Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon papa baru untuk Gio
Pagi itu, dapur Dapur Kirana sedang dalam mode “perang bumbu”. Pesanan melonjak jadi 80 porsi—kali ini untuk acara pelatihan kecantikan di sebuah salon ternama. Kirana sibuk tumis bumbu rica-rica, Mbak Sari goreng ayam, Mbak Yuni siapkan sambal terasi, dan Gio jadi “Quality Control Officer” dengan tugas utama: cicipin semua yang boleh dicicip (dan diam-diam nyolong potongan ayam kalau nggak diawasi).
Tapi suasana dapur berubah total saat Siska datang.
Belum sempat buka pintu ruko sepenuhnya, suaranya sudah menggelegar:
“Kiranaaaa! Aku dengar kamu nabrak cowok cakep minggu lalu! Kok nggak cerita?!”
Kirana langsung tersedak asap cabe. “Siska! Bisa nggak nggak usah teriak teriak ,nanti tetangga mengira dapur kita ini kebakaran mendengar teriakan kamu ." kata kirana dengan muka cemberutnya .
"he ..he ..maaf ,habis reflek ." sahut Siska dengan cengengesan ,melihat itu Kirana hanya menggelengkan kepalanya ,Siska memang orangnya cuek ,tapi Kirana menyukai Siska ,dengan adanya Siska dia merasa terhibur ,setelah ia bercerai dengan Aris .
"Eh...kir ,ganteng nggak cowok yang bertabrakan dengan kamu kemarin ?" tanya Siska dengan keponya ,kirana mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Siska .
" Darimana kamu tahu?!”
"Tahu lah ,..aku kan canayang ,jadi aku tahu apa yang terjadi pada kamu kemarin ." sahut Siska dengan menyelonong masuk.
Siska masuk sambil bawa tas kanvas warna-warni, celemek baru bertuliskan (“Jangan Godain Chef Lagi Masak—Nanti Dimasukin Cabe Rawit Sebakul!”), dan senyum penuh kemenangan. “Bu Anita cerita! Katanya si penulis buku itu nge-post di Instagram: (‘Terima kasih, Dapur Kirana, atas makan siang yang bikin saya lupa deadline naskah’). Terus dia bilang, ‘Kalau pemiliknya sehangat masakannya, saya mau minta resep… dan nomor HP.’”
Kirana langsung memerah sampai telinga. “Itu… itu nggak bener! Dia nggak bilang soal nomor HP!”
“Tapi matanya bilang, Kir!” Siska mendekat, pura-pura tatap mata Kirana dengan dramatis. “Aku lihat fotonya di postingan itu—dia lihat kotak nasimu kayak lihat calon istri!”
Gio langsung nyelutuk dari pojok, “Tante Siska, Mama belum punya pacar,dan nggak boleh pacaran !”
"Bukan pacar ,gio sayang ,tapi calon papa baru untukmu ."
"Papa baru ?"
"iya ,papa baru ,tidak seperti papa kamu itu yang galak ,dan suka marahi mama kamu ." ucap Siska dengan mengelus rambut gio dengan gemas .
"iya ,Tante ,gio mau punya papa ,tidak galak kayak papa Aris ." ucap gio polos
“Nah, Kirana Gio sudah setuju ! Jadi ini kesempatan emas!” Siska tepuk tangan. “Namanya Arka Wijaya, penulis novel bestseller, tinggal di Jakarta Selatan, single—katanya nggak pernah nikah karena ‘belum ketemu yang masak opornya bikin nangis’. Dan sekarang… dia ketemu!”
Kirana geleng-geleng sambil aduk kuah opor. “Kamu lebay banget, Sis. Kami cuma ketemu lima detik. Itu pun karena gerobakku nabrak dia.”
“Justru itu takdir, Kir! Kalau nggak nabrak, mana bisa kenalan? Ini namanya *love at first bump*!”
Mbak Sari ikut nyengir. “Kalau gitu, besok kita pasang bumper di gerobak biar aman kalau mau nabrak cowok cakep lagi.”
“Hush! Jangan ikut-ikutan!” Kirana melempar daun salam ke arah Siska, tapi Siska menangkapnya dengan gaya ninja.
“Ini pertanda, Kir. Daun salam itu simbol keberuntungan dalam cinta. Artinya, kamu harus follow dia di Instagram, DM dia, bilang, ‘Mas Arka, ayam rica-ricanya kurang pedas—mau saya anterin versi level neraka?’”
