Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Setelah mengantarkan Anggie pulang Zian memang sudah janji kepada keluarganya untuk pulang kembali dan akhirnya Zian pun pulang dengan supir sang ayah.
Di rumah Zian memang sudah selesai acara tunangan sang adik. Di sana hanya tinggal sang ayah saja sedang duduk di halaman belakang rumahnya sendiri. Zian yang baru pulang melihat Papanya duduk sendiri dan ia pun menemaninya.
"Sendirian aja Pa," Zian sambil duduk di samping sang Papa.
"Papa kira kamu gak pulang lagi ke sini Bang."
"Kalau Aku gak pulang Mama pasti nangis makanya aku pulang walaupun acaranya udah selesai. Papa kenapa belum tidur, udah malem gak baik buat kesehatan Papa yang sudah gak muda lagi," seru Zian sambil terkekeh.
"Kamu ini Papa masih muda belum kelihatan tua juga."
"Cewek yang kamu bawa tadi cewek yang sama waktu SMA kan?" Zian mengangguk.
"Tapi kelihatannya dia sekarang udah sehat ya."
"Sekarang dia udah jauh lebih sehat di banding dulu Pa. Aku juga sempat gak percaya bisa ketemu sama dia lagi setelah aku pasrah jika memang harus gak bisa bertemu lagi. Tapi Tuhan berkehendak lain. Apa ini yang dinamakan jodoh ya Pa?"
"Bisa aja sih mamang sudah jodoh kamu makanya kalian dipertemukan lagi. Tapi rencana kamu setelah ini apa?"
"Apa boleh kalau aku langsung lamar dia aja?"
"Ternyata anak Papa gercep juga," Dandi sambil terkekeh.
"Boleh aja gak ada yang larang Papa malah dukung. Tapi apa dianya mau sama kamu, Bang?"
"Aku juga belum memastikannya Pa tapi dari cara dia ngasih perhatian sama aku kayaknya dia juga suka sama aku."
"Perhatian kayak gimana?"
"Tadi aja dia lihat aku mijitin kepala karena pusing, dia langsung bikinin aku teh camomile katanya bisa meredakan stres."
"Itu sih ya wajar karena dia lihat atasannya sakit."
"Enggak gitu Pa tapi ini beneran beda."
"Bedanya apa Bang? Kamu juga kalau di rumah Mama lihat anaknya stres terus bikin sesuatu apa itu juga dibilang suka."
Zian yang kesal dengan Papanya yang tidak mengerti tentang perasaannya, "Papa gak ngerti sih."
Dandi hanya tertawa melihat anaknya kesal. "Abang udah pernah menyatakan perasaan Abang sama dia?" Zian menggeleng pelan.
"Kenapa takut di tolak?" goda Dandi.
"Bukan takut di tolak Pa. Aku yakin kalau aku akan di terima tapi..."
"Keluarganya gak merestui kalian?"
"Untuk keluarganya aku udah dapet lampu hijau dari abangnya Pa tapi aku mau memastikan dulu kalau Anggie juga memang punya rasa yang sama kayak aku."
"Kelamaan Bang nanti yang ada keburu di ambil orang. Saran Papa sih lebih cepat lebih baik kamu harus gercep Bang kalau perlu temuin keluarga Anggie langsung nyatakan niat baik Abang sama Anggie. Kalau sudah nanti kamu langsung lamar Anggie. Menurut Papa sih Anggie juga punya perasaan yang sama kayak Abang. Kalau dia gak punya perasaan sama Abang buat apa dia nganterin Abang pulang padahal Abang ada Roy kan yang bisa nganterin pulang."
"Roy aku suruh ke bandung Pa buat ngurus proyek pembangunan apartemen."
"Sekarang saran Papa Abang temuin keluarga Anggie. Jangan sampai ke duluan adik mu nikah nanti kalau perlu nanti kalian nikah barengan aja supaya irit biaya."
"Masa seorang pensiunan Panglima TNI mau ngirit buat pesta pernikahan anaknya," ledek Zian dan mereka pun tertawa.
***
Keesokan harinya Regina memang sudah terbiasa untuk membuat sarapan keluarga. Ia turun langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan keluarganya.
"Pagi semua," sapa Zian pada semua anggota keluarganya.
"Pagi Bang," jawab serempak semua anggota keluarganya.
"Kirain Abang gak nginep di sini," seru sang Mama.
"Kan Mama yang minta buat Abang pulang."
Regina hanya tersenyum saat mendengar ujaran sang anak. "Iya Mama kan kangen sama Abang udah lama gak pulang."
"Berarti sama aku gak kangen dong Ma? Kan aku juga sama jarang pulang," tanya Ziva bercanda.
"Kalau Kakak paling pulang dua hari sekali paling lama kalau Abang gak pulang gak tahu mau jadi bang Toyib kali gak pulang pulang," ledek sang Mama.
"Kok Abang gak ngikutin acara aku sih," Ziva sambil cemberut.
"Mau ada Abang atau enggak juga gak bakalan ngaruh kan, kamu tetap aja tunangan sama Rey."
"Tapi setidaknya Abang lihat gitu aku tunangan supaya Abang jadi pengen," cibir Ziva.
"Pengen ikutan juga kalau ada cewenya sih gak masalah Kak tapi kalau enggak ada mau sama siapa," ledek sang Papa.
"Kan ada Nia yang selalu nempelin Abang terus," Ziva sambil tertawa.
"Abang berangkat dulu, assalamualaikum."
Zian pergi tak lupa mencium tangan orang tuanya lalu mengacak-acak kerudung adiknya.
"Dih marah," Ziva semakin meledak kakaknya.
"Kakak gak boleh gitu nanti Abang gak pulang lagi karena kakak terus ledekin," lerai Regina.
Setelah Zian menghilang dari pandangan mereka, "Kok Abang jadi baperan gitu si Ma."
"Dia lagi galau Kak," seru Dandi.
"Memangnya galau kenapa Pa?"
"Pengen lamar anak orang."
Ucapan Dandi sontak membuat sang Mama batuk Dandi dengan sigap memberikan air lalu mengusap punggung istrinya.
"Pelan-pelan Ma makannya."
"Papa sih bikin Mama kaget. Emang Abang mau lamar siapa? Bukannya selama ini Abang gak pernah dekat sama cewek manapun. Terkecuali Nia yang selalu deketin Abang terus. Tapi mama gak setuju kalau Abang mau lamar dia."
"Iya aku juga gak setuju kalau Abang sama cewek itu Pa. Kok Papa nyetujuin sih."
"Siapa juga yang bilang kalau Abang mau melamar Nia."
"Terus siapa?" serempak ibu dan anak.
"Coba kalian tebak dong Abang. Gak seru kalau langsung dikasih tau," Dandi malah mengajaknya bercanda.
"Mas aku gak sedang bercanda ya," seru Regina tegas.
"Maaf sayang Mas cuma mau tahu aja kalian pada tahu gak cewek yang jadi incaran Abang."
"Menurut Aku sih Mas Anggie cewek yang selama ini Abang tunggu dari dulu."
"Kamu benar sayang, Anggie."
"Anggie, cewek yang semalam Pa?" Dandi mengangguk.
"Kok bisa ya Mas, Anggie sekarang jadi sekertaris Abang?"
"Mungkin mereka sudah di takdirkan seperti itu Sayang. Bisa jadi mereka sudah ditakdirkan berjodoh kan kita gak tahu."
"Semoga aja Mas. Aku sih dukung kalau Abang sama Anggie."
"Kenapa Ma? Bukannya Anggie sama Nia itu kan saudaraan?"
"Walaupun mereka saudaraan tapi mereka lain ayah lain ibu. Kakak lihat aja karakter mereka aja udah beda banget."
"Kayak Mama udah kenal aja sama Anggie bilang karakter mereka berbeda," cibir Ziva.
"Mama udah tahu dari dulu Abang kamu SMA."
"Berarti Mama suka stalking Anggie dong," Ziva tertawa.
Regina dan Dandi memang sudah mencari tahu tentang Anggie dan keluarganya. Bahkan tentang penyakit yang diderita Anggie juga mereka pun sudah tahu bahkan penyebabnya juga mereka tahu. Keluarga Dandi memang tidak pernah mempermasalahkan tentang hal itu semua pilihan dikembalikan kepada anak mereka.