Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Ketegangan
Matahari pagi di Jakarta menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama kediaman Aditama. Kamar yang dulunya terasa dingin dan penuh aura kesedihan peninggalan almarhum Adrian, kini telah berubah total. Sejak Brian Aditama sang aktor papan atas yang memutuskan pensiun dari dunia hiburan demi memegang kendali perusahaan keluarga menikahi Arumi, atmosfer rumah ini dipenuhi oleh bara gairah yang tak kunjung padam. Kamar Adrian kini ditempati Brian dan Arumi. Keputusan final yang hanya Brian yang tahu.
Pagi ini berbeda. Setelah Dokter Juan mengonfirmasi kehamilan Arumi, Brian seolah kehilangan sisi logisnya sebagai seorang pebisnis dingin.
"Brian, demi Tuhan... aku hanya ingin mengambil segelas air," keluh Arumi dengan suara serak namun lembut.
Brian, yang sedang meninjau berkas di tabletnya sambil duduk di tepi ranjang, langsung sigap berdiri. Ia menekan bahu Arumi agar tetap bersandar di bantal empuk. "Tetap di sana, Sayang. Hendra sudah menyiapkan sistem dispenser otomatis di samping nakas, biarkan aku yang mengambilkannya."
"Kamu berlebihan," Arumi tertawa kecil, menatap wajah suaminya yang sangat tampan.
Brian mendekatkan gelas ke bibir Arumi, membantunya minum seolah Arumi adalah porselen yang bisa retak kapan saja. "Ini bukan berlebihan. Disini ada Brian junior. Penerus yang akan melengkapi apa yang sudah kita perjuangkan."
Brian mengecup kening Arumi lama. Di balik kebahagiaan ini, ada beban yang ia simpan sendiri. Ia tahu bahwa kehamilan Arumi akan menjadi incaran baru bagi musuh-musuh mereka. Terutama saat Leo, adik kandung Arumi, masih mendekam di penjara dengan dendam yang membara karena Brian lah yang menjebloskannya ke penjara karena keterlibatannya dalam kematian Adrian.
...***...
Di Lembaga Pemasyarakatan kelas kakap, Leo duduk di ruang kunjungan. Di hadapannya, Maria, mantan kekasih Reno yang kini menjadi sekutu sekaligus kekasih Leo, menatapnya dengan senyum licik.
"Arumi hamil," bisik Maria tajam.
Tangan Leo yang terborgol mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Hamil? Jadi Brian benar-benar menikmati posisinya? Dia mengambil istri kakaknya, mengambil perusahaan, dan sekarang dia akan memiliki ahli waris?"
"Tenanglah, Leo. Kita punya teman baru," Maria mengeluarkan sepucuk surat kecil. "Kelompok Blackwood Scorpio mulai tidak nyaman dengan kebijakan Brian yang menutup jalur distribusi ilegal mereka. Mereka butuh orang dalam untuk menghancurkan Aditama dari akar."
Leo tersenyum miring. "Beritahu mereka, aku akan memberikan segalanya, termasuk nyawa Arumi jika perlu, agar Brian hancur berkeping-keping."
Sementara itu, di sebuah vila tersembunyi di perbukitan yang sunyi, Reno, berdiri di balkon sambil menyesap wiski. Di dalam kamar, Jessy baru saja terbangun. Hubungan mereka adalah paradoks, dendam yang dibalut nafsu, dan benci yang dikaburkan oleh kebutuhan akan satu sama lain.
Reno mematikan ponselnya setelah menerima pesan singkat dari Brian tentang kabar kehamilan Arumi. Ada rasa iri yang sekilas melintas, namun segera hilang saat ia menatap Jessy yang berjalan mendekat dengan jubah mandi yang longgar.
"Brian akan punya anak," ucap Reno datar.
Jessy tertegun. Mantan kekasih yang dulu ia manfaatkan demi ambisi modelnya akan menjadi ayah. "Dan kamu? Kapan kamu akan melepaskan ku, Reno? Kamu sudah mendapatkan tubuhku setiap malam. Apa itu belum cukup?"
Reno menarik pinggang Jessy, mempertemukan tubuh mereka dalam dekapan yang menyesakkan. "Belum, Jessy. Sampai kamu tidak bisa lagi membedakan mana sentuhan kasih sayang dan mana sentuhan paksaan. Dan tentu sampai kamu mengandung anakku, seperti Arumi mengandung anak Brian."
Jessy membuang muka, namun ia tidak menolak saat bibir Reno mulai memburu lehernya. Di pengasingan ini, mereka adalah dua jiwa yang rusak, yang dipertemukan dengan cara yang salah.
