Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
noted: terbagi dua season
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 (Part 1)
Beberapa tahun kemudian,
Seorang wanita berjalan menyusuri trotoar dengan langkah pelan, mengenakan jaket tipis dan rambut yang tergerai indah. Kecantikannya terpancar alami, tanpa kacamata, dengan senyum yang tenang tanpa beban.
Di kejauhan, bangunan rumah sakit menjulang tenang, tidak jauh dari kafe kecil yang kini menjadi dunianya.
Di sanalah hidup barunya bermula.
Bukan lagi sebagai gadis SMA yang duduk diam menelan luka, melainkan sebagai seseorang yang memaksa dirinya berdiri, meski masih sering gemetar di dalam.
Kafe itu bukan sekadar tempat bekerja.
Itu milik nya
Ia membelinya dengan sisa tabungan dan keberanian yang entah datang dari mana. Awalnya hanya untuk bertahan hidup, tapi lama-lama menjadi alasan bangun setiap pagi.
Ia mengecat sendiri dindingnya, memilih meja kayu kecil, bahkan menamai tempat itu dengan sederhana—bukan untuk dikenal orang, tapi agar ia merasa punya rumah.
Alice catlyn berhenti sejenak di depan pintu kaca. Pantulan dirinya terlihat di sana: lebih dewasa, lebih tenang, tapi masih menyimpan sesuatu yang tidak selesai.
**
Bel pintu kafe berbunyi pelan
“Pagi.”
suara itu tidak asing.
Alice menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di dekat jendela, masih mengenakan jas dokter.
“Kamu buka lebih cepat hari ini,” lanjutnya.
Alice tersenyum tipis.“Pasienmu belum ramai, Dok?”
Pria itu terkekeh kecil.
“Kalau ramai, aku tidak sempat ke sini.”
Namanya Dr. Levandro.
Alice mengenalnya bukan hari ini, bukan kemarin. Mereka sudah cukup lama saling tahu—sejak Levandro sering mampir. Awalnya hanya senyum dan ucapan terima kasih, lalu menjadi obrolan ringan.
Alice menyiapkan pesanan.“Seperti biasa?”
“Kopi hitam. Tanpa gula,” jawab Levandro
“Dan… jangan lupa kamu juga harus minum air putih setiap pagi.”
Alice mengangkat alis.“Dokter, bukan ibu.”
Levandro tersenyum.“Tapi dokter tahu kapan seseorang lupa menjaga dirinya sendiri.”
Alice terdiam sejenak, lalu menuang air ke gelas kecil.
Mereka duduk berhadapan.
Di luar, lalu lintas berjalan biasa saja. Tapi di dalam kafe, waktu terasa lebih lambat.
“Kamu kelihatan lelah akhir akhir ini,” kata Levandro pelan. setelah meminum kopinya
Alice tersenyum tipis“Mungkin karena sekarang hidupku benar-benar untuk bekerja.”
“Atau karena pikirannya tidak pernah istirahat.”ucap Levandro
Alice menatapnya.“Dokter selalu sok tahu.”
Levandro tidak tersinggung.“Karena wajah orang yang menahan sesuatu, itu berbeda.”
Sunyi sebentar.
Alice akhirnya berkata, “Kadang aku pikir… hidupku baik-baik saja. Tapi waktu malam, semuanya datang.”
“Apa yang datang?” tanya Levandro
Alice tersenyum kecil, pahit.“Kenangan seseorang.”
Levandro menatapnya lama, tidak menghakimi. “Aku tidak tahu masa lalumu,” ucapnya.
“Tapi aku tahu satu hal—kalau kamu masih berdiri sampai sekarang, berarti kamu lebih kuat dari cerita yang menyakitimu.”
Alice tertawa kecil, nyaris tidak terdengar. ia menatap ke luar jendela.“Aku pikir dulu seseorang akan selalu ada untukku. Nyatanya, yang ada hanya aku.”
Levandro berkata pelan,“Sekarang tidak sepenuhnya.”
Alice menoleh.
Levandro tidak tersenyum. Tapi matanya jujur.
“Setidaknya… saat kamu duduk di sini, kamu tidak sendirian.” lanjut nya
Jantung Alice berdegup sedikit lebih cepat. kemudian ia tersenyum.
