NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mafia Masuk Kampung

"Kau tidak mengajakku sayang?" ucap orang itu yang tidak lain adalah Darren, setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam untuk menemui pujaan hatinya itu, akhirnya ia telah sampai ke lokasi tujuan.

...--------------------------------...

Hani dan Mutia sontak menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Darren yang berdiri gagah dengan asisten Jack yang setia berada disebelah nya, serta beberapa mobil bodyguard Darren yang sudah rapi terparkir dijalan depan rumah Hani.

Hani membulatkan matanya tak percaya, sedangkan Mutia terpana akan tubuh gagah Jack yang berdiri disebelah Darren. 'Ah pria itu membuatku gila ' batin Mutia kegirangan.

Sedangkan para warga yang sedang melakukan aktivitas nya mendadak terhenti ketika mengetahui bahwa Darren sang pengusaha berpengaruh didunia datang mengunjungi kampung mereka, mereka dengan berbondong-bondong mulai berdatangan ke rumah Hani untuk melihat seorang presdir terkaya menurut dunia.

Hani menghela nafas frustasi, ditambah lagi ia melihat para warga mulai berbondong-bondong untuk datang ke rumah nya hanya sekedar untuk melihat om om kutub menyebalkan.

"Dia tampan sekali"

"Lihatlah tubuh gagahnya itu"

"Dia kemari hanya untuk melihat bunga desa kita?"

"Jangan jangan Hani calon istri presdir tampan"

Ucap para warga yang masih terdengar oleh telinga Hani. Darren yang melihat wajah gadisnya mendadak lesu karena kehadiran para warga kampung langsung memberi isyarat mata kepada Jack untuk mengatasi situasi ini.

Dengan serempak Jack dan para anak buah Darren yang ada ditempat mulai menggiring warga yang bergerombol untuk menjauh dari rumah Hani, walaupun sebagian dari mereka menolak dan memberontak tidak terima karena belum puas memandangi wajah tampan Darren.

Setelah situasi menjadi sunyi seperti semula, Darren perlahan melangkah mendekati gadisnya yang masih diam ditempat dengan menatap sinis kehadiran nya.

Grep

Darren langsung membawa tubuh pendek Hani kedalam pelukan nya, ia merasakan rindu yang sangat amat dalam walaupun masih belum lama ini bertemu dengan pujaan hatinya tetapi ia tidak rela berpisah jauh darinya.

"Mengapa kau mengabaikan ku semalam? aku tidak tidur nyenyak karena memikirkan mu sayang" ucap Darren lirih nyaris berbisik tepat disebelah telinga Hani.

Hani sedikit merinding mendengarkan suara berat khas milik Darren. Perlahan ia melerai pelukan itu dengan paksa dan menatap intens wajah tegas pria dihadapan nya ini, Hani sedikit merasakan degup jantung nya yang sedikit berdebar tetapi ia mengabaikan semua itu.

Darren menatap bali wajah gadis cantik dihadapan nya ini, 'sempurna' satu kata yang sangat cocok untuknya. Darren dapat melihat kulit putih mulus tanpa pori-pori, hidung mungil, bulu mata lentik, warna mata yang indah, dan yang paling menggoda iman yaitu bibir ranum bewarna pink milik gadisnya itu.

Cup

Satu kecupan yang lumayan lama mendarat dibibir ranum milik Hani, Darren sudah tidak sanggup lagi untuk menahan agar tidak menciumnya. Semua anak buah Darren yang berada disitu beserta Jack melongo akan pemandangan didepan mata mereka.

Mutia sedikit terkejut akan kejadian pagi ini, biasanya dia akan melihat orang berciuman ketika sedang menonton drama diponsel nya tetapi sekarang dia bisa melihat langsung didepan mata.

Hani melototkan mata nya tak percaya, bisa bisa nya seorang pria kutub menyebalkan mencium dirinya. Hani mendorong pingang Darren agar melepaskan ciuman itu.

"Dasar Darren mesum, first kiss ku hilang karenamu" ucap nya sebal sembari mengusap usap bibirnya.

Darren tersenyum tipis mendengar perkataan Hani, ia berhasil menjadi yang pertama untuk mencium gadis pujaan hatinya itu. "Aku senang mendengar nya sayang" ucap nya santai.

Para anak buah Darren menahan nafas, tak ada yang berani bergerak dari tempat atau mengeluarkan suara. Sedangkan Hani bertambah kesal akan tingkah Darren yang sangat menyebalkan.

"Gara gara kau bibir ku jadi ga perawan, memang seharusnya semalam kepalamu itu sudah ku penggal saj-" ucapan Hani terpotong ketika Darren membungkam bibir nya dengan lumatan lembut.

