kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Patricia tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan ayahnya. Ia merangkak ke arah Alendra, seolah mencari sumber dingin atau pelarian dari api yang membakar di dalam tubuhnya. Tangannya yang mungil mencengkeram kaki Alendra, kuku-kukunya hampir menancap di kulit kaki Alendra.
Alendra berjongkok, mencoba menahan bahu Patricia agar gadis itu tidak melukai dirinya sendiri. Namun, Patricia justru menarik kerah jaket Alendra, tenaganya luar biasa kuat karena pengaruh obat tersebut.
"Tolong... dingin... s-sakit..." Suaranya parau, meratap tepat di depan wajah Alendra. Patricia sendiri tidak mengenali Alendra yang kini tubuhnya semakin gagah karena rajin olahraga.
Tono memegang bahu Alendra dengan putus asa "Tuan, saya tahu Anda orang baik. Saya bisa melihat dari tatapan mata Anda. Putri saya bisa mati jika jantungnya terus dipacu obat itu. Satu-satunya cara adalah mengeluarkannya...
Alendra terpaku. Bayangan wajah Kirana yang sedang marah besar di rumah melintas di benaknya. Ia seorang suami, pria yang setia. Namun di depannya, ada seorang gadis yang nyawanya sedang di ujung tanduk karena kebiadaban orang lain.
"Tuan, hiks hiks...saya mohon... selamatkan anak saya. Apapun yang Tuan inginkan, ambillah! Tapi tolong obati dia sekarang juga. Hanya pria yang bisa menolongnya dalam kondisi seperti ini, saya tidak mungkin melakukan nya karena dia adalah putri kandung ku!"
Alendra terdiam mematung. Pikirannya masih melayang pada Kirana, istrinya yang sedang menunggunya di rumah walaupun saat ini mereka sedang bertengkar. Ia membayangkan kemarahan Kirana, namun di depannya ada seorang gadis yang nyawanya benar-benar di ujung tanduk. Ia tidak membawa ponsel ataupun dompet, motor nya mogok dan tempat ini sangat jauh dari pemukiman penduduk....Alendra tahu, jika ia membiarkan wanita itu begitu saja, gadis itu bisa mati atau mengalami kerusakan saraf permanen. Namun, Alendra bukanlah pria yang mau melakukan tindakan asusila begitu saja.
"Pak, saya bukan binatang. Saya punya istri. Saya tidak bisa menyentuh putri Anda tanpa ikatan apapun. Itu adalah perbuatan zina yang sangat di benci oleh agama saya" jawab Alendra pelan.
Korek api di tangan Alendra padam, menyisakan kegelapan total. Dalam kegelapan itu, ia bisa merasakan napas Patricia yang memburu di lehernya. Pilihan ini bukan lagi tentang nafsu, melainkan tentang nyawa dan dosa. Tapi ada yang berbeda dari Alendra, dadanya berdebar begitu kencang,bukan karena kasihan tapi ia teringat seseorang yang sudah lama ia kubur dalam-dalam karena penantian yang tidak pasti.
"Pak Tono... Saya punya istri yang sangat saya cintai di rumah. Saya tidak bisa melakukan ini sebagai seorang penjahat. Saya tidak akan melakukannya tanpa ikatan."
"Lalu apa maksud Anda, Tuan?"
Alendra mengambil napas panjang, sebuah beban berat jatuh di pundaknya "Nikahkan saya dengannya sekarang juga. Di sini. Di depan saksi Allah dan Anda sebagai walinya. Biarkan saya menyelamatkannya sebagai suaminya yang sah secara agama. Setelah ini, biarkan takdir yang memutuskan jalan kita
Malam itu, semesta seolah sedang menumpahkan kemarahannya. Petir menyambar-nyambar di langit Jakarta, seirama dengan detak jantung Alendra yang tidak karuan. Di tengah guyuran hujan lebat dan kegelapan gudang tua yang berbau karat, sebuah takdir baru sedang dituliskan dengan tinta darah dan air mata.
Alendra menatap pria paruh baya bernama Tono itu dengan tatapan nanar. Di pojokan gudang, Patricia meringkuk, jemarinya mencakar lantai semen yang dingin, sementara erangan tertahan keluar dari bibirnya yang membiru. Efek obat itu sudah mencapai puncaknya, jika tidak segera ditolong, saraf gadis itu bisa rusak permanen karena suhu tubuh yang melonjak ekstrem.
"Saya tidak punya waktu lagi untuk menjelaskan siapa saya. Tapi demi kehormatan putri Anda dan nyawanya... Saya, Alendra Suhadi, bersedia menikahinya detik ini juga."
Dengan saksi deru angin dan gemuruh guntur, di atas tumpukan karung goni bekas, pernikahan tersingkat dan paling mencekam itu terjadi.
Alendra melepaskan jam tangan mewahnya sebagai mahar untuk Patricia.
Tono sambil terisak dan memegang tangan Alendra yang dingin "S-saya nikahkan engkau, Alendra bin Afkar, dengan putri saya, Patricia binti Tono, dengan mas kawin... jam tangan, tunai!"
