Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Hana telah berada di rumah sakit dan sementara ditangani oleh dokter. Pengemudi motor itu juga berada di rumah sakit dan sedang berada di ruang tunggu, ia menemani Hana sebagai bentuk tanggung jawabnya karena telah menikung mobil Hana. Pengemudi motor itu bingun harus menghubungi siapa, ia tidak tahu nomor kontak keluarga Hana karena ponsel Hana terkunci. Tuhan berkehendak lain, tiba-tiba Meta menghubungi ponsel Hana dan pengemudi motor itu sedang memegang ponsel milik Hana karena Hana sedang berada di IGD. Pengemudi motor itu menjawab panggilan telpon dari Meta.
Pengemudi motor: "Halo." ucapnya. Meta terkejut karena ia mendengar suara seorang pria yang menjawab panggilannya.
Meta: "Siapa ini? " tanyanya dengan heran. "Di mana Hana." tanyanya lagi dengan rasa ingin tahu.
Pengemudi motor: "Nama saya Feri, mbak." sahutnya dengan pelan. "Apakah mbak keluarga dari Hana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Meta: "Saya teman Hana." ucapnya pelan. "Ada apa, ya? Mengapa kamu yang menjawab panggilanku?" tanyanya dengan heran dan rasa penasaran.
Feri: "Teman mbak yang bernama Hana mengalami kecelakaan. Sekarang ia sedang berada di ruang IGD, mbak. Untung saja mbak menelpon, saya bingun harus menghubungi siapa." ucapnya dengan cemas.
Meta: "Apakah Hana parah?" tanyanya dengan cemas.
Feri: "Keningnya sobek terkena pecahan kaca, dokter sedang menanganinya." ucapnya.
Meta: "Oh, Tuhan! Kasihan Hana." ucapnya dengan sedih. "Aku akan menyuruh suamiku untuk menjenguk Hana, mas." ucapnya lagi.
Feri: "Baik, mbak. Hana berada di kamar IGD, aku akan menunggu suami mbak. Aku ingin sekalian menyerahkan barang-barang mbak Hana." ucapnya.
Meta: "Di mana alamat rumah sakitnya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Feri menyebutkan alamat rumah sakit tempat Hana berada, setelah pengemudi motor yang bernama Feri itu bicara panjang lebar dengan Meta, hatinya sedikit tenang karena telah mengabari tentang kondisi Hana saat itu. Beberapa detik kemudian, dokter keluar dari ruangan IGD dan menghampiri Feri.
Dokter: "Apakah mas ini keluarga dari pasien yang bernama Hana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Feri: "Bukan, dokter. Saya adalah pengemudi motor yang menikung mobilnya." ucapnya dengan jujur. "Saya sudah bicara dengan teman mbak Hana tadi saat di telpon. Temannya akan datang sebentar lagi." ucapnya pelan. "Bagaimana kondisi mbak Hana, dokter?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Dokter itu menatap wajah Feri dalam-dalam, ia menghela nafas panjang dan perlahan menghembuskannya kembali.
Dokter: "Keningnya sobek, ia mengalami pendarahan tapi kami sudah menangani pendarahannya." ucapnya.
Feri: "Apakah ada luka yang lain, dokter?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Dokter: "Kami akan menunggu sampai pasien sadar dulu, mas. Kami akan melakukan tes selanjutnya." ucapnya pelan.
Feri: "Baiklah, dokter. Terima kasih atas informasinya." ucapnya.
Dokter: "Sama-sama, mas." sahutnya sambil melangkah pelan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Feri cukup lega dengan penjelasan dokter itu, setidaknya Hana masih bisa tertolong.
Peter datang ke rumah sakit dan langsung menuju ke ruang IGD. Peter melihat Feri duduk di depan ruang IGD dan langsung menghampirinya.
Peter: "Apakah mas yang bernama Feri?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Feri menatap wajah Peter yang blasteran dan langsung berdiri dari duduknya. "Saya Peter, teman Hana juga. Istri saya sudah memberitahu saya tentang Hana." ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya untuk memperkenalkan diri.
Feri: "Iya, mas. Nama saya Feri, saya yang menunggui mbak Hana." ucapnya sambil menjabat tangan Peter.
