NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Makan Malam Keluarga yang Canggung

Ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan menemukan sebuah pita rambut berwarna merah muda yang terjatuh di atas kursi yang tadi diduduki oleh Lala. Baru saja ia hendak menyimpan pita itu, telepon genggamnya bergetar dan menampilkan sebuah pesan singkat dari ayah Lala yang memintanya datang ke kantor polisi untuk keperluan interogasi resmi malam ini juga. Adrian menarik napas panjang seolah sedang menyiapkan diri untuk masuk ke dalam ruang operasi yang paling sulit sepanjang kariernya.

"Ternyata diagnosa saya salah, hari ini bukan hari yang melelahkan, melainkan hari yang sangat mematikan," gumam Adrian sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan hampa.

Pria itu segera menjalankan mobilnya menuju alamat rumah besar yang dikirimkan oleh Danu, bukan ke kantor polisi seperti dugaannya semula. Rupanya interogasi yang dimaksud adalah sebuah jebakan makan malam yang dirancang oleh ayah Lala untuk mengadili sang dokter secara kekeluargaan. Begitu sampai di depan pagar besi yang sangat kokoh, Adrian melihat Danu sudah berdiri dengan tangan bersedekap dan senyum penuh kemenangan yang sangat menyebalkan.

"Selamat datang di sarang singa, Dokter Kulkas, semoga kamu tidak tersedak tulang ikan malam ini," sindir Danu sambil membukakan pintu rumah secara lebar-lebar.

"Saya datang ke sini sebagai tamu terhormat, bukan sebagai bahan olokan kamu, Danu," balas Adrian sambil melangkah masuk dengan dada yang membusung tegak.

Suasana di dalam ruang makan terasa sangat mencekam dengan denting sendok dan garpu yang beradu berulang-ulang di atas piring porselen putih. Ayah Lala duduk di kepala meja dengan seragam polisi yang masih lengkap melekat di tubuhnya yang besar dan tampak sangat berwibawa. Di sampingnya, Lala duduk dengan wajah yang tertunduk lesu dan mata yang sembap karena baru saja selesai menangis berjam-jam.

"Silakan duduk Dokter Adrian, terima kasih sudah bersedia mampir di tengah jadwal operasi Anda yang sangat padat itu," ucap ayah Lala dengan suara yang berat.

"Terima kasih atas undangannya Bapak, saya hanya ingin memastikan kondisi fisik Lala benar-benar sudah pulih total," jawab Adrian sambil menarik kursi kayu yang berderit nyaring.

Makan malam pun dimulai dengan keheningan yang sangat kaku hingga hanya suara kunyahan makanan yang terdengar mengisi ruangan tersebut. Adrian berusaha tetap tenang meskipun ia menyadari bahwa mata ayah Lala terus mengawasinya dengan sangat tajam seolah sedang melakukan pemindaian laser. Lala mencoba melirik ke arah Adrian dengan binar mata yang penuh permintaan maaf, namun Danu segera menyenggol lengan adiknya agar tetap fokus pada piring makanannya.

"Jadi, sejauh mana hubungan Anda dengan putri kecil saya yang masih memakai seragam abu-abu ini?" tanya ayah Lala secara tiba-tiba tanpa basa-basi sedikit pun.

"Kami hanya sebatas dokter dan pasien Bapak, meskipun Lala terkadang memiliki semangat yang sedikit berlebihan dalam berkomunikasi," jelas Adrian dengan sangat berhati-hati.

Lala tiba-tiba tersedak air minum saat mendengar kata semangat berlebihan keluar dari mulut Adrian yang biasanya sangat hemat bicara. Ia segera mengambil serbet dan menutupi wajahnya yang kini mulai memerah padam karena rasa malu yang sangat luar biasa hebat. Danu tertawa kecil melihat adiknya yang sangat kikuk sementara ayah mereka justru semakin memperdalam kerutan di dahinya yang sangat tegas.

"Semangat berlebihan itu namanya cinta gila-gilaan, Ayah, jangan mau ditipu oleh istilah medis pria ini!" kompor Danu sambil menyuapkan sesendok nasi goreng.

"Danu, jaga ucapan kamu di depan tamu kita, atau Ayah akan mengirim kamu kembali ke asrama militer!" bentak sang ayah hingga Danu seketika terdiam seribu bahasa.

