NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34_EGO DI ATAS RING

Lampu-lampu di atas ring menyala terang, memantulkan bayangan dua tubuh yang kini saling berhadapan. Suara riuh orang-orang di sekitar semakin menggila, teriakan bercampur tawa dan sorakan membuat udara terasa panas, sesak.

Azka melangkah naik ke atas ring dengan langkah tenang. Jaketnya sudah dilepas, diserahkan entah ke siapa. Tatapannya lurus, dingin, fokus hanya pada satu orang di depannya.

Arvin berdiri di seberang, meregangkan lehernya sambil tersenyum miring. Tangannya mengepal, bahunya bergerak pelan, seolah benar-benar menikmati situasi ini.

"Masih bisa mundur, Ka". Ejek Arvin. "Belum telat."

Azka tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala sejenak, lalu mengangkatnya kembali. Sorot matanya gelap. Tajam. Tidak ada niat bercanda.

Bel berbunyi nyaring.

DENT!

Detik berikutnya, Arvin bergerak lebih dulu.

BUGH!

Pukulan pertama mendarat di sisi rahang Azka. Suaranya menggema keras, membuat beberapa orang bersorak lebih kencang. Kepala Azka sedikit terhempas ke samping, tapi tubuhnya tetap tegak.

Raka spontan melangkah maju. "Azka!"

Namun Azka hanya mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari. Ada senyum tipis, bukan senyum santai, melainkan senyum yang berbahaya.

"Giliran gue," gumamnya pelan.

BUGH!

Pukulan balasan Azka melesat cepat, tepat mengenai perut Arvin. Tubuh Arvin refleks tertekuk ke depan, napasnya tercekat. Belum sempat ia menegakkan badan—

BUGH!

Satu pukulan lagi mendarat di wajahnya. Kali ini lebih keras. Arvin terhuyung ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya bersandar di tali ring.

Sorakan meledak.

"WOI—!" Dion menahan napas. "Gila…"

Arvin menggeram, menyeka darah tipis di sudut bibirnya. Tatapannya kini berubah. Tidak lagi meremehkan.

"Kurang ajar lo," desisnya.

Ia kembali menyerang, bertubi-tubi. Tinju kanan, kiri, kanan.

BUGH! BUGH!

Beberapa pukulan mengenai lengan Azka yang terangkat menahan, satu sempat mengenai bahunya. Tapi Azka bertahan. Rahangnya mengeras. Napasnya teratur.

Saat Arvin lengah sedetik—

BUGH!

Azka menghantam balik. Kali ini tepat di rahang.

BUGH!

Disusul satu pukulan lagi yang membuat Arvin jatuh berlutut di lantai ring.

Suasana mendadak hening beberapa detik, sebelum kembali pecah.

"Bangun," kata Azka datar, menatap Arvin dari atas. "Ini belum selesai."

Arvin terengah, tangannya mencengkeram lantai ring. Perlahan ia berdiri, matanya merah, dadanya naik turun tak beraturan.

"Jangan sok jago," katanya serak. "Ini baru mulai."

Azka mengepalkan tangannya lagi. Dadanya ikut naik turun, tapi matanya sama sekali tak goyah.

"Dari awal juga," sahutnya dingin. "Gue nggak pernah main-main."

Bel kembali berbunyi.

DENT!

Dan ring itu kembali dipenuhi suara pukulan—

BUGH… BUGH… BUGH!

Panas. Brutal. Ego dan amarah saling bertabrakan, tanpa ada satu pun yang berniat mundur.

***

Namun disisi lain.

Di kamar yang temaram dengan lampu meja belajar menyala, Nayla duduk bersila di kursinya. Buku tulis terbuka, pena bergerak pelan menyalin catatan dari buku milik Azka yang tadi ia temukan di laci meja belajar cowok itu. Tulisan Azka rapi, tegas, sedikit miring ke kanan—sama seperti orangnya.

Namun, gerakan tangannya tiba-tiba terhenti. Ujung pena menggantung di udara.

Pikirannya melayang, bukan lagi pada rumus atau materi pelajaran, melainkan pada satu nama yang sejak tadi terasa mengganggu ruang kepalanya.

Azka.

"Dia ke mana sih…" gumam Nayla lirih, menatap buku tanpa benar-benar melihat isinya. "Kok keluar malam-malam gini."

Ia menghela napas pendek, lalu mendengus kecil pada dirinya sendiri. "Aku chat aja kali ya?"

Baru satu detik kemudian ia mengernyit. "Lah… kenapa baru kepikiran sekarang sih?" Nayla mengacak rambutnya frustasi. "Aduh, Nayla, Nayla."

Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di sisi buku. Jarinya menari cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum akhirnya menekan tombol kirim.

"kamu dimana?"

Pesan terkirim.

