“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Yura bangkit dari duduknya. Gerakannya tenang, namun sorot matanya berubah, lebih tajam, lebih waspada. Dia berdiri tegak di hadapan Shasmita, napasnya tertahan namun suaranya tetap terkendali.
“Nona Shasmita,” ucap Yura pelan, “tolong jujur.”
Shasmita menoleh.
“Apa sebenarnya yang Anda inginkan dari saya?”
Kalimat itu meluncur tanpa emosi, justru itu yang membuatnya terasa berat.
“Sejak Anda kembali,” lanjut Yura, “sejak Anda bersikeras tinggal di villa keluarga Pradipta, saya sadar … saya yang menjadi target.”
Tatapan Yura mengeras. “Kakak Anda, Tuan Sky, juga seakan mendekati saya. Apakah ini semua hanya trik supaya saya menjauhi Arga?”
Shasmita terdiam sepersekian detik, lalu berdiri dari sofa. Ekspresinya berubah, bukan marah, bukan tersinggung, melainkan sesuatu yang lebih tulus.
“Tidak,” katanya cepat. “Aku tidak punya niat terselubung.”
Dia melangkah mendekat. “Aku memang tahu semua tentangmu, Yura. Dan aku tahu semua ini hanyalah permainan Arga.”
Nada suaranya menurun, nyaris getir. Yura menatapnya tanpa berkedip. Shasmita lalu melakukan sesuatu yang tak Yura duga, ia menggenggam tangan Yura erat, seolah takut dilepaskan.
“Yura,” katanya lirih, “apa kamu benar-benar melupakanku?”
Pertanyaan itu membuat kening Yura berkerut dalam.
Potongan ingatan berkelebat di benaknya, masa SMA yang sunyi, statusnya sebagai anak pindahan dari desa, hari-hari ketika ia selalu sendirian. Ia tak pernah punya sahabat dekat. Tak pernah benar-benar masuk ke lingkaran siapa pun.
'Bagaimana mungkin aku mengenalmu?' batinnya kacau tatapannya tetap penuh kecurigaan.
'Kau dari dunia yang bahkan tak pernah menyentuh hidupku.'
Yura perlahan menarik tangannya dari genggaman Shasmita.
“Aku tidak mengenal Anda,” ucapnya jujur, nyaris dingin. “Dan aku tidak mengerti maksud semua ini.”
Ia berbalik, berniat meninggalkan kamar itu. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu terbuka dari luar, Yura membeku.
Di ambang pintu berdiri Arga, wajahnya mengeras melihat posisi mereka. Di sampingnya, Sky berdiri dengan ekspresi sulit ditebak, tenang, namun matanya langsung menangkap ketegangan di ruangan itu.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Arga dingin.
Shasmita segera melangkah ke depan, memotong keheningan yang menggantung.
“Aku hanya mengobrol sebentar dengan Yura,” katanya ringan, seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi. Ia bahkan tersenyum ramah ke arah Arga.
“Dia benar-benar orang yang asyik. Aku senang kau membiarkannya tinggal di villa selama kami berada di sini.”
Nada Shasmita terdengar tulus dan itu terlihat terlalu tulus. Arga membalas senyum itu, senyum yang tampak hangat di permukaan.
“Tidak masalah,” ujarnya singkat.
Namun, sesaat kemudian, tatapannya bergeser ke arah Yura. Tajam, menekan dan penuh peringatan.
Yura spontan menunduk, jemarinya mengepal tanpa sadar. Dia tahu tatapan itu, tatapan yang selalu mengingatkannya pada satu hal, posisimu hanya pengganti.
Sky yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju, memecah suasana.
“Oh ya,” katanya santai namun terukur, “aku mendapat undangan peresmian cabang baru Perusahaan Wijaya. Tadi pagi undangannya sampai ke kantor. Malam ini akan ada pesta perjamuan.”
Ia menoleh ke Shasmita. “Apa kamu mau ikut?”
Wajah Shasmita langsung berseri, namun hanya sesaat. Ia lalu menggeleng pelan.
“Tidak,” jawabnya lembut. “Aku sudah berjanji menemui seseorang nanti malam dan ini sangat penting.”
