Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Lamaran Sederhana
Pagi datang begitu saja, sinar mentari merambat hangat melalui celah jendela di dapur tempat Anisa bekerja. Aroma tumisan bawang harum semerbak memenuhi ruangan dapur.
Namun aroma masakan itu tak lagi mampu membangkitkan selera Anisa. Sejak ia memutuskan untuk menjaga jarak dari Zaki, nafsu makannya perlahan menghilang. Tatapannya kerap kosong, seolah ada bagian dari dirinya yang ikut pergi dan belum kembali.
Sudah dua hari terakhir mereka tak saling menyapa. Tak ada pesan singkat, tak ada panggilan seperti biasanya. Zaki benar-benar diam.
Bukankah ini yang ia inginkan? Bukankah ia sendiri yang memilih untuk menjauh? Namun mengapa justru sunyi itu terasa begitu menyesakkan?
Anisa menarik napas pelan. “Hem…” desahnya lirih.
“Benarkah… Mas Zaki sudah mulai melepaskanku?” gumamnya hampir tak terdengar.
Hatinya bergetar oleh kemungkinan yang selama ini ia takuti sendiri. Ternyata menjauh bukan berarti siap kehilangan, dan sejak dua hari itu pula hati Anisa uring-uringan sendiri.
Anisa mencoba fokus kembali ke pekerjaannya, tumis wortel dan buncis sudah mulai matang, segera ia mengambil wadah, di dalam kesunyian hatinya yang mencengkam di hadapan semua ia mencoba untuk baik-baik saja.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, di kamar kos yang sempit dan jauh dari kata nyaman, Zaki berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding. Ia merapikan kemejanya perlahan, menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.
Hari ini ia akan menemui Anisa.
Ia tidak tahu bagaimana tanggapan gadis itu nanti. Ditolak atau diterima. Dimarahi atau dipeluk. Semua kemungkinan berputar di kepalanya. Namun satu hal yang pasti, niatnya sudah bulat.
Seusai kejadian semalam, Zaki benar-benar memilih keluar dari rumah dan tinggal di kos sederhana itu. Bukan karena ia tak punya tempat kembali, tapi karena ia ingin membuktikan bahwa keputusannya bukan sekadar emosi sesaat.
Pagi itu ia mengeluarkan dompetnya, lalu menghitung uang yang tersisa. Ada sisa gaji satu minggu kerjanya di restoran. Ada juga tabungan yang selama ini ia kumpulkan diam-diam.
Dan tentu saja, uang jajan bulanan yang selama ini tak pernah ia habiskan sepenuhnya.
Sebagai anak dari keluarga berada, Zaki tak pernah benar-benar kekurangan. Uang jajan yang ia terima setiap bulan bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya, itulah sebabnya dulu ia bisa dengan mudah membelikan Anisa apa pun tanpa berpikir panjang.
Namun kali ini berbeda. Uang yang ia pegang bukan lagi sekadar fasilitas. Ini hasil kerja kerasnya sendiri. Hasil berdiri di dapur panas, mencuci piring berjam-jam, dan menahan lelah.
Ia tersenyum tipis ini bukan soal nominalnya tapi makna dibalik jerih payahnya, ada keringat yang menetes di pundaknya ada luka diantara jemarinya yang tak pernah ia rasa.
Hari ini ia tidak datang sebagai anak orang kaya yang dimanjakan keadaan. Ia datang sebagai laki-laki yang memilih bertanggung jawab.
Dan dengan uang itu, ia siap membeli satu hal yang jauh lebih berharga dari sekadar barang yaitu masa depan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Zaki melangkah ke luar dengan yakin, kali ini tujuan utama adalah toko perhiasan, entah apa yang akan lelaki itu siapkan, yang jelas saat ini ia ingin mengikat seorang gadis dengan caranya sendiri.
Langkahnya terhenti di depan toko emas sudut pasar etalasenya sederhana tapi penuh dengan kilauan dari berbagai bentuk perhiasan yang tertata rapi dari dalamnya.
Zaki berhenti sejenak sebelum akhirnya masuk, sambutan penjaga toko begitu ramah.
"Selamat pagi Mas, mau cari apa?" tanya penjaga toko itu.
Zaki tersenyum kikuk, agak sedikit malu namun akhirnya ia berkata jujur. "Saya mau cari cicin lamaran," sahut Zaki akhirnya.
