‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 1
Langit di atas Lembah Gunung Jinting terbelah.
Bukan oleh petir, melainkan oleh suara gemuruh rendah yang terdengar seperti gerbang batu raksasa yang digiling memutar oleh tangan dewa yang lelah. Segel kuno yang menutupi pintu masuk gua raksasa itu berputar, memancarkan cahaya prisma yang menyilaukan, sebelum akhirnya memudar.
Alam Rahasia telah terbuka.
"MAJU!"
Teriakan itu meledak serentak dari ratusan mulut. Seperti bendungan yang jebol, massa kultivator liar dan murid sekte berhamburan masuk. Keserakahan adalah bahan bakar yang lebih kuat daripada Qi mana pun. Mereka berlomba, saling sikut, bahkan ada yang sudah mulai menghunus pedang hanya untuk mendapatkan posisi masuk yang lebih depan.
Lu Daimeng tidak berlari. Dia berjalan.
Di tengah arus manusia yang panik itu, dia bergerak seperti batu karang yang membelah sungai. Dia membiarkan murid-murid Sekte Awan Biru dan Keluarga Lu masuk lebih dulu. Biarkan mereka memicu jebakan awal. Biarkan mereka menjadi umpan bagi binatang penjaga pintu.
Saat gilirannya tiba, dia melangkah melewati tabir energi.
Sensasi dingin menyapu kulitnya, diikuti oleh lonjakan tekanan atmosfer.
Lu Daimeng membuka matanya di sisi lain.
Dunia ini... berbeda.
Ini adalah hutan purba yang terjebak dalam waktu. Pohon-pohon di sini tidak tinggi menjulang dan lurus seperti di Hutan Kabut Kematian. Pohon-pohon di sini meliuk, batangnya tebal dan berlumut biru, dengan daun-daun selebar meja makan yang berwarna hijau zamrud. Langit di atas tidak memiliki matahari, melainkan hamparan kanvas biru tua dengan corak nebula yang bergerak lambat, memberikan penerangan yang konstan dan mistis.
Udara di sini berat.
Kultivator biasa akan menyebutnya "segar". Qi alam di sini dua kali lebih padat daripada di luar. Bagi mereka, setiap tarikan napas adalah kultivasi.
Bagi Lu Daimeng, udara ini terasa "kaya". Seperti menghirup sup kental.
Anti-Dao di perutnya berputar pelan, menyaring kepadatan itu, menghancurkan struktur Qi-nya, mengubahnya menjadi dark null, mengambil residu murni untuk memperkuat anti dao dan memperkuat sel darahnya.
Lu Daimeng tidak mengikuti jalan utama yang diambil oleh rombongan besar. Dia melihat jejak kaki mereka—jejak kehancuran yang ditinggalkan Zian Qin dan keanggunan langkah Bi Yue.
"Terlalu ramai," gumamnya.
Dia berbelok tajam ke kiri, menembus semak belukar berduri setinggi dada manusia, menuju tebing-tebing batu kapur di pinggiran alam rahasia.
Namun, dia tidak sendirian.
Telinganya yang tajam menangkap suara desingan halus di udara. Suara pedang terbang kualitas rendah yang membelah angin dengan tidak stabil.
Tiga orang.
Lu Daimeng tidak menoleh. Dia terus berjalan, tapi langkahnya sedikit melambat, memberikan ilusi kelelahan atau keraguan.
Di atasnya, tiga kultivator liar saling bertukar pandang. Mereka mengenakan pakaian lusuh yang ditambal-sulam. Pedang terbang di kaki mereka retak-retak, artefak bekas yang mungkin dibeli di pasar loak.
Mata mereka menatap punggung Lu Daimeng dengan keserakahan.
"Pria Besar itu sendirian," bisik salah satu dari mereka melalui transmisi suara. "Jubahnya terlihat mahal. Tapi aku tidak merasakan fluktuasi Qi sedikit pun darinya."
"Mungkin dia menyembunyikan kultivasinya?" tanya yang kedua, ragu.
