Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuatmu tersenyum
“Kenapa senyum-seyum sendiri?” kepo Alvaro saat melihat adik ipar yang biasanya datar itu tiba-tiba senyum-senyum.
“Kepo,” jawab Alvin.
Alvaro terkekeh mendengar jawaban Alvin, dia tahu apa yang sedang adik iparnya itu lihat karena Ayzel tadi sempat mengirim photo nya dengan Nana yang sedang mencoba gaun pengantin.
“Aku tidak menyangka pria dingin dan datar sepertimu bisa senyum-senyum sendiri hanya karena lihat photo calon istri,” skakmat Alvaro.
“Siapa bilang?” Alvin langsung kembali ke setelan awalnya, dia menutup layar ponsel dan menaruhnya di atas meja kerja. Gengsinya berkata, dia harus tetap menjaga imagenya sebagai CEO dingin dan datar.
Alvaro tergelak setelah melihat tingkah Alvin. “Terserah kamu saja, Vin.” Alvaro duduk di sofa ruangan Alvin. “Tapi aku yakin satu hal tentangmu,” lanjut Alvaro.
“Apa?”
“Aku jamin satu hal. Tidak butuh waktu lama kamu bakal bucin pada adik sepupuku itu,” ucap Alvaro dengan yakin.
“Sok tahu,” balas Alvin datar.
Alvaro kembali tertawa. “Kita lihat saja nanti. Di tinggal sebentar saja pasti kelimpungan,”
Alvin menghela napas, apa mungkin dia sampai se bucin itu pada Nana dalam waktu dekat? Dia dan Nana saja bahkan belum saling ada rasa, setidaknya butuh waktu untuk dirinya dan Nana saling mengenal lebih dekat. Dan itu baru akan merka mulai, Alvin sendiri cukup tahu alasan Nana setuju untuk menikah dengannya.
“Sudah bilang sama mbak Zeze, bang?” Alvin mengalihkan pembicaraan.
“Sudah,”
“Bang Roan ikut?”
“Mana mungkin dia mau ikut, Vin. Sibuk dia nyari Naira,”
Alvin mengangguk, dia sebenarnya juga tahu di mana sahabat kakaknya tersebut saat ini tinggal. Karena Ayzel memang minta tolong pada Alvin untuk mencari Naira dengan keahliannya, tidak butuh waktu lama dia menemukan di mana sahabat kakaknya tersebut tinggal selama ini. Lewat Alvin lah Ayzel mengawasi kondisi Naira hingga sekarang.
“Lucu juga bang Roan. Sudah jelas dia tidak perlu bertanggung jawab untuk apa yang terjadi dengan mantan tunangannya, tapi tetap saja bisa di bodohi. Begitu kehilangan istri bingung,” ucap Alvin.
“Masa lalu yang belum tuntas memang cukup mengerikan ketika dia kembali, parahnya saat dia kembali membawa petaka untuk hidup baru kita yang sudah tenang.” Alvaro menatap Alvin. “Aku harap kamu tidak melakukan ke bodohan yang sama denganku atau Kim Roan, sekali saja Nana bilang kalau kamu menyakitinya...”
“Kalian akan bertindak. Aku tahu itu, bang. Tapi aku tidak yakin kalian bisa menyembunyikannya dariku, jangan lupa bagaimana aku mengatur mbak Zeze menghilang darimu dulu. Kalian tidak akan bisa mengecohku,” sahut Alvin sebelum Alvaro melanjutkan ucapannya.
“Aku tidak akan mengulang apa yang sudah diucapkan paman dan juga Kim Roan, Vin. Karena kamu sudah cukup jelas mendengarnya,” ucap Alvaro, dia hanya mengingatkan Alvin tentang janjinya pada mereka untuk menjaga Nana.
“Aku tahu,” jawab Alvin.
Pertama kali saat dia bertemu dengan Nana, Alvin kira Nana adalah gadis manja dengan segala rengekannya. Terlebih dia tahu kalau Nana pernah bersikap tidak baik pada Ayzel, karena gadis itu belum bisa menerima sepupunya menikah dengan Ayzel.
Namun beberapa hari bersinggungan dengan gadis itu, Alvin tidak menemukan tingkah manja. Ke duanya tidak terlalu sering berinteraksi satu sama lain, bahkan kala itu mereka seperti musuh karena selalu berbeda pendapat.
Belakangan Alvin juga tahu tentang kondisi duck syndrom yang dialami Nana, hanya saja Alvin belum pernah menemui kondisi di mana Nana kambuh. Lebih tepatnya karena Nana selalu bisa menyembunyikan hal tersebut dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
***
Nana sudah sampai di rumah keluarga Devran, selesai makan siang mereka memang langsung pulang karena bunda Anara harus mengurus banyak hal. Rencana pernikahan Alvin dan Nana yang mendadak membuatnya harus ekstra cepat menangani semuanya.
Alvin dan Nana sepakat untuk tidak menggelar resepsi meVah untuk pernikahan mereka, ke duanya lebih suka intimate atau private wedding. Hanya keluarga dekat yang hadir, mereka juga memilih untuk mengadakannya di taman belakang rumah keluarga Devran.