Arga mengangguk kecil, lalu berkata seolah tanpa beban, “Kebetulan aku juga mendapat undangan.”
Ia melirik Yura. “Yang diundang aku dan Yura. Jadi nanti malam aku akan membawanya.”
Kalimat itu membuat udara kembali berubah. Sky mengangkat alis tipis, lalu tersenyum samar.
“Tuan Arga terlalu baik,” katanya dengan nada yang terdengar bercanda, namun menyimpan makna lain.
“Sampai membawa asisten ke pesta perjamuan sebesar itu. Apa tidak masalah dengan Shasmita?”
Pertanyaan itu sengaja diarahkan bukan hanya pada Arga, tapi juga pada reaksi Shasmita.
Arga melirik Shasmita sekilas. Ada sesuatu di mata wanita itu, pandangan tak suka yang cepat disembunyikan di balik senyum tipis.
“Tidak masalah,” jawab Arga datar. “Yura terbiasa mendampingiku.”
Yura menelan ludah, dia tahu betul pesta perjamuan seperti apa yang dimaksud Arga, tempat penuh tatapan menilai, bisikan licik, dan tempat di mana rakyat miskin tak bisa melakukan apapun untuk membelanya.
Sky menatap Yura lebih lama dari seharusnya. Ada ketidaknyamanan jelas di wajah gadis itu. Bahunya kaku, matanya menunduk, seolah ingin menghilang.
'Ini bukan sekadar perjamuan,' pikir Sky.
Dia mengenal dunia bisnis itu terlalu baik. Dan ia juga mengenal Arga, cukup untuk tahu bahwa setiap langkahnya jarang tanpa maksud.
Shasmita tersenyum, lalu berkata dengan nada ringan namun sarat makna,
“Aku percaya pada Arga.”
Ia melangkah mendekat, jemarinya menyentuh lengan Arga dengan gestur manja.
“Dia pasti akan menjaga hatinya untukku.”
Kalimat itu terdengar seperti gurauan, tetapi cara Shasmita mengatakannya bukan tanpa arah. Saat ia berbicara, matanya justru melirik Yura, sekilas saja, namun cukup jelas untuk menyampaikan pesan.
Namun, Yura tidak bereaksi seperti yang mungkin diharapkan. Wajahnya tetap teduh, tatapannya tenang. Bahkan, ada senyum tipis yang nyaris tak terlihat, senyum yang bukan kepasrahan, melainkan penuh perhitungan.
Senyum orang yang sudah tahu posisinya, sudah tahu permainan ini, dan memilih berdiri di luar lingkaran emosi.
Arga tersenyum menanggapi godaan Shasmita, lalu meraih ponselnya.
“Aku harus ke kantor,” katanya singkat. “Ada urusan mendesak.”
Sky yang sejak tadi memperhatikan semuanya dengan saksama ikut melirik jam tangannya.
“Aku juga,” ujarnya. “Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan hari ini.”
Ia menoleh sebentar ke arah Yura. Pandangan itu tenang, dalam, seolah ingin mengatakan sesuatu namun urung. Sky hanya mengangguk kecil, lalu beralih pada Shasmita.
“Kita bicara lagi nanti.”
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki menjauh.
"Ayo kita ngobrol lagi tanpa harus berpura - pura," kata Shasmita. Berarti Shasmita menangkap semua ketenangan Yura adalah kebohongan, Yura pandai bersikap di depan Arga.
"Tidak, Nona. Aku akan pergi mempersiapkan diri untuk pesta malam nanti. Aku harus menghubungi sekretaris Tuan Arga untuk memintanya mengirimkan pakaian untuk nanti malam," ujar Yura.
"Baiklah, jika butuh apapun kabari aku segera," kata Shasmita, Yura hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Setelah kepergian Yura, ponsel Shasmita berdering.
"Iya sayang,"
[Kita bertemu siang ini, nanti malam aku mungkin sibuk.] kata seseorang di seberang sana dan Shasmita langsung tersenyum, panggilan terputus.
"Aku akan membereskan kekacauan ini segera!" gumam Shasmita saat panggilan telah terputus dan menggenggam ponselnya erat.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