"Tidak," jawab yang ketiga, seorang pria dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya. Dia berada di Pembentukan Qi Tahap 7, yang terkuat di antara mereka. "Orang yang menyembunyikan kultivasi tetap memiliki ritme napas yang selaras dengan alam. Orang ini... dia berjalan seperti batu. Dia pasti menggunakan artefak pelindung atau fisik murni. Dia hanya pria besar dan pastinya domba gemuk yang cocok kita sembeli."
Keserakahan menutupi logika. Di dunia kultivasi, bertemu seseorang yang tampak lemah di tempat berbahaya adalah rezeki nomplok.
"Kita sergap dia," perintah si Luka Bakar. "Pria besar dengan energi spiritual yang tipis adalah samsak tinju terbaik."
Lu Daimeng tersenyum di balik topinya. Tiga pupil di mata kanannya melihat panas tubuh mereka di atas pepohonan.
"Tiga serigala mengejar harimau," batin Lu Daimeng.
Dia melihat sebuah celah di tebing depan. Sebuah gua alami yang gelap, mulutnya tertutup tanaman merambat. Dari bau udara yang keluar, gua itu dalam, lembap, dan buntu.
Tempat jagal yang sempurna.
Lu Daimeng mempercepat langkahnya, seolah-olah dia menemukan tempat persembunyian, lalu menerobos masuk ke dalam gua itu.
"Dia masuk!" seru kultivator di atas. "Cepat, sebelum dia memasang formasi pertahanan!"
Mereka bertiga menukik turun.
Mereka mendarat di mulut gua, melompat turun dari pedang terbang mereka. Pedang-pedang itu kini mereka pegang di tangan.
"Hati-hati," kata si Luka Bakar. "Masuk."
Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan.
Seketika, cahaya dari luar lenyap. Gua ini memiliki struktur batuan yang menyerap cahaya. Obor api yang dinyalakan oleh salah satu dari mereka hanya mampu menerangi radius dua meter. Selebihnya adalah hitam pekat.
"Keluar kau!" teriak salah satu kultivator, suaranya menggema. "Serahkan cincinmu dan kami akan membiarkanmu pergi dengan utuh!"
Hening.
Hanya suara tetesan air dari stalaktit. Tes... Tes...
Mereka tidak tahu bahwa di dalam kegelapan itu, mereka telanjang.
Lu Daimeng menempel di dinding gua, lima meter di atas kepala mereka. Dia menahan dirinya hanya dengan cengkeraman jari kaki dan satu tangan pada celah batu.
Mata Tiga Pupil-nya bersinar redup dalam mode spektrum termal.
Dia melihat tiga sosok yang menyala di tengah kegelapan dingin gua. Dia melihat detak jantung mereka. Dia melihat aliran Qi yang tegang di meridian mereka.
Mereka buta. Dia melihat segalanya.
Lu Daimeng melepaskan pegangannya.
Dia jatuh tanpa suara. Gravitasi adalah sekutunya.
Target pertama: Kultivator Pembentukan Qi Tahap 6 di posisi paling belakang.
Lu Daimeng mendarat tepat di belakangnya. Sebelum kaki Lu Daimeng menyentuh tanah, Pedang Baja Meteorit Hitam di tangannya sudah bergerak.
Dia telah melapisinya dengan Dark Null. Bilah hitam itu tidak memantulkan cahaya obor, malah menyerapnya.
SLAASSH.
Tidak ada suara benturan. Dark Null menghapus materi atom di leher pria itu (lesatan pedangnya).
Kepala kultivator itu terpisah dari tubuhnya bahkan sebelum sarafnya sempat mengirim sinyal sakit ke otak. Tubuhnya ambruk.
BRUK.
Dua temannya berbalik kaget.
"San?! Apa yang—"
Mereka melihat mayat teman mereka tanpa kepala, darah menyembur seperti air mancur ke langit-langit gua.
Dan di tengah cipratan darah itu, berdiri sosok tinggi besar berjubah hitam, dengan mata yang memiliki enam pupil berputar gila.
"Tripel Pupil Dao?"
"Iblis!"
Si Luka Bakar bereaksi cepat. Dia menghentakkan kakinya, dan perisai Qi berwarna kuning muncul di sekeliling tubuhnya. Temannya yang satu lagi mengangkat pedang untuk menangkis.