...***...
Di pusat kota, di sebuah kantor tinggi berlambang MK, Mike menatap foto Arumi yang terpajang di layar komputernya. Obsesinya pada Arumi tidak pernah padam, bahkan setelah Arumi resmi menjadi milik Brian.
Linda, sekretaris setianya yang juga sering menjadi pelampiasan hasrat Mike, berdiri di belakangnya sambil memijat bahu Mike. "Tuan, kabar itu benar. Arumi Safa sedang mengandung."
"Anak Brian tidak boleh lahir," desis Mike dengan suara parau. "Arumi adalah milikku. Dia hanya salah jalan saat memilih Adrian, dan dia tersesat saat memilih Brian. Aku harus menjemputnya untuk kembali kepadaku."
Linda mengertakkan gigi, ada rasa cemburu yang membakar. "Apa rencana Anda? Lena sudah menghubungi saya. Dia sangat membenci Frans dan keluarga Aditama setelah pembatalan pernikahan itu. Ayahnya, sebagai Kepala Polisi, siap menutup mata jika terjadi kecelakaan pada iring-iringan mobil Aditama."
Mike berbalik, menarik Linda ke pangkuannya dengan kasar. "Hubungi Blackwood Scorpio. Beritahu mereka, aku yang akan membiayai operasional penghancuran Brian Aditama. Aku ingin Brian mati, tapi Arumi... Arumi harus tetap utuh untukku."
Dua minggu berlalu. Dona kembali dari New York dengan energi yang meledak-ledak. Ia tidak pulang sendirian. Frans mendampinginya sebagai tunangan resmi setelah mendapat restu dan sedikit ancaman dari Tuan Scott.
"Kak Arumi!" Dona berlari memeluk Arumi yang sedang duduk di taman belakang mansion, diawasi oleh dua pengawal dan tentu saja, Brian yang tidak jauh dari sana.
"Hati-hati, Dona! Kamu bisa menjatuhkannya!" tegur Brian dengan wajah serius.
Dona menjulurkan lidah. "Pelit sekali! Kak, aku bawa banyak sekali baju bayi dari New York. Frans sampai harus beli koper tambahan hanya untuk barang-barang itu."
Frans membungkuk hormat pada Brian. "Semua sudah aman, Tuan. Ayah saya, juga mengirimkan salam. Beliau merasa jauh lebih tenang sekarang setelah ancaman dari Tuan Bagas hilang."
"Jangan lengah, Frans," bisik Brian saat mereka berdiri agak jauh dari para wanita. "Blackwood Scorpio mulai bergerak. Hendra melaporkan ada penyusup di gudang logistik kemarin malam. Mereka tahu istriku sedang dalam kondisi hamil dan lemah."
Frans mengangguk. "Saya sudah menyiapkan pengawal 24 jam untuk Nyonya Arumi, Tuan. Tidak akan ada satu lalat pun yang lewat tanpa seizin Anda."
Malam harinya, Brian terbangun karena merasa suhu tubuh Arumi sedikit panas. Dengan telaten, ia mengompres dahi istrinya. Arumi membuka mata, menatap suaminya yang terlihat sangat lelah namun enggan memejamkan mata.
"Tidurlah, Brian. Kamu harus ke kantor besok," ucap Arumi lembut.
"Aku bosnya. Mereka ku bayar mahal untuk bekerja," jawab Brian mantap. Ia mencium telapak tangan Arumi. "Aku kehilangan Adrian karena aku terlambat bertindak. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang padamu atau anak kita."
Tiba-tiba, suara alarm keamanan mansion berbunyi nyaring. Hendra masuk melalui interkom dengan suara mendesak.
"Tuan Muda! Ada serangan di gerbang depan! Sekelompok orang bersenjata memaksa masuk. Mereka menggunakan simbol Blackwood!"
Brian segera menarik Arumi ke dalam pelukannya, melindunginya dengan tubuh kekarnya. Matanya berkilat penuh amarah, mantan aktor itu kini telah sepenuhnya menjadi singa pelindung seperti perannya dulu.
"Hendra, bersiaplah. Frans, pastikan Dona aman di kamarnya! Aku akan turun sebentar lagi."
Arumi memegang erat lengan Brian. "Jangan tinggalkan aku, Brian!"
Brian menatap mata Arumi, memberikan ciuman dalam yang penuh rasa haus akan perlindungan. "Aku tidak akan ke mana-mana, Sayang. Aku akan menunjukkan pada mereka, apa yang terjadi jika seseorang berani mengusik ketenangan keluarga Aditama."