Adrian merasa sedikit tertolong dengan kemarahan ayah Lala kepada Danu, namun ia tahu bahwa ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Sang ayah meletakkan sendoknya lalu menatap Adrian tepat di matanya dengan pandangan yang sangat menusuk hingga ke tulang belakang. Ia mulai menanyakan tentang masa lalu Adrian yang pernah menjadi teman kuliah Danu dan kenapa Adrian bisa terlibat dalam aksi penangkapan penjahat bersama putrinya.

"Saya hanya kebetulan berada di tempat yang sama, dan putri Bapak adalah orang yang sangat berani meski tindakannya sedikit ugal-ugalan," tutur Adrian.

"Berani atau bodoh itu bedanya sangat tipis Dokter, dan saya tidak mau putri saya berada di lingkungan rumah sakit yang penuh dengan kuman dan masalah!" tegas sang ayah.

Lala tidak bisa lagi menahan diri dan langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat mendadak hingga gelas airnya hampir terguling. Ia menatap ayahnya dengan wajah yang penuh dengan keberanian yang sangat liar seolah sedang memperjuangkan harga dirinya yang paling tinggi. Adrian terpaku melihat transformasi gadis alay itu menjadi sosok yang sangat serius dan sangat gigih di depan keluarganya sendiri.

"Ayah tidak berhak mengatur perasaanku, Dokter Adrian adalah orang yang sudah membuatku ingin rajin belajar Biologi!" seru Lala dengan suara melengking.

"Duduk kembali Lala! Kamu masih anak sekolah dan belum mengerti apa-apa tentang dunia orang dewasa yang sangat rumit ini!" perintah ayahnya dengan nada yang sangat menggelegar.

Situasi makan malam yang canggung itu berubah menjadi ajang perdebatan keluarga yang sangat panas dan sangat menegangkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Adrian merasa dirinya seperti sebuah benda asing yang terjepit di antara dua kutub magnet yang saling tolak-menolak secara terus-menerus. Ia menyadari bahwa kehadirannya di rumah ini bukan untuk mendapatkan restu, melainkan untuk melihat secara langsung betapa besarnya tembok yang harus ia runtuhkan.

"Saya rasa saya harus pamit sekarang sebelum suasana menjadi semakin tidak terkendali bagi kita semua," ucap Adrian sambil berdiri dari kursinya dengan sopan.

"Tunggu dulu Dokter, saya belum selesai dengan interogasi ini, ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui," cegat sang ayah sambil mengeluarkan sebuah map cokelat.

Adrian menatap map cokelat itu dengan perasaan yang tidak menentu sementara Lala kembali tertunduk sambil meremas-remas ujung taplak meja dengan jari-jarinya yang gemetar. Di dalam map itu ternyata berisi sebuah kontrak perjanjian yang berisi larangan bagi Adrian untuk menemui Lala di luar jam praktik rumah sakit secara resmi. Sang ayah menyodorkan sebuah pena perak di hadapan Adrian dan memintanya untuk menandatangani dokumen yang terasa seperti surat hukuman mati bagi hubungan mereka.

"Jika Anda menandatangani ini, saya tidak akan melaporkan kejadian kemarin ke direktur rumah sakit, bagaimana?" tanya sang ayah dengan senyum dingin.

"Dokter, jangan tanda tangan! Aku akan benar-benar mogok makan kalau Dokter setuju dengan perjanjian gila itu!" teriak Lala dengan air mata yang mulai menetes kembali.

Adrian menatap pena perak itu lalu beralih menatap wajah Lala yang penuh dengan harapan yang sangat tulus dan sangat murni. Ia merasakan ada pergolakan hebat di dalam jiwanya antara menjaga karier cemerlangnya atau mengikuti bisikan hatinya yang mulai mencair setetes demi setetes. Seluruh ruangan menjadi sangat senyap saat jari-jari panjang Adrian mulai menyentuh badan pena tersebut dengan gerakan yang sangat perlahan-lahan.

Baru saja ujung pena itu menyentuh permukaan kertas kontrak, lampu seluruh rumah tiba-tiba mati total dan terdengar suara kaca jendela yang pecah dari arah ruang tamu dengan sangat keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!