Lu Daimeng tidak mundur. Dia maju.
Langkahnya memecahkan lantai batu.
Dia mengayunkan pedang hitamnya ke arah kultivator kedua (Tahap 6).
"Tangkis ini!" teriak kultivator itu, percaya diri dengan pedang bajanya yang dialiri Qi.
TING!
Bunyi logam beradu? Tidak.
Pedang kultivator itu patah seperti ranting kering. Dark Null di pedang Lu Daimeng memakan struktur logam murahan dari pedang lawan, lalu terus melaju membelah bahu hingga ke pinggang.
Darah dan organ dalam tumpah ke lantai.
"Mustahil..." Si Luka Bakar mundur, wajahnya pucat pasi. "Qi pelindung... tidak berguna?"
Kini tinggal satu lawan satu.
"Sialan, kenapa aku sesial ini!." Gumam pria luka bakar (Tahap 7) yang merupakan veteran. Dia tidak menyerang sembarangan. Dia melemparkan sebuah jimat peledak ke tanah.
BOOM!
Asap tebal memenuhi gua. Dia berniat lari.
"Mampus kau, Iblis!" Pria luka bakar itu melesat dengan cepat, mengira asap tersebut dapat mebutakan Lu Daimeng.
Tapi Lu Daimeng tidak butuh mata fisik. Dia melihat panas tubuh pria itu bergerak ke arah pintu keluar.
"Kau mau kemana?" bisik suara di telinga si Luka Bakar.
Lu Daimeng tidak mengejar dengan kaki. Dia melempar.
Dari tangan kirinya, sebuah belati tulang—benda yang dia dapat dari mayat sebelumnya, yang telah dia rendam dalam racun Air Mata daun Janda Hitam sisa—melesat.
JLEB.
Belati itu menancap tepat di betis si pria Luka Bakar.
"ARGHHH!" Pria itu jatuh terguling. Racun itu bekerja instan pada saraf motorik. Kakinya lumpuh.
Dia merangkak dengan tangan, menyeret tubuhnya ke arah cahaya mulut gua yang tampak begitu jauh.
"Ampun... Tuan... Senior... Saya punya mata tapi tidak melihat Gunung Agung..."
Lu Daimeng berjalan santai mendekatinya. Langkah kakinya berat, DUM... DUM..., seperti lonceng kematian.
Dia menginjak punggung tangan pria itu. Lalu menekannya menggunakan energi fisik murni.
KRAK. (Tulang tangan hancur).
"Gunung Agung tidak peduli kau melihatnya atau tidak," kata Lu Daimeng datar. "Gunung Agung itu hanya berdiri. Dan kau menabraknya."
Lu Daimeng mengangkat pedang hitamnya. Ujungnya diarahkan ke tengkuk leher.
"Terima kasih atas donasinya."
JLEB.
Hening kembali menguasai gua.
Tiga mayat. Tiga sumber daya.
Lu Daimeng tidak beristirahat. Dia menyeret ketiga mayat itu ke bagian gua yang lebih dalam, di mana terdapat sebuah cekungan alami yang dialiri air tanah.
Dia bekerja dengan efisiensi industri.
Dia mematahkan setiap tulang di tubuh mereka—suara krak-krak bergema mengerikan—agar tubuh mereka bisa dilipat masuk ke dalam cekungan itu. Dia menyayat setiap arteri utama menggunakan tripel pupilnya. Darah segar kultivator, yang kaya akan energi, memenuhi kolam kecil itu, mengubah air bening menjadi merah pekat.
Lalu, dia membedah perut mereka.
Tiga Dantian. Satu Tahap 7, dua Tahap 6. Kualitasnya lumayan.
Dia memakan ketiganya sekaligus.
Resonansi.
Tubuhnya bergetar. Singularitas di perutnya meraung, meminta lebih. Energi ini tidak cukup. Tubuhnya yang besar membutuhkan kalori evolusi yang masif.
Lu Daimeng melepas jubahnya. Dia telanjang bulat, memperlihatkan tubuh setinggi 2,3 meter yang dipenuhi otot padat berwarna abu-abu granit. Dia masuk ke dalam kolam darah itu.
