NovelToon NovelToon
Ketulusan Yang Nyata

Ketulusan Yang Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:202
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.

_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Photoshoot

Tiga minggu setelah kepulangan Alessia, Mansion Xander berubah menjadi set studio yang paling eksklusif di New York. Ini bukan sekadar sesi foto keluarga biasa; ini adalah pernyataan resmi kepada dunia. Pablo dan Freya telah memutuskan bahwa setelah segala spekulasi dan serangan dari Dante Valerius, inilah saatnya mereka mengambil kendali penuh atas narasi keluarga mereka.

Fotografer yang dipilih bukanlah sembarang orang, melainkan seorang maestro potret legendaris yang biasa mengabadikan keluarga kerajaan Eropa. Tema yang diusung adalah "The Modern Dynasty": klasik, elegan, namun tetap memancarkan kehangatan sebuah rumah tangga yang nyata.

...----------------...

Sejak pukul tujuh pagi, tim penata rias dan penata busana sudah memenuhi sayap utama mansion. Anne Rodriguez, ibu Freya, bertindak sebagai pengawas tidak resmi. Ia memastikan setiap detail, mulai dari lipatan jas Pablo hingga hiasan rambut Alessia, sempurna.

"Freya, Sayang, jangan terlalu banyak menggunakan perhiasan," saran Anne sambil memperhatikan Freya yang sedang dirias.

"Biarkan matamu dan bayimu yang menjadi pusat perhatian. Dunia harus melihat kebahagiaan seorang ibu, bukan hanya kekayaan seorang Rodriguez."

Freya tersenyum menatap bayangannya di cermin. Ia mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh lembut di tubuhnya, memberikan kesan anggun namun tetap bersahaja. "Aku setuju, Mom. Hari ini bukan tentang pamer harta, tapi tentang menunjukkan bahwa kita utuh."

Di ruangan sebelah, Pablo sedang beradu argumen kecil dengan Nael tentang dasi kupu-kupu. Nael, yang kini merasa dirinya adalah pria dewasa, bersikeras ingin memakai jam tangan pemberian Kakek Alan untuk sesi foto tersebut.

"Nael, jam itu terlalu besar untuk pergelangan tanganmu," ucap Pablo sambil berlutut merapikan kerah jas putranya.

"Tapi Kakek Alan bilang ini jam tangan petarung, Daddy. Aku harus memakainya untuk melindungi Mommy dan Alessia di foto nanti," jawab Nael dengan nada serius yang sangat mirip dengan Pablo.

Pablo tertegun, lalu tertawa kecil—sebuah tawa lepas yang kini lebih sering terdengar sejak Freya masuk ke hidupnya. "Baiklah, kau menang. Pakai jam itu, tapi simpan di kantong jasmu jika terlalu berat. Kau benar-benar seorang Xander."

Pusat dari seluruh keributan pagi itu adalah Alessia. Bayi berusia tiga minggu itu tampak sangat tenang, seolah ia tahu bahwa hari ini adalah hari besarnya. Ia mengenakan gaun baptis kecil berbahan lace tradisional yang telah disimpan keluarga Rodriguez selama tiga generasi.

"Dia memiliki ketenanganmu, Pablo," ucap Joice Rodriguez yang baru saja tiba bersama Kakek Alan. Joice memperhatikan cucu perempuannya yang sedang tertidur di dalam boks bayi sementara para penata busana sibuk di sekitarnya.

Kakek Alan, duduk di kursi rodanya dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Dia tidak tenang, Dad. Dia sedang mengamati. Lihat matanya saat dia terbuka nanti. Dia sedang menilai apakah fotografer ini cukup layak untuk mengabadikan wajahnya."

Sesi foto pertama dilakukan di perpustakaan besar mansion, ruangan yang dipenuhi ribuan buku antik dan aroma kayu ek. Fotografer meminta Pablo duduk di kursi kulit besar, dengan Freya berdiri di sampingnya sambil menggendong Alessia. Nael berdiri tegak di sisi lain Pablo, tangannya diletakkan di bahu ayahnya.

"Tatap kamera dengan perlahan, Tuan Xander. Jangan terlalu kaku. Bayangkan Anda sedang melihat masa depan yang Anda bangun," instruksi sang fotografer.

Pablo menoleh sejenak ke arah Freya. Cahaya matahari dari jendela besar menyinari wajah istrinya, membuat Freya tampak bercahaya. Rasa cinta yang mendalam terpancar dari matanya. Pablo meraih tangan Freya dan menggenggamnya. Klik. Kamera menangkap momen itu—bukan pose kaku seorang miliarder, melainkan tatapan seorang pria yang menemukan rumahnya pada seorang wanita.

"Sempurna," gumam sang fotografer. "Itu adalah foto yang akan dibicarakan New York selama bertahun-tahun."

