"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Wajah Asli Sahabatku
“Plakk!”
Satu tamparan keras mendarat di pipi Laura. Seketika itu juga Laura terperanjat, tak menyangka Karin akan melakukan hal seberani itu.
“Karin! Kamu apaan sih?! Kenapa kamu tiba-tiba nampar Laura?” bentak Dirga yang shock melihat sikap Karin. Ia mengira istrinya telah dikuasai rasa cemburu berlebihan.
“Mas bilang aku kenapa?” dada Karin terasa sesak, bukan hanya karena marah, tapi juga karena kecewa. “Coba Mas tanya ke Laura sendiri! Kenapa dia pakai baju seksi seperti itu dan bersandar manja di bahu Mas?”
“Sayang, kamu salah paham,” ucap Dirga berusaha menenangkan. “Laura cuma membukakan pintu untuk Mas. Mas sama Laura nggak ngapa-ngapain.”
Namun penjelasan Dirga tak serta-merta membuat Karin percaya. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Sikap Laura yang semakin terang-terangan mencuri perhatian suaminya membuat kecurigaan Karin semakin kuat, meski ia belum memiliki bukti apa pun.
Laura yang merasa tersinggung karena dituduh macam-macam langsung berlalu menuju kamarnya. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana—mengadu pada Mama Mona, ibu sambung Karin. Meski hanya ibu sambung, Mona sangat menyayangi Karin, dan Laura berniat membalikkan keadaan agar Mama Mona perlahan membenci Karin.
Tung… ting… tung…
Nada dering ponsel memecah kesunyian malam. Mona yang sedang bersantai di kamar segera mengambil ponselnya. Di layar tertera nama Laura. Tanpa berpikir panjang, Mona mengangkat telepon itu.
“Halo, Laura, sayang. Ada apa kamu menelepon Mama malam-malam? Kok suaramu seperti habis menangis?” tanya Mona cemas.
“Mah… Karin jahat sama aku,” tangis Laura pecah. “Dia tiba-tiba menampar aku tanpa alasan. Padahal aku cuma membukakan pintu buat Mas Dirga yang baru pulang kerja. Tapi Karin salah paham dan menuduh aku macam-macam.”
“Kamu tenang dulu ya, Laura,” ucap Mona lembut. “Nanti Mama akan bicara sama Karin supaya dia nggak bersikap seperti itu lagi.”
“Iya, Mah. Makasih ya, Mama sudah ngerti aku,” jawab Laura sambil pura-pura terisak.
“Sudah, jangan sedih lagi. Mama janji akan menegur Karin.”
Telepon pun berakhir.
Di balik air mata palsunya, Laura tersenyum tipis.
Mampus kamu, Karin. Aku akan membuat hidupmu benar-benar menderita, batinnya penuh kemenangan.
Tak lama kemudian, Mona langsung menghubungi Karin. Meski Karin adalah anak tirinya, Mona justru lebih menunjukkan kasih sayang pada Laura, sesuatu yang selalu membuat Karin heran.
Saat Karin hendak beristirahat, ponselnya berdering. Ia mengambilnya dan melihat nama Mama Mona tertera di layar.
Ada apa Mama menelepon malam-malam begini? batin Karin.
“Halo, Mah. Ada apa ya? Kok tumben Mama menelepon Karin malam-malam?” tanya Karin hati-hati.
“Karin! Kamu kenapa sih jahat banget sama Laura?” bentak Mona. “Emangnya dia salah apa sampai kamu tega menampar dia?”
Karin terkejut. Ia tak menyangka Laura akan mengadukannya.
“Mah, wajar dong aku marah!” jawab Karin dengan suara bergetar. “Laura lancang, Mah. Di depan mata aku sendiri, dia bergelayut manja di bahu Mas Dirga. Gimana aku nggak cemburu?”
“Halah! Kamu lebay!” potong Mona ketus. Laura cuma membukakan pintu. Nggak ada yang aneh-aneh. Harusnya kamu kasihan sama dia. Dia di sini cuma punya kamu sebagai sahabatnya. Jangan langsung mikir yang nggak-nggak!”
Ucapan Mona membuat hati Karin terasa perih. Ia merasa diperlakukan berbeda.
Sebenarnya anak Mama itu aku atau Laura, sih? Kenapa Mama selalu membela Laura? gerutu Karin dalam hati.
Dengan langkah cepat, Karin turun ke lantai bawah. Tatapannya tajam saat berdiri di depan pintu kamar Laura.
“Laura!” teriak Karin, suaranya gemetar menahan amarah.
Laura membuka pintu dengan wajah kesal. “Ada apa sih, Rin? Kamu teriak-teriak, berisik tahu!”
“Heh, Laura! Ngapain kamu mengadu ke Mama soal aku menampar kamu? Kamu sengaja bikin Mama marah sama aku, kan?” hardik Karin.
Laura tersenyum sinis. “Ya jelas dong. Supaya hidup kamu menderita, Karin. Aku mau semua yang kamu punya jadi milikku. Termasuk Mas Dirga,” ucapnya disertai tawa kemenangan.
Deg!
Hati Karin seakan runtuh. Ia tak menyangka pengkhianatan itu datang dari sahabat yang selama ini ia tolong dan lindungi.
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak