"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tiga bulan berlalu seperti mimpi yang indah di pegunungan Swiss. Luka-luka dari New York telah tertutup oleh tawa kecil Daven dan kesigapan Nick yang tak pernah lelah membuktikan diri.
Hari ini, di sebuah kapel tua yang berdiri anggun di tepi Danau Jenewa, suasana tampak begitu magis. Salju tipis mulai turun di luar, namun di dalam kapel, kehangatan bunga lili putih dan ratusan lilin aromaterapi menyelimuti ruangan.
Ini bukan pernikahan megah penuh kemewahan seperti yang diharapkan keluarga Teldford di Amerika. Ini adalah sebuah janji suci yang hanya dihadiri oleh orang-orang terkasih, termasuk Victoria Saville yang kini menatap Nick dengan tatapan yang sudah jauh lebih melunak.
Nickholes berdiri di depan altar dengan setelan tuksedo hitam yang sangat pas di tubuh atletisnya. Wajahnya yang dulu sering dihiasi keangkuhan, kini tampak tegang sekaligus penuh haru. Ia terus-menerus merapikan kerah bajunya, matanya tak lepas menatap pintu besar kapel.
Saat pintu terbuka, alunan musik organ mulai memenuhi ruangan. Nadine muncul, didampingi oleh ibunya. Ia tampak sangat cantik dalam balutan gaun pengantin sederhana namun elegan yang menyamarkan bentuk tubuhnya setelah melahirkan.
Di pelukan Victoria, tampak Daven yang tertidur pulas dalam balutan tuxedo bayi mungil, seolah mengerti bahwa hari ini adalah hari penyatuan permanen ayah dan ibunya.
Saat tangan Nadine berpindah ke lengan Nick, pria itu seolah lupa bagaimana cara bernapas. Ia membisikkan kata-kata yang membuat Nadine tersenyum di balik cadarnya.
"Kau terlalu cantik, Nadine. Aku merasa tidak layak berdiri di sampingmu, tapi aku tidak akan membiarkan pria lain menggantikanku."
Pendeta mulai membacakan liturgi, namun saat tiba waktunya bagi mereka untuk mengucapkan janji yang mereka tulis sendiri, suasana menjadi sangat hening. Nick memegang kedua tangan Nadine, menatap lurus ke dalam mata cokelat yang pernah ia lukai berkali-kali itu.
"Nadine..." Nick memulai, suaranya sedikit bergetar. Ia menarik napas panjang untuk menahan air mata yang mulai mendesak.
"Dulu, aku adalah pria yang memiliki segalanya namun sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Aku mengejar sorak-sorai ribuan orang, tapi aku tuli terhadap detak jantungmu yang mencintaiku dengan tulus. Aku pernah menghancurkanmu, aku pernah merendahkanmu, dan aku pernah menjadi alasan di balik air matamu."
Nick meremas lembut tangan Nadine. "Di depan altar ini, dan di hadapan putra kita, aku berjanji. Aku tidak akan lagi mengejar dunia, karena duniaku kini ada di depan mataku. Aku berjanji akan menjadi tameng yang melindungimu dari rasa sakit, menjadi tangan yang menghapus air matamu, dan menjadi ayah yang akan membuat Daven bangga memiliki namaku di belakang namanya."
Nick terhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada sedikit konyol yang menjadi ciri khasnya belakangan ini, membuat suasana haru sedikit mencair.
"Aku berjanji akan tetap menjadi pelayan setiamu, memijat kakimu setiap malam tanpa diminta, dan aku berjanji tidak akan pernah lagi membuat tanda merah di lehermu... kecuali jika kau memberiku izin tertulis," bisik Nick yang membuat Nadine tertawa kecil di sela air matanya.
Nadine menghapus air mata di pipinya, lalu menarik napas untuk membalas janji itu.
"Nickholes Teldford. Aku pernah bersumpah untuk membencimu selamanya. Aku pernah lari ke ujung dunia hanya untuk melupakan namamu. Tapi Tuhan punya rencana lain lewat Daven. Kau membuktikan bahwa pria yang paling hancur sekalipun bisa berubah menjadi pelindung yang paling tangguh."
"Aku menerimamu, dengan segala masa lalumu dan segala keriwehan mu sebagai ayah baru. Aku berjanji untuk tetap berada di sampingmu, untuk tertawa pada setiap candaan konyolmu, dan untuk mencintaimu meski kau terkadang sangat menyebalkan. Kau adalah rumahku, Nick. Dan hari ini, aku benar-benar pulang."
"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri yang sah," ucap Pendeta.
Nick tidak menunggu sedetik pun. Ia langsung mengangkat cadar Nadine dan mencium istrinya dengan ciuman yang sangat dalam, penuh rasa syukur, dan janji kesetiaan. Di kursi barisan depan, Daven tiba-tiba terbangun dan merengek kecil, seolah ingin ikut serta dalam momen tersebut.
Nick melepaskan ciumannya, lalu tertawa. Ia segera menghampiri Victoria dan mengambil Daven ke dalam gendongannya. Di depan altar, Nick mengangkat Daven tinggi-tinggi, lalu mencium pipi bayi itu dan pipi Nadine secara bergantian.
"Lihat, Daven! Ayah sudah resmi menjadi asisten Ibu seumur hidup!" seru Nick riang.
Setelah acara selesai, mereka kembali ke pondok mereka. Bukannya menikmati malam pengantin yang romantis dengan champagne dan musik klasik, Nick justru sibuk dengan hal lain.
Nadine sedang duduk di ranjang, mencoba melepaskan perhiasannya, saat Nick masuk dengan membawa baskom air hangat dan minyak esensial.
"Nick, kita baru saja menikah. Tidakkah kau ingin melakukan sesuatu yang lebih... romantis?" tanya Nadine sambil tersenyum menggoda.
Nick berlutut di lantai, mulai melepaskan sepatu hak tinggi Nadine. "Ini adalah hal paling romantis yang bisa kulakukan, Sayang. Kau sudah berdiri di altar selama satu jam dengan sepatu ini. Kakimu pasti pegal. Malam pengantin bisa menunggu, tapi kenyamanan istriku adalah prioritas utama."
Nick mulai memijat kaki Nadine dengan telaten. "Lagipula, Daven baru saja tidur. Jika kita melakukan hal-hal 'romantis' dan dia terbangun karena kita berisik, aku tidak mau mengambil risiko mengganti popoknya lagi di jam segini."
Nadine tertawa lepas, ia menarik kepala Nick dan mencium puncak kepalanya. "Kau benar-benar sudah berubah, Kapten."
"Aku hanya sedang mempraktekkan janji suciku, Nadine," jawab Nick sambil mendongak, menatap Nadine dengan mata yang penuh cinta. "Satu pelepasan beban di kakimu sekarang, adalah investasi untuk senyumanmu besok pagi."
Nick kemudian berdiri, mencium bibir Nadine dengan lembut namun intens. "Tapi jangan salah sangka... setelah pijatan ini selesai, aku tetap akan menagih janji penyatuan kita sebagai suami istri yang sah. Karena sepertinya... aku mulai merasa meriang lagi, Nyonya Teldford."
Nadine merona merah, memukul bahu Nick dengan bantal. Malam itu, di tengah kesunyian Swiss, sebuah cerita yang dimulai dari kesalahan dan air mata akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya.
Sebuah pernikahan yang tidak dibangun di atas kesempurnaan, melainkan di atas puing-puing masa lalu yang disusun kembali dengan cinta, kesabaran, dan keriwehan seorang Nickholes Teldford.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