NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Ruang Ajaib / Sistem / Time Travel / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:39.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHARANI 29

Kegelapan merayap di dasar Jurang Kematian seperti kabut yang haus akan nyawa. Di bawah sana, di mana cahaya matahari jarang menyentuh tanah, Wu Sheng memimpin pasukan elit dengan obor yang menyala redup. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara gemericik air sungai yang deras dan desis ular berbisa yang sesekali melintas di balik semak berduri.

"Cari setiap jengkal! Jangan biarkan satu batu pun terlewat!" perintah Wu Sheng, suaranya parau karena debu dan kecemasan.

Seorang prajurit tiba-tiba berteriak dari balik reruntuhan tebing. "Tuan Wu! Di sini! Ada jejak darah!"

Wu Sheng melompat cepat ke arah sumber suara. Di atas bebatuan yang tajam, terdapat bercak darah merah pekat yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, tanah tampak terseret, menandakan seseorang atau sesuatu telah jatuh atau diseret dari sana. Wu Sheng berlutut, jemarinya meraba tanah yang lembap. Matanya tertuju pada sebuah benda kecil yang berkilau di antara lumut.

Ia memungutnya. Itu adalah Gantungan Giok Naga Putih benda kesayangan Pangeran Mu Lian yang selalu tergantung di pinggangnya.

"Hanya ini?" gumam Wu Sheng, jantungnya serasa diremas. "Pangeran Lian... di mana Anda?"

Ia menatap ke arah aliran sungai yang mengalir sangat kencang menuju terowongan bawah tanah yang gelap. Jika Mu Lian jatuh ke dalam air itu dalam kondisi terluka parah, kemungkinannya untuk selamat sangatlah kecil.

"Tuan, hari mulai gelap. Udara di bawah sini mengandung racun rawa, dan predator malam mulai bermunculan. Kita tidak bisa melanjutkan pencarian dalam kegelapan total tanpa membahayakan nyawa prajurit," lapor salah satu kapten.

Wu Sheng mengepalkan tangannya hingga giok di genggamannya terasa menusuk kulit. "Tarik mundur pasukan. Kita kembali ke atas dan susun rencana pencarian fajar besok. Tapi ingat, jangan ada yang menyebarkan berita bahwa kita hanya menemukan giok ini. Mengerti?"

"Siap, Tuan!"

Sementara itu, di Istana Chiangnang, atmosfer terasa lebih dingin daripada di luar. Di atas ranjang naga yang megah, Shen Yuhan masih terbaring kaku. Wajahnya tenang seperti patung giok, namun nafasnya masih sangat tipis. Meskipun Tetua Mo telah menyambung kembali meridiannya yang hancur, sang Maharani seolah enggan untuk bangun, terjebak dalam tidurnya yang panjang.

Shen Lan berdiri di samping ranjang, menatap kakaknya dengan mata yang memerah karena kurang tidur. Ia baru saja menerima laporan dari Wu Sheng. Saat giok putih itu diletakkan di tangannya, Shen Lan hampir kehilangan kekuatannya untuk berdiri.

"Mu Lian belum ditemukan... dan Kakak tidak kunjung bangun," bisik Shen Lan pada udara kosong. "Dunia ini benar-benar ingin menghancurkanmu, Kak."

Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari aula depan istana. Langkah kaki berat para menteri dan gemerincing zirah pengawal terdengar mendekat.

"Kami ingin bertemu Maharani! Kami mendengar kabar bahwa Yang Mulia terluka parah dalam serangan pembunuh!" teriak suara yang sangat dikenal Shen Lan, itu adalah suara Menteri Pertanian, kaki tangan Han Tan.

"Pemerintahan tidak bisa berjalan tanpa komando! Jika Maharani tidak bisa bicara, kami butuh kepastian!" sahut menteri lainnya.

Shen Lan berjalan keluar dengan langkah tegap. Begitu ia melewati ambang pintu, ia langsung mencabut pedang peraknya.

SREEEKK!

Ujung pedangnya terhunus, hanya beberapa inci dari leher menteri yang paling depan.

"Langkah satu inci lagi, dan kepala kalian akan bergulir di lantai ini!" bentak Shen Lan, auranya meledak penuh ancaman.

"Pangeran Keempat, kami hanya peduli pada negara—"

"Peduli pada negara atau peduli pada kursi kosong?" potong Shen Lan tajam. "Maharani sedang memulihkan diri setelah serangan pengecut semalam. Siapapun yang berani mengganggu istirahatnya akan dianggap sebagai pengkhianat dan musuh langsung dariku, Shen Lan!"

Para menteri itu mundur perlahan, ketakutan melihat kilatan haus darah di mata sang pangeran. Namun, Shen Lan tahu, ini hanyalah kemenangan kecil. Besok pagi, sidang umum akan diadakan, dan ia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan pedangnya.

Rencana di Kediaman Han

Di saat yang sama, di kediaman mewah Perdana Menteri, Han Tan dan Shen Bo sedang menikmati kemenangan yang belum sepenuhnya mereka genggam. Mereka duduk berhadapan dengan cangkir arak yang terisi penuh.