Peter: "Bagaimana keadaan Hana?" tanyanya dengan cemas. Feri mengatakan semua tentang penjelasan dokter, Feri juga menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Hana. Feri mengakui kesalahannya dengan jujur di hadapan Peter.
Feri: "Semoga mbak Hana cepat sadar, mas." ucapnya penuh harap.
Peter: "Terima kasih karena mas mau berkata dengan jujur, mas juga mau bertanggung jawab dengan membawa Hana ke rumah sakit." ucapnya dengan rasa kagum.
Feri: "Sama-sama, mas. Saya akan pergi setelah memastikan keadaan mbak Hana pulih." ucapnya dengan rasa penuh tanggung jawab. Peter tertegun mendengar penuturan Feri, ia tidak menyangka masih ada orang yang jujur dan bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah mencelakai orang lain.
Peter: "Pulanglah dulu, mas. Hana akan baik-baik saja, kok." ucapnya dengan penuh keyakinan. "Aku yang akan menjaga Hana. Kamu bisa datang lagi kapanpun kamu mau." ucapnya dengan lembut.
Feri: "Apakah keluarga mbak Hana belum tahu, mas?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Peter: "Nanti aku akan menghubungi keluarganya." ucapnya dengan yakin. "Pulanglah untuk beristirahat dan membersihkan diri." pintanya pelan. Feri menatap wajah tampan Peter dalam-dalam, Feri bisa merasakan Peter adalah teman yang tulus.
Feri: "Baiklah, mas. Tolong kabari saya jika mbak Hana telah pulih, ya." pintanya. "Ini kartu nama saya." ucapnya sambil memberikan selembar kartu nama ke tangan Peter.
Peter: "Iya, mas Feri. Hati-hati di jalan." ucapnya sambil tersenyum hangat. Feri berjalan pelan meninggalkan Peter yang masih berdiri di depan ruangan IGD. Beberapa menit kemudian setelah kepergian Feri, seorang suster keluar dari ruangan IGD. Suster itu menatap Peter dengan penuh tanda tanya dan rasa penasaran.
Suster: "Apakah kamu keluarga dari pasien yang bernama Hana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Peter: "Saya temannya, suster." ucapnya sambil tersenyum kecil. "Bagaimana keadaan Hana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Suster: "Mbak Hana sudah sadar, mas. Saya akan memanggil dokter dulu." ucapnya dengan wajah tenang.
Peter: "Bolehkah saya masuk, suster?" tanyanya.
Suster: "Silahkan, mas." ucapnya sambil tersenyum kecil.
Peter: "Terima kasih, suster." sahutnya. Peter melangkah masuk ke dalam ruangan itu, ia melihat Hana sedang terbaring di atas kasur pasien dengan perban di kepala dan keningnya. Peter melangkah pelan menghampiri Hana yang sedang terbaring lemas.
Peter: "Hana." ucapnya dengan lembut. Hana menatap wajah Peter dalam-dalam, ia tersenyum kecil sambil menahan perih di keningnya. Belum sempat Hana menjawabnya, dokter dan suster masuk ke ruangan itu.
Dokter: "Kamu telah sadar, mbak. Aku akan memeriksa kepalamu dulu." ucapnya sambil memegang kepala Hama dengan hati-hati. Dokter itu memeriksa kepala dan kening Hana dengan menggunakan sebuah alat. Setelah memeriksa kepala dan kening Hana, dokter itu tersenyum kecil kepada Hana.
Peter: "Bagaimana, dokter? Apakah ada luka yang serius?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Dokter: "Syukurlah, tidak ada luka yang serius di kepalanya." ucapnya dengan senyum puas.
Peter: "Bagaimana dengan keningnya, dokter?" tanyanya lagi dengan cemas.
Dokter: "Keningnya sobek karena pecahan kaca. Kami sudah menjahitnya." ucapnya. "Dalam beberapa minggu bekas jahitannya akan mengering. Aku akan memberikan obat untuk bekas jahitannya." ucapnya lagi.
Peter: "Iya, dokter." ucapnya sambil tersenyum kecil.
************************************