kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN MALAM BERACUN
Lady Genevieve mengulas senyum tipis yang sarat akan muslihat.
"Ambilkan tinta dan perkamen. Aku harus segera mengabari Pangeran Cedric tentang pergerakan ini."
Pangeran Cedric adalah penguasa dari Kerajaan Northumbria, seorang pria yang dikenal dengan julukan "Tangan Besi" karena kekejamannya yang tak tertandingi di medan perang.
Hanya saja, dalam hal taktik diplomasi dan strategi menguasai wilayah, kepintarannya masih berada di bawah bayang-bayang kejeniusan Pangeran Alaric yang asli.
Cedric tidak pernah bisa menerima kenyataan ketika Kaisar dari Kekaisaran Suci lebih memilih beraliansi dengan Kerajaan Valerius sebagai tangan kanannya.
Merasa terhina, ia akhirnya menempuh cara licik; dialah dalang di balik racun yang nyaris merenggut nyawa Pangeran Alaric tiga bulan lalu, sebelum jiwa Gantan masuk ke tubuh itu.
Lady Genevieve melipat perkamen berisi tulisan tangannya dengan rapi. Ia kemudian memasukkannya ke dalam tabung perak kecil yang biasa diikatkan pada kaki burung elang pengirim pesan—metode komunikasi tercepat bagi para bangsawan di tanah Eropa ini.
"Kirimkan ini sekarang," perintah Genevieve pada pengawalnya.
"Katakan pada Cedric bahwa mangsa kita sudah keluar dari sarangnya. Jika dia ingin menghancurkan Valerius, inilah saat yang tepat untuk memutus garis keturunannya."
Tok! Tok! Tok!
"Tuan, Tuan, ini makan malam Anda," seru seorang pelayan penginapan sembari mengetuk pintu kayu kamar vion yang berat.
Vion, yang memang sejak tadi hanya berguling-guling gelisah di atas ranjang jeraminya tanpa bisa terlelap, segera bangkit.
Ia melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan. Di sana berdiri seorang pelayan dengan pakaian lusuh, membawa nampan berisi sepotong roti gandum kasar dan semangkuk sup daging yang mengepulkan aroma gurih.
"Terima kasih," ucap vion sembari mengulurkan tangan untuk menerima nampan tersebut.
"Tunggu!"
Von Gardo tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang lorong yang remang. Suaranya rendah namun penuh otoritas, menghentikan langkah si pelayan yang baru saja hendak berbalik pergi.
"Siapa yang memasak makanan ini?" tanya Von Gardo dengan tatapan mata yang tajam, seolah sedang menginterogasi tawanan perang.
Kedua mata pelayan itu membelalak, tampak sangat heran dan sedikit tersinggung dengan pertanyaan yang tak biasa itu.
"Tentu saja koki kami, Tuan! Dia sudah memasak untuk seluruh musafir yang singgah di penginapan ini selama sepuluh tahun."
Von Gardo tidak lantas percaya. Ia melangkah mendekat, menghalangi jalan si pelayan.
"Kalau begitu, maukah kau mencicipi masakan kokimu ini lebih dulu di hadapanku?" pinta Von Gardo dengan nada dingin.
Suasana di lorong penginapan itu seketika menjadi tegang. Vion mematung sembari memegang nampannya, menyadari bahwa di dunia ini, racun bisa saja bersembunyi di balik aroma sup yang paling lezat sekali.
Pelayan itu menatap Von Gardo dan vion secara bergantian dengan raut bingung yang kentara. Namun, karena terintimidasi oleh tatapan tajam sang ksatria, ia akhirnya membuka mulut saat Von Gardo menyuapkan sesendok sup daging bebek itu ke dalam mulutnya.
Detik berikutnya, suasana menjadi mencekam.
Begitu daging bebek itu tertelan, kedua mata si pelayan melotot lebar seolah hendak keluar dari kelopaknya.
Kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri dengan kuat, wajahnya berubah menjadi ungu kebiruan dalam hitungan detik.
Tanpa suara, tubuhnya ambruk menghantam lantai kayu yang berderit.
"Pelayan!" seru vion.
Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat adegan mengerikan itu terjadi tepat di depan matanya.
Darah vion berdesir dingin. Kenapa dunia antah-berantah ini begitu kejam? Di dunianya yang dulu, masalah terbesarnya hanyalah omelan ibunya atau motor yang mogok.
Di sini, nyawanya benar-benar menjadi sasaran empuk dalam setiap suapan makanan. Seseorang benar-benar ingin dia mati secara perlahan dan menyakitkan.
