NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16 – YANG MENOLAK

Pagi itu datang dengan langkah ragu.

Kabut belum sepenuhnya terangkat ketika barisan pengungsi kembali bergerak. Tanah masih basah oleh embun, membuat setiap pijakan meninggalkan jejak yang mudah dibaca—sesuatu yang membuat sebagian orang berjalan lebih pelan, seolah berharap jejak itu segera hilang.

Raka berada di tengah barisan. Ia tidak lagi menghitung jumlah orang, tapi ia tahu—tanpa benar-benar ingin mengakuinya—bahwa kelompok ini terus berubah. Ada yang mendekat, ada yang menjauh, ada pula yang hanya ikut sebentar lalu menghilang tanpa suara.

Hari itu, suasana berbeda.

Percakapan tetap ada, tapi nadanya rendah. Basa-basi yang biasanya mengalir terasa kaku, seperti kain basah yang diperas terlalu keras. Orang-orang saling melirik lebih sering dari biasanya, memastikan siapa berjalan di kiri dan kanan mereka.

Di depan, nenek tua itu berjalan tanpa menoleh. Tongkat kayunya menyentuh tanah dengan irama yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun Raka merasakan sesuatu—ketegangan tipis, seperti benang yang ditarik terlalu kuat.

Menjelang siang, mereka berhenti di sebuah lereng landai. Dari sana terlihat hamparan sawah lama yang sudah tidak terurus. Parit-parit kecil mengering, dan pematangnya retak.

Beberapa orang duduk. Yang lain berdiri, meneguk air dari tempurung. Raka duduk di dekat pohon randu kecil, memandang sekeliling.

Seorang lelaki bertubuh sedang, berusia sekitar empat puluhan, berdiri agak menjauh dari kelompok. Pakaiannya sederhana, tapi bersih. Dari caranya berdiri, Raka tahu lelaki itu bukan orang lemah. Tatapannya tajam, meski wajahnya tenang.

Lelaki itu melangkah mendekat ke nenek tua.

“Saya tidak ikut rombongan ini, kita pisah” katanya datar.

Percakapan di sekitar mereka langsung meredup.

Nenek tua itu berhenti. Ia menoleh perlahan, menatap lelaki itu tanpa ekspresi.

“Kenapa?” tanyanya singkat.

“Saya punya jalan dan tujuan sendiri,” jawab lelaki itu. “Saya tidak nyaman dengan arah ini. Terlalu berputar. Terlalu banyak yang disembunyikan.”

Beberapa orang menahan napas. Tidak ada yang menyela.

“Ini pilihanmu,” kata nenek itu akhirnya.

“Ya,” jawab lelaki itu. “Dan saya mengambilnya sekarang.”

Ia tidak marah. Tidak menantang. Nada suaranya tenang, seolah keputusan itu sudah lama ia simpan.

Nenek tua itu mengangguk pelan. “Baik terserah kamu saja, monggo bila mau jalan sendiri.”

Tidak ada bujukan. Tidak ada ancaman. Tidak ada peringatan panjang tentang bahaya.

Lelaki itu mengambil buntalannya, melirik sekilas ke arah kelompok—ke arah Raka—lalu berbalik. Ia melangkah ke arah jalur kecil yang memotong sawah, menuju pepohonan di kejauhan.

Raka mengikuti langkahnya dengan mata. Ada rasa iri yang muncul tanpa ia sadari. Lelaki itu tampak yakin. Tidak ragu. Tidak menggantungkan diri pada siapa pun.

“Apakah dia akan aman?” tanya seseorang pelan.

Nenek tua itu menjawab tanpa menoleh, “Tidak ada jalan yang benar-benar aman.”

Kelompok itu kembali bergerak setelah jeda singkat. Tidak ada yang membicarakan lelaki tadi. Seolah ia tidak pernah ada.

Namun Raka merasakan kekosongan yang aneh. Ia sering menoleh ke belakang, berharap melihat sosok itu masih berjalan di kejauhan.

Sore menjelang, mereka memasuki wilayah hutan yang lebih rapat. Cahaya matahari tersaring dedaunan, menciptakan bayangan bergerak di tanah.

Raka berjalan lebih dekat ke nenek tua. Bukan karena diperintah, tapi karena dorongan yang semakin sulit ia tolak.

“Nek…” ucap Raka ragu.

Nenek itu tidak menoleh. “Ada apa?”

“Orang tadi… apa dia akan baik-baik saja?”

Langkah nenek itu tidak melambat. “Tidak semua orang yang memilih sendiri akan selamat.”

Jawaban itu tidak menenangkan.

Malam tiba lebih cepat di hutan. Api dinyalakan kecil, nyaris sekadar tanda kehadiran manusia. Makanan dibagi tanpa banyak kata.

Raka duduk, memakan bagiannya dengan pikiran melayang. Ia terus memikirkan lelaki yang pergi. Bayangannya muncul di antara pepohonan gelap, sendirian.

Saat itulah terdengar suara.

Bukan jerit. Bukan teriakan minta tolong.

Hanya suara ranting patah. Sekali. Lalu sunyi.

Beberapa kepala terangkat. Tangan meraih senjata secara refleks.

Nenek tua itu berdiri. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat diam.

Semua membeku.

Tidak ada yang datang. Tidak ada yang menyusul. Suara itu lenyap, ditelan hutan.

Api dipadamkan.

Malam itu, tidak ada yang tidur nyenyak.

Pagi datang dengan kabar yang tidak perlu diucapkan.

Saat mereka bersiap melanjutkan perjalanan, Raka melihat sesuatu di tepi jalur yang mereka lewati—kain sobek yang ia kenali. Warna kusamnya sama dengan pakaian lelaki yang pergi kemarin.

Kain itu tersangkut di semak berduri. Ada noda gelap yang sudah mengering.

Raka berhenti. Napasnya tertahan.

Nenek tua itu berdiri di sampingnya. Ia menatap kain itu lama, lalu memalingkan wajah.

“Jangan dilihat terlalu lama Le,” katanya pelan. “Ada hal yang lebih berbahaya daripada sekedar takut.”

“Apa nek?” tanya Raka, suaranya hampir tidak keluar.

“Berpikir bahwa diam dan menjauh akan selalu menyelamatkan.”

Mereka tidak mencari. Tidak memanggil. Tidak melakukan upacara apa pun.

Kelompok itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan kain itu bersama pagi yang dingin.

Di dalam dada Raka, sesuatu runtuh perlahan. Ia menyadari kenyataan yang lebih kejam dari yang ia bayangkan:

menolak memilih adalah pilihan.

dan setiap pilihan memiliki harga.

Sepanjang hari, Raka lebih banyak diam. Ia mengikuti langkah nenek tua itu dengan jarak yang semakin dekat. Ketergantungannya berubah bentuk—bukan lagi karena kenyamanan, tapi karena rasa takut.

Takut memilih sendiri.

Takut menolak.

Takut menghilang tanpa suara.

Sore hari, saat mereka berhenti untuk beristirahat, Raka duduk di samping nenek tua.

“Nek,” katanya pelan, “kalau saya pergi sendiri…”

Nenek itu menatapnya, lama. Tatapannya tajam, tapi tidak kejam.

“Kalau kamu pergi,” katanya, “pastikan kamu benar-benar siap menerima apa pun yang datang. Laku hidup tidak selalu memberi waktu untuk menyesal.”

Raka mengangguk. Tenggorokannya terasa kering.

Malam turun lagi.

Dan di bawah langit Majapahit yang luas dan tak peduli, Raka memahami satu hal yang mengubah caranya melihat dunia:

di tempat ini, bahkan diam pun bisa membunuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!