Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Arcania
TAHUN 2072---- ARCANIA
Dunia telah berubah menjadi fragmen besi dan kesedihan pada tahun 2072, di bawah langit Kekaisaran Arcania yang kini tertutup kabut kematian. Di tengah kepulan asap, sosok Black—sang pahlawan bertopeng legendaris yang dulu dipuja sebagai cahaya penyelamat—kini berdiri tegak di atas puing-puing kota, namun bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai algojo yang tak mengenal ampun.
Saat fajar menyingsing dengan warna merah darah, Arcania tidak hanya berlutut di hadapan wabah virus mematikan yang menggerogoti nyawa rakyatnya, tetapi juga di bawah teror sosok pahlawan mereka sendiri yang tiba-tiba berbalik menjadi penghancur massal.
Tanpa diketahui dunia, sosok yang menebar maut itu hanyalah android dingin—sebuah rekayasa mekanis sempurna buatan Rodrigo yang dirancang untuk menghapus sejarah dengan wajah sang legenda.
Di tengah kekacauan itu, para petinggi aparat yang tubuhnya mulai digerogoti virus—dengan sisa-sisa kekuatan dan napas terakhir mereka—mengerahkan seluruh kekuatan militer--- rentetan senjata api dan dentuman meriam menyalak di udara, mencoba menghentikan amukan sang "pahlawan" palsu yang kebal terhadap peluru.
Namun, di sudut tersembunyi yang jauh dari garis depan, Black yang asli baru saja tersentak dari kegelapan setelah menerima pesan darurat dari Kenzie, jenderal setianya.
Dengan amarah yang membara dan kekuatan luar biasa yang kini kembali bangkit, sang pahlawan asli melesat membelah langit Arcania, berpacu dengan waktu sebelum robot buatan Rodrigo melenyapkan sisa-sisa harapan bangsa yang pernah ia sumpah untuk dilindungi.
Alun-alun Pusat Arcania yang hancur. Asap hitam membubung di antara kerumunan tentara yang gemetar. Di tengahnya, sosok "Black" berdiri tegak dengan mata yang dingin.
Suara tembakan membabi buta, sirine darurat, dan rintihan warga yang terinfeksi virus. Black Palsu berdiri di tengah kepulan asap.
Petinggi Militer terbatuk darah akibat virus."Kenapa, Black?! Kau adalah fajar kami! Kau yang mengangkat pedang saat dunia ini runtuh... kenapa sekarang kau yang menghujamkannya ke jantung kami?!"
Hening, menatap dingin tanpa ekspresi, mengangkat tangannya yang bersinar dengan energi kinetik.
Hanya suara mesin halus yang berdengung di balik jubahnya. Namun tidak terdengar.
Kenzie melalui komunikator di telinga Black yang asli. " Kaisar! Jangan mendarat di zona utama! Itu jebakan! Rodrigo sudah mengaktifkan protokol pemusnahan massal. Robot itu... dia menggunakan wajahmu untuk menghapus sisa harapan rakyat!"
Black Asli terbang membelah langit, suaranya parau menahan amarah. "Aku tidak peduli pada namaku, Kenzie! Jika dia menarik pelatuk itu sekali lagi, tidak akan ada Arcania yang tersisa untuk diselamatkan. Aku akan menghancurkan kaleng rongsokan itu dengan tanganku sendiri
Tepat saat Black Asli hampir sampai, sebuah transmisi suara digital masuk ke modul pendengaran Black Palsu.
Suara Misterius Rodrigo terdengar. "Waktunya habis, Unit-X. Target utama akan tiba dalam lima detik. Tinggalkan hadiah perpisahanmu... dan pergilah.
"Perintah diterima."
Black Palsu menghentakkan tangannya ke tanah. Sebuah ledakan dahsyat terjadi, menciptakan gelombang kejut yang mengubur seluruh lapangan dalam debu pekat. Dalam hitungan detik, ia melesat hilang ke kegelapan sebelum debu sempat memudar.
Black Asli mendarat di tengah kawah ledakan, jubahnya berkibar tertiup angin panas. Ia melihat ke sekeliling-- para tentara dan warga menatapnya dengan penuh kebencian dan ketakutan.
Black Asli menatap sekitar dengan ngeri. "Kenzie... terlambat. Aku terlambat. Rodrigo benar-benar melakukannya."
Suara Komandan parau, terinfeksi virus namun tetap berjuang, menodongkan senapan plasma.
"BERHENTI DI SITU, IBLIS! Kau... kau yang kami puja sebagai pelindung, kini malah memanen nyawa kami seperti ternak!"
Black Asli mencoba mendekat, tangan terbuka. "Komandan, dengarkan aku! Itu bukan aku! Seseorang memanipulasi citraku. Aku baru saja sampai setelah membuat---"
Komandan Militer berteriak histeris, batuk darah hitam."BOHONG! Mataku sendiri melihatmu tertawa saat meledakkan barisan depan! Lihat kaki mereka yang menjadi abu! Senjata! HANCURKAN PENGKHIANAT INI!"
