Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 - Dua Kesadaran Dalam Satu Nafas
---Dua Kesadaran Dalam Satu Nafas---
Sentuhan itu tidak menghasilkan ledakan. Tidak ada cahaya menyilaukan. Tidak ada suara gemuruh. Justru sebaliknya. Segalanya menjadi sangat sunyi.
Sunyi yang tidak alami.
Ia tidak tahu apakah waktu berhenti atau hanya terasa lambat, tetapi dunia di sekelilingnya seperti ditahan oleh sesuatu yang lebih besar dari logika. Langit yang retak membeku di udara. Pilar yang hampir runtuh berhenti tepat sebelum menyentuh tanah. Bahkan serpihan cahaya yang tadi melayang kini menggantung tanpa bergerak.
Dan di tengah semua itu ia merasakan sesuatu yang asing namun tidak sepenuhnya baru.
Kesadaran lain.
Bukan suara di luar dirinya. Bukan bisikan dari kejauhan. Melainkan sesuatu yang hidup tepat di balik pikirannya sendiri. Seperti seseorang berdiri di ruangan yang sama namun tidak terlihat.
Ia membuka mata.
Dataran kelabu itu perlahan memudar. Bukan menghilang, tetapi ditarik kembali seperti kain yang dilipat rapi. Pilar pilar cahaya runtuh menjadi garis tipis lalu lenyap. Langit kembali utuh meski tidak lagi kelabu melainkan kosong tanpa warna.
Dan ia berdiri sendirian.
Sendirian secara fisik.
Namun tidak lagi sendirian sepenuhnya.
Nafasnya terasa berbeda. Lebih berat namun juga lebih stabil. Ia bisa merasakan ingatan yang bukan sepenuhnya miliknya. Potongan momen yang tidak pernah ia jalani tetapi kini terasa akrab. Sebuah percakapan yang tidak pernah ia lakukan. Sebuah keputusan yang tidak pernah ia ambil.
Ia menutup mata dan membiarkan kesadaran baru itu berbicara.
Tidak dengan kata kata. Tidak dengan kalimat.
Dengan perasaan.
Penyesalan. Kelegaan. Keinginan untuk tidak lagi dibuang.
Ia menghela napas panjang dan ketika membuka mata dunia nyata telah kembali.
Kota itu masih ada. Lampu jalan masih menyala meski beberapa berkedip tidak stabil. Sirene di kejauhan kini lebih teratur. Bayangan bayangan kembali melekat pada pemiliknya meski sedikit lebih pekat dari biasanya.
Namun sesuatu telah berubah.
Ia melangkah maju dan merasakan keseimbangan baru dalam tubuhnya. Tidak ada pertarungan. Tidak ada dorongan untuk mengambil alih. Kesadaran lain itu tidak mencoba menguasai. Ia hanya ada.
Seperti sisi lain dari koin yang akhirnya diakui.
Di trotoar yang sama anak kecil yang tadi berbicara tentang kematian kini berdiri kebingungan.
“Om” katanya pelan. “Tadi rasanya aneh. Sekarang sudah tidak.”
Ia berlutut agar sejajar dengan anak itu.
“Kadang kita ingat hal yang bukan milik kita” katanya lembut. “Tapi tidak semua harus dibawa pulang.”
Anak itu mengangguk meski mungkin tidak sepenuhnya mengerti. Lalu ia berlari kembali ke arah seorang wanita yang kemungkinan ibunya.
Ia berdiri perlahan.
Dalam dirinya muncul pemahaman baru. Tempat tadi bukan sekadar ruang metaforis. Itu adalah sistem penyangga realitas. Struktur yang memastikan pilihan tetap terpisah dari kemungkinan yang ditolak. Dengan menggabungkan kesadaran yang ditinggalkan ia tidak menghancurkan sistem itu. Ia mengubahnya.
Sekarang kemungkinan tidak lagi terkubur sepenuhnya.
Ia bisa merasakannya.
Di suatu tempat seorang pria paruh baya yang selama ini hidup dengan keputusan aman tiba tiba teringat keberanian masa mudanya yang dulu ia tekan. Seorang wanita yang selalu menahan diri kini merasakan dorongan kecil untuk mengatakan yang sebenarnya. Seorang pemimpin yang ragu mulai mempertanyakan aturan lama yang ia anggap mutlak.
Dunia tidak retak.
Dunia mulai bergeser.