“Nana, sayang!” panggil bunda Anara padanya.
“Iya bunda,” Nana menghampiri bunda Anara.
“Ze keatas dulu, bun. Haziel dan Altezza sepertinya sudah ngantuk,” pamit Ayzel, dia tahu sang bunda ingin bicara dengan Nana.
Bunda Anara mengangguk, Ayzel lantas membawa ke dua putranya ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Kini tinggal Nana dan bunda Anara di ruang keluarga.
“Duduk sini, nak!” bunda Anara menepuk sofa di sampingnya, Nana kemudian duduk di samping sang bunda. “Ada yang bunda mau tanyakan pada Nana?” tebak Nana.
Bunda Anara tersenyum lembut, dia membelai surai Nana. Hal tersebut selalu bunda Anara lakukan saat dia ngobrol dengan Nana, bunda Anara memperlakukan Nana seperti anak kecil yang sedang butuh pelukan dan kasih sayang sang bunda. Bagaimana mungkin Nana tidak candu dengan hal tersebut, sesuatu yang Nana sangat harapkan dan rindukan hadir di tengah keringnya kasih sayang yang dia terima dari sang papa.
“Nana yakin tidak ingin mengadakan pesta, nak? Setiap anak perempuan pasti punya wedding dreamnya,” tanya bunda Anara.
Nana menggeleng. “Nana tidak punya banyak kenalan di sini, bun. Bagi Nana semua yang bunda dan keluarga ini lakukan sudah cukup banyak, bunda dan ayah bisa menerima Nana jadi bagian keluarga ini saja sudah seperti mimpi yang terwujud. Pelukan bunda, usapan bunda adalah impian yang paling Nana inginkan. Lagi pula abang juga bilang, bun. Kalau kita adakan pesta, pasti tuan Zekai akan berulah. Bang Alvin tidak mau ada keributan saat acara akad, Nana menghargai keputusan abang. Lagi pula akan lebih terasa sakral saat yang datang hanya keluarga dan rekan dekat,” jawab Nana.
Bunda Anara memeluk Nana. “Maafkan Alvin ya, nak! Dia menyeretmu masuk ke dalam masalahnya dengan kakek Zekai. Seharusnya ini menjadi pernikahan terbaik kalian, tapi karena kakek Zekai kalian harus sembunyi-sembunyi.”
“Tidak apa-apa bun,” Nana membalas pelukan bunda Anara.
“Maafin Nana, bun. Semoga Nana dan bang Alvin tidak akan mengecewakan bunda dan ayah, juga keluarga yang lain. Nana sayang sama bunda dan ayah,” batinnya.
Tanpa mereka sadari Alvin berdiri diambang pintu masuk antara ruang tamu dan ruang keluarga, dia tidak mau menganggu dua perempuan beda generasi tersebut.
“Kenapa masih berdiri di sini?” tanya Alvaro.
“Sttt...abang tidak lihat itu di sana!” tunjuk knya kearah sofa di mana bunda Anara dan Nana masih saling berpelukan.
Alvaro mengangguk. “Sekarang bagaimana mau keatas kita, Vin? Aku harus ketemu istri dan anak-anak dulu,”
“Naik lift saja!” ucap Alvin santai. “Ayok!” lanjutnya.
Alvaro dan Alvin naik lift yang berbeda, karena lantai dua tempat kamar mereka berada juga berbeda sisi. Untungnya bunda Anara dan Nana tidak menyadari dua pria itu sudah pulang.
“Aku ada urusan sebentar di luar. Mungkin dua hari baru akan pulang, jaga diri baik-baik. Bilang bunda atau mbak Zeze kalau terjadi sesuatu! Ingat...jangan di pendam sendiri,”
“Abang mau kemana?”
“Membuatmu tersenyum,”
“Ndak nyambung jawabannya,”
“Di sambung pakai tali,”
Nana mengerutkan dahinya saat membaca pesan dari Alvin. “Membuatku tersenyum? Memangnya dia mau kasih aku apa?” monolog Nana, selesai bicara dengan bunda Anara tadi dia langsung ke kamarnya.
Pernikahan Alvin dan Nana yang awalnya ingin diadakan lusa menjadi tertunda empat hari lagi, bukan hanya karena persiapan yang begitu mendadak. Namun Alvin harus menyelesaikan urusannya lebih dulu, hal yang tidak bisa dia tunda lebih lama.
aku kalau baca bocil candel gumusss bnggt suka suka ❤️
punya nada dan author Kenz ketawa sendiri,pada di luar Nurul kata" mereka
menyakiti istri sama anak dan suatu saat paham ,ada gitu yah
ga ngeh aku
secar mereka hampir gagal
kejutan untuk Nana?
Hanya Author yg tau
kaya lagi viral lakinya menggatal ma LC 🤭
berperang sama masalalu tuh capek karena apa saraf"nya yg lembut kaya lelembut jadi terganggu alias oleng tapi bentar doang sih ya kan Thor
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