"Zao Yun telah gagal, tapi pembunuh dari faksi lain justru mempermudah jalan kita," ujar Han Tan sambil tersenyum licik. "Mu Lian lenyap ke dasar jurang, dan Yuhan sekarat. Ini adalah waktu yang kita tunggu-tunggu, Pangeran Kedua."

Shen Bo menyesap araknya, matanya berkilat ambisi. "Shen Lan mencoba menutupi kondisi Maharani Yuhan, tapi berita sudah menyebar seperti api di antara para pelayan. Sidang besok pagi akan menjadi panggungku."

"Benar," dukung Han Tan. "Besok, aku akan memprovokasi para menteri untuk mempertanyakan kredibilitas Maharani yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Kita akan mengusulkan Anda sebagai Wali sementara atau Wakil Maharani. Dengan tahta yang goyah, kita bisa perlahan-lahan mengunci setiap kebijakan kerajaan di bawah nama Anda."

"Lalu bagaimana dengan Shen Lan?" tanya Shen Bo. "Dia punya pasukan dan dia sangat setia pada Yuhan."

Han Tan tertawa hambar. "Seorang pangeran muda yang hanya tahu membangun bendungan tidak akan bisa bertahan di lautan politik yang penuh hiu. Besok, kita akan membuat dia terpojok sampai dia tidak punya pilihan selain menyerahkan kunci istana."

Kembali ke istana, Shen Lan memanggil Wu Sheng ke ruang kerjanya yang gelap.

"Wu Sheng, besok pagi adalah pertaruhan terakhir kita," ucap Shen Lan dengan nada serius. "Pihak Han Tan pasti akan bergerak untuk mengklaim kursi naga saat sidang berlangsung."

"Apa rencana Anda, Pangeran?"

"Aku ingin kau membawa pasukan elit terlatih, pilih orang-orang yang paling setia pada Mu Lian dan Maharani Shen. Sembunyikan mereka di balik tirai aula sidang. Jangan biarkan siapapun menyadari kehadiran mereka kecuali aku memberikan tanda."

Shen Lan menatap pedangnya yang baru saja ia asah. "Jika mereka mencoba melakukan intervensi atau memaksa Shen Bo duduk di kursi itu... aku akan mengubah aula sidang menjadi ladang pembantaian. Aku tidak akan membiarkan tahta Phoenix milik Kakak dicemarkan oleh pengkhianat, meski aku harus mandi darah di depan seluruh pejabat kerajaan."

"Hamba mengerti, Pangeran. Nyawa hamba adalah jaminannya," Wu Sheng membungkuk dalam.

Malam semakin larut. Di kamar naga, jemari Yuhan tiba-tiba bergerak sedikit, sangat halus hingga tak ada pelayan yang menyadarinya. Di alam bawah sadarnya, Yuhan sedang bertarung dengan bayang-bayang luka dalamnya sendiri, mencoba memecah penghalang energi yang mengunci kesadarannya.

"Mu... Lian..." gumamnya tanpa suara.

Fajar hampir tiba. Cahaya oranye mulai mengintip di ufuk timur, membawa serta badai politik yang mungkin akan mengubah sejarah Dinasti Shen selamanya. Kursi naga telah disiapkan, namun pemiliknya masih berada di ambang antara hidup dan mati, sementara para serigala sudah mulai melongokkan kepala mereka, siap untuk menerkam.

1
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
SENJA
weeeh adegan dewasa 🤣
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: Spil doank dikit🤣
total 1 replies
SENJA
udah bucin lagi ama yuhan, baguslah😅🤣
Tiara Bella
Lian minta es batu lg untuk meredakan gejolak yg makin membara wkwkkwkw ..
@Mita🥰
wkwkwk ku kirain sembuh setelah ciuman Ama yuhan ternyata tambah 🤣🤣🤣🤭🤭🤭
Biyan Narendra: Beku dah tuh..
🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Pa Muhsid
satu ember lagi, lagi? ya lagi dan lagi
Pa Muhsid
sama tante lux aja ya😄😄😄
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: belom ada yang jual 🤭🤭🤭
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
Mu Lian pasti sudah mengingat dengan baik tentang Maharani makanya mau ikut pergi dan sepertinya Yuhan tidak mau pangeran ke-lima ikut karena kondisi Mu Lian masih belum stabil
Biyan Narendra
Gadis kecil itu adalah istrimu di saat ini
Tiara Bella
Lian terbawa emosi dia....dikatain Maharani
Tiara Bella: hooh ya....
total 2 replies
SENJA
memang bener kan tapi ... nanti aja kalau sudah sembuh 😁
SENJA
aaahhh paya menteri2 mu 😶
@Mita🥰
sabar ya mu Lian si Maharani lagi beresin tikus"🤭🤭🤭
SENJA
lu jangan macem2 ama yuhan udah 😤
SENJA
wakakaa kalah kau kan 🤣
SENJA
sabar lan sabar 🤣
Tiara Bella
kepedean bngt sh Shen Bo ini.....
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
Shen Bo kau pikir mudah mau menghancurkan Qingmei dia sekarang bukan hanya seorang anak menteri kelesss tapi sudah naik statusnya menjadi seorang Putri yang akan jadi istrinya pangeran keempat
Biyan Narendra
Dan Shenlan akan jadi pelindung Qingmei jika Shen bo berani macam macam
@Mita🥰
wah semoga qingmei gak kenapa"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!