Angin siang menyentuh wajah seorang pria yang saat ini berdiri di balkon lantai atas gedung perusahaan.
Di bawah sana, kota bergerak cepat. Kendaraan saling berlomba, manusia berjalan dengan tujuan masing-masing, seolah tidak ada waktu untuk berhenti hanya karena satu hati sedang kosong.
Di tangannya, sebuah foto kecil tergenggam.
Masih memakai seragam SMA. Berdiri terlalu dekat untuk disebut biasa, tapi terlalu jauh untuk disebut sepasang kekasih. gadis berkacamata tersenyum kecil di sana, sementara dirinya terlihat santai.
Danzel zaferinno menatap foto itu lama.
Ia menyandarkan tubuh pada pagar balkon. Jas abu-abu masih membalut tubuhnya rapi.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali ia benar-benar berbicara dengan Alice. Sejak ia memilih orang lain. Sejak ia menutup semua tentang sahabat yang paling setia di hidupnya.
Danzel dulu mengira menjauh adalah cara paling dewasa. Nyatanya, menjauh justru membuat hidupnya terasa kosong.
Di sela-sela rapat, laporan, dan tawa rekan kerja, entah kenapa wajah Alice selalu muncul.
Bagaimana hidupmu sekarang?Apa kamu bahagia?
Pertanyaan itu tidak pernah ia kirimkan. Hanya berputar di kepalanya sendiri.
Danzel mengepalkan foto itu perlahan.“Aku bahkan tidak tahu apakah kamu masih mau mengingatku.”
Angin kembali berhembus.
Danzel menatap jas yang melekat di tubuhnya—simbol kedewasaan, jabatan, pencapaian. Namun hatinya masih tertinggal di masa SMA, di samping Alice yang dulu selalu memandangnya tanpa banyak suara.
“Aku salah,” gumamnya.
Ia menatap foto itu sekali lagi, Senyum Alice di sana terlalu jujur.Dan penyesalan Danzel datang terlalu lambat.
**
Ponsel Danzel bergetar di atas meja kerjanya.
Ia baru saja menutup satu berkas ketika layar menyala menampilkan satu nama yang sudah lama tidak berubah.
Rachel.
Danzel menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon.“Halo.”
“Aku punya waktu satu jam,” suara di seberang terdengar cepat.
“Makan siang?”Lanjutnya
Danzel terdiam sesaat, lalu mengangguk walau Rachel tak bisa melihatnya.
“Oke. Di tempat biasa.”
Satu jam.
Dulu mereka bisa menghabiskan sehari tanpa melihat jam. Sekarang, pertemuan mereka diukur dengan menit.
Restoran itu berada di lantai atas sebuah hotel, menghadap langsung ke kota. Kaca besar memperlihatkan langit yang cerah, seolah hidup selalu baik-baik saja.
Rachel datang dengan langkah ringan. Gaun sederhana tapi mahal membalut tubuhnya, kacamata hitam masih bertengger di wajahnya.
“Maaf telat,” ucapnya sambil duduk.
“Make-up-ku lama.”
Danzel tersenyum tipis.
“Kamu selalu terlihat sempurna.”
Rachel melepas kacamatanya.
“Kamu gombal.”
Pelayan datang. Mereka memesan seperti biasa.
Awalnya, segalanya tampak normal.
Rachel bercerita tentang pemotretan di luar kota, tentang klien yang cerewet, tentang jadwal yang padat. Danzel mendengarkan, sesekali tersenyum, sesekali hanya mengangguk.
“Kamu tidak cerita apa-apa?” tanya Rachel akhirnya.
Danzel menatap gelas airnya.
“Aku kerja. Rapat. Pulang.”
“Hanya itu?”
“Memang hidupku hanya itu sekarang.”
Rachel terkekeh kecil.
“Kedengaran membosankan.”
Ada jeda.
Danzel mengangkat wajah.
“Bukan hidupku yang membosankan. Mungkin… kita yang mulai jauh.”
Rachel berhenti memainkan ponselnya.
“Maksudmu?”
“Kita jarang bicara. Jarang bertemu. Bahkan sekarang pun kamu melihat jam terus.”
Rachel melirik jam tangannya tanpa sadar, lalu menurunkannya.
