Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Malam itu, setelah hari-hari yang melelahkan di bengkel, Rangga pulang dengan langkah yang terasa makin berat. Kamarnya terasa sunyi, sesunyi hatinya yang dirundung rasa bersalah. Setelah membersihkan diri, ia duduk di tepi sofa kamarnya dengan rambut yang masih agak basah.
Dengan jari yang gemetar karena ragu, ia menekan nomor Ayu.
Panggilan pertama... ditolak. Panggilan kedua... diabaikan.
Rangga tidak menyerah. Ia tahu ia pantas diabaikan, tapi egonya kali ini ia simpan rapat-rapat demi sebuah kesempatan bicara. Pada panggilan keempat, setelah nada sambung yang panjang, akhirnya terdengar suara klik. Sambungan terhubung.
Hening sejenak, hingga akhirnya suara Ayu.
"Halo? Mas mau bicara nggak? Kalau cuma mau diam, lebih baik saya tutup teleponnya," ketus Ayu di seberang sana.
Rangga tersentak, ia menarik napas panjang untuk menata suaranya yang terasa tercekat. "Yu... halo. Jangan ditutup dulu, saya mohon."
Rangga menunduk, memijat pangkal hidungnya dengan gelisah.
"Apa kamu sudah memaafkan saya, Yu? Saya benar-benar berharap kamu bisa kasih maaf itu buat saya."
Hening sesaat. Ayu tidak langsung menjawab, yang membuat jantung Rangga berdegup kencang tak keruan.
"Saya mau jelasin sekali lagi, Yu. Malam itu di hotel... saya benar-benar khilaf. Saya terbawa perasaan saya sendiri sampai saya nggak bisa kontrol diri. Saya terlalu takut kehilangan kamu lagi setelah apartemen itu terjual, tapi saya sadar cara saya salah besar. Saya sudah nggak punya adab sama kamu," ucap Rangga dengan nada penuh penyesalan yang mendalam.
Ayu terdengar menghela napas berat, seolah sedang menahan emosi yang masih meluap.
"Khilaf bukan berarti Mas bisa sembarangan sama aku, Mas."
"Saya tahu, Yu. Saya tahu," potong Rangga cepat.
"Tapi saya mohon... tolong jangan menjauh lagi dari saya. Rasanya sepi banget, Yu, nggak ada kamu. Hari-hari saya di bengkel, di rumah... semuanya terasa kosong. Saya seperti kehilangan arah kalau kamu diamkan begini."
Rangga menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya menatap langit-langit kamar dengan nanar. Ia membuang jauh-jauh ego dan harga dirinya sebagai laki-laki demi mendapatkan kembali kepercayaan wanita yang ia cintai.
"Beri saya satu kesempatan lagi untuk bicara langsung sama kamu besok malam, Yu. Setelah itu, kamu bebas menentukan apa saya masih boleh ada di dekat kamu atau nggak. Saya mohon," bisik Rangga menutup kalimatnya dengan nada yang sangat memelas.
"Yu... besok kita ketemuan ya?" tanya Rangga dengan nada yang sangat hati-hati, seolah sedang melangkah di atas lapisan es yang tipis.
"saya mau bilang sesuatu sama kamu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan langsung"
Hening kembali menyelimuti mereka. Di seberang sana, Ayu tampak sedang berperang dengan logikanya sendiri. Luka di hatinya masih terasa perih, namun getaran suara Rangga yang begitu hancur malam ini mulai mengikis sedikit demi sedikit dinding pertahanannya.
"Besok?" tanya Ayu pendek.
"Iya, besok malam. Aku jemput jam tujuh ya? Aku janji, aku akan jaga jarak. Aku cuma ingin bicara, Yu. Setelah itu, aku akan terima apa pun keputusan kamu," sahut Rangga penuh harap.
Setelah jeda yang terasa sangat lama bagi Rangga, akhirnya terdengar jawaban lirih. "Ya sudah. Besok jam tujuh. Jangan telat."
Klik. Sambungan terputus.
......................
Setelah sambungan telepon terputus, Ayu masih terpaku memandangi layar ponselnya. Napasnya terasa berat, ada sesak yang masih tertinggal di dadanya setiap kali mengingat kejadian di Jakarta. Ia tidak menyadari bahwa Nenek Tari sudah berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik namun lembut.
"Siapa, Yu? Rangga?" tanya Nenek Tari pelan.
Ayu tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia menoleh dan mendapati neneknya berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur di sampingnya.
"Iya, Nek. Mas Rangga," jawab Ayu pendek.
Nenek Tari menghela napas, ia meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. "Nenek sudah hidup jauh lebih lama dari kamu, Yu. Nenek tahu kalau diamnya kamu sejak pulang dari Jakarta itu bukan cuma karena capek. Tadi suaranya Rangga juga kedengaran memohon-mohon begitu. Kalian ada apa sebenarnya? Jangan disimpan sendiri, nanti jadi penyakit."
