Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Para penjaga Nana
Pagi itu Alvin bersama dengan Alvaro menemui paman Kim Haejong di rumahnya, ada hal serius yang perlu Alvin bicarakan dengan paman yang akan menjadi wali nikah Nana tersebut. Nana tidak ikut karena baik Alvin maupun Alvaro tidak memberitahu gadis itu, nanti siang barulah Nana bertemu dengan paman dan bibinya. Sekaligus mereka akan menemani Nana untuk fitting baju yang akan di gunakan Nana akad nikah, bunda Anara sudah memberitahu salah satu sahabatnya. Kebetulan putri sahabatnya punya studio bridal, di waktu yang mepet mereka harus serba sat set. Karena itu Nana memilih ikut saja apa kata bunda Anara dan Ayzel.
“Kenapa semalam tidak ikut ke rumah untuk makan malam?” tanya Alvaro saat melihat kakak sepupunya sekaligus asistennya yang tidak lain adalah Kim Roan, pria itu terlihat masih bermalas-malasan di sofa saat Alvaro dan Alvin datang.
“Aku baru sampai dini hari tadi, Alvaro. Aku mampir dulu di Jakarta,” jawab Kim Roan.
Alvaro menggeleng. “Salah sendiri, bang. Sekarang bingung sendiri nyari Naira,” alih-alih merasa iba, justru Alvaro menyalahkan kakak sepupunya tersebut.
“Ck...bantu aku! Tanyain Zeze atau siapa,” pintanya pada Alvaro.
“Zeze tidak tahu di mana istrimu, bang. Karena sudah pasti Naira berpikir kalau Zeze tahu pasti aku juga tahu. Dengan begitu akan mudah untukmu menemukan Naira,” jawab Alvaro logis.
Kim Roan menghela napas, sungguh dia merindukan istrinya tersebut. Dia akui kalau semua adalah kesalahannya, dia memang gegabah. Berhasil membantu Alvaro menyelesaikan masalahnya, tapi malah dirinya sendiri membuat kesalahan karena masa lalunya kembali.
“Bukannya abang juga bisa mencarinya sendiri? Kecuali ada orang yang menutup akses mbak Naira, baru abang tidak bisa menemukannya. Dan itu berarti bang Roan tidak sepintar orang itu,” sahut Alvin.
“Seingatku Naira tidak punya sahabat dari kalangan IT, Vin. Kecuali kamu, aku dan Alvaro. Jadi tidak mungkin dia bisa sembunyi dariku,” jawab Kim Roan.
“Itu menurutmu, nak. Tapi seorang wanita yang terluka bisa melakukan apa saja, apalagi jika yang melukainya dalah suaminya sendiri. Dunia ini penuh dengan segala macam kemungkinan,” sahut mama Haruna, diawal dia sangat kesal dengan putranya karena membuat menantu kesayangannya tersebut memilih pergi diam-diam. Mama Haruna bahkan tidak mau menemui putranya selama beberapa bulan, hingga Ayzel membantu sepupu suaminya tersebut bicara dengan mama Haruna.
Kim Roan tidak berkutik setiap kali sang mama berpendapat, karena Kim Roan memang yang salah di sini.
Entah apa yang dikatakan Ayzel pada bibi suaminya tersebut, hingga mama Haruna mau menemui Kim Roan. Mama dan papa Kim Roan sama sekali tidak mau membantu putranya tersebut untuk mencari keberadaan Naira, ke duanya sepakat untuk menghukum Kim Roan dengan cara itu. Membiarkan putranya berusaha keras sendiri, dia harus berjuang untuk mendapatkan maaf dari Naira dengan usahanya sendiri.
“Kalian sudah sarapan?” lanjut mama Haruna bertanya pada Alvaro dan Alvin.
“Sudah, bi. Altezza tidak akan mau di tinggal kalau aku tidak menemaninya dan ikut sarapan,” jawab Alvaro, putra sulungnya itu memang sungguh lengket pada ke dua orang tuanya. Terlebih saat Alvaro ada di rumah, Altezza akan terus menempel. Karena hari-hari Altezza dan Haziel memang lebih sering bersama dengan Ayzel sang mama.
“Bibi jadi kangen sama mereka berdua, Alvaro. Haziel pasti sudah bisa merangkak sekarang,” tidak jarang mama Haruna mengunjungi rumah keponakan dari suaminya tersebut untuk bermain dengan putra Alvaro dan Ayzel.
“Nanti siang Zeze membawa mereka ikut fitting. Bibi bisa ketemu dengan mereka,” Alvaro memberi tahu mama Haruna.
Beberapa saat kemudian Alvian bersama dengan paman Haejong juga Kim Roan, mereka berempat bicara sambil ngopi di taman belakang. Mereka memang sengaja ngobrol di sana, meskipun obrolan serius tapi mereka tidak ingin ketegangan terasa.
“Apa yang ingin nak Alvin bicarakan?” paman Haejong membuka pembicaraan.
Alvin menarik napas dan menghembuskannya, ternyata CEO datar dan dingin itu bisa grogi juga di hadapan orang lain. Alvaro dan Kim Roan terkekeh melihat Alvin yang grogi. “Tidak usah grogi, Vin. Biasa saja,” kakak iparnya menepuk pundak Alvin.
Paman Haejong ikut terkekeh melihat Alvin grogi, namun hatinya merasa lega karena sang keponakan akan di nikahi Alvin. Dia mengenal seluk beluk keluarga Devran, karena sang istri adalah sahabat bunda Alvin. Selain itu istri Alvaro yang tidak lain adalah keponakannya juga adalah kakak dari Alvin, sebagai seorang paman dia tentu ikut bahagia saat mendengar sang keponakan akan menikah.
“Alvin kemari karena ingin minta pendapat paman tentang papanya Nana,” ucap Alvin. “Alvin tidak tahu bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya, aku hanya tahu hubungan mereka tidak terlalu baik. Bagaimanapun dia adalah orang tua Nana,” lanjut Alvin.
“Hubungan mereka memang tidak terlalu baik, nak. Terutama semenjak Haejun menikah lagi, sebelum kemari aku sudah menemuinya. Aku minta dia untuk datang, tapi saat itu responnya tidak terlalu baik. Akhirnya paman pergi begitu saja,” jawab paman Haejong.
“Tapi paman akan sangat berterimakasih kalau nak Alvin punya pemikiran untuk menemui Haejun, karena kita tidak pernah tahu hati manusia. Haejun tidak tersentuh dengan kata-kataku, tapi mungkin saja dia akan tersentuh jika nak Alvin yang bicara. Semua kemungkinan tetap ada,” lanjut paman Haejong.
Alvin mengangguk. “Alvin mengerti paman, aku akan mengusahakan sebisaku. Bagaimanapun Nana pasti ingin melihat papanya ada di hari pernikahan kami,” jawab Alvin.
Alvin punya rencananya sendiri, tapi dia butuh untuk bicara lebih dulu dengan paman Nana tersebut. Setidaknya dia adalah kakak kandung papanya Nana, pasti dia lebih mengerti sepak terjang sang adik.
“Paman hanya berpesan padamu, tolong jaga Nana dengan baik!” pinta paman Haejong. “Dia sudah cukup mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya, Nana yang terlihat sempurna di luar itu adalah sosok yang sebenarnya rapuh. Kamu akan tahu bagaimana dia menyembunyikan setiap lukanya saat kamu mengenalnya lebih dalam, nak. Bagi kami dia adalah gadis kecil yang akan selalu kami lindungi,” imbuhnya memberi tahu Alvin.
“Baik paman. Alvin akan mengusahakan yang terbaik untuk Nana,” Alvin tentu tahu bagaimana Nana di hati tiga pria yang duduk ngopi di sana bersamanya, karena dia sendiri punya kakak perempuan. Alvin pun begitu menjaga Ayzel, dia dan sang ayah bahkan menempatkan orang-orang untuk menjaga sang kakak. Tentu tanpa Ayzel ketahui, dan itu selalu mereka lakukan saat Ayzel belum menikah. Untuk sekarang, Alvin hanya memantaunya dari jauh karena Alvaro menjaga istrinya yang tidak lain kakak Alvin dengan baik. Lebih dari yang dulu Alvin lakukan untuk sang kakak, meskipun dulu Alvaro sempat hampir kehilangan Ayzel karena masa lalunya yang kembali.
berperang sama masalalu tuh capek karena apa saraf"nya yg lembut kaya lelembut jadi terganggu alias oleng tapi bentar doang sih ya kan Thor
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