lisa berdecak. “Ini apa dok?”
Asoka terdiam lalu terbahak saat melihat layar tablet.
“Ngaku nggak, kamu stalking aku ya? Sejak kapan? Mau takut, tapi nggak bisa. Untung kamu yang stalker, coba kalau yang lain.” Lisa bergidik membayangkannya.
Asoka masih tertawa lepas, hal yang tidak pernah dia lakukan. Biasa bersikap acuh, datar dan dingin. Mungkin hanya tim ini saja yang sering melihatnya tersenyum dan tertawa, terutama Lisa.
“Dok!”
“Apa sayang?” Asoka kembali merangkul Lisa, bahkan tidak segan mendaratkan wajah di kepala gadis itu dan tercium aroma shampo.
“Sejak kapan?”
“Apanya?”
“Ya ini. Sejak kapan menguntit dan suka aku?”
Asoka mengedikan bahu. “Entah, sudah lupa. Yang aku ingat sekarang, Cuma kamu, kamu dan kamu.”
“Ish, gombal.” Lisa menjauhkan wajah karena tangan Asoka sudah terulur ke arah hidung, pasti ingin menjahilinya.
“Karena kamu sudah tahu, kita nikah yuk?”
Niat untuk ke jenjang itu setelah dia menyelesaikan pendidikan, tapi melihat situasi sekarang rasanya ingin segera menghalalkan hubungan mereka. Siapa yang tidak tertarik dengan Lisa, bahkan di rumah sakit gadis itu menjadi notice beberapa dokter serta nakes pria lainnya.
“Hah, jangan bercanda dok.”
Asoka menggeleng, pandangan mereka bertemu dan terkunci. Suasana seolah mendukung momen itu. Tidak ada keributan trio semprul serta bapak kost. Perlahan wajah Asoka mendekat, Lisa seolah terhipnotis. Padahal sudah biasa menatap wajah Asoka, tapi kali ini berbeda. Hembusan nafas Asoka terasa hangat di wajahnya, bahkan ujung hidup pria itu sudah menyentuh pipi dan ….
“Sepi amat ya!”
Bugh.
“Aduh, Sa …..”