NovelToon NovelToon
Mahar Nyawa Untuk Putri Elf

Mahar Nyawa Untuk Putri Elf

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Perperangan / Elf / Action / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibuang ke neraka Red Line dengan martabat yang hancur, Kaelan—seorang budak manusia—berjuang melawan radiasi maut demi sebuah janji. Di atas awan, Putri Lyra menangis darah saat tulang-tulangnya retak akibat resonansi penderitaan sang kekasih. Dengan sumsum tulang yang bermutasi menjadi baja dan sapu tangan Azure yang mengeras jadi senjata, Kaelan menantang takdir. Akankah ia kembali sebagai pahlawan, atau sebagai monster yang akan meruntuhkan langit demi menagih mahar nyawanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Istana Ash-Valley

Roda-roda kereta pengangkut yang terbuat dari kayu dan besi tua berderit menyayat kesunyian lembah yang telah lama mati. Debu abu-abu kecokelatan berterbangan, menyelimuti rombongan kecil yang dipimpin oleh Kaelan. Di depannya, bentang alam Ash-Valley menyambut dengan pemandangan yang memilukan; lubang-lubang tambang yang menganga seperti luka yang tak pernah sembuh dan sisa-sisa gubuk yang telah runtuh dimakan waktu. Ini adalah tanah tempat Kaelan pertama kali menghirup udara sebagai anak penambang yang kotor, jauh sebelum takdir membawanya menjadi seorang penguasa dengan aura putih pucat yang kini menyelimuti kulitnya.

"Apakah ini tempatnya, Kaelan?" bisik Lyra, suaranya parau karena debu yang menyiksa paru-paru halusnya. "Tempat yang selalu kau sebut dalam ceritamu sebagai rumah?"

Kaelan menghentikan langkahnya, menatap sebuah reruntuhan gubuk kecil yang pondasinya hampir rata dengan tanah. Matanya menyipit, merasakan denyut dari "Tanah Mati" yang bergetar samar di bawah telapak kakinya—sebuah resonansi penderitaan bumi yang telah dikuras habis energinya pada masa sebelum reinkarnasi dimulai.

"Ini bukan lagi rumah, Lyra. Ini adalah saksi bisu bagaimana Benua Langit memperlakukan kita sebagai baterai yang bisa dibuang setelah habis," sahut Kaelan datar. Ia berbalik, menatap puluhan pasang mata prajurit manusia dan pengungsi Elf yang tampak ragu. "Turunkan semua logistik. Kita akan membangun markas di sini."

Bara maju ke depan, menancapkan perisai raksasanya ke tanah yang keras hingga menimbulkan suara dentuman. "Komandan, tanah ini sudah mati. Tidak ada air, tidak ada tanaman. Bagaimana kita bisa bertahan hidup di tempat yang bahkan tikus pun enggan tinggal?"

"Justru karena tempat ini dianggap mati, para pengejar dari Benua Langit tidak akan melirik ke sini, Bara," jawab Kaelan tegas. "Tanah ini tidak mati, ia hanya sedang tidur karena kelelahan. Kita akan membangunkannya kembali."

"Membangunkan tanah yang sudah kering kerontang seperti ini?" tanya Mina sambil memeriksa persediaan obat-obatan yang kian menipis. "Kaelan, alkimia paling hebat sekalipun membutuhkan bahan dasar yang hidup. Di sini hanya ada debu dan batu."

Kaelan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan menuju sebuah area yang dulunya merupakan kebun kecil di samping gubuknya. Ia berlutut, mengabaikan martabatnya sebagai seorang pemegang kekuatan Sovereign di depan rakyatnya. Dengan tangan telanjang, ia mulai menggali tanah yang mengeras itu, membiarkan kuku-kukunya berdarah saat bergesekan dengan kerikil tajam.

"Kaelan, berhenti! Kau akan melukai tanganmu," seru Lyra, mencoba mendekati Kaelan meski ia harus meraba-raba karena kain penutup matanya.

"Biarkan saja, Lyra," Kaelan terus menggali hingga menemukan lapisan tanah yang sedikit lebih lembap di kedalaman satu meter. "Martabat seorang pemimpin di Terra tidak dibangun di atas singgasana emas, tapi di atas keringat yang menyatu dengan tanah. Jika aku ingin kalian percaya pada tempat ini, aku harus menjadi orang pertama yang menyentuh intinya."

Kaelan mengeluarkan sebuah kantung kecil dari balik jubahnya. Di dalamnya terdapat benih bunga yang ia ambil secara rahasia dari Sektor Kebun Azure sebelum pelarian mereka. Ia meletakkan benih itu di lubang kecil yang ia buat, lalu ia memusatkan energi Ignition-nya. Pendar putih tenang mengalir dari telapak tangannya menuju tanah, mencoba memberikan percikan kehidupan pada esensi bumi yang telah layu.

"Kau memberikan energi murnimu hanya untuk sebutir benih?" tanya seorang prajurit dengan nada tidak percaya.

