NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 - hati yang mulai membeku

Kabut pagi menyelimuti lereng luar Pegunungan Awan Biru.

Qing Lin berdiri di tepi tebing batu, jubah luarnya berkibar pelan tertiup angin. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, matanya menatap lembah di bawah seolah melihat sesuatu yang jauh—bukan hanya jarak, tapi waktu.

Sudah tiga bulan sejak ia meninggalkan wilayah sekte luar.

Tiga bulan penuh darah, keheningan, dan keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Di bawah kakinya, sisa-sisa jejak pertempuran masih terlihat samar. Retakan pada batu, tanah yang menghitam oleh qi yang meledak tak terkendali. Mayat-mayat sudah lama diangkut, tapi bau besi dan kematian masih melekat.

Qing Lin tidak merasa apa pun.

Bukan sedih. Bukan bangga.

Hanya… kosong.

“Senior Qing.”

Suara itu datang dari belakang.

Qing Lin tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang berbicara.

Seorang pemuda berjubah hitam berhenti tiga langkah di belakangnya, sikapnya hormat, bahkan sedikit kaku. Murid bayangan dari Paviliun Malam—organisasi yang kini diam-diam bekerja sama dengannya.

“Semua target di Lembah Batu Hitam sudah disingkirkan,” lanjut pemuda itu. “Tidak ada saksi.”

Qing Lin mengangguk pelan.

“Bagus.”

Suaranya datar. Tidak ada pujian. Tidak ada emosi.

Pemuda itu ragu sejenak sebelum bertanya, “Apakah… kita perlu membersihkan jejak qi Anda, Senior?”

Qing Lin akhirnya menoleh.

Tatapan itu membuat pemuda tersebut tanpa sadar menahan napas.

Dingin.

Bukan dingin seperti salju—melainkan dingin seperti jurang yang tak berdasar.

“Tidak perlu,” kata Qing Lin. “Biarkan mereka tahu.”

“Senior?”

“Jika mereka ingin datang,” lanjut Qing Lin, suaranya tenang seperti permukaan danau beku, “aku akan menunggu.”

Pemuda itu menelan ludah, lalu membungkuk dalam-dalam. “Dimengerti.”

Ia segera pergi.

Qing Lin kembali menatap lembah.

Dulu, ia akan menghindari perhatian. Akan memilih jalan paling sunyi. Akan berpikir tentang akibat.

Sekarang?

Ia tetap berpikir.

Tapi rasa takut sudah lama mati.

Malam hari.

Api unggun kecil menyala di dalam gua dangkal. Qing Lin duduk bersila, mata terpejam. Qi di sekitarnya bergerak perlahan, membentuk pusaran halus yang nyaris tak terlihat.

Basis kultivasinya kini telah melampaui murid dalam biasa.

Namun ia tidak merasa puas.

Di dalam dantiannya, sesuatu bergerak.

Bukan hanya qi.

Ada inti dingin—hasil dari teknik aneh yang ia kembangkan sendiri, gabungan dari pernapasan alami yang ia lakukan sejak kecil dan metode kultivasi yang ia rampas dari musuh-musuhnya.

Teknik itu tidak punya nama.

Dan tidak peduli hukum sekte mana pun.

Saat Qing Lin membuka mata, pantulan api memperlihatkan bayangan wajahnya di dinding gua.

Ia terdiam.

Wajah itu… berubah.

Masih Qing Lin.

Tapi tidak sepenuhnya.

Tatapan yang dulu polos kini tajam. Garis wajahnya lebih keras. Tidak ada lagi kelembutan seorang pemuda desa yang mengantar kayu bakar untuk nenek tua.

Kenangan Desa Qinghe muncul sekilas.

Asap dapur.

Ayam berkokok.

Bibi yang batuk di malam hari.

Untuk sesaat—hanya sesaat—dadanya terasa sedikit sesak.

Qing Lin mengepalkan tangan.

Perasaan itu segera ditekan.

“Jika aku tetap lembut,” gumamnya pelan, “aku sudah mati sejak lama.”

Ia bangkit berdiri.

Keesokan harinya, di sebuah kota kecil wilayah netral.

Qing Lin berjalan di tengah keramaian pasar, jubah abu-abunya sederhana, wajahnya ditutupi tudung. Orang-orang berlalu-lalang, tidak menyadari bahwa di antara mereka berjalan seseorang yang namanya mulai beredar di dunia bawah kultivator.

—Pembunuh tanpa sekte.

—Pemuda tanpa akar spiritual.

—Hantu dari pinggiran kekaisaran.

Di sebuah kios senjata spiritual, seorang pria paruh baya tiba-tiba menegang.

“Qi ini…” bisiknya.

Terlambat.

Qing Lin sudah berdiri di depannya.

“Aku butuh informasi,” kata Qing Lin.

Nada suaranya tidak mengancam.

Itu justru yang membuatnya menakutkan.

“Si-siapa yang Anda cari?” tanya pria itu gemetar.

“Orang yang menyebarkan teknik terlarang ke desa-desa terpencil,” jawab Qing Lin. “Dari wilayah utara.”

Pria itu ragu.

Qing Lin meletakkan satu koin giok retak di meja.

Bukan nilainya yang membuat mata pria itu melebar.

Melainkan aura dingin yang keluar darinya.

“Aku hanya bertanya sekali.”

Pria itu segera berbicara.

Nama.

Lokasi.

Waktu.

Qing Lin mendengarkan tanpa ekspresi.

Setelah selesai, ia berbalik pergi.

“Tu-tunggu!” panggil pria itu. “Apakah… apakah kita akan bertemu lagi?”

Qing Lin berhenti sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh.

“Jika kita bertemu lagi,” katanya pelan, “itu berarti kamu membuat kesalahan.”

Ia menghilang di antara kerumunan.

Pria itu terduduk lemas.

Malam itu, Qing Lin berdiri di atap penginapan.

Angin kota membawa suara manusia, tawa, kehidupan.

Semua itu terasa jauh.

Ia menatap langit.

Tidak ada bintang.

Awan gelap menutup segalanya.

Qing Lin menarik napas panjang.

Di dadanya, inti dingin berdenyut stabil.

Ia tahu satu hal dengan pasti.

Jalan yang ia pilih tidak akan membawanya kembali menjadi orang biasa.

Dan ia… tidak berniat kembali.

“Jika dunia ini kejam,” bisiknya, “maka aku akan menjadi lebih kejam darinya.”

Angin bertiup lebih kencang.

Di kejauhan, takdir mulai bergerak.

Dan Qing Lin—

tidak lagi berjalan mengikutinya.

Ia memaksanya.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!