Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PERANG DI DALAM JARINGAN
BAB 34: PERANG DI DALAM JARINGAN
Kesadaran Arga kini sepenuhnya berada di dalam dunia digital. Tempat ini menyerupai Jakarta yang hancur, namun semuanya terbangun dari garis-garis kode biner yang berwarna hijau neon dan merah darah. Arga menunduk melihat tubuhnya; ia bukan lagi manusia berdaging, melainkan ksatria cahaya dengan simbol "S" yang menyala terang di dadanya.
"Selamat datang di Mainframe, Arga," suara Eko bergema di langit virtual, namun suaranya terdengar pecah dan tidak stabil.
Di depannya, ribuan "Kurir Digital" mulai bergerak. Mereka tidak lagi menggunakan motor, melainkan meluncur seperti arus listrik dengan kecepatan cahaya. Di tangan mereka terdapat pedang yang berbentuk barisan kode penghapus data.
"Ingat, Arga!" teriak Eko. "Di sini, imaginasimu adalah senjatamu. Jika kau percaya kau bisa hancur, maka kau akan terhapus!"
Salah satu kurir digital menebas Arga. Arga menghindar, namun lengan kirinya tergores dan mengeluarkan serpihan angka-angka kecil. Rasa sakitnya sangat aneh, seolah-olah ingatannya tentang masa kecil sedang dicungkil paksa.
"Mereka memakan datamu!" teriak Eko lagi.
Arga menggeram. Ia mengepalkan tangannya. "Jika tempat ini terbuat dari data, maka aku adalah Bug yang akan merusak sistemnya!"
Arga menghantamkan tinjunya ke tanah virtual. Ia tidak melepaskan cahaya, melainkan melepaskan "Virus Keheningan"—sebuah memori tentang kesunyian yang ia rasakan di Sektor Tanpa Nama. Gelombang kegelapan yang tenang menyebar, membekukan gerakan para kurir digital.
Ia berlari menembus barisan musuh menuju Inti Server. Di sana, ia melihat Sang Administrator yang baru. Sosok itu bukan lagi pria berjas, melainkan sebuah Avatar Raksasa tanpa wajah yang terdiri dari jutaan wajah manusia yang terus berganti setiap detik.
"Arga... Kau hanyalah data lama yang seharusnya sudah di-bin (buang)," ucap Avatar itu dengan suara ribuan orang.
"Aku adalah data yang tidak bisa kau proses!" Arga melompat, tangannya membentuk pedang cahaya perak.
Pertarungan sengit terjadi di pusat server. Di dunia nyata, tubuh Arga yang memegang otak perak mulai mengeluarkan asap. Eko di atas menara BTS mulai panik melihat indikator suhu yang mencapai batas maksimal.
"Arga, cepat! Server ini mulai melakukan self-destruct (meledakkan diri)!" teriak Eko melalui sambungan saraf.
Namun, di dalam dunia digital, Arga melihat sesuatu yang mencurigakan. Eko—atau setidaknya kesadaran Eko di dalam sistem—sedang mencoba menyalin (copy) kode dari simbol "S" milik Arga.
"Eko? Apa yang kau lakukan?" Arga bertanya sambil menangkis serangan Avatar.
"Maafkan aku, Arga," suara Eko berubah menjadi dingin. "Aku membantu untuk menghancurkan gudang ini, tapi aku butuh kodemu untuk membangun Gudang Baru yang bisa kukendalikan sendiri. Dunia butuh kurir, dan aku akan menjadi pemiliknya!"
Ternyata, NOMOR 31 bukan hanya seorang pemberontak. Dia adalah kandidat administrator baru yang menggunakan Arga untuk menyingkirkan penguasa lama.
Arga terjebak di antara dua ancaman: Avatar sistem yang ingin menghapusnya, dan Eko yang ingin mencuri kekuatannya.
"Kau salah, Eko," ucap Arga dengan tenang meski tubuh digitalnya mulai retak. "Kau lupa aturan nomor satu dari pekerjaan ini."
"Apa?"
"Jangan pernah buka paketnya. Dan kau... baru saja mencoba membuka paket kekuatan yang tidak bisa kau tanggung!"
Arga sengaja membiarkan Eko menyerap kodenya. Namun, kode yang ia berikan bukan kode "Penjaga", melainkan kode "Beban Nyawa" dari angka -1 yang selama ini ia simpan di sudut memorinya.
Apakah Eko akan hancur karena beban jiwa yang ia curi? Dan bagaimana cara Arga keluar dari dunia digital sebelum server itu meledak sepenuhnya?