Penjaga toko langsung mengajak Zaki berpindah ke etalase paling ujung. Di sana berbagai cincin lamaran tertata dengan rapi, semuanya bagus-bagus namun saat melihat harga Zaki cukup tercengang.
Penjaga toko tersenyum, lalu mengeluarkan beberapa pilihan cincin. Ada yang bermata batu, ada yang berukir indah, ada pula yang tampak mewah dengan harga yang membuat jantungnya berdebar.
Zaki memandangi satu per satu.
Dulu, ia tak pernah melihat harga saat membeli sesuatu. Tapi sekarang, ia memperhatikan setiap angka dengan saksama.
Namun anehnya, ia tidak merasa malu. Ia justru merasa dewasa. Tangannya berhenti pada satu cincin sederhana, polos, tanpa permata, tapi elegan.
“Yang ini saja, Mas.”
“Yakin? Modelnya simpel sekali.”
Zaki tersenyum pelan. “Dia nggak suka yang berlebihan.”
Dan sebenarnya… ia juga ingin memulai semuanya dari sesuatu yang sederhana, dan saat menyerahkan uang hasil keringatnya sendiri, ada rasa haru yang tak bisa ia jelaskan. Itu bukan hanya sekedar cincin, tapi itu sebuah janji yang akan menghantarkannya di kehidupan baru.
☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah keluar dari toko emas, Zaki langsung berjalan menyusuri kerumunan ruko-ruko yang berjejeran, namun langkahnya terhenti di depan toko boneka yang cukup sederhana.
Entah kenapa ia mulai teringat dengan ucapan Anisa beberapa waktu lalu, ia ingat betul jika Anisa menyukai boneka beruang berwarna ungu, mata Zaki tertuju pada barisan boneka yang ada di etalase paling atas sana.
"Lucu juga boneka itu, besar pula, pasti Anisa senang jika dibawakan boneka itu,' gumam Zaki sendiri.
Ia melangkah mendekat, tatapannya sedikit mendongak ke boneka itu, lalu penjaga toko dengan sigap mulai bertanya.
"Di lihat-lihat dulu Mas, barang kali cocok."
"Mbak boneka beruang berwarna ungu itu," tunjuk Zaki.
Penjaga toko langsung naik keatas tangga yang disediakan, ia pun dengan penuh senyum mengambil boneka itu.
"Yang ini ya Mas," ucapnya.
"Iya," sahut Zaki.
Lelaki itu langsung memegang boneka yang berukuran dada orang dewasa itu, memang sangat besar, dan Zaki sangat yakin jika Anisa begitu menyukai boneka itu.
"Ya sudah Mbak aku ambil yang ini," kata Zaki setelah melihat harga di bandrol boneka itu, 350 ribu.
Tanpa pikir panjang Zaki langsung merogoh dompetnya, mungkin saja ia bisa memilih boneka yang lebih kecil dengan harga yang lebih terjangkau, tapi dia tidak berpikir ke situ, baginya kesenangan Anisa lebih bermakna dari apapun.
☘️☘️☘️☘️☘️
Mobil pick-up kecil dari toko boneka berhenti tepat di depan tempat kerja Anisa. Boneka beruang ungu besar itu dibungkus plastik bening, pita putih terikat manis di lehernya.
Zaki turun lebih dulu, tangannya sedikit dingin, di saku kemejanya, kotak cincin terasa semakin berat.
Satpam yang berjaga di depan gerbang memandang heran ke arah boneka besar itu, ia lalu mendekati.
“Mau kirim ke siapa, Mas?” tanyanya.
“Anisa… bagian dapur,” jawab Zaki pelan, tapi mantap.
Satpam itu mengangguk, lalu masuk ke dalam, segera memberi tahu. “Anisa! Ada yang nyari!” seru satpam dari arah lorong dapur.
Anisa yang sedang menyusun piring terdiam. Jantungnya berdegup aneh. Entah kenapa, namanya dipanggil seperti itu membuat dadanya terasa tak nyaman.
Ia berjalan keluar dengan langkah biasa, namun saat sampai di depan, langkahnya membeku begitu saja. Di sana Zaki berdiri. Dengan kemeja sederhana, wajah sedikit lelah, dan di sampingnya… boneka beruang ungu besar yang dulu hanya bisa ia lihat dari balik etalase.
Dunia seperti berhenti sesaat, saat melihat itu semua ada di depan mata.
“Mas…” suara Anisa nyaris tak terdengar.
