Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Bandara Changi selalu terasa seperti masa depan yang teratur, namun bagi Almira, setiap sudut yang berkilau dan lantai yang dipoles sempurna itu terasa seperti sangkar kaca yang mengintai. Mereka mendarat dengan identitas yang hampir tidak terlacak, berkat bantuan koneksi lama Risky di biro perjalanan. Tak ada lagi koper besar, tak ada lagi barang titipan. Hanya ransel di bahu dan kunci perak yang disembunyikan Almira di dalam kalung yang melingkar di lehernya.
"Kita tidak bisa langsung ke Orchard Road," bisik Risky saat mereka berdiri di depan antrean taksi. "Jika Sekjen sudah tahu kita mengambil kunci itu, dia pasti sudah menempatkan orang di alamat yang tertera di balik foto."
Pak Baskoro tampak jauh lebih layu. Udara Singapura yang bersih tak mampu menghapus kegelisahan yang menggerogoti wajahnya. "Hendrawan... dia selalu lebih pintar dari Hermawan. Jika dia masih hidup, dia pasti tidak tinggal di tempat yang mudah ditemukan."
"Lalu kenapa alamat itu ada di sana, Yah?" tanya Debo sambil tetap waspada memerhatikan sekeliling, tangannya menggenggam tali kamera yang kini ia gunakan untuk menyembunyikan alat perekam suara.
"Itu umpan," jawab Risky pendek. "Atau sebuah petunjuk yang hanya bisa dibaca jika kita tahu polanya."
Mereka akhirnya memutuskan menginap di sebuah apartemen sewaan murah di kawasan Geylang, jauh dari kemewahan Orchard yang penuh intaian kamera pengawas. Di dalam ruangan sempit yang berbau pengharum ruangan jeruk itu, Risky membentangkan peta Singapura dan meletakkan foto lama ibu Almira di tengah meja.
"Lihat alamat ini lagi," perintah Risky.
Almira menatap tulisan tangan ibunya. 12 Orchard Road. "Ada yang aneh. Orchard Road nomor 12 itu adalah bangunan komersial tua yang sekarang sudah jadi mal. Tidak mungkin Hendrawan tinggal di sana selama lima belas tahun tanpa ketahuan."
"Ibumu dan Hendrawan dulu sering menggunakan kode navigasi diplomatik," gumam Pak Baskoro tiba-tiba. Ia mengambil foto itu, mendekatkannya ke lampu meja. "Lihat titik kecil di bawah angka 12 ini? Ini bukan noda tinta. Ini adalah simbol koordinat dermaga."
Debo segera membuka laptopnya, jemarinya menari di atas keyboard. "Kalau kita masukkan angka 12 sebagai kode zona pelabuhan lama di Jurong... tunggu... ini dia. Ada sebuah gudang penyimpanan arsip laut yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang bernama Ratna Logistik."
Almira tersentak. "Nama Ibu?"
"Ibumu menyiapkan segalanya," suara Risky terdengar penuh kekaguman. "Dia tahu kementerian bisa menyita apapun di Indonesia, tapi mereka tidak punya kuasa di gudang pribadi di zona industri Singapura tanpa izin internasional yang rumit."
Malam itu juga, dengan perasaan was-was, mereka menyewa sebuah mobil tua dan berkendara menuju kawasan industri Jurong yang sepi. Di sana, di antara deretan gudang beton yang tampak serupa, mereka menemukan sebuah bangunan kecil bernomor 12-B. Pintu gerbangnya dirantai berat, dan sekelilingnya dipenuhi semak belukar yang tak terawat.
Almira turun dari mobil, langkahnya terasa berat. Ia memegang kunci perak di lehernya. Saat mereka mendekati pintu, seorang pria tua dengan kursi roda muncul dari balik kegelapan lorong samping gudang. Wajahnya adalah cerminan Hermawan, namun dengan guratan luka bakar di pipi kiri dan mata yang jauh lebih tajam sekaligus lelah.
"Kalian terlambat sepuluh tahun," suara pria itu serak, seperti gesekan amplas pada kayu.
"Hendrawan?" tanya Pak Baskoro dengan suara bergetar.
Pria itu menatap Baskoro lama, lalu beralih ke Almira. Matanya melembut sesaat. "Kau punya mata Ratna, Nak. Dan kau punya keberaniannya yang ceroboh."
"Paman tahu apa yang terjadi pada Ibu?" tanya Almira langsung, mengabaikan basa-basi.
Hendrawan memutar kursi rodanya, memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam gudang yang ternyata berisi tumpukan server komputer tua dan ribuan berkas yang tertata rapi. "Ratna tidak mati karena sakit. Dia dibunuh karena dia memegang daftar 'Pemegang Saham' dari proyek Arus Biru. Wirayuda hanya pion kecil. Sekjen yang kalian lihat di Jakarta itu? Dia hanya manajer. Pemilik sebenarnya dari jalur narkoba dan senjata itu adalah orang-orang yang wajahnya tak pernah muncul di berita."
Hendrawan batuk pendek, lalu menunjuk ke sebuah layar monitor besar di tengah ruangan. "Selama lima belas tahun, aku bersembunyi di sini, memantau setiap transaksi mereka melalui celah sistem yang ditinggalkan Ratna. Aku menunggu kalian cukup dewasa untuk memegang kebenaran ini. Karena kebenaran ini akan menghancurkan sistem pemerintahan jika dibuka sekarang."
"Kami sudah menghancurkan Wirayuda, Paman. Kami tidak takut," tegas Debo.
"Menghancurkan Wirayuda itu seperti memetik satu buah busuk dari pohon yang akarnya sudah beracun," sahut Hendrawan sinis. "Kalian butuh bukti yang bisa membakar seluruh pohon itu."
Tiba-tiba, alarm keamanan di pintu depan berbunyi nyaring. Di layar monitor, terlihat tiga mobil hitam berhenti di depan gudang. Pria-pria berpakaian taktis turun dengan senjata lengkap.
"Mereka melacak sinyal ponsel kalian!" Hendrawan berteriak. "Cepat! Ambil hardisk di bawah meja ini dan lari lewat terowongan limbah di belakang!"
"Paman bagaimana?" Almira menarik lengan kursi roda Hendrawan.
"Aku sudah mati sejak Ratna meninggal, Al. Tugas terakhirku adalah memastikan kalian keluar dari sini hidup-hidup." Hendrawan mendorong sebuah tombol di bawah mejanya. Sebuah pintu rahasia di lantai terbuka. "Lari! Risky, jaga mereka! Di dalam hardisk itu ada rekaman asli eksekusi ibunya. Itu satu-satunya cara untuk menyeret mereka semua ke tiang gantungan!"
Suara tembakan mulai terdengar menghantam pintu depan. Almira menangis saat Risky menariknya masuk ke dalam lubang gelap di lantai. Sebelum pintu itu tertutup, ia melihat Hendrawan memegang sebuah pemantik api, menatap tumpukan berkas yang mudah terbakar dengan senyum puas.
"Mencari jawaban selalu ada harganya, Almira!" teriak Hendrawan sebelum suara ledakan besar mengguncang gudang tersebut, menenggelamkan segalanya dalam api dan debu.
Di dalam terowongan yang gelap dan sempit, Almira merangkak dengan isak tangis yang tertahan. Ia menggenggam hardisk itu erat-erat di dadanya. Jawaban itu kini ada di tangannya, namun ia baru saja menyadari bahwa jawaban itu ditulis dengan darah orang-orang yang mencintainya.
"Kita tidak akan membiarkan pengorbanan mereka sia-sia," bisik Risky di depan mereka, suaranya tetap tegar di tengah kegelapan. "Kali ini, kita tidak pergi ke pengadilan. Kita pergi ke dunia."