Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2_Mahkota Untuk Aurora.
Delapan belas tahun telah berlalu sejak malam kelam yang merobek jantung Kerajaan Aethelgard. Waktu seolah menjadi musuh yang lambat bagi mereka yang menunggu, namun menjadi pencuri yang cepat bagi mereka yang menderita. Di balik pegunungan tinggi yang selalu tertutup kabut abadi, berdirilah Kerajaan Noxvallys, sebuah tempat di mana matahari seolah enggan menampakkan sinarnya. Di sinilah, di bawah bayang-bayang menara batu hitam yang tajam milik keluarga Valeska, seorang gadis bernama Ara menjalani setiap detiknya dalam kehampaan.
Ara tidak memiliki nama belakang. Ia tidak memiliki tanggal lahir yang pasti untuk dirayakan, dan ia sama sekali tidak tahu dari mana ia berasal. Satu-satunya kenyataan yang ia miliki adalah ia merupakan seorang pelayan kasta terendah di istana ini. Sejak ia bisa mengingat, hidupnya hanyalah tentang tumpukan cucian yang membukit, lantai marmer yang harus digosok hingga mengkilap, dan bau amis sisa makanan di dapur bawah tanah.
Pagi itu, sebelum fajar benar-benar menyentuh ufuk, Ara sudah terbangun di atas dipan kayu kerasnya yang beralaskan jerami tipis. Tubuhnya yang ramping terasa kaku karena udara dingin yang merembes melalui celah dinding batu. Dengan gerakan yang sudah terbiasa, ia mengikat rambut panjangnya yang berwarna pirang pucat—warna yang sangat asing di kerajaan yang didominasi oleh orang-orang berambut gelap—dan menyembunyikannya di balik penutup kepala kain kusam.
"Ara! Dasar anak lamban! Cepat bawa air hangat ke kamar Putri Morena! Sekarang!" teriakan kepala pelayan yang galak, Nyonya Bertha, menggema di lorong dapur yang lembap.
Ara tersentak, namun mulutnya tetap terkatup rapat. Ia sudah belajar sejak lama bahwa di tempat ini, suara adalah kemewahan yang bisa mendatangkan cambukan. Ia segera mengangkat dua ember besar berisi air hangat. Berat beban itu membuat otot-otot lengannya yang kecil menegang, namun ia terus melangkah menaiki tangga spiral yang tak berujung menuju lantai atas, tempat para bangsawan tidur di atas ranjang sutra.
Sesampainya di depan pintu besar berukir naga, Ara menarik napas panjang. Ia tahu apa yang menantinya di dalam. Dengan kepala menunduk, ia masuk ke dalam kamar Putri Morena Valeska. Kamar itu sangat mewah, beraroma parfum bunga mawar yang menyengat dan dipenuhi barang-barang perak yang mahal.
"Kau terlambat tiga menit, budak," sebuah suara dingin dan tajam menyambutnya.
Morena Valeska, putri tunggal Raja Malakor, sedang duduk di depan cermin besar. Ia mengenakan jubah tidur sutra berwarna hitam. Kecantikannya memang diakui di seluruh negeri, namun itu adalah kecantikan yang dingin dan angkuh. Matanya yang gelap menatap Ara melalui pantulan cermin dengan kebencian yang sulit dijelaskan.
"Mohon maaf, Tuan Putri. Embernya cukup berat pagi ini," bisik Ara sambil berlutut untuk menuangkan air ke dalam baskom pencuci muka.
"Alasan! Kau selalu punya alasan!" Morena berdiri dan tiba-tiba menendang baskom tersebut hingga air hangatnya tumpah membasahi gaun lusuh Ara dan lantai marmer. "Bersihkan! Gunakan tanganmu, gunakan bajumu, aku tidak peduli! Aku tidak ingin melihat setetes air pun di lantai ini saat aku kembali dari meja rias!"
Ara terdiam, merasakan air hangat yang perlahan mendingin di kulitnya. Ia segera berlutut dan mengelap air tersebut dengan kain pembersih. Morena menatapnya dengan pandangan merendahkan. Bagi Morena, ada sesuatu pada diri Ara yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman—semacam martabat yang tetap terpancar meski Ara sedang merangkak di lantai. Itulah sebabnya Morena tidak pernah berhenti menyiksa gadis itu.
"Kau tahu, Ara? Ayahku bilang kau ditemukan di pinggir hutan saat bayi. Mungkin ibumu adalah seorang pencuri yang dibuang, atau mungkin kau hanyalah sampah yang tidak diinginkan siapapun," Morena tertawa sinis sambil memoles kukunya. "Lihat dirimu, bahkan tidak punya nama keluarga. Kau hanyalah bayangan tanpa identitas."
Hati Ara berdenyut perih, namun ia tetap diam. Di balik lipatan bajunya yang paling dalam, tepat di atas dadanya, ia merasakan ada sesuatu yang keras dan panjang. Itu adalah Pulpen Cendana Emas. Benda itu adalah satu-satunya harta karunnya. Ia menemukannya tergeletak di dalam peti tua di gudang istana saat ia masih sangat kecil, dan secara naluriah, ia merasa benda itu miliknya. Pulpen itu terasa hangat setiap kali ia menyentuhnya, memberikan sedikit kekuatan di saat ia merasa ingin menyerah.