Nayla menatap layar ponselnya dengan saksama. Dua centang abu-abu muncul. Terkirim. Tapi belum dibaca.

"Oke… aku tunggu," gumamnya pelan.

Beberapa detik berlalu. Sunyi. Tidak ada perubahan.

Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja, mencoba fokus lagi menulis. Pena kembali bergerak, tapi pikirannya tidak benar-benar ikut bekerja. Matanya sesekali melirik ke arah ponsel, berharap layarnya menyala.

Beberapa menit kemudian, Nayla menyerah. Ia meraih ponselnya lagi. Pesan itu masih sama. Dua centang abu-abu. Tak kunjung membiru.

Belum dibaca.

Alis Nayla mengernyit. Dadanya terasa sedikit mengganjal, entah kenapa. "Sesibuk itu ya dia…" gumamnya, kali ini suaranya lebih pelan, hampir terdengar seperti bicara pada dirinya sendiri.

Ia menatap layar ponsel lebih lama, lalu mengunci layar dan meletakkannya kembali. Nayla kembali menulis, tapi kali ini lebih lambat.

Di saat yang sama, di tempat lain, orang yang sedang ia pikirkan itu sama sekali tidak memegang ponselnya.

Azka sedang sibuk, bukan dengan pesan, bukan dengan layar, tapi dengan dunia yang penuh adrenalin, luka, dan keputusan yang tak pernah ia ceritakan pada Nayla.

***

Diwaktu yang sama.

Sorakan makin menggila. Udara di ruangan itu terasa makin panas, penuh bau keringat dan adrenalin. Lampu ring menyorot dua sosok yang kini sama-sama sudah terengah, tapi tak satu pun berniat mundur.

Arvin menyerang lebih brutal kali ini.

BUGH!

BUGH!

Pukulannya bertubi-tubi, tanpa pola, penuh emosi. Satu tinjunya sempat mendarat di pelipis Azka, membuat kepala Azka sedikit terlempar ke samping. Beberapa orang berseru kaget.

"Ka!" suara Raka nyaris tenggelam oleh riuh.

Azka mundur satu langkah. Hanya satu. Ia mengusap darah tipis yang mulai mengalir dari sudut alisnya. Matanya terangkat perlahan. Tatapannya berubah, lebih gelap, lebih dingin. Bukan marah. Tapi berbahaya.

"Udah?" tanyanya pelan.

Arvin terengah, dadanya naik turun kasar. "Takut lo, hah?" ejeknya, walau napasnya sendiri sudah berantakan.

Detik berikutnya—

BUGH!

Tinju Azka melesat cepat, menghantam tepat di perut Arvin. Tubuh Arvin langsung tertekuk, suara napasnya tercekat.

Belum sempat ia menarik udara—

BUGH!

Pukulan kedua mendarat di rahang. Kepalanya terhentak ke samping.

BUGH!

Satu lagi, lebih keras, membuat tubuh Arvin terlempar ke belakang dan menghantam tali ring.

Ruangan meledak oleh teriakan.

"GILA…!" Dion refleks berdiri.

Arvin masih berusaha berdiri, tangannya gemetar mencengkeram tali ring. Matanya berkunang-kunang, pandangannya kabur, tapi egonya terlalu besar untuk menyerah.

Ia maju lagi. Terhuyung, tapi tetap maju.

"Gue belum kalah!" teriaknya serak.

Azka menatapnya tanpa ekspresi. Langkahnya pelan mendekat. Tenang. Terlalu tenang untuk situasi sepanas ini.

"Masalah lo," ucap Azka rendah, "bukan soal kalah atau menang."

Arvin mengayunkan tinjunya lagi—asal, tanpa tenaga.

Azka menghindar setengah langkah.

BUGH!

Pukulan balasan menghantam rahang Arvin dari samping.

BUGH!

Disusul satu pukulan telak ke wajah. Dan—

BUGH!

Tinju terakhir Azka mendarat tepat di dagu.

Tubuh Arvin terangkat sedikit sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai ring dengan suara berat.

BRUGH!

Sunyi.

Detik-detik terasa lambat. Arvin tak bergerak. Matanya terpejam. Dadanya tak lagi naik turun dengan normal.

"KO…" gumam seseorang.

Raka, Dion, dan Devan terdiam. Tidak ada sorakan kali ini, hanya keheningan penuh tegang.

Azka berdiri di tengah ring, napasnya masih berat. Ia menatap tubuh Arvin sekilas, lalu memalingkan wajahnya. Tidak ada rasa puas. Tidak ada senyum kemenangan.

Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya, pelan tapi jelas.

"Jangan pernah bawa-bawa Nayla lagi."

Ia turun dari ring tanpa menoleh. Lampu-lampu ring masih menyala terang, menyinari tubuh Arvin yang tergeletak tak sadarkan diri.

Malam itu, semuanya selesai. Dan Azka… menang.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!