Ayu menunduk dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Dengan suara yang bergetar dan penuh keraguan, Ayu mulai menceritakan semuanya.
"Nek... Mas Rangga di Jakarta kemarin... dia berbuat tidak sopan sama Ayu," bisik Ayu di sela isaknya.
Ia menceritakan bagaimana Rangga yang tiba-tiba dikuasai emosi karena takut kehilangan Ayu, lalu melakukan tindakan impulsif dengan mencium dan memeluknya paksa di dalam kamar hotel. Ayu juga menceritakan betapa hancur perasaannya saat itu, sampai ia merasa dirinya murah karena diperlakukan tanpa adab oleh laki-laki yang ia percayai.
"Ayu kecewa sekali, Nek. Ayu pikir dia sudah berubah, tapi ternyata dia malah merusak batas yang selama ini Ayu jaga. Makanya Ayu langsung bayar semua utang biaya rumah sakit itu. Ayu nggak mau ada sangkut paut lagi sama dia," lanjut Ayu dengan suara serak.
Nenek Tari mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Wajahnya yang keriput tampak serius, namun tidak menunjukkan kemarahan yang meledak. Ia mengusap punggung Ayu dengan tenang.
"Lalu, tadi dia bilang apa di telepon?" tanya Nenek Tari.
"Dia minta maaf lagi, Nek. Dia bilang dia khilaf karena terbawa perasaan. Dia bilang dunianya sepi tanpa Ayu. Dia minta ketemu besok malam, katanya ada hal penting yang mau disampaikan," Ayu mengusap air matanya dengan tisu.
Nenek Tari terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam. "Rangga itu laki-laki, Yu. Kadang egonya lebih besar dari akal sehatnya, apalagi kalau sudah urusan takut kehilangan. Tapi, khilaf tetaplah kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan."
Nenek Tari menatap mata cucunya dalam-dalam. "Besok dia mau ketemu, ya temui saja. Dengar apa yang mau dia sampaikan. Tapi ingat pesan Nenek, kalau hatimu belum siap untuk percaya lagi, jangan dipaksa. Maafkan dia sebagai manusia, tapi soal kembali atau tidak, itu hak kamu sepenuhnya."
Ayu mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang setelah mencurahkan beban hatinya.
......................
Keesokan harinya, Tepat pukul tujuh, mobilnya berhenti di depan kedai. Rangga terdiam sejenak di balik kemudi. Ada rasa canggung yang luar biasa menyelimuti hatinya.
Rangga turun dari mobil dan berjalan menuju teras kedai. Di sana, Nenek Tari sedang duduk santai, namun tatapannya langsung mengunci sosok Rangga.
"Malam, Nek," sapa Rangga.
Nenek Tari mengangguk pelan, memerhatikan penampilan Rangga. "Sudah sampai kamu, Ngga. Ayu sedang merapikan jilbabnya di dalam. Tunggu sebentar."
Suasana terasa sangat kaku. Hanya suara jangkrik dan deru kendaraan dari kejauhan yang mengisi keheningan di antara mereka. Nenek Tari kemudian berdehem, suaranya terdengar tenang namun penuh penekanan.
"Ngga, Ayu sudah cerita semuanya sama Nenek. Ingat, kamu itu sudah tiga puluh tahun. Nenek nggak minta apa-apa, cuma minta kamu perlakukan cucu Nenek sebagaimana mestinya laki-laki dewasa bersikap. Jangan sampai kejadian di Jakarta itu terulang lagi. Di usia sekarang, kamu harusnya sudah tahu bedanya sayang dan nafsu," ucap Nenek Tari.
"Saya minta maaf, Nek. Saya benar-benar khilaf dan menyesal. Malam ini, saya mau mencoba memperbaiki semuanya secara laki-laki."
Tak lama kemudian, pintu kedai terbuka. Ayu muncul dengan celana kulot berwarna pastel dan baju senada yang anggun dan hijab yang tertata rapi.
"Ayo berangkat," ajak Ayu tanpa banyak kata, suaranya datar.
Rangga segera bergerak membukakan pintu mobil untuk Ayu.
Setelah Ayu masuk, Rangga sempat berpamitan pada Nenek Tari dengan anggukan hormat sebelum akhirnya melajukan mobilnya.
Di dalam mobil, keheningan sempat meraja. Rangga fokus pada jalanan, sementara Ayu menatap ke luar jendela.
"Yu..." panggil Rangga pelan setelah beberapa menit perjalanan. "Makasih sudah mau ikut. Aku tahu mungkin kamu masih malas lihat muka aku."
Ayu tidak menoleh, namun ia menyahut lirih, "Aku cuma mau dengar apa yang mau Mas omongin. Itu saja."
Rangga mengangguk, ia mengarahkan mobilnya menuju kawasan dataran tinggi Bandung, tempat sebuah kafe outdoor dengan pemandangan lampu kota yang indah sudah menanti sebagai saksi niat seriusnya malam ini.