Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 BULAN MERAH DI UJUNG
Cahaya dari alat Raja Zhong memenuhi lorong sebelum pria itu muncul.
Chen Long berdiri di tengah ruang latihan, dua batu giok di tangan, punggung menyentuh batu hitam yang dulu adalah manusia.
Getaran Yang murni mendekat terlalu terang, terlalu kencang, terlalu penuh dengan keyakinan bahwa kekuatan satu arus cukup untuk membuka segalanya.
Pria itu melangkah masuk.
Jubah putihnya bukan putih bersih melainkan putih yang menyilaukan, menolak bayangan, menolak keberadaan apa pun yang tidak sejalan dengan frekuensinya.
Wajahnya muda, terlalu muda untuk seseorang dengan aura yang sangat tua, sangat terlatih.
Di tangannya, alat batu roh dipadatkan bersinar dengan cahaya yang salah terlalu paksa, terlalu serakah, seolah cahaya itu sendiri yang memerintah bukan pria yang memegangnya.
"Setengah kunci," kata pria itu.
Suaranya tidak keras, namun getarannya memenuhi ruang, memantul dari dinding batu hitam, mencoba merobek keseimbangan yang telah bertahan ratusan tahun. "Akhirnya. Aku tidak perlu mencari lagi."
Chen Long tidak menjawab. Dua arus di tubuhnya berputar Yin dari giok putih, Yang dari giok hitam namun kali ini, ada ketegangan baru.
Mereka belum sinkron. Belum sempurna. Masih ada celah di antara putaran, masih ada momen ketika Yin dan Yang hampir bersentuhan namun tidak.
Pria itu mengangkat alatnya.
Cahaya Yang murni melonjak, bukan seperti air, melainkan seperti pedang tajam, lurus, tidak mengenal belokan.
Chen Long mencoba menahan, mencoba membiarkan dua arusnya berputar lebih cepat, namun getaran Yang murni itu terlalu kencang, terlalu terfokus.
Ia terpental ke dinding, punggungnya menghantam batu hitam dengan bunyi yang membuat ruang bergetar.
"Kau tidak memiliki Qi," kata pria itu, melangkah mendekat.
Alatnya masih bersinar, masih mencari, masih menolak. "Kau tidak memiliki kekuatan. Apa yang kau harapkan? Dengan apa yang kau punya dua arus yang berputar tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa..."
"Tanpa apa yang kau kenal." Chen Long bangkit. Perlahan.
Debu dari jubahnya jatuh, namun bukan karena ia mengibaskan nya.
Melainkan karena dua arus di tubuhnya berputar, menciptakan getaran kecil yang menolak debu, menolak kotoran, menolak apa pun yang tidak sejalan. "Aku tidak memiliki yang kau kenal. Itu berbeda."
Pria itu mengerutkan dahi.
Bukan karena marah.
Melainkan karena bingung.
Dalam pengalamannya, dalam latihannya, dalam keyakinannya semua kekuatan bisa dibaca, bisa dikategorikan, bisa dilawan.
Yang murni.
Yin murni.
Qi yang mengalir lurus atau melingkar.
Namun Chen Long... tidak ada kategori.
Tidak ada label. Hanya kosong yang berisi, hanya diam yang bergerak, hanya...
Pria itu menyerang lagi. Alatnya menyiprat kan cahaya Yang dalam bentuk tombak lurus, cepat, mematikan.
Namun Chen Long tidak bergerak.
Tidak menahan.
Melainkan... membiarkan.
Dua arus di tubuhnya berputar dengan kecepatan berbeda Yin lebih lambat, Yang lebih cepat menciptakan "mata badai" di pusat dada.
Tenang di tengah, chaos di permukaan.
Tombak cahaya melesat... dan meleset.
Bukan karena Chen Long menghindar.
Melainkan karena tombak itu mencari target Yang, namun Chen Long bukan Yang murni. Mencari target Yin, namun Chen Long bukan Yin murni. Ia adalah pusaran di antara keduanya, kekosongan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang juga memiliki dua arus.
Pria itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya yang bukan keyakinan.
Melainkan... keraguan. Sangat kecil. Sangat asing. "Apa kau ini?"
Chen Long melangkah.
Bukan cepat.
Namun dengan cara yang membuat pria itu sulit mengikuti seolah Chen Long berjalan di antara getaran, di antara frekuensi, di antara apa yang bisa dilihat dan apa yang tidak. "Aku adalah yang tidak kau kenal," katanya. "Dan karena itu, kau tidak bisa mengalahkan ku dengan cara yang kau kenal."
Namun pria itu bukan bodoh. Ia terlatih. Ia berpengalaman.
Dan yang lebih berbahaya ia cepat belajar.
Ia menurunkan alatnya, tidak lagi mencoba menyerang dengan Yang murni.
Melainkan... mengamati.
Mencari pola. Mencari celah. "Kau punya sesuatu yang aku butuhkan," katanya, suaranya lebih rendah, lebih berhitung. "Yin. Murni. Dalam batu itu. Kau tidak bisa menggunakan sepenuhnya. Kau bahkan tidak tahu apa itu. Tapi aku... aku bisa mengambilnya."
Ia bergerak.
Bukan menyerang Chen Long. Melainkan mengelilingi.
Mencari sudut.
Mencari momen ketika Chen Long tidak bisa melindungi batu giok putih.
