NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isyarat dari si Kecil

Pagi hari aku terbangun dan segera menunaikan salat Subuh. Seperti biasa, aku memulai hari dengan rutin berjalan santai di depan rumah tanpa alas kaki.

Begitu matahari mulai terbit, aku menyempatkan diri untuk berjemur, meski kali ini hanya sampai jam tujuh pagi saja.

Setelah selesai berjemur, aku masuk ke rumah dengan langkah yang mulai tertatih. Di usia kehamilan yang sudah besar ini, aku sadar bahwa aku harus benar-benar kuat, terutama mental untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti.

Segala perlengkapan yang diperlukan pun sudah aku siapkan dengan rapi.

"Mas, ayo berangkat?" ajakku saat melihat suamiku sudah terbangun.

Ia sedang duduk santai di ruang tamu, mungkin karena ada tamu yang datang tadi pagi sehingga ia bangun lebih awal.

Suamiku menoleh ke arahku, lalu menjawab dengan nada yang meremehkan.

"Sudah, tidak usah USG lagi. Nanti juga bayinya bakal mapan sendiri posisinya.

Lagipula zaman dulu tidak ada USG, nyatanya Mamak tetap bisa melahirkan normal," ucapnya tanpa memikirkan perasaanku.

Mendengar itu, aku tetap tenang namun tegas. "Ya sudah kalau tidak mau mengantar. Biar aku telepon Bapak saja."

Seketika, suamiku mendelik dan menatapku dengan tajam.

"Ya sudah, ayo! Kenapa sih apa-apa harus mengadu ke Bapakmu?!" bentaknya.

Suara kerasnya nyaris membuatku terlonjak hingga aku refleks memejamkan mata.

Namun, aku memilih untuk diam dan tidak memedulikan bentakannya. Fokusku hanya satu: memastikan kondisi anakku baik-baik saja.

Aku naik ke atas motor, dan begitu posisi sudah siap, suamiku langsung memacu kendaraannya.

Kecepatan motor melonjak dari 50 hingga hampir 65 kilometer per jam. Jujur, aku paling benci jika ia sedang marah lalu melampiaskannya dengan mengebut di jalan.

Seolah tak ada sedikit pun pikiran tentang kondisi anak yang sedang kukandung—apakah ia baik-baik saja, atau apakah aku sedang ketakutan? Suamiku benar-benar sosok yang sangat cuek.

Di sepanjang jalan aku hanya diam, membiarkan keheningan menyelimuti kami hingga akhirnya sampai di RSUD Ambarawa.

Begitu turun, aku segera mendaftar. Karena tidak memiliki BPJS, aku masuk melalui jalur umum. Aku menduga keengganannya mengantarku tadi karena khawatir soal biaya, namun aku tidak peduli soal urusan ekonominya.

Yang terpenting bagiku adalah mengetahui kabar anakku di dalam kandungan. Apakah dia merasa tertekan, atau bahkan ikut stres menghadapi ayahnya sendiri?

Sambil menunggu panggilan di depan bagian farmasi, perasaanku campur aduk. Sekitar lima menit kemudian, namaku dipanggil. Kami pun masuk ke ruang pemeriksaan.

Saat proses USG berlangsung, dokter mengamati layar monitor dengan sangat teliti, sementara aku dan suamiku ikut memperhatikan.

"Anaknya sehat ya, detak jantungnya juga bagus. Ini anaknya perempuan dan aktif sekali. Posisinya pun sudah mapan," jelas dokter yang seketika membuatku lega.

Namun, kalimat dokter selanjutnya membuatku terperanjat. "Tapi, apakah Ibu tidak merasakan sesuatu? Seperti kontraksi, misalnya? Sepertinya bayinya sudah siap lahir."

Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataannya. "Dok, bukannya saya baru hamil delapan bulan ya? Seingat saya, waktu periksa ke bidan kemarin hitungannya baru masuk delapan bulan," ucapku sangsi.

"Di monitor ini terlihat umurnya sudah delapan bulan lebih tujuh hari, Bu. Bayinya sudah mapan dan sehat, ukurannya juga sudah besar," dokter menjelaskan dengan tenang. Aku hanya bisa mengangguk pelan meski masih bingung.

Di dalam hati aku meragu, 'Seingatku hari pertama haid terakhirku tanggal 12 Juli, hari Kamis. Apa aku yang salah ingat ya?'

Keluar dari rumah sakit, kami langsung meluncur menuju tempat bidan desa.

Sesampainya di sana, aku kembali diperiksa mulai dari nadi hingga detak jantung janin. Suamiku hanya memperhatikan dari kejauhan tanpa sepatah kata pun.

"Ini harus segera dibawa ke rumah sakit untuk proses persalinan, karena di sini alatnya tidak memadai," ujar Bu Bidan setelah melihat kondisiku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

"Besok saya siapkan berkas-berkas rujukannya. Kamu juga harus segera siapkan perlengkapan bayi dan baju-bajumu," sambung Bu Bidan lagi.

