"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU KECIL DIUJUNG JALAN
Di tengah kesunyian malam yang kian mencekam, sebuah pikiran pahit menyeruak masuk ke benak Bagas—sebuah kata yang selama ini ia tepis jauh-jauh: karma. Ia teringat wajah tegas ayahnya, seorang pensiunan polisi yang dulu menghantam meja saat Bagas menyatakan ingin menikahi wanita itu. "Dia hanya mencintai bayangan kenyamanan yang bisa kamu kasih, Gas, bukan pribadimu," gertak ayahnya kala itu. Namun, Bagas muda yang sedang dimabuk cinta lebih memilih mengikuti perasaan daripada logika. Ia meninggalkan rumah besar yang nyaman, memutus hubungan dengan keluarga berkecukupan yang menyayanginya, dan memilih hidup di gang sempit ini. Ia bahkan rela menanggalkan ijazah sarjana perhotelannya yang seharusnya bisa membawanya bekerja di gedung-gedung megah, hanya untuk menjadi buruh pabrik lalu tukang bakso, asalkan bisa bersama wanita yang ia puja. Bagas merasa telah menukarkan seluruh dunianya dengan sebuah lubang hitam yang kini menelan dirinya bulat-bulat.
Memori itu berputar seperti kaset rusak, membawanya kembali ke ruang tamu rumah orang tuanya beberapa tahun lalu. "Kamu itu lulusan perhotelan, Bagas! Kamu punya bekal untuk jadi manajer, untuk kerja di tempat terhormat! Masa depanmu bukan di gang-gang kumuh itu!" teriak ibunya dengan air mata berlinang. Bagas yang saat itu merasa sangat dewasa hanya menjawab dengan nada menantang, "Ibu tidak mengerti. Melayani orang di hotel atau melayani istri di rumah sederhana itu sama saja mulianya. Aku tidak butuh koneksi Papa, aku bisa cari uang sendiri." Ayahnya hanya menatapnya dingin dari balik kursi goyang, lalu berujar pelan namun tajam, "Suatu saat, ketika duniamu runtuh karena pilihanmu sendiri, jangan pernah mengetuk pintu ini hanya untuk menunjukkan bahwa aku benar. Buktikan kalau kamu laki-laki, atau jangan kembali sama sekali."
Suara ayahnya kini terasa seperti kutukan yang menjadi kenyataan. Bagas menatap tangannya yang kasar dan penuh luka karena sabetan pisau saat memotong daging bakso dulu—tangan yang seharusnya memegang nampan perak atau mengatur operasional hotel berbintang. "Sarjana perhotelan yang bahkan tidak bisa mengurus rumah tangganya sendiri," bisiknya dengan tawa yang hambar. Ia menatap ijazahnya yang tersimpan di dasar lemari, berdebu dan mungkin sudah lembap—simbol dari masa lalu yang ia khianati demi seorang wanita yang justru mencuri anting anaknya sendiri sebelum melarikan diri. Rasa sesak itu berpindah dari dada ke kerongkongan, membuatnya sulit bernapas. Ia telah mengorbankan kehormatan keluarga dan gelar sarjananya demi seseorang yang menganggapnya tak lebih dari sekadar mesin uang yang kini sudah rusak.
Kini, di bawah temaram lampu bohlam lima watt, Bagas menatap langit-langit yang semakin bocor. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia merangkak kembali ke rumah ayahnya, bersimpuh di kaki pensiunan polisi itu dan mengakui kekalahannya yang memalukan? "Tidak," bisiknya tegas, meski suaranya bergetar. Ego dan harga dirinya yang tersisa melarangnya untuk pulang sebagai pecundang yang meminta belas kasihan. Namun, Kanaya butuh makan esok pagi. Kanaya butuh susu. Kanaya butuh hidup yang lebih baik dari sekadar mencium bau tanah basah di gang sempit setiap hujan turun. Ia tidak bisa hanya meratapi nasib di atas ubin dingin ini selamanya.