Dan Chen Long tahu.
Ia bisa merasakannya. Pria ini tidak akan menyerah.
Tidak akan mundur.
Tidak akan...
Getaran dari belakang.
Bukan dari wanita kolam wanita itu telah menghilang, tidak bisa membantu, tidak mau terlibat.
Getaran ini berbeda.
Sangat kecil.
Sangat cepat.
Sangat... familiar.
Xiao Feng.
Anak itu muncul di ambang lorong, mata terbelalak, napas terengah-engah.
Batu giok hitam di tangan kirinya berdenyut sangat kencang, sangat panas menariknya turun, menuntunnya melewati tangga, melewati koridor, melewati ketakutan.
Di tangan kanannya, batu abu-abu aneh yang ditemukan di halaman batu ke-11, batu yang tidak Chen Long letakkan, batu yang mengenali sesuatu di dalam Xiao Feng.
"Tiga!" teriak Xiao Feng.
Bukan pertanyaan. Bukan permohonan. Melainkan... pengakuan.
Bahwa ia mengerti.
Bahwa ia merasakan.
Bahwa ia tahu apa yang harus dilakukan meski tidak tahu mengapa.
Chen Long mengerti instan.
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya memberi perintah.
Ia melompat—bukan ke arah Xiao Feng, melainkan ke samping, menciptakan jalur. Xiao Feng melempar.
Batu abu-abu berputar di udara, tidak cepat, tidak kuat, namun dengan frekuensi yang tepat.
Yang benar.
Yang... diakui.
Chen Long menangkap.
Tiga batu di tangannya kini.
Giok hitam di kiri.
Giok putih di kanan.
Batu abu di tengah di antara keduanya, di jantung, di pusat.
Tiga frekuensi. Tiga kunci.
Yang tidak pernah bertemu, kini berdenyut bersama. Bukan sinkron.
Melainkan... berdialog.
Pria Yang murni menyerang.
Ia melihat bahaya, melihat sesuatu yang tidak ia mengerti namun tahu harus dihentikan.
Cahaya dari alatnya melonjak dengan kekuatan penuh bukan tombak lagi, melainkan gelombang, badai, tsunami Yang yang ingin menghancurkan segalanya.
Namun terlambat.
Tiga batu di tangan Chen Long berdenyut satu kali.
Sangat keras.
Sangat dalam.
Bukan serangan.
Bukan pertahanan.
Melainkan... pembukaan.
Jaringan getaran di bawah tanah, yang telah tertidur ratusan tahun, yang telah menunggu setengah kunci yang hilang, akhirnya... menghela napas.
Bukan pecah.
Bukan hancur.
Melainkan membuka. Sebagian. Sejenak.
Cukup untuk...
Cahaya dari alat pria Yang tertelan.
Ditelan.
Dimakan oleh sesuatu yang lebih tua, lebih besar, lebih... lapar.
Alat itu retak.
Batu roh di dalamnya hancur menjadi debu yang tidak bersinar lagi.
Pria itu terpental ke lorong, tubuhnya menghantam dinding, mata terbelalak oleh apa yang tidak bisa ia jelaskan, tidak bisa ia terima, tidak bisa ia pahami.
"Kau membuka," suara wanita kolam muncul dari bayangan, seolah ia tidak pernah pergi, seolah ia selalu di sana, menunggu, mengamati. "Tanpa menjadi kunci. Tanpa menjadi batu. Ini... baru."
Chen Long berdiri di tengah ruang.
Tiga batu di tangannya masih berdenyut, namun kali ini, lembut. Seolah lega. Seolah puas.
Seolah berkata:
Cukup untuk sekarang.
Cukup untuk hari ini.
Namun di atas. Di dunia yang tidak melihat apa yang terjadi di bawah.
Di ibu kota yang masih berjalan normal, masih berdagang, masih bertengkar, masih hidup normal.
Matahari tenggelam.
Dan di langit, di tempat bintang-bintang seharusnya muncul, ada sesuatu yang lain. Bulan merah.
Tidak purnama.
Tidak sabit.
Melainkan penuh, namun berwarna darah. Seolah langit sendiri yang terluka.
Seolah surga yang mulai mencium sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Yang anomali. Yang baru.
Yang berbahaya.
Chen Long merasakannya.
Bukan dari getaran di tanah.
Melainkan dari getaran di udara, di langit, di sesuatu yang jauh lebih besar dari jaringan di bawah.
Dua arus di tubuhnya yang baru saja berdialog dengan tiga batu, yang baru saja membuka sesuatu yang tertutup ratusan tahun bergetar. Bukan karena lelah. Melainkan karena... diakui.
Dilihat.
Dicatat.
Dan di sudut ruang, di bayangan yang semakin pekat, Xiao Feng berlutut, napas terengah, namun mata berbinar.
Anak itu tidak tahu apa arti bulan merah.
Tidak tahu apa yang telah dilakukan Chen Long.
Tidak tahu apa konsekuensi dari tiga batu yang berdenyut bersama.
Yang ia tahu hanyalah ini: ia berhasil.
Ia membantu.
Ia... menjadi bagian dari sesuatu.
Dan untuk seorang anak yang gagal membuka nadi, yang dianggap tidak memiliki bakat, yang hampir menyerah sebelum mulai
Itu cukup.
Untuk sekarang.
Cukup.
...BERSAMBUNG...
...****************...