Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
patlikur (24)
Hutan Belantara di belakang ladang Han Jia ternyata memang "ATM Berjalan". Dalam waktu kurang dari dua jam, Feng Shura yang kini berstatus Buruh Tani Tingkat Menengah (dengan kekuatan fisik 300%) mengamuk seperti badai.
Sreeet!
Buk!
Seekor Serigala Angin setinggi sapi jantan terhempas ke tanah, lehernya ditebas bersih oleh pedang Shura.
"Satu lagi!" seru Shura dengan napas teratur. Ia merasa sangat puas. Kekuatan barunya membuat serigala mutan ini terasa seringan kelinci. "Han Jia! Masukkan ke penyimpanan! Ini yang kelima!".
Han Jia berlari mendekat dengan mata berbinar-binar, sudah membayangkan angka-angka di rekening sistemnya.
"Luar biasa, Shura! Kinerja ototmu sangat efisien!" puji Han Jia sambil menempelkan tangannya ke bangkai serigala itu. "Hera! Scan dan Jual Instan! Serigala Angin Mutasi! Harga pasar: 1.500 Poin!"
Han Jia tersenyum lebar, menanti bunyi Ding! yang indah.
[Ding! Transaksi Berhasil.]
[Item Terjual: 1x Bangkai Serigala Angin.]
[Saldo Masuk: +750 Poin.]
Senyum Han Jia membeku. Matanya mengerjap. Ia memukul sisi kepalanya, mengira hologramnya rusak.
"Tunggu sebentar..." gumam Han Jia. "750? Bukankah seharusnya 1.500? Kenapa setengahnya hilang? Pajak macam apa ini?!"
Han Jia mencoba menjual seekor babi hutan yang tadi mereka tangkap.
[Ding! Transaksi Berhasil.]
[Item Terjual: 1x Babi Hutan.]
[Saldo Masuk: +50 Poin (Harga Normal: 100 Poin).]
"APA-APAAN INI?!"
Teriakan Han Jia menggelegar, membuat burung-burung di hutan terbang ketakutan. Shura yang sedang mengelap pedangnya langsung siaga.
"Ada monster level tinggi?!" tanya Shura.
"LEBIH PARAH DARI MONSTER!" Han Jia menunjuk langit dengan jari gemetar. "HERA! KELUAR KAU SEKARANG! Kenapa poin saya dipotong setengahnya?! Apakah kau sedang melakukan korupsi sistem?! Kembalikan uang jerih payahku!"
Hera muncul di atas dahan pohon, duduk santai sambil mengikir kuku hologramnya. Wajahnya tenang, tapi ada senyum mengejek di sudut bibirnya.
"Profesor, tidak ada korupsi. Itu adalah pemotongan otomatis sesuai regulasi."
"Regulasi apa?! Kau tidak bilang apa-apa soal potongan 50%!" Han Jia mencak-mencak, wajahnya merah padam. "Ini penipuan! Aku akan melaporkanmu ke... ke siapa pun yang menciptakanmu!"
Hera menghela napas panjang, lalu menjentikkan jarinya. Sebuah gulungan kertas hologram super panjang jatuh ke hadapan Han Jia.
"Pasal 7 Ayat 2 tentang Etika Profesi Buruh Tani," baca Hera dengan nada datar. "Jika Host melakukan aktivitas sampingan (Berburu/Berdagang) NAMUN belum menyelesaikan Misi Harian Utama (Menyiram, Memupuk, Mencangkul), maka harga jual barang sampingan akan dipotong 50% sebagai Hukuman Kelalaian Profesi."
Hening.
Han Jia mematung. Angin hutan berhembus, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang berantakan.
"Misi... harian?" cicit Han Jia pelan.
"Benar," Hera menatapnya tajam. "Anda lupa menyiram Padi Baja pagi ini. Anda lupa memberi makan ayam (dan sandera Anda). Anda lupa mencabut rumput liar. Anda terlalu sibuk berteriak 'HARTA KARUN!' dan langsung lari ke hutan."
"T-tapi... tapi aku pikir..." Han Jia tergagap.
"Salah siapa terlalu mata duitan sampai tak mendengar ucapanku sampai selesai tadi pagi?" potong Hera telak. "Saya baru mau bilang 'Jangan lupa selesaikan tugas ladang dulu', tapi Anda sudah menyeret Tuan Shura keluar pintu."
Han Jia jatuh berlutut. Rasa sakit kehilangan ribuan poin terasa lebih menyakitkan daripada ditusuk pedang.
"Jadi... semua serigala yang kita bunuh ini... harganya diskon?" Han Jia menatap tumpukan bangkai itu dengan tatapan kosong.
Shura mendekat, menepuk bahu Han Jia dengan prihatin. "Sudahlah, Profesor. Setidaknya kita dapat 750 poin. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali."
"TIDAK BISA!" Han Jia tiba-tiba bangkit, matanya menyala dengan tekad pelit yang luar biasa. "Aku tidak mau rugi! Hera, apakah jika aku menyelesaikan misi harian SEKARANG, harga jual sisa buruan ini akan kembali normal?"
"Tentu. Hukuman dicabut begitu tugas utama selesai. Tapi ingat, matahari akan terbenam dalam 30 menit. Jika Padi Baja tidak disiram sebelum gelap, misinya gagal total."
"30 MENIT?!" Han Jia panik. Jarak hutan ke gubuk butuh waktu satu jam jalan kaki!
Ia menatap Shura. "Shura! Kita tidak punya waktu untuk jalan kaki! Kita harus menggunakan... itu!"
"Itu?" Shura mundur selangkah. "Maksudmu... Langkah Siluman yang membuatmu nyangkut di kandang ayam tadi?"
"LOMPATAN KUANTUM!" koreksi Han Jia. "Ayo! Pegang tanganku! Kita harus teleportasi sekarang juga demi menyelamatkan dompetku!"
Shura menggeleng ngeri. "Tidak! Lebih baik aku lari! Kakiku kuat!"
"JANGAN MEMBANTAH! Pegang!" Han Jia menyambar tangan Shura. Ia memejamkan mata, membayangkan ladang padinya dengan sekuat tenaga.
"Fokus... Fokus... Jangan bayangkan kandang ayam... Bayangkan uang... Bayangkan ladang..."
WOOSH!
Cahaya menyelimuti mereka berdua, dan mereka menghilang dari hutan.
...
BYUURRR!
Han Jia dan Shura muncul kembali. Bukan di ladang, tapi tepat di tengah-tengah sungai di samping ladang. Air dingin langsung membasahi seluruh tubuh mereka.
"Hah... Hah..." Han Jia muncul ke permukaan, membuang air dari mulutnya. "Setidaknya... kita sudah sampai di area ladang. Hera! Misi harian! Shura! Cepat siram padinya pakai air sungai ini! CEPAT SEBELUM HARGANYA DISKON LAGI!"
Shura, yang basah kuyup dan ada seekor ikan kecil nyangkut di rambutnya, hanya bisa menatap langit dengan pasrah.
"Othor..." batin Shura. "Kenapa kau memberiku guru yang lebih mencintai poin daripada nyawanya sendiri?"
Dengan sisa waktu yang ada, dua Buruh Tani level tinggi itu pun berlarian di ladang seperti orang kesurupan, menyiram dan mencabut rumput demi menyelamatkan harga jual bangkai serigala.