Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15.
Lara mengambil ponselnya, lalu mengarahkan kameranya ke arah Cindy dan pria yang berdiri di samping Cindy.
"Apa yang akan dikatakan David, kalau melihat video mu bersama dengan pria yang kamu bilang hanya sebatas teman ini!"
Mata Cindy seketika membulat melihat Lara merekamnya bersama dengan teman prianya, sehingga ia sontak menghambur ke arah Lara.
Tangannya dengan cepat merampas ponsel Lara, lalu melemparkan ponsel itu dengan kencang ke tanah.
Prakkk!!!
Ponsel Lara pun hancur begitu terbanting ke tanah.
"Kamu?!!!" mata Lara membulat melihat ponselnya yang hancur di tanah.
Plak!!!
Tiba-tiba Lara mendengar suara tamparan yang cukup kencang, dan matanya semakin membulat melihat Cindy terhuyung di tampar Stefan.
Lara terpaku ditempatnya melihat Stefan dengan berani, dan tidak merasa sungkan sama sekali menampar Cindy.
Seumur hidup Lara, baru kali inilah ada seseorang yang membelanya dengan berani.
"Lancang kamu! berani sekali kamu menghancurkan ponsel yang bukan milikmu! kamu mau mati, ya?!!" hardik Stefan dengan tatapan tajam penuh amarah memandang Cindy.
Lara tidak dapat bergerak ditempatnya melihat amarah Stefan, yang diam-diam membuatnya merasa terharu dengan tindakan Stefan membelanya.
Plak!!!
Kembali Stefan menampar wajah Cindy dengan kencang.
"Matamu! berani sekali kamu memandang tajam padaku!!!" bentak Stefan lagi semakin tajam memandang Cindy yang menatapnya.
Merasakan aura mendominasi Stefan, perasaan Cindy yang ingin marah seketika menciut.
"Hei, anak muda! kamu yang lancang! kamu tidak tahu siapa yang kamu tampar?!!" pria yang bersama Cindy pun angkat suara membela Cindy.
"Siapa pun dia, aku tidak takut! cepat ganti ponsel pacarku yang sudah dia hancurkan!!!" bentak Stefan lagi lebih kencang menantang pria itu.
Lara yang masih terpaku di tempatnya, mengedipkan matanya mendengar Stefan mengaku sebagai pacarnya.
Cindy yang kesakitan tersenyum memandang Lara.
Senyuman sinis mencemooh Lara, yang ternyata memang benar memiliki hubungan dengan pria yang jauh lebih muda dari usia Lara.
"Ternyata memang benar dugaan ku, kalau kamu itu pacaran dengannya! ha ha ha.. Lara, sampai sepuluh tahun kamu pertahankan pernikahan semu mu dengan David, sedikit pun dia tidak tersentuh dengan pengejaran mu untuk mendapatkan cintanya! ternyata pesonamu hanya berlaku pada seorang mahasiswa! ha ha ha.. !!"
Cindy yang kesakitan di tampar Stefan, tidak merasa gentar kembali menyerang Lara.
Ia sangat senang membuat Lara terhina, dan ia ingin Lara tidak pernah dapat menyainginya dalam segala hal.
Plak!!!
"Jangan banyak bicara! cepat ganti ponsel pacarku!!"
Stefan kembali memberi tamparan pada Cindy, dan kali ini tubuh Cindy sampai terjatuh ke tanah.
"Lancang! kamu berani sekali memukulnya!!"
Teman pria Cindy seketika menghambur ke arah Stefan, dan melayangkan tinjunya ke wajah Stefan.
Dengan cepat Stefan mengelak, lalu kakinya ia julurkan menghalangi langkah pria itu.
Bruk!!
Tubuh teman pria itu pun jatuh tersungkur ke depan, dan jatuh ke tanah dengan wajah tepat mencium tanah.
Lara nyaris tertawa melihat, apa yang dilakukan Stefan pada Cindy dan teman pria Cindy.
Ia merasa ada semacam perasaan puas melihat Cindy menderita.
Tapi kemudian ia menyadari satu hal.
Sepertinya Stefan tidak lemah ataupun rapuh walau ia terluka.
Stefan tampak begitu kuat, dan bahkan dapat membuat Cindy, serta pria yang bersama Cindy itu jatuh ke tanah dengan begitu mudahnya.
Kalau dipikir dan ia lihat dengan seksama, Stefan tidak mungkin tidak dapat melawan, saat ia di pukul petugas keamanan apartemen.
Mata Lara berkedip menyadari akan hal itu.
Berarti Stefan tadi hanya berpura-pura terlihat lemah, karena memiliki niat tertentu padanya.
"Cepat! ganti ponsel yang sudah kamu hancurkan!!" bentak Stefan memandang tajam pada Cindy yang masih terduduk di tanah.
Ia meraih tas selempang Cindy, lalu mengambil ponsel dari dalam.
"Cepat!!" sentak Stefan menyodorkan ponsel Cindy itu kepada Cindy, agar membuka password ponsel, "Lima puluh juta!!" katanya dengan tajam.
"Apa?!!" mata Cindy membulat mendengar nominal uang ganti ponsel Lara.
"Kenapa? apakah Nona kaya seperti mu, begitu terkejut mendengar harga ponsel dengan nominal lima puluh juta? atau.. apakah dalam rekening mu tidak memiliki uang sebanyak lima puluh juta rupiah?!"
Stefan kemudian mengambil ponselnya, untuk menerima transfer via ponsel.
Cindy melirik ke arah Lara dengan tajam.
Ia tidak menyangka pria muda, yang ia remehkan sebagai berondong Lara, ternyata sangat melindungi Lara.
Ia pikir tidak seorang pria pun akan melirik janda seperti Lara.
Ternyata ia salah menilai dengan pesona Lara, yang menurutnya biasa-biasa saja.
Rasa geram dalam hatinya, tidak senang melihat Stefan begitu membela Lara.
Apa yang telah diberikan Lara pada mahasiswa ini? pikir Cindy melirik Lara yang terlihat begitu tenang.
Jangan-jangan dia hanya memanfaatkan mahasiswa ini untuk membuat David cemburu! pikir Cindy lagi menebak kedekatan Lara dengan Stefan.
"Kenapa begitu lama! cepat sedikit!!" sentak Stefan lagi pada Cindy.
Dengan gerakan tangan setengah ragu, Cindy pun mentransfer via ponsel ke telepon seluler Stefan.
"Huh! lain kali jangan terlalu arogan! dan jangan ganggu pacar ku lagi! kalau tidak, aku akan buat perhitungan padamu, begitu juga pada siapapun yang mendukung tindakan arogan mu!!" kata Stefan memperingati Cindy.
Cindy tanpa sadar menelan ludahnya mendengar apa yang dikatakan Stefan.
"Ayo, kak!" Stefan meraih tangan Lara.
Ia menggenggam tangan Lara pergi dari sana, karena taksi yang mereka tunggu telah datang, dan sedang menunggu mereka.
Dengan patuh, dan tidak mengatakan apa pun, Lara membiarkan Stefan menggenggam tangannya.
Saat taksi meluncur menuju apartemen mereka, Lara pun menoleh memandang tajam ke arah Stefan.
"Pak sopir, tolong ke mall terdekat, ya?"
Dengan cepat Stefan bicara pada sopir taksi, sebelum Lara mengatakan sesuatu kepadanya.
"Baik, Tuan!" jawab sopir taksi.
"Mau ngapain kamu ke mall?" tanya Lara memandang heran pada Stefan.
"Mau beli ponsel baru untuk kakak!" jawab Stefan tersenyum.
Lara tidak dapat mengatakan apa pun lagi mendengar jawaban Stefan.
Ia merasa semakin tertegun dengan perhatian Stefan padanya.
"Lepaskan tanganmu!!"
Lara menepis tangan Stefan, saat mereka telah sampai di mall terdekat.
Stefan dengan begitu santainya merangkul bahunya, saat mereka melangkah masuk ke dalam mall.
"Kak, tubuhku terasa lemah setelah mengeluarkan banyak tenaga, memberi pelajaran pada adik tiri kakak yang bermuka dua itu!" kata Stefan dengan nada, yang terdengar lemah seperti saat berada di apartemen Lara.
Mendengar apa yang dikatakan Stefan, Lara tidak dapat untuk mengatakan apa pun lagi untuk menjawab Stefan.
Sudut bibir Stefan menyunggingkan senyuman senang, karena Lara mempercayai apa yang ia katakan.
Stefan membawa Lara ke toko smartphone, dan memilih telepon seluler merk yang sama seperti ponselnya.
Lalu membeli aksesoris ponsel yang sama, dengan dua warna yang berbeda.
Lara hanya diam saja melihat apa yang dilakukan Stefan pada ponsel barunya, dan juga pada ponsel Stefan sendiri.
Stefan tersenyum puas melihat ponselnya, dan ponsel Lara seperti kembar.
Ponsel Lara memakai aksesoris berwarna pink, sedangkan Stefan memakai aksesoris berwarna hitam.
Stefan memberikan ponsel berwarna pink kepada Lara, dan Lara menerimanya dengan patuh tanpa mengatakan apa pun untuk protes.
Bersambung.........