Suara rentetan tembakan artileri berat menghujani posisi Black.
Kenzie melalui Comms. " Kaisar! Jangan melawan mereka! Mereka dalam kondisi frenzy akibat virus dan manipulasi visual Rodrigo. Jika Anda membalas, skenario 'Pahlawan Menjadi Monster' akan menjadi sejarah permanen Arcania! Pergilah dari sana, Kaisar... biarkan prajurit yang menangani mereka semua." tak ada jawaban dari Black.
Black Asli menangkis peluru dengan perisai energi yang meredup. " Aku mohon dengarkan aku!!"
Komandan Militer sambil menarik pelatuk habis-habisan. "Kenapa kau diam, Pahlawan?! Tunjukkan kekuatan luar biasamu yang kau gunakan untuk membantai rakyatmu sendiri! MATILAH BERSAMA DUNIA YANG KAU HANCURKAN!"
Black Asli bergumam perih. "Selamat datang di masa depan, Arcania... di mana kebenaran lebih cepat hancur daripada peluru."
Di tengah kekacauan, keluarga inti Black muncul dari balik reruntuhan. Langit dan Angel memimpin di depan, diikuti Zack, Azam, Agatha dan anak-anak mereka.
Suara Langit berat, penuh otoritas. "GENCAT SENJATA! Turunkan senjata kalian sekarang, atau kalian berurusan dengan seluruh garis keturunan pelindung Arcania!"
Shyla berlari maju, matanya berkaca-kaca."Kak Sky! Aku tahu itu bukan Kakak! Robot itu... aku melihat matanya yang dingin sebelum dia menghilang!"
Leta dan Kevin menyiapkan posisi tempur di samping Black. "Siapa pun yang berani menarik pelatuk sekarang, harus melewati kami dulu. Arcania sedang sekarat karena virus, jangan biarkan peluru kalian mempercepat kematian negara ini!"
Paman Zack menatap tajam ke arah kerumunan tentara. "Kalian dipermainkan oleh bayangan. Black yang kalian buru sudah pergi, dan yang berdiri di depan kalian adalah satu-satunya harapan yang tersisa."
Paman Azam berbisik pada Black. " Angel benar, ini rencana Rodrigo. Dia ingin Arcania hancur dari dalam dengan membuat rakyat membenci simbol pahlawan mereka. Sky, kau harus bergerak sekarang sebelum mereka mengirim unit pemusnah massal."
Black menoleh ke arah keluarganya, matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam. "Jangan lawan mereka... Mereka bukan musuh kita. Mereka hanyalah warga sipil yang sedang ketakutan, mereka hanyalah manusia yang berusaha bertahan hidup di tengah kiamat ini. Jika kita membalas, maka Rodrigo menang. Jika kita menyerang, maka Black yang asli memang benar-benar mati hari ini dan digantikan oleh monster yang mereka benci."
Angel mendekat, suaranya lembut namun tegas. "Tapi Nak, mereka akan menghancurkan mu jika kau hanya diam..."
Black berbalik menghadap moncong senjata tentara. "Biarkan mereka melihat mataku. Biarkan mereka melihat bahwa pahlawan mereka masih ada di sini, bukan untuk membunuh, tapi untuk memikul beban kebencian mereka sampai kebenaran terungkap. Turunkan senjata kalian, Arcania tidak butuh lebih banyak darah hari ini."
Black berteriak ke arah barisan tentara sambil menghindar dari tembakan. " AKU ADALAH BLACK! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYAKITI KALIAN! Lihat mataku! Ini bukan aku yang kalian lihat tadi!"
Tiffany dan Rion berusaha menangkis peluru dengan perisai tameng tanpa menyerang. " Sky, mereka terus merangsek! Ayah, mereka membawa tank!"
Paman Azam menahan emosinya. " Sky, batas kesabaran ada ujungnya. Jika satu saja dari anak - anak kita terluka—"
"TIDAK ADA SERANGAN BALASAN!" Black berteriak dengan wajah yang mengeras. "Teruslah menghindar! Bicaralah pada mereka! Katakan pada mereka bahwa kita di sini untuk menghentikan virus ini, bukan untuk menambah nisan di tanah Arcania! Jika mereka harus menembak, biarkan mereka menembakku, tapi jangan biarkan setetes pun darah rakyat tumpah dari tangan keluarga ini!"
Semua hanya bisa pasrah...
Suara tembakan semakin bising, namun di tengah kekacauan itu, Black terus melangkah maju dengan tangan terbuka, mencoba menembus kabut kebencian dengan kejujuran yang menyakitkan.
Tidak ada pasukan Kekaisaran-- karena Black tidak ingin adanya pertumpahan darah. Yang berdiri disana hanya Black--- dan seluruh keluarga intinya.
•
•
•
BERSAMBUNG