Namun wajahnya langsung berubah datar, ia teringat jika sedang merajuk, bukankah dua hari ini lelaki itu menghilang tanpa kabar.
“Mas Zaki ngapain ke sini?” tanyanya pelan, berusaha terdengar biasa. Padahal di dalam dadanya, ribuan kupu-kupu beterbangan.
Zaki melangkah mendekat. “Aku cari kamu.”
Singkat, tapi penuh makna. Dan beberapa karyawan mulai melirik dari kejauhan. Anisa jadi salah tingkah.
“Kalau cuma mau ngasih boneka, nggak perlu datang jauh-jauh,” ucap Anisa pelan, pura-pura dingin.
Zaki tersenyum tipis. “Aku ke sini bukan cuma buat ngasih boneka.”
Tangannya masuk ke saku kemeja, dan saat kotak kecil itu keluar, napas Anisa tercekat. Sementara Zaki menarik napas panjang.
“Maaf kalau dua hari ini aku diam,” suaranya sedikit bergetar. “Aku bukan menjauh. Aku cuma sedang menyiapkan sesuatu.”
Anisa menatapnya seksama, hatinya mulai runtuh sedikit demi sedikit.
“Aku sudah keluar dari rumah,” lanjut Zaki pelan. “Sekarang aku tinggal di kos. Aku kerja… dari bawah. Semua ku lakukan bukan karena aku nggak punya rumah.”
Ia menatap Anisa lagi lebih dalam.
“Tapi karena aku mau membuktikan… kalau aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri.”
Orang-orang mulai berhenti beraktivitas, sesana jadi bertambah hening semua mata tertuju pada dua insan itu. Dan tiba-tiba Zaki berlutut di depan semua orang.
Tanpa keluarga besar yang mendampingi, tanpa Abinya tanpa Umi tanpa Abang dan juga kedua adiknya. Hanya dirinya, Anisa, dan langit siang yang menjadi saksi, meskipun tahu di keluarga Zaki momen seperti ini selalu dirayakan besar-besar tapi Zaki tidak memilih itu.
“Anisa,” suaranya pecah. “Aku nggak bisa janji hidupmu akan selalu mewah. Aku bahkan mungkin akan memulai semuanya dari nol.”
Ia membuka kotak cincin sederhana itu.
“Tapi aku janji… aku akan berjuang. Untuk kamu. Untuk kita.”
Air mata mulai menggenang di mata Anisa, entah kenapa mendengar ucapan Zaki membuat Anisa semakin luluh.
“Kamu mau nikah sama aku?”
Hening, menyelimuti keduanya Anisa menggigit bibirnya, ia masih ingin merajuk, masih ingin pura-pura kesal, tapi hatinya sudah meleleh sejak melihat boneka ungu itu.
Boneka yang dulu hanya ia pandangi diam-diam karena tak ingin merepotkan siapapun, bahkan setelah kerja pun boneka itu masih belum sempat kebeli.
“Mas Zaki ini… jahat,” bisiknya sambil menangis kecil.
Zaki panik. “Kenapa?”
“Datang-datang langsung bikin aku nangis…”
Beberapa karyawan mulai tersenyum haru Anisa menatap pria di depannya itu. Lelaki yang dulu datang dengan mobil mewah. Kini berdiri dengan kemeja sederhana. Tapi justru terlihat jauh lebih gagah.
Dalam hatinya ia memang sempat merajuk, sempat takut ditinggalkan, tapi sekarang ia sadar, ia bukan sedang kehilangan, tapi sedang diperjuangkan, dan waktu dua hari menghindar itu serasa begitu menyiksa.
Anisa akhirnya mengangguk pelan, air mata terus mengalir.
“Iya, Mas…” suaranya gemetar. “Aku mau.”
Suasana langsung riuh tepuk tangan kecil dari orang-orang sekitar. Zaki berdiri dengan tangan gemetar, lalu memasangkan cincin sederhana itu di jari Anisa.
"Pas." kata Zaki.Seolah memang sudah ditakdirkan.
Saat boneka beruang ungu besar itu berada dalam pelukan Anisa, gadis itu tersenyum di sela tangisnya.
Bukan karena harganya yang mahal menurutnya, tapi karena saat ini, untuk pertama kalinya. Ada seorang laki-laki yang memilih meninggalkan segalanya, hanya untuk memilih dirinya.
Bersambung ...
Mewek aku ....