"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Kamu Inginkan
"Argh...!"
Selesai penyatuan yang sangat lama itu akhirnya Dariush ambruk di ceruk leher istrinya. "Minggir, kamu berat sana." Bella mengusir suaminya dari atasnya.
Dariush terkekeh melihat penampilan istrinya yang acak acakan akibat ulahnya. "Terima kasih untuk semuanya." Ucapnya.
Bella menoleh ke suaminya. "Kenapa?"
"Aku pikir kamu wanita_"
Bibir Bella tersenyum getir. Ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan suaminya ini.
"Murahan? Aku menjaga kesucianku hanya untuk suamiku kelak. Suamiku sekarang itu kamu. Semoga kamu setia sampai akhir. Lagi pula ini hanya kebutuhan biologis saja kan? Kamu cuma ingin tubuhku." Lirihnya dengan tatapan kosongnya.
Raut wajah Dariush berubah menakutkan, dia mengeraskan rahangnya. "Cukup, Arabella hentikan omong kosong mu itu."
Dariush membuka selimut dan beranjak pergi namun tangannya di tahan istrinya.
"Kenapa? Benar kan ucapanku? Hmmp_"
Belum selesai Bella bicara Dariush dengan penuh nafsu mencium dan membantingnya ke kasur lalu menindihnya, tanpa aba aba dia memasukkan juniornya ke dalam lembah itu.
"Argh...kamu apa apaan Dariush?" Teriak Bella dia sedikit berontak tangannya memukul mukul dada suaminya.
"Tatap mataku, Arabella. Apa kamu tidak bisa melihat cinta di mataku hah?"
"Ahh...aku_" Bella membalikan suaminya di bawah, kini ia di atasnya tangannya meraba perut sixpack itu.
"Jangan banyak bicara, kamu ingin ini kan?" Bella mulai bermain di atas sana dengan liar.
"Shit Bella...ahh!"
Keduanya mendesah merintih sehingga keringat membasahi tubuh mereka. Bukan sekali melakukannya tapi berkali kali. Dirasa waktu terlalu lama Bella menyudahi kegiatan panasnya.
Bella beranjak ke kamar mandi, jalannya sedikit aneh. "Aku mau mandi, mana baju ku? Ini rumah siapa!" Tanya Bella datar.
Dariush bangun menggendong istrinya ke kamar mandi, ia tidak tega melihat cara jalannya yang aneh. Bella diam saja tak membantah atau menolak. Di dalam sana keduanya mandi bersama. Tidak ada penyatuan lagi.
"Arabella." Tangan Dariush memeluk Bella dari belakang saat didalam bathub berisikan air hangat.
"Hhmm apa?" Jawab Bella malas.
"Apa di sana kamu sudah punya kekasih?" Tanya Dariush tiba tiba, entah kenapa dia ingin istrinya menjawab TIDAK!
"Tidak! Tapi aku punya sahabat baik, Dylan. Dia sangat menyayangiku sejak kecil sampai sekarang. Tiba tiba aku rindu dia. Sedang apa yah dia disana?" Celetuk Bella polosnya.
Wajah Dariush seperti ingin memakan orang mendengar istrinya menyebut nama pria lain. "Sudah bicaranya?" Tanyanya datar.
Bella mengernyitkan dahinya heran dengan suaminya ini. "Kamu kan yang tanya barusan kok gitu ngomongnya? Ayo cepat aku lapar kamu senang sekali buat aku kelaparan." Ketika Bella ingin berdiri namun suaminya menahannya.
"Hmm kita selesaikan."
Untung saja Fabio sudah menyimpan baju baju mereka di ruang tamu, saat mereka sedang bergelut di atas kasur tadi. Dariush keluar membawanya ke kamarnya.
Keduanya selesai mandi bahkan Dariush yang memakaikan istrinya baju. Lagi lagi dia harus menelan ludah kala melihat keindahan tubuh sang istri yang mulus dengan aset yang padat. Dia juga mengeringkan rambut istrinya di meja rias dengan telaten.
"Kita dimana? Kamu belum jawab!"
"Di penthouse."
Bella menganggukkan kepalanya pelan. "Pantas saja beda, aku pikir kita di hotel. Tolong pesankan makanan yang enak enak yah. Aku yakin disini tidak ada stok makanan." Bella berdiri dan bercermin lalu dia keluar kamar tanpa menunggu suaminya.
"Cemilan ringan."
"Tidak mau, aku lapar." Ketus Bella.
Matanya celingukan memandang setiap sudut penthouse milik suaminya. "Wow aku seperti hidup di negeri dongeng. Punya suami kaya raya dan tampan." Sinis Bella tersenyum getir.