Dia duduk berendam. Pori-porinya terbuka, menyedot esensi darah seperti spons kering.
Tapi itu hanya persiapan.
Dia mengambil segenggam cincin.
Lima belas cincin penyimpanan.
Tiga dari yang baru dibunuh. Empat dari kelompok Sekte Awan Biru sebelumnya. Satu milik Kapten Chu. Dua milik Tetua Logistik Keluarga Lu. Dan sisanya dari berbagai korban kecil lainnya.
Ini adalah kekayaan yang bisa membuat kultivator liar bahkan sekte kecil berperang.
Masalahnya: Cincin ini terkunci oleh jejak jiwa pemiliknya (walau sudah mati, jejaknya masih ada) atau segel formasi. Lu Daimeng tidak punya Qi untuk membuka kuncinya secara halus.
"Jika aku tidak punya kuncinya," kata Lu Daimeng, menatap cincin-cincin itu dengan enam pupilnya yang berputar. "Aku akan menghancurkan pintunya."
Dia menggenggam kelima belas cincin itu di kedua tangannya. Mencoba mencari cara untuk mengeluarkan isi dari cincin tersebut, menggunakan kekuatannya saat ini.
Dia memejamkan mata.
Dia memanggil Dark Null. Bukan aliran tipis seperti saat melapisi pedang. Dia memanggil banjir.
Dia memaksa Anti-Dao di perutnya untuk membalikkan putarannya. Mengirimkan gelombang penghapusan murni ke telapak tangannya.
"Hapus."
Energi hitam menyelimuti cincin-cincin itu.
KRETEK... KRETEK...
Cincin-cincin itu bergetar. Formasi pelindung di dalamnya mencoba melawan, memancarkan cahaya penolakan. Tapi Dark Null tidak bertarung; ia meniadakan. Ia memakan struktur formasi itu, menghapus logika dao pengunci yang mengikat ruang di dalamnya.
Satu per satu, segel itu runtuh.
POOF! POOF! POOF!
Barang-barang di dalam cincin itu dimuntahkan keluar secara paksa karena ruang penyimpanannya runtuh.
Gua itu seketika penuh.
Gunungan batu roh (ribuan butir dari Tetua Logistik). Tumpukan senjata. Botol-botol pil. Kitab teknik. Beberapa jimat. Logam mulia emas, perak. Baju zirah.
Lu Daimeng terkubur di bawah harta karun.
Dia tidak tertawa. Dia tidak bersorak. Wajahnya serius.
Dia melihat tumpukan Batu Roh itu. Ada yang tingkat rendah, ada yang tingkat menengah.
"Selamat makan," bisiknya.
Dia mulai makan.
Bukan satu per satu. Dia mengambil segenggam Batu Roh, memasukkannya ke mulut, dan mengunyahnya seperti kerupuk.
KRAK! KREK!
Energi spiritual meledak di mulutnya, di kerongkongannya, di perutnya.
Dia meminum botol-botol pil—pil apa saja, penyembuh, penguat, bahkan racun—dia menelan semuanya.
Dia menjadi lubang hitam yang rakus.
Tubuhnya mulai memanas. Air darah di kolam mendidih dan menguap, menyelimuti gua dengan kabut merah.
Otot-otot Lu Daimeng mengejang. Urat-uratnya menonjol, berdenyut dengan cahaya hitam.
Singularitas di perutnya mencapai massa kritis.
Ia sudah terlalu sibuk. Ia tidak bisa menampung lebih banyak lagi untuk saat ini. Tapi Lu Daimeng terus memaksanya makan.
"Lebih kecil..." perintah Lu Daimeng pada organ Anti-Dao-nya dia ingin anti dao itu terus memadat. "Lebih padat..."
Dia menggunakan kehendaknya untuk menekan Singularitas itu.
Sakitnya?
Bayangkan seluruh tubuhmu diremas oleh tangan raksasa hingga menjadi bola kecil. Tulang-tulangnya terasa ingin meledak keluar. Otaknya serasa mendidih.
"ARGHHHHHHH!!!"
