NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Syukur

Matahari baru saja memanjat separuh langit saat halaman luas Kediaman Jati Jajar berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Bau tajam cengkeh yang sedang dijemur ulang di atas tampah-tampah bambu besar beradu dengan aroma manis kayu manis yang baru saja diserut halus.

Di sudut lain, kepulan debu halus dari lada hitam yang sedang dipilah berdasarkan ukuran butirannya membuat beberapa pelayan sesekali bersin. Ini bukan sekadar persiapan dagang biasa.

Ini adalah persiapan untuk Upacara Syukur Bumi, ajang paling bergengsi bagi para saudagar di seluruh wilayah Indraloka untuk menunjukkan bakti sekaligus kekuatan ekonomi mereka kepada kerajaan.

Jaka dan Wira terlihat sibuk menggosok kereta kayu yang akan membawa upeti tersebut. Mereka menggunakan minyak kayu jati agar kayu kereta itu mengilap seperti cermin. Roda-rodanya diperiksa satu per satu, memastikan tidak ada retakan yang bisa menghambat perjalanan menuju istana.

Sementara itu, Laras dan Gendis di teras belakang sedang menghias bakul-bakul bambu dengan jalinan pita sutra berwarna keemasan. Bakul itu bukan sembarang wadah, di dalamnya akan diletakkan rempah-rempah pilihan dengan kualitas tertinggi yang telah melalui proses audit ketat dari tangan Rosie beberapa hari lalu.

"Nona, lihat ini. Bunga cengkeh ini sudah berkilau seperti mutiara hitam," ucap Gendis sambil menunjukkan sebuah wadah perak kecil kepada Rosie yang sedang berdiri di tengah kekacauan itu dengan sebuah gulungan kertas dan lidi di tangannya.

Rosie mendekat, memeriksa butiran cengkeh itu dengan mata menyipit. "Bagus. Pastikan tidak ada yang pecah. Kita butuh presentasi yang sempurna kalau ingin mendapatkan perhatian dari tim penilai kerajaan."

"Presentasi apa, Nona?" tanya Laras dengan kening berkerut.

"Maksudku, tampilannya," sahut Rosie cepat sambil menghela napas. Dia kembali mencatat sesuatu di kertasnya. "Kalau tampilannya bagus, nilai jual keluarga kita juga naik."

Menjangan keluar dari bangunan utama, mengenakan pakaian sutra terbaiknya. Dia berjalan mengitari halaman, mengamati setiap aktivitas dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Baginya, persiapan tahun ini terasa jauh lebih teratur.

Tidak ada lagi pelayan yang berlari ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Semua orang tahu tugasnya masing-masing berkat sistem pembagian kerja yang diterapkan putri sulungnya.

"Merah, kemari sebentar," panggil Menjangan dengan suara yang berwibawa tapi hangat.

Rosie melangkah mendekat, mengabaikan debu lada yang menempel di ujung hidungnya. "Ada apa, Ayah? Semua logistik sudah berjalan sesuai jadwal. Karung premium sudah masuk ke kereta satu, dan hasil bumi lainnya menyusul di kereta kedua."

Menjangan tertawa kecil, dia menepuk bahu Rosie dengan bangga. "Ayah sudah memutuskan sesuatu. Untuk Upacara Syukur Bumi kali ini, kamu yang akan memimpin prosesi persembahan keluarga kita di depan Raja."

Langkah kaki seseorang yang sedang membawa nampan minuman terhenti di belakang mereka. Putih berdiri mematung, tangannya gemetar hingga gelas-gelas di atas nampan berdenting pelan.

Wajahnya yang semula tenang kini tampak sangat pucat. Selama ini, Putih lah yang selalu berdiri di samping ayahnya dalam setiap acara resmi, meskipun hanya sebagai pendamping yang manis.

Namun sekarang, untuk acara sebesar Upacara Syukur Bumi, ayahnya justru menunjuk Merah. Dia merasa eksistensinya di rumah ini perlahan-lahan sedang dihapus, digantikan oleh bayang-bayang kakaknya yang mendadak menjadi sangat dominan.

Rosie terbelalak, hampir saja menjatuhkan catatan lidinya. "Hah? Tunggu dulu, Ayah. Maksudnya aku yang berdiri di depan? Memberikan upeti itu langsung?"

"Benar, Merah. Kamu yang sudah mengelola semua rempah ini dari awal. Kamu yang tahu kualitasnya. Tidak ada orang yang lebih pantas selain kamu untuk menjelaskan keunggulan hasil bumi kita di depan kerajaan," ucap Menjangan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Enggak, enggak! Aku menolak, Ayah!" seru Rosie dengan wajah panik. "Aku enggak paham tata krama kerajaan yang rumit itu. Aku takut salah bicara, takut gerak-gerikku dianggap enggak sopan, dan akhirnya malah mempermalukan keluarga Jati Jajar di depan seluruh saudagar Indraloka. Itu risiko yang terlalu besar!"

Citra yang baru saja keluar untuk menyusul suaminya ikut tertegun mendengar tawaran itu. "Kakang, apakah itu tidak terlalu berlebihan? Merah memang rajin di gudang, tapi untuk tampil di depan Raja? Bukankah biasanya anak perempuan yang paling penurut yang kita bawa ke depan?"

Menjangan menggeleng tegas, matanya tetap tertuju pada Rosie. "Penurut saja tidak cukup untuk menjaga martabat keluarga di hadapan Raja, Adinda. Dibutuhkan kecerdasan dan ketegasan. Dan aku melihat itu semua ada pada Merah sekarang."

Putih meletakkan nampannya di atas meja teras dengan gerakan yang agak kasar, meskipun dia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan amarahnya.

"Mungkin Kakak benar, Ayah. Kakak Merah belum terbiasa dengan lingkungan istana. Bukankah Kakak lebih suka berada di gudang bersama tumpukan karung?"

Rosie menoleh ke arah Putih, menangkap nada sindiran yang halus di balik suara lembut adiknya.

"Nah, benar kata Putih, Ayah! Biarkan aku di belakang layar aja. Aku bisa jadi manajer operasional di belakang kereta, memastikan enggam ada barang yang hilang atau rusak saat perjalanan. Urusan tampil di depan, biar Ayah atau Putih aja," jelas Rosie.

"Tidak, Merah. Kamu harus belajar memimpin dari depan," desak Menjangan. "Ayah sudah melihat bagaimana kamu mengatur Jaka dan Wira. Kamu punya wibawa yang tidak kamu sadari. Raja sangat menyukai saudagar yang memiliki penerus yang tangguh."

"Tapi Ayah, ini soal standar operasional prosedur kerajaan!" Rosie mulai meracau dengan istilah-istilahnya. "Kalau aku salah langkah sedikit aja, bisa-bisa reputasi bisnis keluarga kita hancur dalam satu malam. Aku enggak mau jadi penyebab kegagalan investasi besar tahunan ini!"

Menjangan mengernyitkan dahi, mencoba memahami istilah investasi atau operasional, tapi dia tetap pada pendiriannya. "Jangan khawatir. Ayah akan membimbingmu. Kita punya waktu tiga hari untuk berlatih. Kamu hanya perlu bicara dengan jujur tentang kualitas rempah kita, persis seperti saat kamu menceramahi pedagang lada di pasar tempo hari."

Citra menghela napas panjang, mengibaskan kipasnya dengan cepat. Dia tidak tahu harus senang atau cemas. Senang karena putrinya diakui, tapi cemas karena posisi Merah sekarang benar-benar menggeser tradisi keluarga.

Rosie menatap ayahnya dengan pandangan memelas. "Ayah, tolonglah. Aku benar-benar takut salah. Upacara ini diikuti oleh seluruh saudagar besar, kan? Bagaimana kalau mereka menertawakan cara bicaraku yang aneh ini? Itu bakal jadi penghinaan besar buat Ayah."

"Biarkan mereka tertawa di awal, Merah. Tapi mereka akan terdiam saat melihat bagaimana hasil kerja kerasmu memenangkan hati Raja," sahut Menjangan dengan penuh keyakinan. "Sudah diputuskan. Jaka, Wira! Persiapkan pakaian terbaik untuk Nona Merah. Kita akan membawa rempah kualitas satu dan Merah yang akan memegangnya."

Jaka dan Wira segera menyahut patuh. Mereka berdua justru tampak sangat bersemangat mendengar pengumuman itu. Bagi mereka, Nona Merah yang sekarang adalah pemimpin yang sangat mereka hormati.

Putih berdiri di sudut teras, meremas kainnya dengan sangat kuat. Dia tidak diajak bicara, tidak dimintai pendapat, seolah-olah dia hanyalah pajangan dinding yang tidak lagi memiliki arti.

Dia menatap ke arah kerumunan pelayan yang kini mulai membicarakan betapa hebatnya Nona Merah yang akan tampil di istana.

"Dulu aku yang selalu dipuji karena kelembutanku," bisik Putih dalam hati, suaranya bergetar oleh rasa perih. "Sekarang, hanya karena dia bisa menghitung lidi di gudang, Ayah melupakan keberadaanku sepenuhnya."

Rosie masih terus berusaha menawar, tapi Menjangan sudah berbalik untuk memberikan instruksi lain kepada para pekerja. Rosie hanya bisa berdiri mematung di tengah halaman yang harum rempah, merasakan beban berat yang mendadak diletakkan di pundaknya.

Dia yang dulu hanya seorang manajer yang bekerja di balik layar, kini harus memimpin prosesi kerajaan di dunia yang sama sekali tidak dia pahami aturannya.

"Aduh, gila ini. Ini namanya promosi jabatan yang dipaksakan," keluh Rosie pelan sambil memijat keningnya.

Dia tidak menyadari bahwa di belakangnya, Melati sedang membisikkan sesuatu ke telinga Putih, sebuah bisikan yang akan membawa persiapan upacara ini ke arah yang jauh lebih gelap.

"Lihat itu, Nona," bisik Melati dengan suara yang sangat rendah. "Dia bahkan menolak jabatan itu, padahal dia sangat menyukainya di dalam hati. Dia sedang mempermainkan perasaan Tuan Besar agar semakin dipuji. Nona jangan biarkan dia mencuri panggung Nona di istana nanti."

Putih tidak menjawab, tatapan matanya yang tertuju pada punggung Rosie kini tidak lagi mengandung keraguan. Rasa iri yang selama ini dia simpan rapat-rapat telah berubah menjadi sebuah rencana yang harus segera dia laksanakan sebelum kereta upeti itu berangkat menuju istana Indraloka.

Di tengah aroma wangi rempah yang memenuhi udara, benih tragedi baru saja mulai disemai di Kediaman Jati Jajar.

1
Hana Agustina
y Allah.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: jangan dong, lagi bulan Ramadhan soalnya🤭
total 1 replies
Sita Sakira
ahhh gemes deh sama kelakuan putih😭🤣
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭cubit aja
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪💪💪 lanjut
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
alah sok peduli
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
akhirnya ibu mengakui merah
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu: sama-sama min
Samagat terus min
total 2 replies
lin sya
bagus putih teruslah bermain halus dan mengamati gerak gerik Rosie alias bawang merah, klo baca alurnya knp skrg yg antagonis siputih thor bkn simerah lgi, hrusnya sft antagonis gk melulu jahat tpi pertahanan diri buat bertahan hidup, ini kayaknya sirosie pinter iya bodoh iya julukan nya trmsuk karakter menye menye bkn thor gk bsa liat musuh dlm selimut kyk putih dan melati apa hrus dibikin mentalnya terpuruk baru sadar, greget tau 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤣 hahaha
kasian rosie dikatain mulu
bener, antagonis gak selalu jahat
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍 ada pangeran
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪
fril bunny🌼
lama²gw sleding juga ni si melati,suka banget memprovokasi si putih🗿💢
🍃🌸sativa🌸🍃
harus nya up gila gilaan sih thorr 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 2 bab perhari itu dah gila menurutku yg biasanya up 1 bab perminggu
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
rosie mah gitu, gak ad curigaan dikit kek ke putih
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
lah malah nyalahin orang, itu mah salah elu
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara putih nih, nambah beban rosie kan
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
kasian rosie, baru juga mau bahagia
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
tuh kan, jadi bawa bencana deh buat keluarga
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
itu bukan emas lah, oon luh
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara si ular rupanya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
emang dasar si bawang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!