NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ppm5

Mia hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Perubahan Johan semakin terasa. Ia mulai pulang lebih larut dari biasanya. Bukan sekali dua kali. Hampir setiap malam. Saat ditanya, jawabannya selalu sama.

“Lembur.”

Mia tidak mengecek. Ia tidak ingin mencari masalah. Namun kebiasaan makan malam bersama perlahan menghilang.

Suatu malam, johan pulang hampir tengah malam dan Mia masih terjaga.

“Kamu belum tidur?” tanya Johan sambil melepas sepatu.

"Belum,aku nunggu kamu. " Jawab Mia

Johan hanya mengangguk. Ia masuk kamar mandi tanpa berkata apa-apa.

Beberapa hari kemudian, ibunya Johan kembali menyinggung soal dokter.

“Mia apa kamu tidak pakai sesuatu?.”

Mia mengangkat wajahnya.

“Maksud Mama?”

Ibunya tidak menjawab langsung.

“Ya semacam suntik implan atau minum pil mungkin. "Jelas Ibu Mertuanya

" Tidak Ma, saya tidak menggunakan itu semua. "Sanggah Mia tegas, Ibu Mertuanya mengangguk dan tidak meneruskan pembicaraan

Saat Johan pulang malam itu, Mia mencoba bicara.

"Jo, kamu ingat kan kata dokter tempo hari, tidak bisa hanya satu pihak yang jalani pemeriksaan. ".

Johan terlihat tidak sabar.

“Kenapa sih kamu ikut-ikutan Mama?”

" Ya biar semua jelas, jangan selalu aku yang yang di pojokan atau di dakwa macam macam sama Ibu kamu."

“Kamu pikir aku tidak kepikiran?” suara Johan meninggi.

“Setiap hari aku sudah dapat tekanan dari atasan, sekarang kamu ikut menekan aku?.”

Kata-kata itu membuat Mia tercekat. Ia tidak menyangka akan menerima jawaban seperti itu.

Sejak malam itu, pembicaraan mereka semakin jarang. Johan lebih sering sibuk dengan ponselnya. Jika Mia bertanya, jawabannya singkat.

Ibunya Johan mulai lebih sering menelepon Johan langsung. Nada suaranya mendesak, bahkan menyudutkan.

“Coba tanya istrimu itu betul tidak dia tidak kb, Mama sudah tanya tapi dia bilang tidak Mama kok agak ragu. ”

Mia mendengar beberapa percakapan itu dari balik pintu kamar. Ia tidak lagi tahu posisinya di rumah ini. Apakah sebagai istri, atau hanya seseorang yang ditunggu hasilnya.

Suatu pagi, Mia mendapati pesan singkat dari ibunya Johan.

"Ramuan yang kemarin jangan lupa diminum,"

Mia memandang layar ponselnya lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab.

Saat sedang menyiapkan sarapan untuk Johan Mia memberi tahu Johan bahwa ia ingin menjenguk Umi dan Abahnya karena sudah lama tidak menjenguk mereka.

"Kenapa tidak nunggu aku libur kan bisa aku antar?."Jawab Johan .

"Gak apa apa aku bisa naik taxi." Sahut Mia pendek.

Johan mengagguk

"Ya sudah hati hati sampaikan salam buat Abah dan Umi."Lanjutnya kemudian.

Setelah Johan berangkat kekantornya Mia langsung berkemas, ada rasa bahagia yang muncul di harinya saat mengingat ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya.

Setibanya di rumah orang tuanya, rumah itu masih sama seperti yang dulu , Nyaman tenang, dan terasa aman. Namun Mia justru merasa sesak begitu melangkah masuk.

"Assalamualaikum?."Ucap Mia di depan pintu.

"Waalaikumussalam."

Uminya langsung menyambut dengan senyum, tapi tatapan itu terlalu lama menatap wajah Mia.

"Kamu kurusan,” ujar uminya sambil merangkul Mia.

“Perasaan Umi saja,” jawab Mia cepat.

Mereka duduk di ruang tengah. Abah masih di kamar, sedang beristirahat. Uminya menyuguhkan teh hangat, lalu duduk di samping Mia. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan berarti.

Sesaat Mia minta izin untuk masuk kekamarnya, kamar semasa ia gadis ia rindu dengan suasana kamar itu.Tidak lama Ibunya menyusul masuk dan duduk disampingnya.

“Mia,” panggil uminya pelan.

“Kamu baik-baik saja, kan?”

"Mia mengangguk.

“Mia baik baik saja Mi..”Jawab Mia sambil tersenyum.

Namun Ibunya tidak langsung percaya. Ia menatap Mia lebih dalam.