Ia bangkit berdiri, perlahan melepaskan genggaman tangan Kanaya dari jarinya agar sang putri tidak terbangun. Ia berjalan menuju sudut ruangan, mengambil map cokelat yang basah kuyup itu. Ia mengeluarkan surat penolakan kerja itu, merobeknya menjadi serpihan kecil, lalu membuka laci tempat ijazah sarjana perhotelannya berada. Jika dunia ini telah merampas usahanya sebagai pengusaha bakso, maka ia akan membangun kembali hidupnya dari puing-puing yang tersisa dengan ijazah yang sempat ia sia-siakan itu. "Papa tidak akan pulang ke sana untuk minta dikasihani, Kanaya," janjinya sambil menatap wajah tenang putrinya. "Kalau Papa harus mulai lagi dari bawah, jadi pelayan hotel sekalipun, akan Papa lakukan. Mereka boleh membuangku, tapi aku tidak akan membiarkanmu ikut terbuang."
Keesokan paginya, langit masih menyisakan sisa-sisa mendung yang menggantung rendah. Bagas menggendong Kanaya yang masih mengantuk menuju rumah petak di ujung gang, tempat adik iparnya tinggal. Meski adik istrinya itu tidak ikut campur dalam pengkhianatan kakaknya, Bagas tetap merasa ada beban berat di pundaknya saat harus mengetuk pintu itu.
"Tolong jaga Kanaya sebentar ya, Rin. Mas harus cari kerja lagi," ujar Bagas pelan saat pintu terbuka. Rini menatap kakak iparnya dengan tatapan iba; ia tahu betul kelakuan kakaknya yang tega meninggalkan anak sebatang kara. Tanpa banyak bicara, ia mengambil Kanaya ke dalam gendongannya. "Mas pergi saja. Kanaya aman sama aku. Mas jangan menyerah ya," jawab Rini lirih. Bagas hanya mengangguk kecil, memberikan satu ciuman terakhir di kening putrinya sebelum melangkah pergi dengan map cokelat yang sudah ia rapikan semalaman.
Bagas berjalan kaki berkilo-kilometer untuk menghemat ongkos, menyusuri deretan hotel berbintang di pusat kota. Namun, kenyataan tahun 2000-an ternyata lebih kejam dari yang ia bayangkan. Setiap kali ia menyodorkan map cokelatnya ke bagian personalia, jawaban yang ia terima hampir selalu sama. "Maaf, Pak, kami mencari yang maksimal usia 25 tahun untuk posisi operasional," atau "Ijazah Bapak memang bagus, tapi pengalaman Bapak terlalu lama kosong sejak lulus, ditambah usia Bapak yang sudah masuk kepala tiga. Kami butuh tenaga muda yang lebih energik."
Di sebuah hotel besar bergaya kolonial, Bagas mencoba peruntungannya sekali lagi. Ia berdiri di depan meja resepsionis dengan sisa-sisa keberaniannya. "Selamat pagi, saya sarjana perhotelan, apakah ada posisi untuk saya? Di bagian dapur atau kebersihan pun tidak apa-apa," mohonnya dengan suara yang mulai serak. Petugas di sana hanya melirik sekilas ke arah ijazahnya, lalu menggeleng simetris. "Maaf, Pak. Kebijakan manajemen kami sangat ketat soal usia. Bapak sudah 32 tahun, kan? Biasanya untuk usia segini kami hanya menerima level manajer dengan pengalaman hotel minimal lima tahun berturut-turut. Pengalaman dagang bakso tidak masuk hitungan kami."
Bagas keluar dari lobi hotel yang dingin dan harum itu dengan bahu yang merosot. Ia terduduk di trotoar panas, menatap sepatu lusuhnya yang mulai mengelupas. Dunia perhotelan yang dulu ia pelajari dengan bangga kini terasa seperti tembok raksasa yang tidak bisa ia panjat karena faktor usia. Ia merasa seperti barang kedaluwarsa; sarjana yang sudah terlambat untuk memulai, dan mantan pengusaha yang sudah kehilangan segalanya. "Apa gunanya kuliah kalau akhirnya umur yang jadi penentu?" bisiknya pahit pada diri sendiri.
Sambil menatap jalanan yang ramai, Bagas memikirkan Kanaya. Susu kaleng Kanaya akan habis besok pagi. Uang di kantongnya hanya cukup untuk satu kali makan warteg dan ongkos pulang. Ia tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya dengan tangan hampa dan mengakui bahwa ayahnya benar tentang 'pilihan salahnya'. Bagas mengusap wajahnya yang kusam, mencoba mencari sisa-sisa harga diri yang masih tersisa. Ia harus mencari cara lain; jika hotel tidak mau menerimanya karena umur, ia harus menemukan tempat yang tidak peduli berapa usianya, asalkan ia bisa membawa pulang sesuap nasi untuk Kanaya.
Bagas menyeret langkahnya di atas aspal yang mulai mengeluarkan uap panas setelah diguyur hujan kemarin. Kakinya terasa seperti timah, berat dan kaku. Di sebuah halte tua yang catnya sudah mengelupas, ia akhirnya menyerah pada rasa lelahnya. Ia terduduk di bangku kayu yang reyot, menyandarkan kepalanya ke tiang besi sambil memejamkan mata. Bayangan wajah Kanaya yang tersenyum saat ia tinggalkan tadi pagi mendadak terasa seperti beban yang menghimpit dada. Di tengah keputusasaannya, ia merasa dunianya benar-benar telah tertutup rapat.
Tiba-tiba, sebuah gelas plastik berisi es teh manis yang berembun dingin menempel di pipinya. Bagas terperanjat dan membuka mata. Di hadapannya berdiri seorang bapak tua dengan kaos oblong sederhana dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Pria itu tersenyum ramah, menyodorkan minuman tersebut. "Minum dulu, Mas. Kelihatannya Mas capek sekali," ucap bapak itu tenang. Bagas sempat ragu, namun rasa haus yang membakar tenggorokannya membuat ia menerima gelas itu. "Terima kasih, Pak," jawabnya parau.
Bapak itu ikut duduk di samping Bagas, memperhatikan map cokelat yang dipeluk erat oleh Bagas. "Cari kerja ya, Mas?" tanyanya sambil menyulut sebatang rokok kretek. Bagas hanya mengangguk pelan, lalu meneguk es teh manis itu hingga separuh. Sensasi dinginnya sedikit meredakan amarah yang bergejolak di kepalanya. "Sudah ke mana-mana, Pak. Tapi rata-rata bilang saya sudah ketuaan. Mereka cari yang di bawah 25 tahun," curhat Bagas akhirnya, tumpah begitu saja pada orang asing.
Bapak itu mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap jalanan yang penuh sesak oleh kendaraan tahun 2000-an. "Susah zaman sekarang cari kerja, Mas. Orang cari yang muda, padahal orang yang sudah berumur juga perlu kerja. Malah biasanya yang sudah berumur itu lebih punya tanggung jawab, karena ada perut yang harus dikasih makan di rumah," ucap bapak itu dengan nada yang dalam, seolah ia pun pernah berada di posisi yang sama. Ia menepuk bahu Bagas dengan tangannya yang kasar. "Dunia memang sering nggak adil sama orang seperti kita, Mas. Tapi selama kaki masih bisa melangkah, rezeki itu seringnya datang dari arah yang nggak kita sangka-sangka."
Bagas terdiam mendengar ucapan itu. Kalimat sederhana dari bapak penjual es teh itu terasa lebih menyejukkan daripada AC hotel yang ia datangi tadi. Ada rasa senasib yang membuatnya merasa tidak sendirian di kota yang kejam ini. "Saya punya anak kecil, Pak. Ibunya pergi," bisik Bagas pelan, hampir tak terdengar. Bapak itu mengangguk paham, tidak menghakimi, tidak juga bertanya lebih jauh. Ia hanya berdiri, merapikan duduknya, lalu berkata, "Demi anak, ya? Kalau begitu Mas nggak boleh menyerah di sini. Kalau hotel tutup pintu, coba cari pintu lain. Kadang pintu yang kecil justru yang bawa kita ke ruangan yang lebih besar."