“Aku sibuk, Danzel.”
“Aku tahu.”
Danzel menatapnya.
“Tapi sibuk bukan berarti menghilang.”
Rachel menghela napas.
“Kamu tahu pekerjaanku.”
“Aku tahu,” potong Danzel.
“Tapi aku juga pacarmu.”
Kalimat itu membuat Rachel diam sesaat.
Pelayan meletakkan makanan, memecah ketegangan. Tapi suasana tidak kembali sama.
Rachel menunduk, mengaduk makanannya.
“Aku tidak bermaksud menjauh.”
“Tapi kamu melakukannya.”
Rachel menatap Danzel.
“Apa kamu mau aku berhenti bekerja?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Danzel terdiam.
Ia tidak ingin menjawab bahwa di sela kesibukan Rachel, ia justru merasa sendirian meski punya kekasih.
“Aku hanya mau kamu punya sedikit waktu… yang bukan sisa,” ucapnya pelan.
Rachel menghela napas panjang.
“Aku berjuang juga, Semua yang aku lakukan bukan cuma untuk diriku.”
“Untuk siapa?” tanya Danzel tanpa sadar.
Rachel ragu sesaat.
“Keluargaku. Perusahaanku. Masa depan.”
Danzel tersenyum miris.
“Dan aku di mana?”
Rachel tidak langsung menjawab.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja.
Rachel menatap layar, wajahnya berubah.
“Maaf,” katanya cepat.
“Timku sudah sampai lokasi. Aku harus pergi sekarang.”
Danzel mengangkat wajah.
“Sekarang?”
Rachel berdiri sambil meraih tasnya.
“Aku sudah bilang, aku cuma punya satu jam. dan itu pun terbatas.”
Danzel ikut berdiri.
“Rachel, kita bahkan belum benar-benar bicara.”
Rachel memandangnya, ada lelah di matanya.
“Aku tidak meninggalkanmu, Aku cuma sedang membangun hidup.”
Danzel menahan napas.
“Dan aku cuma ingin tetap ada di hidupmu.”
Rachel terdiam sesaat, lalu berkata pelan,
“Kamu harus mengerti posisiku.”
Danzel tersenyum kecil, pahit.
“Aku mengerti. Hanya saja… aku lelah selalu mengerti.”
Rachel menggigit bibirnya.“Aku harus pergi.”
Ia melangkah cepat, meninggalkan meja, meninggalkan sisa makanan, dan meninggalkan Danzel berdiri sendiri.
Danzel duduk kembali.
Restoran masih ramai. Orang-orang tertawa, berbicara, hidup berjalan normal.
Hanya dirinya yang terasa tertinggal.
Ia memandang ke arah jendela.
“Aku bahkan tidak tahu sejak kapan kita jadi seperti ini…”
Beberapa menit kemudian, seorang pria datang menghampirinya.
“Maaf, Tuan Danzel?”
Danzel menoleh.
“Iya?”
“Ayah Rachel menitipkan pesan.”
Danzel berdiri refleks.“Pesan apa?”
Pria itu tersenyum sopan.
“Tuan Besar meminta Anda kembali ke kantor pusat setelah makan siang. Ada evaluasi proyek perusahaan dan urusan pribadi”
Danzel terdiam.
“Kantor pusat?”
“Iya,” jawab pria itu.
“Perusahaan milik keluarga nona Rachel.”
Kalimat itu seperti memukul pelan kepala Danzel.
Selama ini ia tahu bekerja di perusahaan besar. Tapi baru hari ini ia benar-benar sadar—
Hidup profesionalnya, masa depannya, bahkan posisinya…Berada di bawah kendali keluarga kekasihnya sendiri.
Danzel mengepalkan tangan.Di satu sisi, ia adalah atasan di perusahaan. Di sisi lain, ia hanyalah bagian kecil dari dunia Rachel.
**
Hallo gais selamat datang di season kedua, pantau terus ya kisah ini sampai ending. author ga minta banyak banyak, cuma like, share dan tinggalkan jejak dengan komentar bahagia, sedih, marah kalian.
Di season kedua ini kemanakah hati Alice akan berlabuh? Hayo tebak, ke masa depan atau masa lalu?
Ikutin terus ceritanya ya, babay salam dari author.
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu