NovelToon NovelToon
Greta Oto: Glasswing Butterfly

Greta Oto: Glasswing Butterfly

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.

Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.

Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Kumbang Kura-Kura Emas

..."Bagaimana jika manusia bisa berbicara dengan serangga?"...

Manusia dan serangga hidup berdampingan sejak lama, tapi selalu dipisahkan oleh batas.

Suara dengung, kepakan sayap, dan gerak kecil yang sulit dimengerti. Tidak ada bahasa di sana, hanya kebiasaan dan naluri.

Kecuali, mungkin, jika ada satu pengecualian.

Atau hanya Greta.

Satu minggu telah berlalu sejak hari ketika Greta pingsan dan kupu-kupu kaca berhamburan keluar dari kastel.

Peristiwa itu tidak pernah dibicarakan di hadapan orang banyak. Arion memastikan semuanya terkubur rapi di balik dinding batu dan perintah singkat.

Tidak boleh ada satu pun rakyat yang tahu. Jika rakyat tahu kejadian aneh di castle minggu lalu, pasti mereka kembali percaya pada mitos itu dan semakin berani menyingkirkan Greta.

Greta sendiri sudah kembali sadar dan tampak baik-baik saja. Wajahnya kembali cerah dan matanya kembali jernih.

Ia lebih sering duduk di dekat jendela, membiarkan cahaya matahari menyinari ke rambutnya, sementara kumbang kecil kesayangannya merayap di telapak tangannya seolah itu tempat paling aman.

Chelyne memperhatikannya dengan perasaan campur aduk. Tubuhnya memang membaik, meski batuk kecil masih sesekali muncul, terutama saat udara dingin menyelinap ke paru-parunya.

Ia menutup mulut dengan sapu tangan, lalu tersenyum pada Greta, seakan batuk itu tak lebih dari gangguan kecil.

"Dua hari lagi," kata Chelyne pelan suatu pagi, sambil merapikan selimut di pangkuannya.

"Apa kau ingat, Greta?" tanya Chelyne

Greta menggelengkan kepalanya

"Apa ibu?" tanyanya

"Ulang tahunmu." ujar Chelyne

Greta mengalihkan pandangannya dari serangganya

"Ulang tahun?" tanya Greta lagi

"Iya, sayang. Yang keempat tahun," Chelyne mengangguk.

Ada nada sedih yang tak ia sembunyikan. Empat tahun berlalu tanpa perayaan besar. Tanpa pesta. Tanpa tawa ramai di aula. Seorang putri yang seharusnya dirayakan, tapi justru tumbuh dalam sunyi.

Greta tidak tampak terganggu. Ia menatap kumbangnya, lalu tersenyum kecil.

Ia tidak begitu peduli dengan ulang tahunnya. Yang Ia mau hanya serangganya yang selalu menjadi temannya.

"Kumbangku bilang... Ibu cantik hari ini."

Chelyne tertegun, lalu tertawa pelan.

"Kumbangmu bilang begitu?"

"Iya," jawab Greta serius, seolah tak ada yang aneh.

"Dia suka rambut Ibu."

Chelyne mengelus kepala putrinya. Ia menganggap itu imajinasi anak kecil.

Manusia tidak bisa berbicara dengan serangga. Itu tidak masuk akal. Namun, entah kenapa, ada perasaan hangat yang menyelinap ke dadanya.

Tak lama kemudian, Grace datang. Senyumnya rapi, gerakannya lembut, seperti biasa. Ia berlutut di depan Greta, mengulurkan tangan seolah ingin ikut bermain.

"Boleh bibi lihat kumbangnya?" tanya Grace

Kumbang itu berhenti bergerak. Sayapnya mengeras. Greta merasakan perubahan itu sebelum siapa pun menyadarinya.

"Dia tidak mau," kata Greta polos.

Grace tertawa kecil, sedikit kaku.

"Kumbang tidak bisa memilih, Greta." ujar Grace.

Namun kenyataannya jelas. Kumbang itu merayap menjauh, mendekat ke lengan Chelyne, lalu diam.

Serangga-serangga kecil lain yang semula beterbangan di dekat jendela juga tidak mendekat pada Grace. Mereka berputar, lalu pergi, seakan ruangan itu memiliki batas tak kasatmata.

Grace berdiri, menyembunyikan ketidaknyamanan di balik senyum. Chelyne melihat sekilas ketegangan di matanya, lalu mengalihkan pandangan.

"Ibu, capungnya pergi." ujar Greta sambil cemberut

Ia merasa serangganya pergi karena kedatangan Grace. Dan memang itulah alasannya. Mungkin bagi Chelyne ini hanya kebetulan saja.

Karena mana mungkin serangga bisa mengerti maksud manusia. Tapi berbeda dengan Greta yang mengerti kepada serangganya

Arion tidak ada di kastel pagi itu. Ia pergi bersama para pengawal, katanya ada urusan yang tak bisa ditunda.

Berita tentang Greta pingsan benar-benar ditutup rapat. Arion tidak ingin memberi celah sedikit pun bagi rakyat untuk berspekulasi. Terlalu banyak hal yang sudah sulit dikendalikan.

...****************...

Sementara itu, Thaddeus memikirkan sesuatu yang lain. Ia pergi ke hutan.

Di sana, ia bertemu Hugo, yang sedang memetik buah beri seperti biasa. Mereka sempat canggung di awal, tapi rasa itu cepat memudar.

"Hugo, sedang apa?" tanya Thaddeus

"Aku ingin memberikan buah berry pada ibuku." ujarnya

"Biar aku bantu."

Thaddeus membantu Hugo memetik buah berry. Satu-persatu Ia masukkan ke dalam keranjang buah yang sudah dibawa oleh Hugo.