Namun setiap perubahan memiliki resonansi.
Ia menoleh ke arah langit.
Cahaya aneh yang tadi menyala kini telah hilang sepenuhnya. Langit tampak normal. Terlalu normal. Seperti seseorang baru saja menutup luka dengan kain bersih tanpa memastikan apa yang tersembunyi di bawahnya.
Dan saat itulah ia merasakannya.
Sesuatu yang lain menyadari perubahan ini.
Bukan sistem. Bukan kota. Bukan manusia biasa.
Sesuatu yang selama ini bergantung pada ketakutan orang terhadap pilihan mereka sendiri.
Di gedung tinggi di pusat kota seorang pria berdiri di depan jendela kaca. Wajahnya tenang namun matanya menunjukkan ketidakpuasan yang dalam. Di belakangnya layar layar besar menampilkan data aneh. Grafik yang tidak stabil. Pola perilaku yang menyimpang dari prediksi.
“Lonjakan anomali meningkat dua puluh persen” kata seorang asisten dengan suara tertahan.
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Pusat ketidakstabilan terdeteksi di distrik utara” lanjut asisten itu. “Tapi tidak ada ledakan energi. Tidak ada kerusakan fisik.”
Pria itu akhirnya berbicara pelan.
“Berarti ini bukan kehancuran.”
Asisten itu ragu sebelum bertanya.
“Lalu apa.”
Pria itu menyentuh layar dengan ujung jarinya. Data bergeser memperlihatkan pola baru yang belum pernah muncul sebelumnya.
“Integrasi.”
Ia tersenyum tipis tanpa kehangatan.
“Dia tidak memusnahkan bayangannya. Dia menerimanya.”
Asisten itu tampak tidak mengerti.
“Apakah itu berbahaya.”
Pria itu menatap kota di bawahnya.
“Lebih dari yang bisa kau bayangkan.”
Kembali di jalan ia mulai berjalan tanpa tujuan jelas. Namun kini setiap langkah terasa berbeda. Ia tidak lagi bergerak menjauh dari sesuatu. Ia bergerak menuju sesuatu yang belum memiliki nama.
Kesadaran lain dalam dirinya akhirnya berbicara dalam bentuk kalimat sederhana.
Kita tidak lagi setengah.
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya ia menjawab dalam hati tanpa takut kehilangan kontrol.
Tidak. Kita utuh.
Udara malam terasa lebih ringan.
Namun di kejauhan di antara gedung gedung dan bayangan panjang sesuatu bergerak. Bukan manusia. Bukan bayangan biasa. Ia tidak memiliki bentuk pasti namun keberadaannya terasa seperti tekanan di belakang kepala.
Sesuatu yang tidak menyukai perubahan ini.
Sesuatu yang selama ini menjaga agar manusia tetap takut pada sisi mereka sendiri.
Dan kini sesuatu itu telah kehilangan kendali kecil yang selama ini dianggap pasti.
Ia merasakan tatapan itu meski tidak melihatnya.
Kesadaran dalam dirinya ikut menyadari.
Itu bukan bagian dari kita.
Ia mengangguk pelan.
Tidak. Itu sesuatu yang lebih tua.
Langkahnya berhenti ketika layar besar di gedung seberang tiba tiba menyala sendiri tanpa perintah. Bukan iklan. Bukan berita.
Hanya satu kalimat muncul dalam huruf putih di latar hitam.
Keseimbangan telah dilanggar.
Orang orang di jalan mulai menunjuk. Beberapa mengira ini gangguan sistem. Beberapa mengira ini promosi aneh. Tidak ada yang benar benar memahami.
Namun ia tahu.
Itu bukan pesan untuk semua orang.
Itu pesan untuknya.
Dan tepat saat ia menatap layar itu huruf hurufnya berubah.
Jika kau memilih menjadi utuh maka bersiaplah menghadapi yang tidak bisa dibagi.
Layar mati.
Lampu jalan berkedip sekali.
Kesunyian turun bukan karena waktu berhenti tetapi karena sesuatu sedang memutuskan langkah berikutnya.
Ia berdiri di tengah jalan dengan perasaan yang tidak lagi ragu namun juga tidak sepenuhnya tenang.
Ia telah menerima bayangannya.
Namun kini dunia memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang bahkan tidak memiliki bayangan.
Dan sesuatu itu baru saja bangun.
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