"Saya terima nikahnya... Patricia binti Tono... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Suara "Sah" dari bibir Tono terdengar seperti vonis sekaligus penyelamatan.
Alendra diam membeku, ia baru menyebutkan nama Patricia, gadis yang dulu ia kejar namun saat ia akan mengungkapkan identitas nya dan mengungkapkan perasaannya, Patricia tiba-tiba menghilang seperti di telan bumi, tapi menurut informasi dari kerabat nya, Patricia pindah keluar negri, karena Hilman menutup kasus kekacauan keluarga nya rapat-rapat dari media massa sehingga tidak ada satupun yang tahu kalau Patricia bukanlah adik kandung Hilman .
" tidak mungkin Cia, yah ..Cia putri bungsu tuan Faisal, sedangkan ini Patricia anak dari pak Tono"....gumam Alendra dalam hati, iaencoba menepis pemikiran tentang masa lalunya yang sudah ia kubur dalam-dalam.
Tono segera berbalik dan berlari keluar menuju teras gudang yang bocor, membiarkan tangisnya pecah bersama air hujan, memberikan privasi bagi menantu dadakannya untuk menyelamatkan nyawa putrinya.
Di dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya korek api yang mulai meredup bahkan padam , Alendra mendekati Patricia. Gadis itu sudah kehilangan kesadarannya. Saat kulit mereka bersentuhan, Alendra tersentak, suhu tubuh Patricia terasa seperti membakar kulitnya.
"Panas... tolong... s-sakit..." rintih Patricia.
Alendra memejamkan matanya rapat-rapat. Hatinya menjerit menyebut nama Kirana, namun logika dan nuraninya berkata bahwa ia sedang menjalankan tugas kemanusiaan yang terikat janji suci.
Alendra melepaskan semua yang melekat pada Patricia....tubuhnya sangat lembut dan harum, Patricia selalu merawat tubuhnya dengan baik, Rukayyah selalu mengirimkan perawatan tubuh serta skincare yang harganya tidak main-main, karena kalau Rukayyah mengirimnya uang,maka Patricia akan memberikan uang tersebut pada panti asuhan dan yayasan amal...
Alendra mencium kening istrinya yang sudah meliuk-liuk seperti cacing kepanasan...Saat proses itu terjadi, Alendra membeku. Ada sebuah perlawanan alami dari tubuh Patricia yang menandakan kesucian yang belum pernah tersentuh.... Alendra menghentikan gerakannya karena terlalu sulit untuk menembus benteng pertahanan Patricia,namun patroli menggelengkan kepalanya, bahkan menarik Alendra kembali....
Air mata Alendra jatuh, Alendra tidak pernah memimpikan untuk menikah dengan seorang gadis, namun takdir berkata lain... akhirnya ia merasakan seorang wanita yang masih benar-benar suci..." maafkan aku, karena aku orang pertama yang merusak mu" bisiknya lembut....Ia tidak pernah membayangkan malam pertamanya dengan wanita lain yang masih Virgin akan terjadi di tempat seasing ini, dalam kondisi setragis ini. Ia telah menyelamatkan nyawa Patricia, namun ia tahu, ia baru saja menghancurkan fondasi hidupnya sendiri.
Semalaman penuh, Alendra tidak membiarkan Patricia untuk beristirahat....sampai jam empat pagi jam alarm Alendra sebagai mahar berbunyi, padahal baru satu jam Alendra tertidur.
Saat fajar menyingsing dan hujan mereda menjadi gerimis tipis, Alendra terbangun ,ia masih memeluk tubuh Patricia yang masih mengenakan jaket kulit basah untuk menyelimutinya. Alendra menatap wajah Patricia dengan mata yang bengkak, menyadari apa yang telah terjadi.
Deg
"masyaallah.... cantik sekali" gumamnya dalam hati, ia mengagumi wajah cantik istrinya yang terlihat masih sangat muda tapi wajahnya sangat familiar, namun kali ini terlihat lebih kalem tanpa riasan apapun. Patricia dulu selalu memakai riasan,jadi Alendra tidak pernah melihat wajah asli Patricia tanpa riasan apapun. Walaupun cahaya masih remang-remang tapi Alendra tahu,bahwa istrinya begitu cantik, bulu mata lentik, kulitnua begitu halus seperti bayi...
Cup...
Alendra mencim kening Patricia..."istirahatlah..." .
Tono masuk ke dalam gudang dengan langkah gontai "Tuan... terima kasih. Terima kasih sudah menjaga kehormatan dan nyawa anak saya."
Alendra berdiri dengan kaku, wajahnya pucat pasi "Pak Tono... Patricia masih tidur... Saya harus pergi. Saya memiliki keluarga yang sedang menunggu. Tapi saya tidak akan lari dari tanggung jawab ini."
Alendra memberikan alamat kantor Mahendra Group kepada Tono. Ia tidak membawa apa-apa, tapi ia memberikan sebuah janji yang berat.
"saya permisi dulu, saya ada urusan, setelah bangun nanti, tolong bawa Patricia untuk ke rumah sakit terlebih dahulu untuk di periksa keadaannya" ucap Alendra sopan.