“Mia,” katanya lembut,

“Umi ini membesarkan kamu dua puluh lima tahun, Kamu pikir umi tidak tahu kalau kamu sedang menahan sesuatu?.”

Tangan Ibunya meraih tangan Mia hangat dan menenangkan.

“Mia,” ulangnya,

"Jujur sama Umi, benar kamu baik baik saja Nak?.”

Pertahanan Mia runtuh. Air mata yang sejak lama ia tahan akhirnya jatuh. Ia terisak pelan, menunduk agar suaranya tidak terdengar oleh Abahnya.

“Mi… aku capek,” ucapnya terbata.

Uminya langsung memeluknya. Tidak bertanya apa pun membiarkan Mia menangis di bahunya.

“Kenapa, Nak?” tanya uminya setelah tangis Mia sedikit reda.

“Cerita sama Umi.”

Mia mengusap wajahnya.

“Aku sudah berusaha buat yang terbaik Mi, tapi rasanya semua yang aku lakukan selalu salah.”

Mia terdiam sejenak.Uminya mengernyit.

“Selalu salah bagaimana?.”

Ia lalu bercerita tentang pertanyaan yang datang hampir setiap hari. Tentang ramuan yang harus diminum tanpa tahu dampaknya.

“Mama Johan terus mendesak soal keturunan,” lanjut Mia dengan suara bergetar.

“Aku disuruh minum ramuan yang aku sendiri tidak tahu gunanya apa. Aku juga dipaksa periksa, seolah semuanya salahku aku terhina Mi. "Ujar Mia di sela isaknya.

Uminya menarik napas dalam. Tangannya gemetar, menahan emosi yang tiba-tiba naik. “Keterlaluan!,” ucapnya pelan namun tegas. “Kenapa kamu tidak pernah cerita, Mia?”

“Aku tidak ingin membebani Umi dan Abah,” sahut Mia di sela isaknya.

“Umi tidak pernah mengajarkan kamu untuk menyalahkan diri sendiri atas hal yang bukan kesalahanmu,” ujar uminya tegas.

“Dan kamu manusia,” potong uminya.

“Bukan mesin penghasil keturunan.”

Uminya meraih ponselnya. Jarinya bergerak cepat, membuka daftar kontak.

“Biar umi bicara sama ibunya itu, ini sudah kelewatan.”

Mia segera mencegah. Ia menggenggam tangan uminya.

“Umi jangan nanti masalahnya tambah runyam.”

Uminya menatap Mia lama, lalu menurunkan ponselnya perlahan.

“Tapi hati Umi sakit Mia,”

“Kamu sudah bicara sama Johan?” tanya uminya.

“Sudah Johan pun marah pada Ibunya.”Sahut Mia

Uminya menarik napas panjang.

“Kamu jangan diam Mia kamu berhak untuk bicara sekalipun itu Ibu mertuamu, tentunya dengan adab.”Mia mengangguk pelan.

“Mia,” lanjut uminya,

“Mulai detik ini apapun yang kamu rasakan,jangan di pendam sendiri, cerita sama Umi."

Air mata Mia kembali jatuh, tapi kali ini lebih tenang.

Di luar, suara langkah abah terdengar mendekat. Mia buru-buru menghapus wajahnya. Uminya tersenyum tipis, seolah berkata semuanya akan baik-baik saja, meski mereka sama-sama tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pintu kamar terbuka pelan. Abah berdiri di ambang pintu, matanya langsung tertuju pada wajah Mia yang masih basah oleh air mata.

“Mia?” panggilnya pelan.

Mia buru-buru mengusap pipinya

“Kamu tidak perlu terlihat baik-baik saja di depan Abah,” lanjutnya lembut.

Tangis Mia kembali pecah. Ia bangkit dan merangsek ke arah abahnya. Abah langsung memeluknya, mengelus kepalanya dengan sabar, membiarkan Mia menangis sepuasnya.

“Kamu tetap anak Abah,” katanya tenang.

“Meski kamu sudah berumah tangga, kalau ada apa-apa kamu harus terbuka.”

Uminya memberi isyarat halus. Abah mengangguk, lalu perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Mia dengan ibu jarinya.

“Abah tinggal sebentar, ya, tidak usah sedih ada Abah dan Umi."

Mia mengangguk pelan.

Abah dan uminya lalu keluar kamar bersama, meninggalkan Mia sendiri.

Mia duduk kembali di tepi ranjang. Tangannya menggenggam ujung selimut, napasnya belum sepenuhnya tenang. Kamar itu sunyi, tapi tidak terasa menakutkan.

Namun bersamaan dengan itu, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Sampai kapan ia harus menahan semuanya sendiri.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!