"Tanpa keindahan, perjuangan kita hanyalah pembantaian tanpa tujuan," ucap Kaelan tanpa menoleh. "Jika bunga ini mekar, maka istana kita akan berdiri tegak di lembah ini."

Lyra mendekat, ia berlutut di samping Kaelan. Ia bisa merasakan kelelahan esensi yang luar biasa terpancar dari tubuh Kaelan pasca peristiwa di gerbang Bastion. Dengan ragu, Lyra meletakkan tangannya di atas tangan Kaelan yang berdarah, mencoba menyalurkan sisa-sisa Mana murni yang masih tersisa di nadinya.

"Aku akan membantumu, Kaelan," bisik Lyra lembut. "Jika ini adalah istana yang kau janjikan, maka aku akan menjadi pondasinya bersamamu."

Resonansi antara energi Ignition Kaelan dan Mana murni Lyra menciptakan gelombang hangat yang menyapu debu-debu di sekitar mereka. Untuk sesaat, bau tanah yang haus itu berubah menjadi aroma samar melati, mengingatkan mereka pada masa-masa tenang sebelum dunia ini hancur oleh ambisi penguasa langit.

"Bara, perintahkan pasukan untuk mulai menggali sumur di titik yang aku tandai," perintah Kaelan sambil berdiri, menyeka darah di jemarinya ke jubah hitamnya. "Mina, siapkan ramuan nutrisi untuk tanah ini. Kita tidak punya waktu untuk menunggu mukjizat. Kita akan menciptakan mukjizat kita sendiri."

"Tapi Komandan, ada suara-suara aneh dari lubang tambang utama di utara," lapor salah satu pengintai dengan wajah pucat. "Seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang terbangun di kedalaman sana karena merasakan energi Sovereign milikmu."

Kaelan menatap ke arah lubang tambang yang gelap gulita di kejauhan. "Scavenger Void. Mereka selalu tertarik pada cahaya energi yang kuat. Biarkan mereka datang. Ash-Valley butuh pupuk dari darah monster untuk kembali subur."

"Kau terlalu berani mengambil risiko, Kaelan," gumam Mina sambil mulai membuka peralatan alkimianya. "Tapi kurasa itulah alasan kami masih mengikutimu hingga ke neraka kering ini."

Kaelan menatap Lyra yang masih berlutut di depan benih bunga itu. Ia merasa perih di dadanya melihat wanita yang seharusnya duduk di singgasana kristal Solaria kini harus berlumuran debu Terra. Namun, ia tahu, hanya melalui penderitaan inilah martabat mereka yang sebenarnya akan terbentuk—martabat manusia sejati yang tidak bisa dibeli dengan darah murni.

Malam turun di Ash-Valley dengan membawa udara yang jauh lebih dingin daripada di Bastion. Di tengah kegelapan, hanya api unggun kecil dari kayu-kayu bekas rel tambang yang memberikan cahaya. Kaelan berdiri di atas sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi, mengawasi para prajurit yang kelelahan. Di sampingnya, gubuk tua yang ia gali tadi siang kini menjadi pusat dari kemah sementara. Bau asap kayu yang bercampur dengan aroma logam dingin memenuhi indra penciumannya, memicu kilasan memori tentang ayahnya yang sering pulang dengan napas tersengal setelah syif panjang di perut bumi.

"Kaelan, kau belum beristirahat sejak kita tiba," suara Lyra memecah keheningan. Ia keluar dari tenda darurat dengan kain penutup mata yang tampak kusam terkena debu.

"Istirahat adalah kemewahan yang belum bisa kita beli, Lyra," sahut Kaelan tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada lubang tambang di utara yang seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya. "Tanah ini menyimpan memori tentang rasa sakit. Aku bisa merasakannya melalui setiap langkah yang aku ambil. Mereka yang mati di bawah sana... mereka masih menuntut keadilan."

Lyra melangkah mendekat, tangannya meraba lengan Kaelan yang terbalut armor kulit yang keras. "Martabat tempat ini bukan tentang berapa banyak emas yang pernah digali, tapi tentang nyawa yang bertahan di atasnya. Berhentilah menyalahkan dirimu karena tidak bisa menyelamatkan mereka di masa lalu. Sekarang, kau adalah pelindung mereka."

"Aku bukan pelindung, Lyra. Aku adalah pondasi," Kaelan membalikkan telapak tangannya, menunjukkan sisa-sisa tanah yang masih menempel di bawah kuku. "Seorang pelindung berdiri di depan, tapi seorang pondasi harus rela diinjak agar bangunan di atasnya tetap tegak. Aku akan membangun istana ini, bukan dari kristal seperti Solaria, tapi dari batu hitam dan tekad yang tidak bisa dipatahkan."

Tiba-tiba, sebuah getaran hebat mengguncang lembah. Suara raungan yang parau dan berat terdengar dari kedalaman lubang tambang utama. Seekor monster Scavenger Void—makhluk berkaki banyak dengan cangkang sekeras baja dan mata yang memancarkan cahaya ungu redup—merangkak keluar ke permukaan. Ukurannya hampir sebesar kereta logistik, dan air liurnya yang bersifat asam menetes, membakar tanah yang dilewatinya.