Hani memberontak melawan, ia memukul dada Darren berulang kali tetapi Darren tidak menghiraukan itu, Darren malah melanjutkan aksinya untuk menjelajahi setiap sudut bibir milik Hani.

"Shhh kau menggigit ku sayang" ucap Darren ketika Hani menggigit keras bibirnya.

Hani tak menanggapi ucapan Darren, ia langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya karena merasa kesal.

Beberapa anak buah Darren saling pandang, tak percaya. Dulu ketika dengan Amora, Darren tidak pernah melakukan hal seperti ini, bahkan nyaris jarang menyentuh nya, mungkin hanya sekedar bergandengan tangan. Tetapi tidak hari ini, mereka melihat tuan nya itu bersikap romantis dan juga lembut serta dengan berani mencium seorang gadis didepan mereka semua.

Tatapan Darren beralih pada Mutia yang sedari tadi asik memandangi wajah asisten nya itu, dia menatap tajam wanita itu.

Mutia tersadar akan tatapan Darren yang mengarah pada dirinya, ia buru buru menunduk karena takut akan hal itu. "Silahkan masuk tuan" ucapnya lirih sedikit gemetar.

Darren langsung melangkah masuk kedalam rumah Hani melewati pintu belakang beserta Jack yang mengikuti nya dari belakang.

Darren menelisik setiap sudut rumah sederhana itu, ia terus melangkah mencari-cari keberadaan gadisnya, dan beberapa saat ia dapat melihat Hani sedang duduk disofa ruang tamu dengan tangan yang menyilang didepan dada dan menatap kearah mya sinis.

Hani memutar malas bola mata nya ketika melihat Darren tersenyum menyebalkan sembari melangkah menghampiri dirinya, disusul pula dengan asisten Jack dan juga sahabatnya.

Mereka semua kini telah duduk disofa ruang tamu itu, dengan Hani yang duduk disofa single layaknya tuan rumah. "Ada urusan apa kalian kesini?" tanya nya datar mencoba menahan rasa kesal nya.

"Aku merindukan mu sayang" jawab Darren lembut, ia tak bosan bosannya memandangi wajah Hani yang sedang kesal.

Hani menghela nafas berat mendengarkan jawaban Darren, sangat tidak penting baginya. "Huh kalian mengganggu hari cerahku saja" ucapnya.

Mutia bangkit dari duduknya ketika mendengarkan ucapan Hani, ia menarik tangan sahabatnya itu untuk keluar dari rumah dan menuju teras depan. "Han jangan disia siakan itu, kamu tau kisah kisah di novel itu?" tanya nya.

Hani menatap malas ke arah Mutia, dia tahu bahwa sahabatnya ini sudah menyukai asisten Jack. "Apa?" jawabnya singkat.

"Ini mirip kaya kisah mafia masuk kampung tau, kan keren gitu lo" ucap Mutia lirih agar tidak terdengar oleh Darren dan Jack. Padahal Darren dan Jack tetap bisa mendengarkan nya karena pendengaran yang mereka miliki sangat tajam.

Hani tersenyum getir mendengarkan ucapan Mutia. "Huh sudahlah biarkan saja mereka, lebih baik kita pergi ke makam kedua orang tua ku nanti sore saja" balas Hani.

Mutia mengangguk setuju, kemudian mereka masuk kembali ke dalam rumah Hani. "Kau tahu siapa diriku yang sebenarnya?" tanya Darren dengan tekanan menatap tajam Mutia yang duduk dihadapan nya.

Mutia menunduk takut mendengarkan suara dingin Darren, ia tidak berani menjawab satu patah kata pun. "Aku yang memberitahu nya" jawab Hani santai karena ia tahu sahabatnya itu sedang ketakutan.

Tatapan Darren beralih pada Hani, sontak mata elang nya berubah menjadi tatapan penuh kelembutan. "Kenapa kau memberitahu nya sayang?" tanya nya.

"Karena sahabatku ini menyukai asisten Jack, maka dari itu aku memberitahu nya" jawab Hani dengan beralih duduk di sebelah Mutia dan merangkulnya.

Jack nyaris tersedak air liur nya, pantas saja sahabat nyonya nya ini menatap nya dengan penuh binar.

Darren menghela nafas berat. "Kau belum jadi menceritakan siapa dirimu yang sebenarnya sayang" ucap Darren.

Hani tampak berfikir sejenak mendengar perkataan Darren. 'hmm sepertinya ini waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya, setelah ini aku bisa mengajak Darren bekerja sama untuk menghancurkan Steven' pikir Hani.

Mutia memperhatikan sahabatnya itu, ia penasaran keputusan apa yang akan diambil oleh Hani.

