Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga sebuah kebebasan
Satu minggu berlalu. Dunia luar perlahan pulih dari apa yang media sebut sebagai "Badai Matahari Global". Namun, di dalam Vila Vandana yang terletak di pesisir utara, pemulihan berjalan jauh lebih lambat dan menyakitkan.
Selena terbangun di sebuah kamar yang luas, di mana aroma melati segar berusaha menutupi bau obat-obatan. Kali ini, saat ia membuka mata, tidak ada barisan kode digital yang melintas di pandangannya. Tidak ada denging frekuensi tinggi di telinganya. Langit-langit kamar itu hanyalah kayu jati yang dipahat indah—mati, diam, dan nyata.
Ia mencoba duduk, merasakan berat tubuhnya sendiri. Rasanya aneh menjadi "hanya" manusia lagi.
"Kau sudah sadar?"
Bhanu berdiri di ambang pintu balkon. Ia tidak lagi mengenakan jas formalnya yang kaku. Hanya kemeja hitam dengan lengan digulung, memperlihatkan perban di bawah kulitnya. Matanya yang dulu selalu memancarkan dominasi, kini tampak lelah namun jernih.
Selena menatapnya lama. Ingatannya kembali seperti air bah yang menjebol bendungan. Ia ingat setiap detail: pengkhianatan ayahnya, kegilaan Dr. Eleanor, dan bagaimana Bhanu mendekapnya di tengah ledakan EMP.
"Berapa lama aku tertidur?" suara Selena parau.
"Tujuh hari," jawab Bhanu sambil mendekat, duduk di pinggir tempat tidur. Ia menjaga jarak, sebuah gestur penghormatan yang baru bagi Selena. "Dahayu berhasil membersihkan sisa-sisa virus saraf di otakmu. Kau bersih, Selena. Phoenix sudah mati."
Selena menunduk, melihat jemarinya. "Dan ibumu? Raka?"
Bhanu menghela napas panjang, menatap keluar jendela ke arah laut yang tenang. "Ibu tidak ditemukan. Pihak otoritas menyatakan pulau itu hilang karena aktivitas seismik bawah laut. Sedangkan Raka... dia pergi tiga hari yang lalu. Dia bilang dia lebih suka menjadi hantu daripada menjadi bagian dari keluarga yang 'normal'."
Selena turun dari tempat tidur, langkahnya masih sedikit goyah. Ia berjalan menuju meja rias dan menatap cermin. Di pangkal lehernya, kini terdapat bekas luka kecil—jejak di mana jarum Dahayu memutuskan koneksi terakhirnya dengan dunia digital.
"Kau bebas, Selena," ucap Bhanu pelan dari belakangnya. "Ayahmu sudah berada dalam pengawasan internasional atas kasus perdagangan data. Perusahaan Arunika telah aku likuidasi dan asetnya atas namamu. Kau tidak punya kewajiban lagi pada Vandana. Kontrak perjodohan itu... sudah aku musnahkan di depan Dahayu."
Selena berbalik, menatap pria yang dulu ia anggap sebagai penjara hidupnya. "Kau melepaskanku setelah semua yang kau korbankan untuk mendapatkan 'Kunci' itu?"
"Aku tidak pernah mendapatkan kuncinya," Bhanu tersenyum tipis, sebuah senyum pahit namun tulus. "Aku hanya mendapatkan seorang wanita yang terlalu kuat untuk dimiliki siapapun. Pesawat pribadimu sudah siap di bandara jika kau ingin pergi. Ke Swiss, ke New York, atau kemana pun yang kau mau."
Selena terdiam. Kebebasan yang selama ini ia impikan kini tergeletak di depan matanya. Tidak ada lagi dewa yang mengatur takdirnya. Tidak ada lagi sandi yang harus ia jaga.
Namun, ia teringat bagaimana Bhanu tidak melepaskannya saat listrik membakar tubuh mereka berdua di pulau itu. Ia teringat bagaimana pria ini memilih menghancurkan warisan kakeknya sendiri demi kewarasan Selena.
"Bagaimana dengan Vandana?" tanya Selena. "Dahayu tidak akan bisa mengelola perusahaan itu sendirian tanpa seorang 'Vandana' yang sah di kursi CEO."
"Aku akan kembali ke sana. Menjadi monster bisnis seperti biasanya," jawab Bhanu getir.
Selena melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia meraih kerah kemeja Bhanu, menariknya sedikit seperti yang sering ia lakukan saat mereka berdebat.
"Aku tidak pernah bilang aku ingin pergi, Bhanu."
Bhanu terpaku. "Apa?"
"Dunia luar terlalu membosankan jika aku hanya menjadi wanita kaya yang bersembunyi di Swiss," Selena menatap mata Bhanu dengan api yang baru. "Vandana Corp butuh reformasi. Dan kurasa, seorang CEO wanita yang pernah menguasai satelit dunia adalah orang yang tepat untuk memimpinnya. Dan kau..." Selena menjeda, senyum tantangannya muncul. "...kau akan tetap menjadi pendampingku. Bukan sebagai pemilikku, tapi sebagai orang yang akan berdiri di sampingku saat aku menghancurkan siapapun yang mencoba membangkitkan Project Phoenix lagi."
Bhanu tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan rasa lega dan kekaguman. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Selena, menariknya mendekat. "Kau benar-benar ingin tetap tinggal di neraka ini bersamaku?"
"Bukan neraka, Bhanu," bisik Selena tepat di depan bibirnya. "Kita akan membangun kerajaan baru. Di mana tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi kode. Hanya kita."
Saat mereka berciuman, matahari terbenam di cakrawala utara, menandai berakhirnya era para dewa digital dan dimulainya era baru bagi dua manusia yang telah memenangkan kebebasan mereka dari darah dan percikan sirkuit.
Di sebuah laboratorium bawah tanah yang tidak diketahui lokasinya, di sebuah kota kecil di Eropa Timur, sebuah layar komputer yang tadinya gelap tiba-tiba menyala sendiri.
Sebuah garis kode muncul di layar, berwarna merah darah:
> [PROJECT PHOENIX: OFFLINE]
> [DNA SEQUENCE REPLICATION: SUCCESSFUL]
> [TARGET: SECOND GENERATION]
Di sudut ruangan, sebuah tabung berisi sampel darah berlabel "S.A + A.B.V" mulai berpendar pelan. Permainan ini mungkin telah berakhir bagi Selena dan Bhanu, namun bagi para "Founders", ini hanyalah waktu istirahat sebelum babak baru dimulai.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...