"Semua ke posisi tempur!" teriak Bara sambil mengangkat perisainya tinggi-tinggi. "Jangan biarkan makhluk itu mendekati tenda pengungsi!"

Prajurit-prajurit manusia segera membentuk barisan, namun rasa takut terlihat jelas di wajah mereka. Melawan monster Void di tanah terbuka tanpa bantuan benteng adalah misi bunuh diri bagi mereka yang hanya memiliki tingkatan Spark rendah.

"Mundur!" Kaelan melompat turun dari gundukan tanah. Pendar putih di sekujur tubuhnya meledak, menciptakan tekanan udara yang membuat monster itu berhenti sejenak. "Bara, jaga Lyra dan para pengungsi di belakang garis pertahanan. Biarkan aku yang menjadi pembuka jalan."

Kaelan berlari kencang menuju monster tersebut. Ia tidak menggunakan senjata tajam; ia mengepalkan tinjunya yang telah diselimuti oleh lapisan udara padat dari teknik Silent Shield yang dimodifikasi. Saat monster itu mencoba menerjang dengan capit raksasanya, Kaelan meluncur di bawah perut makhluk itu dan memberikan pukulan telak tepat ke arah saraf pusat di bagian dada monster.

BUM!

Suara benturan itu bergema di seluruh lembah. Monster itu terlempar beberapa meter, meronta-ronta sebelum akhirnya diam tak bergerak. Darah ungu gelap mengalir keluar, meresap ke dalam tanah Ash-Valley yang haus.

"Lihat!" seru Mina sambil menunjuk ke arah tanah yang terkena darah monster itu. "Energi Void dari darahnya... tanah ini menyerapnya!"

Kaelan berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Ia menatap ke arah pasukannya yang terpaku. "Monster ini bukan ancaman. Mereka adalah sumber daya. Darah mereka akan menjadi nutrisi bagi tanah ini, dan cangkang mereka akan menjadi dinding bagi istana kita. Mulai besok, setiap monster yang kalian bunuh akan menjadi bata bagi rumah baru kalian!"

Sorakan kecil mulai terdengar, bermula dari Bara dan merambat ke seluruh prajurit. Harapan yang tadinya redup kini mulai menyala kembali karena keberanian yang ditunjukkan pemimpin mereka. Kaelan berjalan kembali ke arah Lyra, yang berdiri dengan tangan tertangkup di dada.

"Kau benar-benar akan mengubah tempat ini menjadi benteng, bukan?" bisik Lyra saat Kaelan sampai di depannya.

"Ini bukan sekadar benteng, Lyra. Ini adalah awal dari akhir dominasi langit," Kaelan menggenggam tangan Lyra, membiarkan kehangatan Ignition-nya menenangkan kegelisahan istrinya. "Ash-Valley tidak akan lagi diingat sebagai tempat pembuangan, tapi sebagai tempat di mana martabat manusia dan Elf lahir kembali dalam satu wadah."

Kaelan menoleh ke arah lubang tanam bunga yang ia buat tadi siang. Di bawah sinar bulan yang pucat, sebuah tunas kecil berwarna perak mulai menyembul dari tanah yang sebelumnya dianggap mati. Sebuah keajaiban kecil yang lahir dari perpaduan darah, keringat, dan sisa-sisa energi dua ras yang berbeda.

"Istana ini akan berdiri, Lyra. Dan kau akan menjadi ratu yang paling dihormati di atas tanah yang paling rendah ini," ucap Kaelan dengan nada yang penuh keyakinan.

Kaelan tahu perjalanan masih sangat panjang. Di kedalaman tambang, masih banyak makhluk yang menunggu, dan di langit, High Council pasti sedang merencanakan pembalasan. Namun malam itu, di tengah reruntuhan masa kecilnya, Kaelan akhirnya merasa bahwa ia tidak lagi berlari dari takdir. Ia sedang membentuknya sendiri dengan tangannya yang berdarah.

1
Indriyati
kaelan kamu bisa😍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
kaekan bertahanlah
Kartika Candrabuwana: ok. makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
bagus kaelan👍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
iya kaelan bertahan
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
orc apa itu?
Kartika Candrabuwana: nanti tahu kok
total 1 replies
prameswari azka salsabil
ayo kaelan
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sakit rindu ya😍
Kartika Candrabuwana: busa juga😍
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kaelan kamu bisa
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
tetap semangat kaelan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
ayo semangat semua
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
kaelan mau psnjat tebing?
Kartika Candrabuwana: bisa seperti itu
total 1 replies
prameswari azka salsabil
ok sip kalau begitu
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
bagus kaelan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kaelan semakin kuat💪👍
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
dataran tinggi?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
lasihan lyrs🤣🤣
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
baguslah kalau begitu👍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
awal keseruan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sungguh pengertian
prameswari azka salsabil
kasihan sekali kaelan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!