Perkataan Bella jelas menyindir suaminya. Namun Dariush tak menanggapi ocehan istrinya, wajahnya terlihat tenang tapi mematikan lawannya.
Dariush menghubungi Fabio dan memintanya memesankan makanan. Dia menyusul sang istri ke balkon lalu memeluk erat perutnya dan menyandarkan dagunya ke bahu istrinya.
"Sepertinya aku harus punya anak supaya dapat harta warisan mu." Bella tertawa sumbang menertawakan kehidupannya.
"Habiskan saja hartaku asal kamu hidup bersamaku."
DEG
"Kamu sudah mendapatkan tubuhku, jadi kapan aku akan mati disini?" Celetuk Bella yang memancing emosi suaminya.
Dariush membalikan istrinya dan membelai pipi sang istri lembut. "Jaga bicaramu honey. Kamu bukan budak ku, kamu istriku, milikku, mengerti?"
Bella menghempaskan kedua tangan Dariush kasar dia berjalan ke meja makan. "Dimana makanannya aku lapar." Tuturnya, dia duduk dan memalingkan wajahnya.
Dariush masih di posisinya, dia menghela nafasnya berat. Ternyata susah juga untuk menaklukkan hati istrinya. Dengan menahan emosi dan tetap tenang, Dariush menyusul istrinya ke meja makan.
Keduanya terdiam tak ada yang bicara lagi. Hingga bel pintu ini bunyi, Dariush berdiri dan membukakan pintunya. Akhirnya Fabio datang membawa banyak sekali makanan.
"Thank you. Kau bisa kembali."
"Baik boss!"
Dariush menyiapkan makanan itu ke piring dan menyajikannya ke hadapan istrinya. Mata Bella bahagia dan menyantap hidangan lezat itu tanpa menawari suaminya. Mereka makan bersama tanpa ada yang bicara.
Selesai makan Dariush merogoh sesuatu dari paper bag yang dibawa Fabio tadi. "Apa ini?" Tanya Bella datar, ia menerima sebuah dus kecil dari suaminya.
"Buka saja!"
Begitu Bella membukanya matanya membulat ternyata ponsel miliknya. "Handphone ku!" Teriaknya dengan sumringah.
Dia langsung menghubungi Natasha saat itu juga. Bella mengobrol sebentar dengan Natasha. "Nanti aku hubungi lagi."
"Dimana passport ku?" Celetuk Bella.
"Untuk apa?" Tanya Dariush penasaran.
"Aku harus ke Inggris, tepatnya ke Istana kerajaan. Mereka memesan beberapa gaun dariku untuk acara resmi penobatan anaknya. Aku harus kesana. Pegawai ku akan pergi minggu depan." Tutur Bella panjang lebar.
"Hmm..kita pergi bersama sekalian bulan madu. Fabio akan mengurusnya." Jawab Dariush tenang.
"Terima kasih tuan Dariush, ternyata suamiku ini masih punya hati. Aku mau pulang. Tapi aku enggak mau pulang ke rumah kamu. Itu bukan rumah tapi penjara." Ucap Bella ketus.
"Ingin rumah yang seperti apa?"
Otak wanita bermanik hazel gray itu nampak sedang berpikir sambil menggigit bibirnya.
"Aku ingin rumah yang tenang, ada tempat untuk aku bekerja. Lalu...eum kamar yang penuh kaca dan warna cat pastel yang muda. Terus apa lagi yah. Entahlah...kamu atur saja!" Jawabnya.
Kepala Dariush mengangguk pelan. Ketika dia akan berdiri membawa piring kotor ke mesin cuci otomatis, lalu ponsel istrinya bunyi. Bella juga menoleh ternyata Dylan berhasil menghubunginya.
"Hallo Dylan...astaga... aku rindu kamu!" Bella langsung berdiri dan menjauh dari sang suami. Dariush menghela nafasnya dan berjalan menyusul istrinya.
Bella berdiri diruang tamu dekat jendela, senyumnya mengembang saat Dylan menghubunginya. "Aku baik baik saja, kamu jangan khawatir." Ucapnya.
"Ehm."
"Nanti aku hubungi lagi yah, bye." Bella segera menutup teleponnya. Dia menengok sang suaminya yang sudah memasang muka masam. Dia mendekatinya dan memeluknya erat.
"Terima kasih suamiku." Bella berjinjit ia mencium pipi Dariush lembut ditambah senyuman manis di bibirnya.
Dariush tentu saja terkejut akan perlakuan istrinya. "Hmm..Ayo kita keluar." Ajaknya.
Bella menuruti suaminya. "Mau kemana kita ?"
"Membeli rumah yang kamu inginkan."
GLEG