Kehidupan Ara di istana Noxvallys adalah rangkaian penderitaan yang tak berujung. Setelah melayani Morena, ia harus kembali ke dapur untuk mencuci piring-piring kotor dari pesta semalam. Tangannya yang dulu halus kini dipenuhi luka kecil dan kapalan karena deterjen keras dan pekerjaan kasar. Namun, di tengah semua itu, Ara memiliki satu keajaiban kecil: kecantikannya yang tidak bisa disembunyikan oleh debu sekalipun.
Wajahnya memiliki garis yang anggun, dan matanya biru jernih seperti langit yang jarang terlihat di kerajaan ini.
Siang harinya, istana menjadi sibuk. Kabar tersiar bahwa Kerajaan Aethelgard yang agung sedang mengirimkan utusan untuk mencari aliansi perdagangan. Bagi para pelayan, ini berarti kerja ekstra. Bagi Ara, ini berarti ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk menyiapkan jamuan makan siang bagi tamu-tamu Putri Morena.
"Ara, bawa nampan anggur ini ke taman belakang. Putri Morena sedang bersama teman-teman bangsawannya," perintah Nyonya Bertha.
Ara mengangkat nampan perak itu dengan hati-hati. Saat ia berjalan melewati koridor utama, ia melihat bayangannya di dinding. Ia tampak begitu kecil dan tidak berarti di istana yang luas ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada suara kecil yang berbisik bahwa ia tidak diciptakan untuk hidup seperti ini. Ada memori samar tentang nyanyian lembut seorang wanita dan tujuh suara laki-laki yang memanggil namanya, namun ingatan itu terlalu jauh, seperti mimpi yang hampir terlupakan.
Di taman, Morena sedang tertawa bersama gadis-gadis bangsawan lainnya. Saat Ara mendekat, salah satu teman Morena berbisik, "Morena, pelayanmu itu... kenapa wajahnya terlihat begitu berbeda? Dia terlihat seperti..."
"Seperti apa? Seperti pengemis?" potong Morena cepat, wajahnya berubah masam. Ia merasa terancam setiap kali ada yang memperhatikan kecantikan alami Ara. "Dia hanyalah budak yang kupungut. Ara, kemari!"
Ara mendekat dan hendak menyajikan anggur. Namun, Morena sengaja menjulurkan kakinya. Ara tersandung. Nampan perak itu jatuh dengan suara dentingan keras, dan anggur merah tumpah membasahi sepatu sutra baru milik Morena.
Suasana taman mendadak sunyi.
"KAU!" Morena berdiri dengan wajah merah padam. Tanpa peringatan, ia melayangkan tamparan keras ke pipi Ara.
Plak!
Ara terjatuh ke atas rumput, pipinya terasa panas dan berdenyut. "Maaf, Tuan Putri... saya tidak sengaja," rintihnya.
"Sengaja atau tidak, kau telah merusak hari ku!" Morena menjambak rambut Ara yang tersembunyi di balik penutup kepala, hingga kain penutup itu terlepas. Rambut pirang pucat Ara terurai indah, berkilau di bawah cahaya matahari yang pucat. Semua orang di taman itu tertegun melihat betapa cantiknya pelayan yang mereka hina itu.
Kemarahan Morena semakin memuncak melihat kekaguman di mata teman-temannya. "Ambil cambuk! Aku akan memberi budak ini pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan!"
Ara gemetar. Ia tahu cambuk di Noxvallys terbuat dari kulit binatang yang dipilin keras. Ia hanya bisa memejamkan mata, memeluk dirinya sendiri, dan berbisik dalam hati, Tuhan, jika aku memang memiliki keluarga, tolong jemput aku sekarang.
Siksaan itu pun terjadi di sudut taman yang tersembunyi. Beberapa cambukan mendarat di punggung Ara, merobek baju lusuhnya dan meninggalkan garis merah yang menyakitkan. Ara tidak berteriak; ia hanya menggigit bibirnya hingga berdarah. Baginya, rasa sakit fisik tidak seberapa dibandingkan rasa sakit karena tidak tahu siapa dirinya.
Setelah siksaan itu berakhir, Ara dibuang kembali ke gudang belakang untuk membersihkan dirinya sendiri. Sambil meringis kesakitan, ia meraba Pulpen Cendana Emas di balik bajunya. Benda itu terasa sangat panas hari ini, seolah-olah sedang bereaksi terhadap sesuatu.
Ara tidak tahu bahwa di saat yang sama, tujuh pria perkasa dengan kuda-kuda tinggi telah melewati gerbang perbatasan Noxvallys. Mereka dipimpin oleh seorang pria berusia 30 tahun dengan tatapan mata yang bisa menghentikan badai—Alistair. Di sampingnya, enam saudaranya yang lain membawa pedang-pedang yang telah terasah tajam selama 18 tahun.
"Aku bisa merasakannya," bisik Gideon, yang termuda dari mereka. "Dia ada di sini. Adik kita ada di suatu tempat di tanah terkutuk ini."
"Kita akan menemukannya," sahut Benedict dengan suara berat. "Dan siapa pun yang telah membuatnya meneteskan air mata, akan membayar dengan kerajaan mereka."
Di dalam gudang yang gelap, Ara menangis dalam diam. Ia menatap ke arah jendela kecil yang menampakkan sedikit bagian langit. Ia adalah pelayan tanpa identitas, gadis tanpa nama belakang, dan putri tanpa mahkota.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.