"Baiklah aku akan menceritakan nya, ayo ikut aku" ucap Hani seraya bangkit dari duduknya, kali ini tujuan mereka jelas ke ruang bawah tanah rumah itu.

Mereka semua berjalan beriringan menuju ruang prestasi milik Hani, Hani membuka pintu ruangan yang selalu ia kunci itu.

ceklek

Pintu ruangan itu terbuka lebar, menampilkan jejeran piala yang tertata rapi di lemari hias. Darren terkejut tetapi tetap mempertahankan wajah datarnya, sedangkan Jack dengan tidak sadar menampilkan ekspresi melongo ketika melihat tampilan berbagai piala didepan nya.

"Ayo masuk ga usah melongo, nanti rumahku banjir karena asisten Jack" ucap Hani kemudian mendahului masuk ke dalam ruangan itu.

Darren menatap tajam ke arah Jack yang tidak bisa menahan ekspresinya dan melangkah masuk kedalam, sedangkan Jack sontak menjadi sadar dan menunduk malu karena itu.

Mutia terkekeh geli melihat wajah Jack yang melongo mendadak menjadi tegang ketika mendapat tatapan tajam dari tuan Darren, ia mengikuti langkah mereka semua untuk masuk ke dalam ruangan.

Hani kembali mengunci pintu ruangan itu ketika mereka semua sudah berada didalam, kemudian ia melangkah ke sudut rak piala untuk membuka jalan dan menghiraukan dua makhluk baru yang sedang mengamati setiap isi dari ruangan nya.

Hani menggeser salah satu rak yang tersendiri dipojok, dan membuka sebuah lantai yang langsung terhubung ke jalan ruang bawah tanah. Darren dan Jack saling pandang, mereka tidak menyangka ada akses jalan bawah diruangan itu.

Hingga mereka berdua tersadar ketika Hani dan temannya itu sudah masuk kedalam dan meninggalkan mereka masuk ke dalam ruang bawah, tanpa pikir panjang Darren segera melangkah ke akses jalan itu dan disusul oleh Jack.

Darren dan Jack tampak mengamati ruangan yang mereka tuju, bergaya klasik namun elegant. Disisi kanan mereka dapat melihat sebuah laboratorium kecil dan beberapa rak yang berisi buku-buku serta ramuan hasil penelitian yang mereka yakini adalah milik Hani.

Sedangkan disisi kiri Darren dan Jack dapat melihat sebuah sistem komputer yang sedang aktif dan terus berjalan dengan saling bersahutan satu sama lain menggunakan kode kode kecil dilayarnya.

'Luar biasa' itulah isi kepala Darren dan juga Jack, dan mereka juga dapat melihat sebuah lemari hias diruangan itu yang berisi sebuah seragam polisi dengan berbagai senjata yang beragam.

"Kalian akan mengagumi ruangan ini sampai kapan?" tanya Hani sedikit menyindir dengan tangan yang menyilang didepan dada.

Darren menoleh ke arah gadisnya itu. "Ini ruangan untuk apa sayang?" tanya nya.

Hani menghela nafas beras, kemudian langsung menarik tangan Darren untuk duduk disofa ruangan itu. Mutia dan Jack pun akhirnya menyusul untuk ikut duduk bersama.

"Wah kemarin ruangan ini belum se keren ini perasaan, kamu renovasi ya?" tanya Mutia yang akhirnya bersuara meskipun masih sedikit takut.

Hani mengangguk. "Iya cuma tambahin beberapa barang aja, dan untuk alat-alat laboratorium ku yang rusak sebagian udah ku ganti jadi yang baru, rencananya mau melanjutkan misi ramuan ramuan itu" ucap Hani.

Darren menyerit bingung, banyak sekali hal yang tidak ia ketahui dari Hani. "Ramuan apa sayang?" tanya nya lagi, walaupun pertanyaan yang tadi tidak ditanggapi oleh gadisnya tetapi ia sangat penasaran.

Hani menatap Darren sekilas. "Ramuan racun, dan bahan-bahan kimia berbahaya" ucapnya santai.

Darren dan Jack sama-sama terkejut mendengarkan jawaban Hani. "Untuk apa kau membuat ramuan itu?" tanya Darren yang semakin ingin tahu.

"Untuk membunuh orang menyebalkan sepertimu" jawab Hani kesal, Darren terlalu cerewet menurutnya.

Darren tersenyum tipis melihat Hani yang berani melawan nya bahkan tanpa ada rasa takut, sedangkan Jack menelan ludahnya dengan kasar 'Bagaimana jika nyonya muda juga meracuni ku?' Jack negatif thinking.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!