"Dua hari lagi ulang tahun Greta," kata Thaddeus tiba-tiba.

Hugo terdiam sesaat. "Putri kecil itu?"

Thaddeus mengangguk.

"Greta tidak menyukai perhiasan atau semacamnya." ujar Thaddeus

"Jadi maksudmu Putri Greta hanya menyukai serangga?" tanya Hugo

Thaddeus mengangguk

"Ya, benar. Serangga selalu berterbangan disekitar castle. Terkadang, aku membawakan serangga yang aku tangkap untuk Greta." ujarnya.

"Aku pernah lihat kumbang yang cantik," kata Hugo kemudian.

"Di bagian hutan yang agak dalam. Warnanya emas, seperti matahari kecil."

Thaddeus tertarik. "Di mana?"

Mereka masuk lebih jauh. Pepohonan makin rapat, cahaya matahari mulai terlihat tipis.

Di sebuah area lembap dekat batang pohon tua, mereka menemukannya. Kumbang kura-kura emas, berkilau pelan, berdiam di daun-daun lebar.

Thaddeus terpana. Ia tahu Greta akan menyukainya.

"Hugo, aku tidak pernah melihat kumbang seindah ini." gumam Thaddeus tak percaya

"Aku sering melihatnya di hutan ini. Mungkin kau hanya tahu kumbang koksi?" tanya Hugo

Thaddeus mengangguk

"Benar." jawabnya.

Mereka berdua akhirnya sepakat. Hugo membantu dengan hati-hati, memastikan tidak melukai apa pun.

"Aku bawa toples kaca."

Thaddeus mengeluarkan toples kacanya, Ia membuka tutupnya dan perlahan memasukkan kumbang kecil itu.

"Hati-hati." ujar Hugo.

Beberapa helai daun juga dimasukkan. Botol kaca itu tidak ditutup rapat supaya udara dapat masuk dan kumbang itu akan tetap hidup.

"Indah sekali. Terima kasih, Hugo." ujar Thaddeus.

Saat kembali, suasana di antara mereka tidak lagi kaku. Ada kelegaan kecil yang tak diucapkan.

"Aku akan kembali ke rumah sekarang."

"Terima kasih sudah mau membantuku memetik buah berry tadi." ujar Hugo

Thaddeus mengangguk perlahan. Kedua anak itu pun kembali ke tempatnya masing-masing.

...****************...

Sore itu, saat Hugo pulang, ia melihat ibunya sudah pulang.

"Ibu hari ini pulang cepat?" tanya Hugo

"Iya." jawab Grace singkat.

"Bu, apakah benar dua hari lagi ulang tahun Putri Greta?"

Ibunya sedang duduk, wajahnya lelah.

"Entahlah," jawabnya singkat, tanpa menatap Hugo.

"Kenapa Ibu tidak suka?" tanya Hugo pelan.

Ibunya terdiam lama, lalu berkata dengan nada dingin,

"Jangan dekat-dekat lagi dengan Pangeran Thaddeus."

Hugo bingung. "Kenapa?"

"Tanya lain kali," jawab ibunya, jelas tidak ingin melanjutkan.

Hugo menunduk. Ia tidak ingin berdebat. Ia mengulurkan keranjang kecil.

"Ini beri untuk Ibu. Aku petik lagi."

Ibunya menerimanya tanpa senyum.

"Kau tadi ke hutan dan pasti bertemu dengan Thaddeus, kan?" tanya Grace

Hugo mengangguk

"Iya, bu."

"Ladang kita bagaimana?" tanya Grace sambil memakan buah berry

"Belum ada yang bisa dipanen, bu."

Grace menghela nafas pelan. Ia sebenarnya juga ingin melihat ladangnya. Tapi dia sangat sibuk di castle.

Dan yang tak Ia sukai ialah jika Hugo mulai dekat kembali dengan Thaddeus. Bisa-bisanya nanti rencananya hancur.

1
Serena Khanza
tuh kan 😤
Serena Khanza
preettt bohong
PrettyDuck
bener atau enggak mitosnya, itu tetap baik untuk ratu.
karena dia gak perlu ngerasa sakit.
PrettyDuck
manis banget pangeran kecil 🥰
PrettyDuck
cemas tanda sayang
PrettyDuck
apa mungkin kupu2 tertarik sama janinnya ratu?
Mingyu gf😘
dan itu membuktikan betapa pengecutnya kau Arion
Mingyu gf😘
dan jelas itu hanya mitos
putri bungsu
suka banget percaya yang nggak enggak emang ya orang orang pada suka percaya sama mitos
putri bungsu
hamil tua itu rasa nya emang campur aduk ya,,
Zan Apexion
hmmm, ayolah berpikir logis.
Zan Apexion
nah kan, baru jga dibilang dasar aneh.
Zan Apexion
kupu-kupu datang, tapi di tuduh nasib buruk.

asumsi orang dulu emang rada-rada ya.
Ebit S
nah loh nggak bisa konsentrasi kan apa gerangannya coba 🤭🤭🙏🙏💪💪
evrensya
Duhhh sukaaa deh bacanya, imajinasiku aktif.
evrensya
Apakah kupu2 itu peri?
evrensya
Suasananya dapet bgttt, kayak lg masuk ke negeri dongeng.
MARDONI
Greta cuma mau main sama Chelyne tapi malah jadi bahan omongan, itu bikin kesel banget. Arion kelihatan tenang tapi jelas dia khawatir, dan Grace… entah kenapa tiap dia muncul rasanya nggak nyaman. Thaddeus semoga insting kamu nggak salah.
Indira Mr
Thadeuss masih menebak motip grace.
Indira Mr
pelayannya kok gitu ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!