"Baik, Bu. Besok siang saya ke sini lagi untuk mengambil berkasnya," jawabku.

Kami pun akhirnya pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar untuk beristirahat.

Pikiranku berkecamuk, mencoba menyiapkan mental karena ternyata hari pertemuan dengan buah hatiku jauh lebih dekat dari yang kubayangkan.

Baru beberapa menit aku terlelap, hingga akhirnya aku terbangun pada pukul 14:38. Ternyata suamiku masih ada di ruang tamu bersama teman-temannya.

Sekitar pukul 15:55, aku keluar kamar. Suamiku memintaku untuk menyiapkan makan.

Kebetulan perutku juga sudah lapar, jadi aku memutuskan untuk memasak telur dadar kuah asam manis pedas. Entah apa pun yang aku masak, asalkan rasanya enak, suamiku biasanya akan lahap memakannya.

Mumpung suasana hatiku sedang cukup baik, aku buatkan masakan itu dengan niat tulus, karena masakan seperti ini paling nikmat disantap selagi hangat.

Begitu lauk matang dan nasi sudah kusiapkan, sayup-sayup aku mendengar suara motor menjauh. Aku pikir teman-temannya sudah pulang, jadi aku segera membawa nasi dan lauk itu ke meja ruang tamu.

Namun, saat aku sampai di sana, ruangan itu sudah kosong. Tak ada siapa-siapa.

"Dek, ke mana kakakmu?" tanyaku pada adik bungsunya yang ada di sana.

"Tidak tahu, Mbak. Tadi pergi sama teman-temannya," jawabnya singkat. Aku hanya mengangguk pelan, lalu kembali masuk ke kamar dengan perasaan kecewa.

Mencoba tetap berpikir positif, aku memberanikan diri menelepon suamiku. Panggilan pertama tidak dijawab.

Aku mencoba lagi dan lagi, hingga pada panggilan kelima, telepon akhirnya diangkat. Namun, saat mendengar suara di seberang sana, aku seketika terperanjat dari kasur. Suara itu bukan suara suamiku.

"Kamu siapa?!" tanyaku, berusaha menahan getar di suaraku.

"Aku Dian, Mbak. Suamimu lagi sibuk, jadi tidak bisa angkat telepon. Lagi pula, suamimu sering sekali main ke sini dan dia memang tidak mau pulang," jawabnya dengan nada meremehkan.

Terdengar suara tawa pecah dari seberang telepon. Tawanya terdengar sangat bahagia, seolah sedang merayakan sesuatu di atas rasa sakitku.

Aku hanya bisa terpaku, tak menyangka kejujuran pahit itu datang di saat aku baru saja selesai memasakkan makanan untuknya.

Aku hanya bisa terdiam, membiarkan air mata luruh begitu saja. Hatiku perih menyadari bahwa di sana mereka sedang bersenang-senang di atas tangisanku sebagai seorang istri.

"Tuhan, cobaan apalagi ini?" batinku meracau pilu. Dengan sisa kekuatan yang ada, aku mencoba menjawab panggilan itu.

"Mbak, maaf ya, tolong berikan ponselnya pada suamiku. Lagi pula, kamu kok tidak sopan sekali berani mengangkat ponsel suamiku? Anda sangat lancang, padahal saya istrinya saja masih menjaga privasi orang lain. Dasar wanita tidak tahu malu!" ucapku tegas. Namun, bagi mereka, ucapanku hanyalah lelucon. Terdengar gelak tawa orang-orang di sana.

"Iya, Mbak. Mungkin suamimu lebih senang kalau ponselnya dipegang orang lain daripada istrinya sendiri, hahaha," balasnya mengejek.

"Oh, ya sudah. Suruh saja suamimu pulang kalau dia mau, aku juga sudah capek mengurusnya!" Aku sudah malas berdebat. Mungkin aku terlalu bodoh karena tidak pandai melawan wanita seperti dia.

Air mataku terus mengalir tak terbendung mendengar suara perempuan itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk mematikan panggilan sepihak.

Aku masuk ke kamar dan tertidur karena kelelahan secara emosional. Aku baru terbangun saat keadaan di luar sudah gelap gulita. Jam menunjukkan pukul 10 malam, namun nasi di meja masih utuh tak tersentuh. Suamiku belum juga pulang.

Di saat semua orang di rumah sudah terlelap, aku masih terjaga menantinya. Saking mengantuknya, aku sampai tertidur di depan pintu dengan posisi bersandar pada daun pintu. Saat tubuhku nyaris terjatuh ke samping, aku tersentak bangun lalu pindah ke kursi.

Pukul dua dini hari, aku kembali terbangun untuk ke kamar mandi, namun suamiku tetap belum terlihat batang hidungnya. Aku pun bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat malam, mengadu pada Sang Pencipta.

Usai salat, aku mengunci pintu rumah rapat-rapat. Aku putuskan untuk masuk ke kamar dan melanjutkan tidur, tak ingin lagi memikirkan dia yang tak tahu jalan pulang.

Bersambung....

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!