Teriakan Lu Daimeng mengguncang gua.
Stalaktit di langit-langit runtuh, jatuh menimpa tubuhnya, tapi hancur menjadi debu saat menyentuh kulitnya yang bergetar.
Di dalam perutnya, Singularitas hitam itu bergetar hebat. Ia tidak stabil. Ia ingin meledak dan memusnahkan Lu Daimeng.
"JANGAN MELEDAK!" raung Lu Daimeng, darah mengucur dari mata, hidung, dan telinganya. "BELAH! MEMBELAHLAH!"
Dia menerapkan prinsip pembelahan sel. Jika satu inti terlalu besar, ia harus membelah menjadi dua.
Dia memaksakan Dark Null untuk memotong Singularitas itu tepat di tengah.
Ini adalah kegilaan. Ini adalah bunuh diri.
KRAAAK!
Suara itu datang dari dalam jiwanya.
Di dunia nyata, gelombang kejut hitam meledak dari tubuh Lu Daimeng.
Dinding gua di sekelilingnya tidak retak. Dinding itu mengembang.
Batu-batu itu lenyap. Terhapus. Diameter gua yang tadinya lima meter, tiba-tiba menjadi sepuluh meter dalam sekejap. Materi di sekelilingnya ditiadakan oleh ledakan Anti-Dao.
Lu Daimeng muntah darah hitam pekat.
Dia jatuh berlutut, napasnya terputus.
Hening.
Lama.
Lalu... Dug-Dug... Dug-Dug...
Dua detak jantung.
Lu Daimeng memejamkan mata, melihat ke dalam dirinya.
Di tempat di mana tadinya ada satu titik hitam seukuran kelereng... kini ada dua.
Dua titik hitam seukuran atom. Sangat kecil. Tapi kepadatannya mengerikan. Mereka berputar satu sama lain, menciptakan orbit gravitasi yang sempurna di dalam pusat tubuhnya.
Medan energi ganda.
Lu Daimeng membuka matanya.
Keenam pupilnya bersinar dengan cahaya hitam yang menelan cahaya sekitarnya.
Dia berdiri.
Air kolam darah sudah kering, terserap habis. Harta benda yang tadi menggunung, sebagian besar telah hancur menjadi debu akibat ledakan tadi, sisanya yang berupa logam tingkat tinggi meleleh dan menyatu dengan kulitnya.
Tinggi 2,3 meter dengan kepadatan otot 10 kali lipat. Bahunya lebar seperti gerbang benteng. Kulitnya memiliki kilau yang seperti telahs ditempa ribuan kali.
Dia mengepalkan tangannya.
Udara di dalam genggamannya meletup, menciptakan percikan listrik statis hitam.
"Anti-Dao Tahap Kedua," suaranya berat, bergema seperti berasal dari dasar sumur.
Kekuatannya?
Secara fisik, dia merasa bisa meremas kepala seekor gajah spiritual dengan satu tangan. Kepadatan energinya setara dengan kultivator Pembentukan Qi Tahap 8, tapi dengan kualitas yang jauh lebih merusak. Qi biasa akan hancur jika beradu dengan Dark Null yang kini dua kali lebih padat ini.
Dia melihat ke sekeliling gua yang kini lebih luas dan kosong.
Tidak ada lagi yang tersisa di sini. Dia telah memakan semuanya.
Lu Daimeng mengambil pedang hitamnya—satu-satunya benda yang selamat dari proses itu karena bahannya yang terbuat dari meteorit. Dia kembali mengenakan pakaiannya.
Dia melangkah menuju pintu gua.
Cahaya dari luar menyinari siluetnya yang raksasa dan mengerikan.
"Lapar..." bisiknya.
Evolusi ini membutuhkan biaya energi yang besar. Dia baru saja menghabiskan tabungan 15 cincin penyimpanan. Dia butuh sumber daya baru.
Dan di luar sana, di lembah yang indah itu, ada ratusan "sumber daya" yang sedang berjalan-jalan mencari tanaman obat.
Sang Anti-Daoist melangkah keluar dari kegelapan, siap untuk mengubah Alam Rahasia ini menjadi meja makan.
Bersambung...