Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Pengikat
Siang merambat pelan di Hutan Scotra, seolah-olah matahari enggan beranjak dari puncaknya. Cahaya yang terik disaring oleh kanopi raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya keemasan yang jatuh berbercak di atas tanah lembap. Aroma resin pinus yang tajam bercampur dengan keharuman bunga liar yang hanya mekar di bawah pengaruh mana hutan ini, menciptakan atmosfer yang memabukkan bagi indra. Dunia terasa malas, tenang, seolah waktu sengaja melambat untuk memberi ruang bagi napas alam yang panjang dan berat.
Aku berbaring santai di dahan besar pohon tua favoritku, merasakan kulit kayunya yang kasar dan hangat menyerap panas matahari. Di bawahku, bayangan dedaunan menari mengikuti irama angin yang berhembus rendah. Kael, si siluman ular yang keberadaannya selalu menjadi perpaduan antara kawan dan gangguan, melilitkan ekor hijaunya yang bersisik di cabang seberang. Tubuh bagian atasnya yang menyerupai manusia bersandar malas, matanya yang vertikal terpejam setengah, sementara senyum licik yang tak pernah bisa dipercaya tetap terpatri di bibirnya.
“Ahh… lama tak ada kekacauan yang berarti,” gumam Kael seraya memainkan sehelai daun kering di ujung jemarinya, memutarnya dengan gerakan yang menghipnotis
“Hutan ini menjadi terlalu damai. Aku hampir mengantuk karena bosan.”
Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan verbal. Mataku terpejam, membiarkan pikiranku melayang tanpa arah, menikmati detak jantung hutan yang sinkron dengan napas milikku. Di sini, jauh dari kemegahan mansion Grozen dan jauh dari tatapan Irina yang terkadang terasa terlalu lembut hingga menembus lapisan pertahananku, aku merasa bisa menjadi diriku sendiri tanpa embel-embel kontrak atau tanggung jawab.
Namun, ketenangan itu mendadak koyak.
Bukan karena suara yang tiba-tiba muncul, bukan pula karena aroma baru yang dibawa angin. Melainkan sebuah rasa.
Seutas getaran halus, hampir seperti dawai yang dipetik di kejauhan, merayap masuk ke dalam dadaku. Getaran itu menyentuh inti api yang terikat di dalam diriku. Api itu yang biasanya dingin dan patuh di bawah kendali logikaku, tiba-tiba berdesir pelan. Ia menggeliat, seolah mengenali frekuensi energi yang sangat lama tak ia rasakan. Sebuah panggilan dari masa lalu.
Aku membuka mata seketika. Pupil mataku menyempit, kuningnya menyala lebih terang dari biasanya.
Detak jantungku melambat dalam mode siaga, namun otot-otot tubuhku justru menegang secara refleks. Punggungku terasa dingin, dan telingaku yang tajam menangkap sebuah keheningan yang tidak wajar di area hutan sekitarnya. Dari arah selatan, melintasi perbatasan wilayah pesisir, sebuah aura mendekat dengan kecepatan yang stabil. Aura itu tidak memancarkan niat membunuh, tidak agresif, namun memiliki bobot yang mampu menggeser tekanan udara di sekitarnya.
Aura itu sangat familiar.
Aku duduk tegak di atas dahan, membuat dedaunan di sekitarku berdesir tajam. Kael memiringkan kepalanya, satu alisnya terangkat dengan rasa ingin tahu yang mendadak bangkit.
“Hei… ada apa, Calix?” Ia menyipitkan mata hijau ularnya, mencoba mengendus udara. “Kau terlihat seperti baru saja mencium aroma yang sangat mengganggu atau kau baru sada telah melupakan sesuatu yang sangat krusial.”
Aku tidak membalas gurauannya, ekspresiku mengeras. Keenggananku untuk bercanda membuat Kael sadar bahwa ini bukan sekadar gangguan kecil.
“Apa kau merasakannya?” tanyaku datar, pandanganku terpaku ke arah cakrawala selatan.
“Merasakan apa?” balas Kael cepat, nada bicaranya berubah menjadi sedikit defensif. Ia menutup matanya, mengerahkan seluruh sensitivitas reptilnya untuk meraba energi hutan. Ekor ularnya menegang, sisiknya berdiri sedikit. Beberapa detik berlalu dalam kesunyian yang mencekam.
“Tidak ada apa-apa. Hutan ini normal. Terlalu normal, bahkan untuk standarku.”
Aku menghela napas pelan, otot bahuku tetap kaku. Tentu saja kau tidak merasakannya, pikirku sinis. Sinyal ini dikirimkan melalui frekuensi yang hanya dikenali oleh mereka yang pernah bersinggungan dengannya.
Aura itu bukan milik makhluk liar Scotra. Bukan pula milik manusia biasa yang tersesat. Itu bukan juga milik makhluk dari kedalaman dunia mana pun. Namun, ada sesuatu yang beririsan secara magis dengan struktur dunia kami. Kehadiran yang tidak menekan secara fisik, namun membuat realitas di sekitarnya terasa lebih solid, lebih tertata, dan lebih terlindungi.
“Kael,” ucapku tiba-tiba, suaraku rendah.
“Hm?”
“Aku harus pergi sekarang.”
Kael terkesiap, lalu mendecak kesal, ekornya memukul dahan pohon dengan keras. “Serius? Kau baru saja sampai, dan sekarang kau mau pergi? Dasar makhluk yang tidak konsisten.”
Ia merayap mendekat, wajah manusianya hanya terpaut beberapa inci dari wajahku, senyum liciknya kembali muncul.
“Ada urusan yang sangat mendesak? Atau kau baru sadar ada seseorang yang kau rindukan setengah mati?”
Aku tidak menjawab. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, aku melompat turun dari dahan pohon yang tinggi. Aku mendarat ringan di atas tanah yang dipenuhi daun kering tanpa menimbulkan suara yang berarti, hanya debu halus yang berhamburan di sekitar sepatuku.
“Bukan urusanmu,” jawabku singkat tanpa menoleh ke belakang.
Kael tertawa pelan, suaranya bergema di antara pepohonan. “Jawaban favoritku. Tapi aku tahu… aura yang hanya bisa kau rasakan itu, pasti bukan berasal dari sembarang orang.”
Aku berhenti sejenak di tepi bayangan hutan, menoleh sedikit ke arahnya. Mata kuningku menyala redup dalam kegelapan semak.
Kael mengangkat kedua tangannya secara dramatis, pura-pura menyerah. “Tenang, suamiku yang galak. Aku tidak tertarik pada rumah yang dipenuhi mantra pelindung dan orang-orang yang bisa mengusirku hanya dengan satu bait doa.”
Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku melepaskan sedikit segel pada kakiku, angin berdesir hebat, tanah di bawahku sedikit tertekan, lalu aku melesat menembus barisan pepohonan secepat kilat. Hutan Scotra memudar di belakangku, digantikan oleh hamparan padang rumput yang menuju ke mansion.
Di dalam dadaku, getaran itu semakin jelas, semakin ritmis.
Di Sisi Lain — Siang yang Sama di Kediaman Grozen
Siang itu, mansion Irina Grozen diselimuti oleh kesibukan yang sangat tenang namun intens. Bukan tipe kesibukan riuh rendah yang biasa terjadi saat festival, melainkan kesibukan yang terorganisir sempurna, berjalan seirama dengan denyut nadi sang pemilik rumah.
Di area dapur yang luas, para pelayan bergerak dengan efisiensi yang memukau. Panci-panci tembaga besar mengepulkan uap, menyebarkan aroma roti gandum yang baru dipanggang dan sup kaldu bening yang kaya akan rempah ke seluruh lorong. Di aula utama, pelayan lain sibuk menggoyangkan kain-kain beludru, menyapu lantai marmer hingga mengkilap seperti cermin, dan membuka semua jendela besar agar cahaya matahari serta aroma segar bisa masuk dengan bebas.
Irina berdiri di tengah aula, sosoknya yang hamil besar tampak agung namun ramah. Ia mengamati setiap detail dengan mata biru jernihnya, sesekali memberikan arahan dengan suara yang lembut namun memiliki otoritas alami.
“Tolong pastikan kamar tamu di sayap timur dibersihkan sekali lagi dengan air bunga lavender,” katanya halus. “Dan letakkan bunga segar di sepanjang lorong menuju perpustakaan, ya.”
Semua pelayan mengangguk dengan hormat yang tulus. Mereka tahu bahwa jika Irina memerintahkan persiapan seketat ini, maka tamu yang akan datang bukanlah orang sembarangan.
Setelah memastikan lantai bawah berjalan lancar, Irina melangkah menaiki tangga spiral menuju lantai atas. Langkahnya perlahan dan hati-hati, tangannya satu memegang pegangan tangga sementara yang lain menopang perutnya yang mulai terasa berat. Di belakangnya, Cloudet mengikuti seperti bayangan kecil yang setia.
Anak itu berjalan dengan langkah-langkah kecil yang nyaris tidak mengeluarkan bunyi, sebuah insting predator yang belum hilang. Mata kuningnya yang besar mengamati setiap gerakan Irina dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap. Ia tidak bertanya, tidak membuat suara, ia hanya menyerap setiap detail dari rutinitas yang menurutnya sangat aneh.
Mereka akhirnya memasuki sebuah kamar yang jarang digunakan.
Kamar itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan taman belakang serta garis laut di kejauhan. Irina mulai bekerja sendiri, menolak bantuan pelayan untuk bagian ini. Ia membuka seprai lama dengan gerakan anggun, melipatnya dengan rapi, lalu menggantinya dengan kain linen baru berwarna putih gading yang terasa sangat halus. Tangannya bergerak, setiap tarikan kain dibuat sedemikian rupa agar tidak ada kerutan sedikit pun.
Cloudet duduk bersila di lantai kayu, punggungnya bersandar pada kaki tempat tidur yang kokoh. Ia menatap Irina yang kini sedang menepuk-nepuk bantal bulu angsa dengan perhatian yang mendalam. Bagi Cloudet, pemandangan ini membingungkan.
Setelah merapikan tempat tidur, Irina mengambil sekeranjang bunga yang baru dipetik, lili putih yang melambangkan kemurnian, mawar pucat untuk rasa hormat, dan beberapa bunga liar biru kecil yang melambangkan ketenangan. Ia duduk di kursi kayu dekat jendela dan mulai merangkainya ke dalam vas kaca bening.
Cloudet memiringkan kepala sedikit ke kiri, lalu ke kanan. Telinga hellhound-nya bergerak-gerak kecil.
Ia memperhatikan jari-jari Irina yang bergerak dengan presisi, menyusun batang demi batang bunga. Ia menghirup aroma bunga yang manis dan menenangkan, sangat berbeda dari bau belerang atau aroma tanah hutan. Ini adalah aroma "rumah yang tenang".
Untuk apa semua ini? pikir Cloudet dalam diam.
Ia benar-benar tidak mengerti logika di balik tindakan ini. Kenapa Irina yang terhormat harus bersusah payah melakukan ini sendiri padahal ia punya puluhan pelayan? Kenapa bunga-bunga itu harus diletakkan di sana sekarang?.
Cloudet akhirnya bangkit berdiri perlahan dan mendekat, berdiri tepat di samping kursi Irina. Ia menatap vas bunga itu dengan wajah polos, lalu mendongak menatap wajah Irina yang tampak berseri.
“Kenapa…?” tanyanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang tertiup angin.
Irina menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh ke arah Cloudet, lalu sebuah senyuman hangat merekah saat melihat ekspresi bingung di wajah anak kecil itu.
“Kenapa?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut.
Cloudet menunjuk ke arah tempat tidur yang rapi dan vas bunga yang indah dengan jari kecilnya.
“Ini semua. Bunga? Kamar? Kenapa sendiri?”
Irina terdiam sesaat, matanya menerawang seolah melihat sesuatu yang jauh di cakrawala. Ia mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Cloudet dengan penuh kasih sayang.
“Karena seseorang yang sangat spesial akan segera tiba,” jawabnya dengan suara yang sarat akan kerinduan yang terpendam.
“Seseorang yang sangat penting bagi keluarga ini.”
Cloudet mengerjap-erjapkan matanya.
“Penting… seperti Ayah?” tanyanya ragu, mencoba mencari pembanding di dalam kepalanya yang mungil.
Irina tersenyum kecil, ada kilatan misterius di matanya. “Iya, penting. Tapi dia adalah sosok yang berbeda. Dia adalah penjaga dan seorang yang telah lama pergi menyeberangi lautan.”
Cloudet kembali menatap kamar itu. Kini, perasaan ingin tahunya mulai tercampur dengan sedikit rasa gugup. Ia tidak tahu siapa yang akan datang, namun ia bisa merasakan energi antisipasi yang besar dari Irina.
Irina menyelesaikan rangkaian bunga terakhirnya, meletakkannya di atas meja nakas dengan suara denting halus.
“Kadang, Cloudet,” lanjut Irina sambil berdiri perlahan dengan bantuan Cloudet yang memegang tangannya, “kita merapikan rumah bukan hanya untuk urusan kebersihan. Kita melakukannya untuk mempersiapkan hati kita. Merapikan ruangan adalah cara kita menunjukkan bahwa tamu itu sangat berharga bagi kita, bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di pintu depan.”
Cloudet tidak sepenuhnya memahami filosofi di balik kata-kata itu. Namun, ia menangkap getaran emosinya, sebuah rasa hangat yang tulus dan harapan yang besar.
Bersambung