Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 (tigang dasa)
Pasar Utama Ibu Kota Kekaisaran bagaikan lautan manusia. Hiruk-pikuk suara tawar-menawar, teriakan pedagang, dan denting koin menciptakan polusi suara yang memekakkan telinga. Di tengah kekacauan itu, sebuah gerobak tua berhenti di sudut strategis, di bawah naungan pohon beringin pasar.
Di atas gerobak itu, Labu Raksasa berwarna oranye menyala seolah menantang matahari.
Han Jia berdiri di samping gerobak. Ia tidak berteriak-teriak seperti pedagang obat. Ia hanya berdiri tegak dengan jubah sederhananya, melipat tangan di dada, menatap kerumunan dengan tatapan tajam dan penuh kalkulasi.
Di sebelahnya, 'Mamat' (Feng Shura) duduk di tepi gerobak sambil memegang pisau besar. Tatapannya garang di balik berewok palsunya, memancarkan aura membunuh tipis yang membuat pencopet mana pun berpikir dua kali untuk mendekat.
"Bos," bisik Shura tanpa menoleh. "Sudah sepuluh menit. Orang-orang hanya melihat, tidak ada yang membeli. Mereka takut ukurannya tidak wajar."
"Tunggu, Mamat. Tunggu sampai 'Paus' lewat," jawab Han Jia tenang. "Kita tidak menjual ini ke rakyat jelata yang menghitung keping tembaga. Kita mencari bangsawan yang bosan."
Benar saja, tak lama kemudian, sebuah tandu mewah yang dipanggul empat pengawal lewat. Tirainya terbuka sedikit, memperlihatkan seorang pria gemuk dengan cincin batu giok di setiap jarinya. Dia adalah Tuan Wang, pedagang sutra terkaya di sektor ini.
Mata Tuan Wang melebar saat melihat labu raksasa itu. Ia memberi isyarat berhenti.
"Hei, kau!" panggil Tuan Wang, suaranya cempreng. "Benda apa itu? Apakah itu labu asli atau cuma patung lilin?"
Han Jia tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, tapi senyum profesional yang dingin.
"Asli, Tuan. Dipanen pagi ini dari Lembah Kabut," jawab Han Jia.
"Mustahil! Labu sebesar itu pasti hambar dan berair!" cibir Tuan Wang, mencoba menjatuhkan harga.
Tanpa bicara, Han Jia memberi kode pada Shura.
SREET!
Shura mengayunkan pisaunya dengan kecepatan kilat. Ia memotong seiris kecil dari Apel 'Ruby Giant' (bukan labu, tapi apel sampel). Irisan itu diletakkan di piring kecil dan disodorkan ke Tuan Wang.
"Cicipi. Jika tidak manis, saya bayar Tuan 100 Tael emas," tantang Han Jia.
Tuan Wang ragu, tapi ia mengambil irisan apel merah itu. Ia menggigitnya.
KRES!
Waktu seolah berhenti bagi Tuan Wang. Matanya membelalak. Rasa manis yang meledak di mulutnya bukan hanya gula, tapi kesegaran murni yang seolah membersihkan tenggorokannya. Teksturnya renyah, airnya melimpah.
"I-ini..." Tuan Wang gemetar. "Ini bukan apel biasa. Ini... Makanan Dewa!"
"Berapa harganya?!" teriak Tuan Wang, melupakan gengsinya.
"Satu buah apel, 50 Tael Perak. Satu Labu Raksasa, 500 Tael Perak," jawab Han Jia datar.
Kerumunan tersentak. Itu harga perampokan! 500 Tael bisa membeli rumah kecil!
"Aku ambil semuanya!" teriak Tuan Wang panik, takut didahului orang lain. "Pengawal! Bayar dia! Bawa semuanya ke kediamanku!"
Seketika, pasar menjadi gempar. Transaksi gila itu memicu efek domino. Bangsawan lain yang melihat Tuan Wang memborong langsung ikut menyerbu.
"Aku mau wortel raksasa itu!"
"Hei, Preman! Berikan aku jagung pelangi itu!"
Dalam satu jam, gerobak mereka kosong melompong. Kantong uang Han Jia kini berat, berisi uang tunai dan wesel emas senilai lebih dari 6.000 Tael. Target misi tercapai, bahkan terlampaui.
Shura mengelap keringat di dahinya. Meskipun senang, insting jenderalnya mulai berteriak.
"Han Jia," bisik Shura, tangannya kembali ke gagang pedang di balik jubahnya. "Kita terlalu mencolok. Aku merasakan banyak mata mengawasi kita. Bukan pembeli."
Han Jia mengangguk pelan. Ia tidak sedang menghitung uang. Matanya sedang memindai atap-atap bangunan di sekitar pasar.
"Aku tahu. Ada tiga orang di atap sisi timur. Dua di lorong barat. Mereka bukan pencuri biasa. Cara berdiri mereka... terlatih," analisis Han Jia dingin.
Tiba-tiba, kerumunan membelah. Seorang pria tua berjubah abu-abu polos berjalan mendekat. Dia tidak terlihat kaya, tapi semua orang, bahkan preman pasar, menyingkir memberinya jalan dengan wajah takut.
Pria tua itu berhenti di depan gerobak kosong Han Jia. Matanya bukan menatap uang, tapi menatap sisa potongan kulit apel yang terjatuh di lantai gerobak.
Dia memungut kulit apel itu, mencium baunya, lalu menatap Han Jia dengan sorot mata yang membuat darah terasa beku. Matanya seperti mata ular dingin, tanpa emosi, dan mematikan.
"Nona Muda," suaranya serak dan pelan. "Tanaman ini... kau tidak menanamnya dengan tanah biasa, bukan?"
Han Jia menyipitkan mata. "Itu rahasia dagang, Tuan Tua."
Pria itu tersenyum miring, memperlihatkan gigi yang menghitam.
"Struktur seratnya mengandung jejak Energi Murni yang dipaksakan. Ini bukan pertanian. Ini... Alkimia Hayati."
Pria itu mendekatkan wajahnya.
"Hati-hati, Nona. Ada organisasi di kota ini yang tidak suka jika ada 'Tikus Kecil' yang bermain-main dengan Wilayah Dewa tanpa izin."
Setelah mengucapkan ancaman samar itu, pria tua itu berbalik dan menghilang di tengah kerumunan secepat asap.
Shura langsung berdiri di depan Han Jia, siap mengejar. "Siapa dia? Mau kubunuh?"
"Jangan," Han Jia menahan lengan Shura. Wajahnya serius. Tidak ada lagi keluhan soal Othor, tidak ada lagi lelucon soal uang.
"Dia bukan pedagang. Dia seorang Kultivator tingkat tinggi yang mengerti sains dasar," bisik Han Jia. "Shura, kita dalam masalah. Kemampuan 'Manipulasi Genetik'-ku terdeteksi oleh mereka."
"Kita harus pergi. Sekarang."
Han Jia menarik tudung jubahnya menutupi wajah. Suasana pasar yang tadinya riuh kini terasa mencekam bagi mereka berdua. Uang 6.000 Tael di saku mereka tiba-tiba terasa seperti beban berat yang bisa mengundang maut.