Siska langsung angkat tangan. “Aku bantu ngetik! Aku bisa nulis: Halo Mas Arka, ini Gio. Mama saya jomblo, tapi masakannya juara.”)
Semua pada ketawa ngakak. Kirana malu-malu marah. “Kalian ini… nggak bakal serius kerja kalau aku nggak marah!”
Tapi Siska nggak berhenti. Sepanjang hari, dia selipin godaan-godaan lucu:
- Saat Kirana ambil gula, Siska bisik, “Jangan terlalu manis, nanti Mas Arka klepek-klepek.”
- Pas Kirana coba tes rasa sambal, Siska teriak, “Pedesnya buat gebetin atau buat usir mantan?”
- Bahkan waktu Kirana lipat kardus, Siska nyanyi: *“Lipat hati, lipat kardus, kirim cinta lewat nasi box~”*
Kirana akhirnya menyerah. “Oke, oke! Aku akui… dia cakep. Tapi itu aja! Nggak ada lanjutannya.”
Siska mendekat, nada suaranya tiba-tiba lebih lembut. “Kir, kamu layak bahagia. Bukan cuma jadi ibu hebat atau chef jagoan. Tapi juga jadi perempuan yang dipandang, dihargai, dan… mungkin, dicintai.”
Kirana diam sebentar. Lalu tersenyum kecil. “Aku takut, Sis. Takut salah lagi. Takut percaya, terus disakitin.”
Siska pegang tangannya. “Bedanya kali ini: kamu nggak sendirian. Kamu punya Gio, punya kami, punya Dapur Kirana yang jadi bentengmu. Kalau dia nggak serius, kita bakal bikin dia makan sambal level ‘penyesalan seumur hidup’.”
Kirana tertawa. “Janji?”
“Janji! Dan kalau dia baik… aku yang pertama dorong kamu ke pelukannya.”
***
Sore harinya, setelah semua pesanan selesai, Siska ajak Kirana duduk di depan ruko sambil minum es teh manis—bekal dari Mbak Yuni yang bawa termos dari rumah.
“Ngomong-ngomong,” kata Siska sambil buka HP, “dia follow balik akun Dapur Kirana tadi siang.”
Kirana hampir tumpahkan es tehnya. “Apa?! Serius?”
“Iya! Dan dia like foto Gio yang lagi pegang pisau plastik. Caption-nya: *‘Asisten potong bawang paling keren sedunia.’*”
Kirana tersenyum tanpa sadar. “Dia… perhatian ya.”
“Perhatian banget! Bahkan komen di story Bu Anita: *‘Kalau cateringnya enak begini, saya rela jadi langganan seumur hidup.’*”
Gio yang lewat langsung nyambung, “Berarti dia mau jadi… saudara angkat aku?”
Siska pura-pura serius. “Bisa jadi. Atau… calon ayah angkat. Atau—” dia lihat Kirana dengan senyum nakal, “calon ayah kandung adikmu.”
Kirana lempar bantal kecil. “Siska!!”
Tapi malam itu, sebelum tidur, Kirana diam-diam buka Instagram. Akun pribadinya masih private, cuma diisi foto Gio dan masakan. Tapi akun Dapur Kirana—yang sekarang sudah punya 2 ribu followers—memang dapat notifikasi: **Arka Wijaya started following you**.
Dan di foto terakhir—Gio lagi senyum pegang kotak nasi—ada komentar darinya:
#“Resepnya rahasia keluarga, atau boleh saya coba tebak?
Kirana baca berkali-kali. Jantungnya berdebar, tapi kali ini… tidak takut. Hanya… berharap.
Esok pagi, jam tiga, dia bangun seperti biasa. Tapi kali ini, saat menyalakan kompor, dia berbisik pelan:
“Semoga hari ini, Jakarta baik sama kita berdua.”
Di sudut dapur, Siska—yang ternyata pura-pura tidur tapi diam-diam ngintip—tersenyum puas.
“Cinta datang lewat nasi box… siapa sangka?” gumamnya sambil balik badan, siap bantu masak dengan semangat baru.
Dan di antara aroma bawang goreng dan daun jeruk, ada sesuatu yang baru tumbuh:
bukan cuma usaha…
tapi juga harapan akan cinta yang dimasak perlahan,
tanpa terburu-buru,
tanpa luka lama,
cuma dua hati yang mulai penasaran…
lewat satu tabrakan kecil