NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Tangan yang Tidak Digenggam

Bel pulang telah lama berbunyi, tapi lorong sekolah belum sepenuhnya kosong. Beberapa siswa masih berjalan perlahan, suara langkah mereka memantul di dinding, bercampur dengan tawa kecil dan obrolan yang mulai kembali ringan setelah pelajaran usai.

Varrendra berjalan sendirian, tas di pundaknya terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena buku, tapi karena pikirannya penuh oleh kalimat-kalimat yang terucap di kelas tadi. Jika dan maka. Kata-kata sederhana, tapi membawa perasaan yang tidak pernah benar-benar ia izinkan keluar.

Di belakangnya, langkah lain menyusul.

“Varrendra.”

Ia berhenti. Ia tahu suara itu bahkan sebelum menoleh.

Selvina berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya terikat rapi, wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda—lebih lembut, lebih berhati-hati, seolah ia sedang mendekati sesuatu yang rapuh.

“Kamu mau pulang sekarang?” tanyanya.

“Sebentar lagi,” jawab Varrendra. “Aku… mau ke ruang fraksi dulu.”

Selvina mengangguk pelan. Hening jatuh di antara mereka. Bukan hening yang canggung, tapi hening yang penuh oleh kata-kata yang tidak diucapkan.

Mereka berdiri di dekat jendela lorong. Sinar sore menembus kaca, memantul di lantai, membuat bayangan mereka berdua memanjang dan hampir bersentuhan.

“Apa permainan tadi…” Selvina memulai, lalu berhenti. Ia menarik napas. “Kamu baik-baik saja?”

Varrendra terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak pernah sesederhana itu.

“Aku baik,” katanya akhirnya.

Selvina menatapnya, seolah mencari celah di balik kalimat itu. “Kamu selalu bilang begitu.”

Varrendra tersenyum tipis. “Karena biasanya memang begitu.”

Beberapa detik berlalu. Angin dari jendela yang terbuka menggerakkan ujung kertas pengumuman di papan, menimbulkan suara gesek pelan.

Selvina melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak mereka kini hanya selebar satu bangku. Ia ragu sejenak, lalu mengulurkan tangannya—bukan untuk menggenggam, hanya untuk menyentuh pergelangan tangan Varrendra dengan lembut.

Sentuhan itu ringan, hampir seperti pertanyaan.

“Kalau kamu capek,” katanya pelan, “kalau kamu bingung… kamu bisa cerita. Ke aku.”

Varrendra menatap tangan itu. Ia merasakan hangatnya, nyata, menenangkan—dan justru karena itu, dadanya terasa sesak.

Ia tahu apa arti gestur itu. Bukan sekadar ingin tahu, tapi ingin berada di dalam ruang perasaannya. Ingin ikut memikul. Ingin menjadi tempat ia menurunkan beban.

Perlahan, sangat pelan, Varrendra menggerakkan tangannya. Bukan menarik kasar, bukan menepis. Ia hanya melepaskan sentuhan itu dengan hati-hati, seolah takut melukai.

“Selvina…” suaranya rendah. “Terima kasih. Tapi… tidak sekarang.”

Alis Selvina sedikit berkerut. “Kenapa?”

Varrendra mencari kata-kata yang tidak akan terdengar sebagai penolakan terhadap dirinya, melainkan terhadap situasi yang lebih besar dari mereka berdua.

“Karena kalau aku mulai bicara, aku tidak tahu di mana harus berhenti,” katanya jujur. “Dan aku… tidak ingin menyeretmu ke dalam hal-hal yang seharusnya kutangani sendiri.”

Selvina menunduk, menatap tangannya yang kini kosong. “Aku tidak keberatan.”

“Aku tahu,” jawab Varrendra cepat. “Justru itu masalahnya.”

Ia menarik napas dalam. “Kamu terlalu baik untuk dijadikan tempat menumpahkan semua kebingunganku. Dan aku tidak ingin… bergantung pada satu-satunya orang yang membuatku merasa tenang, kalau pada akhirnya aku harus belajar berdiri sendiri.”

Kata-kata itu tidak keras, tapi tegas. Seperti pintu yang ditutup perlahan, tanpa dibanting, namun tetap terkunci.

Selvina mengangkat wajah. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang lebih mirip penerimaan daripada kebahagiaan.

“Aku tidak minta kamu bergantung,” katanya. “Aku cuma ingin kamu tahu… kamu tidak sendirian.”

Varrendra mengangguk. “Aku tahu. Dan itu cukup.”

Mereka kembali diam. Kali ini, diam yang membawa jarak.

Dari ujung lorong, terdengar suara langkah cepat dan panggilan yang ceria.

“Varrendra!”

Nadira muncul, melambaikan tangan. Wajahnya cerah, seperti selalu, seolah dunia tidak pernah terlalu berat di bahunya. Ia berjalan mendekat dengan langkah ringan.

“Kamu jadi ke ruang fraksi, kan? Aku juga mau ke sana. Pak Dimas minta kita kumpul sebentar,” katanya, lalu menoleh ke Selvina. “Oh, hai.”

“Hai,” jawab Selvina.

Nadira melirik Varrendra, lalu tersenyum. “Kamu kelihatan capek. Tapi kamu selalu kelihatan capek, sih. Ayo, sebelum keburu dikunci.”

Nada suaranya santai, akrab, tanpa beban.

Varrendra mengangguk. “Iya. Kita jalan.”

Ia menoleh ke Selvina. “Aku duluan.”

Selvina mengangguk pelan. “Hati-hati.”

Varrendra melangkah pergi bersama Nadira. Langkah mereka seiring, percakapan kecil mulai mengalir—tentang tugas, tentang rencana rapat, tentang hal-hal ringan yang tidak menuntut kedalaman perasaan.

Selvina berdiri di tempat, memperhatikan punggung mereka yang menjauh.

Ia tidak merasa marah. Tidak juga cemburu dengan cara yang meledak-ledak. Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih sunyi: kesadaran bahwa Varrendra sedang memilih jarak, dan ia menghormati pilihan itu.

Ia teringat sentuhan singkat tadi. Bukan genggaman. Hanya usaha kecil untuk berkata, aku di sini. Dan bagaimana tangan itu, dengan lembut, memilih untuk tidak tinggal.

Mungkin, pikirnya, bukan karena tidak ingin dekat. Tapi karena terlalu ingin, sampai harus menahan diri.

Di ujung lorong, Nadira tertawa kecil atas sesuatu yang ia katakan. Varrendra menjawab dengan senyum tipis. Bukan senyum yang dalam, tapi cukup untuk membuat langkah terasa lebih ringan.

Selvina memalingkan wajah ke jendela. Matahari sudah hampir tenggelam, langit berwarna oranye pucat, seperti sesuatu yang indah tapi sementara.

Ada perasaan yang ingin ia simpan, bukan untuk dilupakan, tapi untuk diletakkan dengan rapi. Di tempat yang tidak mengganggu langkah siapa pun.

Ia berbisik dalam hati, bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai penerimaan:

Terkadang, mencintai bukan tentang menggenggam. Tapi tentang tahu kapan harus melepaskan tangan, agar yang lain bisa berjalan ke perannya sendiri.

Dan di lorong yang kini semakin sepi itu, Selvina berdiri sebentar lagi, sebelum akhirnya melangkah pergi ke arah berlawanan—membawa perasaan yang tidak terucap, namun tetap utuh.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!