Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Aku Mencintaimu
Leon ditarik ke rumah Leon sendiri, berbeda dengan orang-orang yang kini berkumpul di halaman rumah Nuah yang memang halamannya lebih luas dari milik yang lainnya, karena rumah yang mereka tinggali adalah dua lahan yang disatukan, sedangkan yang satu dibangun rumah dan satu lagi digunakan sebagai halaman, taman, dan tempat bersantai.
Elyra menutup pintu rumah Leon, Elyra tersenyum jahil. Saat ini mustahil bagi Leon untuk melakukan hal aneh pada Elyra, jadi Elyra berani berbuat hal seperti itu pada Leon.
“Kenapa?” tanya Leon ikut menyeringai, Elyra tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Leon.
“Aku mencintaimu, dan aku berharap cinta ini tidak seperti cinta pertama pada umumnya yang akan kandas di tengah jalan. Hem, kamu itu seperti pangeran berkuda putih bagiku. Kamu menaikkanku dari lubang paling gelap yang ada dalam hidupku. Hei, mau jadi calon suamiku?” Senyum Elyra, Leon terdiam dan senyum lebar terukir di bibirnya.
“Aku salah rupanya, sayangku ini memang harus menjadi istriku, bukan.” Leon menempatkan keningnya di kening Elyra, kedua hidung mereka yang mancung kini beradu lembut, hembusan napas keduanya terasa dan membuat dada keduanya kembali berdebar hebat.
“Selama dalam proses penyembuhan, kamu tahu apa saja yang harus dilakukan, bukan?” Elyra menatap anggur di dapur Leon, dan seluruh isi kulkas Leon.
“Aku tidak tahu sebelumnya, besok aku akan mengganti semuanya dengan yang baru. Jadi baby, apa sekarang kamu mau tinggal di sini?” Elyra terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
“Gak boleh, nanti kita dikata kumpul kebo.” Jawab Elyra, Leon duduk di sofa membaringkan tubuhnya dengan tangan yang mengangkat sarungnya.
“Memang kenapa kalau kumpul kebo?” tanya lagi Leon, Elyra duduk di bagian bawah sofa.
“Norma sayang, kita akan digerebek massa dan dinikahkan.” Ucap Elyra, seketika Leon bangkit lagi dari tidurnya.
“Bagus dong, itu menghemat biaya pernikahan. Dan satu lagi, istiqomah ya dengan panggilannya.” Ungkap Leon, sontak tawa pecah dari bibir Elyra. Bisa-bisanya hal memalukan semacam itu jadi candaan, dan tanpa rasa malu dia menginginkan panggilan itu selamanya.
“Tapi kita akan dikenal buruk, pakai celana dalam khusus kan?” tanya Elyra risih melihat Leon yang terus mengangkat kain sarungnya.
“Iya, tapi ini refleks sayang.” Leon kembali berbaring dan memiringkan badannya hingga tubuh Elyra yang bersandar ke sofa dapat dihirup lembut rambutnya oleh Leon.
“Aku mau bertanya sesuatu, aku juga belum kenal kamu loh, Leon.” Elyra membalikkan wajahnya hingga keduanya kini saling bersitatap.
“Mau tahu apa tentangku?” tanya Leon antusias, dia biasanya benci menjelaskan tentang bagaimana dirinya, karena bagi Leon sendiri, percuma menjelaskan bagaimana dirinya, toh yang memang mengerti dirinya dia akan tetap seperti itu, dan penjelasan itu justru menjadi celah untuk celaan dari orang-orang yang membencinya saja.
“Apa ayahmu marah, semisal kita bertemu?” Leon terkekeh dan mendekatkan wajah mereka.
“Dia bukan pria pemarah, dia mungkin akan bersyukur.” Ucap Leon mengusap pipi Elyra lembut.
“Kenapa kamu melakukan sampai sejauh ini, Leon?” Elyra penasaran, bisa saja mereka saling melupakan dan pergi satu sama lain, pergi dengan identitas masing-masing.
“Istilah kesempatan tak datang dua kali itu ada dalam kepalaku sayang, ini pertama kalinya aku merasakan hal luar biasa seperti ini. Bila aku bisa terus merasakannya, maka ini kesempatan bagus untuk terus memberi warna dalam hidupku. Dan bila aku melepaskannya, apa di masa depan aku akan memiliki kesempatan yang sama? Itu belum tentu, dan kebahagiaan itu bukan barang jualan yang bisa menunggu diskon, dan bukan juga usia yang dapat menunggu. Lagi pula, untuk apa menunda kebahagiaan? Bila kebahagiaan itu sudah di depan mata?” jawab Leon, Elyra mengerjapkan matanya.