Dengan sigap, Von Gardo merogoh saku di balik jubah zirahnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi pil penawar racun. Ia memaksa pelayan itu menelan obat tersebut sebagai pertolongan pertama.
Sangat beruntung karena saat itu malam sudah larut, sehingga tidak banyak tamu yang berlalu-lalang di lorong lantai atas.
Di lantai bawah, suasana justru sedang riuh oleh suara tawa dan denting gelas bir, mengiringi pertunjukan musik harpa dari seorang pengamen yang biasa menghibur di penginapan itu. Suara musik itu berhasil meredam keributan di depan kamar vion.
"Hamba harus memindahkan dia ke dalam," bisik Von Gardo sembari menyeret tubuh pelayan yang pingsan itu masuk ke kamar vion agar tidak memancing kecurigaan.
Vion menutup pintu dengan tangan gemetar. Ia menatap mangkuk sup yang masih mengepul di atas meja—makanan yang seharusnya menjadi santapan malamnya, kini menjadi bukti nyata betapa dekatnya maut menjemput.
"Von Gardo," bisik vion dengan suara yang masih bergetar. Ia menatap tubuh si pelayan yang tergeletak di lantai kayu, merasa ngeri sekaligus bersalah.
"Tenanglah, Yang Mulia. Dia akan baik-baik saja. Pil penawar tadi sudah menetralkan racun di d**anya," seru Von Gardo dengan tenang sembari terus memeriksa denyut nadi pria itu.
Tak lama kemudian, pelayan itu mulai membuka matanya perlahan. Ia terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram d**a kirinya yang berdebar dengan ritme yang tidak beraturan, efek sisa dari racun yang menyerang sistem sarafnya.
"Eeggh... Tuan... apa yang terjadi?" desisnya dengan suara serak, kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
"Bangunlah," ucap Von Gardo yang masih dalam posisi berjongkok di sampingnya.
Ia menatap pelayan itu dengan sorot mata yang sedikit lebih lunak, namun tetap waspada.
"Beruntung nyawamu masih tertolong. Mulai saat ini, biar aku sendiri yang menyiapkan dan memeriksa makanan untuk Tuanku. Kau tidak perlu lagi mendekati dapur jika itu menyangkut hidangan untuk kamar ini."
"Ba-baik, Tuan... terima kasih," jawab si pelayan dengan gemetar, menyadari bahwa dirinya baru saja lolos dari lubang jarum kematian.
vion menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kesetiaan dan kewaspadaan Von Gardo adalah satu-satunya dinding yang memisahkannya dari maut.
Setiap jengkal langkah menuju Portsmouth kini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang tak terlihat.
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa udara dingin yang menusuk tulang.
Pagi itu, mereka semua menyantap sarapan di ruang bawah penginapan. Suasananya jauh lebih tenang karena Von Gardo memerintahkan ksatria-ksatria pilihannya untuk mengambil alih dapur dan memasak sendiri makanan mereka guna memastikan tidak ada setetes pun racun yang masuk.
Usai makan, mereka bersiap melanjutkan perjalanan panjang menuju kota pelabuhan Portsmouth. Sebelum berangkat, vion meminta Von Gardo dan seluruh pengawal untuk berganti penyamaran total.
Ia sadar, para pembunuh sudah mengetahui posisi mereka. Jubah ksatria dilepas, diganti dengan pakaian kumuh para pedagang wol dan petani gandum agar mereka bisa membaur di jalanan kerajaan.
Perjalanan itu terasa sangat melelahkan. Melewati perbukitan curam dan menyusuri pesisir yang berangin kencang, memakan waktu lebih dari tiga hari, bahkan terhitung hampir empat hari sejak mereka meninggalkan desa terakhir.
Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi yang ditumbuhi pepohonan cemara yang lebat dan hijau. Di tengah kesunyian itu, berdiri sebuah rumah tua berbatu yang dikelilingi pagar kayu tinggi.
Von Gardo menahan tali kekang kudanya, lalu memberi kode tangan kepada para anak buahnya untuk turun dan memeriksa keadaan sekitar.
Salah seorang ksatria turun dari pelana, berjalan mengendap-endap dengan tangan yang tetap waspada pada gagang belatinya.
Ia mendekati rumah tua yang tampak sangat sepi itu. Tak jauh dari pintu depan yang berbahan kayu ek tebal, terdapat sebuah sumur tua dari batu yang sudah berlumut.
Di halaman samping, terlihat beberapa rantai besi besar dan tungku perapian raksasa yang sudah dingin, menggantung di antara tiang-tiang penyangga—tanda bahwa inilah tempat sang pandai besi legendaris itu menetap.