Sesi berikutnya lebih santai, dilakukan di ruang keluarga yang kini sudah penuh dengan mainan Nael. Freya dan Pablo duduk di lantai karpet kasmir yang tebal. Nael berbaring di samping Alessia, mencoba menggelitik perut adiknya dengan lembut agar Alessia tersenyum.

"Nael, jangan terlalu kencang," peringat Freya lembut.

Namun, keajaiban terjadi. Alessia mengeluarkan suara tawa kecil pertamanya—suara cooing yang sangat menggemaskan. Kamera menangkap ekspresi spontan mereka berempat: Nael yang tertawa bangga, Freya yang menutup mulutnya karena terkejut bahagia, dan Pablo yang menatap kedua anaknya dengan kelembutan yang bisa meruntuhkan citra dinginnya di Wall Street.

Foto ini akan menjadi favorit publik—sebuah foto yang menunjukkan bahwa di balik tembok mansion yang tinggi dan penjagaan ketat, mereka hanyalah sebuah keluarga yang sedang menikmati keajaiban kecil dari seorang bayi.

Kakek Alan dan Joice kemudian diminta ikut serta dalam sesi foto keluarga besar. Ini adalah momen yang paling berharga bagi Kakek Alan. Ia duduk di tengah, dikelilingi oleh Joice, Anne, Pablo, Freya, Nael, dan Alessia.

"Tiga generasi Rodriguez dan Xander," ucap Joice dengan suara berat. "Dante Valerius ingin menghancurkan ini, tapi dia justru membantu kita mengukuhkannya."

Kakek Alan menggenggam tangan Nael. "Dunia luar mungkin akan melihat foto ini sebagai simbol kekuatan finansial. Tapi bagi kita, ini adalah simbol kelangsungan hidup. Selama kita bersama, tidak ada yang bisa menyentuh kita."

Sesi foto itu ditutup dengan potret Kakek Alan yang sedang memegang tangan mungil Alessia—sebuah kontras antara kulit yang keriput penuh pengalaman dan kulit bayi yang lembut penuh harapan.

Setelah lampu-lampu studio dimatikan dan tim fotografer mulai mengemasi barang, keluarga itu berkumpul di ruang makan untuk makan siang yang santai.

"Aku ingin foto-foto ini dipajang di lobi yayasan, Pablo," kata Freya sambil menyuapi Nael. "Aku ingin orang-orang tahu bahwa 'The Nael Foundation' bukan hanya proyek bisnis, tapi proyek hati."

Pablo mengangguk setuju. "Dan aku ingin satu cetakan besar di kantorku. Agar setiap kali ada orang yang mencoba menantangku, mereka tahu apa yang sedang aku perjuangkan."

Joice tertawa kecil. "Berhati-hatilah, Pablo. Dengan foto-foto ini, kau tidak akan lagi ditakuti sebagai 'Hiu Wall Street', tapi akan dikenal sebagai 'Ayah Terbaik di New York'."

"Aku tidak keberatan dengan gelar itu," jawab Pablo pendek, sambil mengecup dahi Alessia yang kini berada di gendongannya.

...----------------...

Beberapa hari kemudian, foto-foto tersebut dirilis secara eksklusif di majalah gaya hidup paling prestisius dan melalui akun resmi yayasan. Reaksinya luar biasa. Publik New York yang tadinya sinis akibat skandal Dante, kini berbalik memuja pasangan ini.

Nael menjadi idola baru sebagai "Kakak Pelindung", sementara Alessia disebut sebagai "The Jewel of New York". Namun bagi Pablo dan Freya, komentar publik hanyalah kebisingan di latar belakang.

Penutup: Malam di Ruang Galeri

Malam itu, setelah semua orang pulang dan anak-anak sudah tidur, Pablo dan Freya berjalan menyusuri koridor mansion menuju ruang galeri di mana versi cetak pertama dari foto keluarga mereka sudah digantung.

Mereka berdiri diam di depan foto mereka berempat di perpustakaan.

"Lihat kita, Freya," bisik Pablo. "Siapa yang sangka perjodohan itu akan berakhir seperti ini?"

Freya menyandarkan kepalanya di bahu Pablo. "Perjodohan itu hanya membuka pintu, Pablo. Kita yang memilih untuk melangkah masuk dan membangun rumah di dalamnya."

Pablo merangkul Freya, menatap foto itu dengan rasa syukur yang tak terlukiskan. Di foto itu, mereka tampak tak terkalahkan. Bukan karena harta yang mereka miliki, tapi karena ada rasa saling memiliki yang begitu kuat di mata mereka.

Sesi foto resmi itu bukan hanya mengakhiri keraguan publik, tapi juga menutup babak perjuangan mereka terhadap masa lalu. Sekarang, masa depan terbentang luas di depan mereka, secerah lampu-lampu New York yang berkilauan di luar jendela. Mereka bukan lagi sekadar Xander atau Rodriguez. Mereka adalah sebuah keluarga. Dan di New York, tidak ada yang lebih kuat daripada itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!