Untuk apa menunda kebahagiaan? Benar, kenapa harus menunda kebahagiaan bila itu sudah di depan mata, belum tentu di masa depan akan merasakan kebahagiaan yang sama, jadi jangan disia-siakan.
“Bila aku di sini, apa bandinganku dengan sesuatu?” tanya lagi Elyra, Leon mengangkat alisnya.
“Aku tidak tahu, aku sangat menyukai anggur. Tapi aku memilih meninggalkan itu karena aromamu saja lebih nikmat dari anggur, aku juga suka taruhan, dan aku berhenti karena aku kini ingin menyerahkan semua kekuasaan di tanganku pada istriku. Aku juga suka memiliki banyak wanita dulu, tapi sekarang aku hanya menginginkan kamu. Jadi, tak ada bandingannya. Dan bila ada satu peluru dalam sebuah pistol dan harus memilih harus menembak siapa? Jelas aku akan menembak diriku sendiri.” Elyra terkejut, teringat kembali dengan suara peluru yang pernah terdengar tatkala berada di kediaman Azzahra.
“Aku juga mengharapkan sesuatu darimu, apa aku boleh memintanya sekarang?” tanya Elyra, Leon mengangkat alisnya.
“Tentu saja,” jawab Leon tanpa adanya keraguan sedikit pun.
“Jangan terluka lagi, ya?” pinta Elyra, Leon terkekeh dan mengecup kening Elyra.
“Aku tidak bisa janji, luka itu ada pada garis takdir. Tapi aku akan berusaha agar tidak terluka.” jawab Leon, Elyra mengangguk.
Tok!
Tok!
Tok!
“Leon, keluar ayo ikut kumpul!” Suara seorang pria terdengar, Leon membuka pintu.
“Aku belum sempat tidur, David,” jawab Leon, David sejenak melihat ke dalam rumah Leon.
“Oke, Elyra hati-hati ya, Leon itu aktif tangannya.” Sindir David, Leon melotot dan menutup pintu rumahnya dengan cepat. Sedangkan David terkekeh dan meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana, Dang?” Tamam bertanya, David duduk di sebuah kursi santai di dekat Kyun yang sedang menggendong Raisa.
“Elyra di sana, aku tak menyangka ucapannya waktu itu sedang dia perjuangkan.” Tambah David, Kyun menghela napas.
“Leon sudah melangkah jauh sekarang, dan Kang Dadang, kapan kamu akan move on?” tanya Kyun, David sendiri adalah seorang duda.
“Belum ada tanda-tandanya, Kyun, tapi aku nyaman sendiri sekarang.” jawab David, Kyun mengangguk.
Sedangkan di sisi lain, Leon terlelap di sofa. Tangannya menggenggam tangan Elyra, Elyra sendiri lesehan pada karpet di bawah sofa itu. Matanya memperhatikan wajah Leon yang tertidur dengan tenang.
Keluarga Elyra adalah keluarga problematik, dari mulai sang ayah dan ibu tirinya, kakak tirinya. Ya, salah juga bila memanggil dia kakak tiri karena Elyra dan Meina nyatanya mengalir darah sang ayah meski ibu mereka berbeda. Kini, dia ingin lepas dari keluarga itu sepenuhnya dan bersama pria yang dia cintai.
Dua jam berlalu, Elyra bergelut dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Leon terlelap, Elyra menghela napas kasar. Dia hendak melepaskan genggaman tangan Leon, namun Leon justru terbangun.
“Mau ke mana?” tanya Leon dengan suara serak khas bangun tidur, Elyra kembali duduk dengan kaki yang kini terasa kesemutan.
“Mau masak, di sini tak ada bahkan makanan yang layak. Makan di luar juga pilihan yang gak bagus, dengan kondisimu sekarang.” Elyra kembali berusaha bangkit dari duduknya.
“Sst, tidur saja lagi.” Leon bangkit dari tidurnya melihat Elyra yang berjalan menahan linu di kakinya.
“Sayang, bisakah kita menikah sekarang saja?” Hening tercipta, Elyra juga hanya diam. Dia pura-pura tak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Leon.
Leon habis di sunat, mode tak berdaya dan pasrah.
🤣