Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Cintanya Terbalas
Gunawan bergegas membukakan pintu begitu mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Begitu pintu terbuka, terlihatlah Bastian berdiri dengan Keisya yang berada dalam gendongannya dengan keadaan menutup matanya.
"Ada apa? Keisya kenapa?" setelahnya ekspresinya menyerit, begitu aroma alkohol menyeruak menusuk hidungnya. "Dia mabuk?"
Bastian berdecak, "Sudah sejelas itu, kamu masih bertanya?"
Bastian yang sangat tidak suka berbasa basi itu tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara sarkas. "Sampai kapan kamu akan berdiri disana?" Bastian kembali bicara, "Anakmu kedinginan"
Gunawan langsung sadar. Dia menggeser posisinya dan membukakan pintu dengan lebar.
Bastian pun masuk tanpa diminta, dan berjalan terus menuju tangga, seolah dialah si pemilik rumah.
"Tunggu," Gunawan menghadang langkah Bastian. Matanya menatap heran pada temannya tersebut, "Mau kemana kamu?"
"Menidurkan anakmu, memangnya apa lagi?"
"Biar aku saja. Berikan" Gunawan sudah mengulurkan tangannya, namun Bastian justru mundur, enggan memberikan Keisya padanya.
"Tidak" tolaknya, lalu menambahkan sebelum Gunawan kembali berbicara, "Dia baru tidur, jangan mengganggunya"
"Terus kamu mau masuk kamar Keisya?"
Bastian berdecak kesal. Jangankan masuk kamar, tidur di ranjangnya saja dia sudah pernah.
"Kamu ikut. Sudah jangan banyak bicara" setelahnya Bastian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, meninggalkan Gunawan yang hanya bisa mengelus dada sabar menanggapi temannya tersebut.
Kadang dia heran, apa sebenarnya yang membuatnya begitu betah berteman dengan orang seperti Bastian? Ucapannya, sikapnya, semuanya selalu tajam dan menyebalkan. Bahkan terkadang selalu menusuk dan membuat orang sakit hati, sekalipun itu adalah fakta.
Tidak suka berbasa basi adalah sifat Bastian. Dan itu sudah sejak dulu, saat dia pertama kali mengenal pria tersebut.
Tidak menunggu lama, Gunawan mengekori Bastian, menuju kamar Keisya. Di sela langkahnya dia bertanya tanya, kenapa Bastian bisa tahu pintu mana yang harus mereka tuju?
Namun dia segara ingat setelah kejadian mati listrik saat itu, dan Keisya mengatakan jika dia di antarkan sampai ke kamarnya oleh Bastian.
Hampir saja dia berpikir buruk tentang temannya.
Sampai di depan pintu, Gunawan berjalan lebih cepat untuk membukakan pintu. Bastian pun langsung masuk menuju tepi tempat tidur gadisnya. Saat Keisya sudah tidur, dia tanpa ragu menyelimutinya hingga menyisakan bagian kepalanya.
Keisya tampak menggeliat sambil bergumam kecil. Sudut bibir Bastian terangkat, gemas dengan wajah polosnya yang begitu kontras dengan tingkahnya beberapa saat lalu.
Jika saja akal sehatnya tak terkendali, dia sudah menciumnya lagi seperti di dalam mobil tadi. Namun itu tidak dia lakukan, karena Gunawan ikut masuk dan berdiri memperhatikan di belakangnya.
Sangat mengganggu sekali.
Sudahlah, Bastian harus berpuas diri untuk hari ini. Setidaknya dia sudah mendapatkan suntikan vitamin dengan kebersamaan mereka hari ini. Meskipun hanya dia yang ingat, namun tidak apa-apa. Masih ada teman gadisnya yang akan membantu mengingatkan.
"Kenapa senyum senyum? Cepat keluar" teguran Gunawan membuat lamunan Bastian buyar.
Dia mendelik, "Cih, mengganggu sekali kamu Gun" gerutunya sambil berlalu meninggalkan kamar.
Gunawan tercengang. Apa salahnya sampai Bastian tampak begitu marah?
Setelahnya mereka berdua keluar.
"Kamu kenapa? Seperti habis melihat mantan istri saja" Gunawan sejujurnya hanya bergurau. Jika pada orang lain mungkin dia akan mengatakan baru melihat hantu. Tapi pengecualian untuk Bastian. Seingatnya hanya karena mantan istrinya lah Bastian akan uring uringan.
Meskipun tidak tahu pasti apa alasan Bastian seperti itu, namun hal ini memang sering terjadi sebelumnya.
"Iya, dia muncul"
Gunawan berhenti melangkah, begitupun dengan Bastian. "Serius?"
Bastian bergumam, "Dia muncul dan menuduh saya memacari anak kamu"
"Kenapa bisa?" herannya "Gara-gara melihat kamu menggendong Keisya?"
Bastian mengangguk santai, "Sepertinya begitu"
Tanpa Gunawan sadari, sudut bibir Bastian terangkat. Dia sedang mengamankan reputasinya di depan Gunawan, sekaligus membangun alibi semeyakinkan mungkin jika mantan istrinya itu berulah.
"Anak kamu yang mabuk sempat peluk saya, dan dia melihatnya" tambahnya.
Respon Gunawan, tentu saja biasa saja setelah mendengar kata memeluk. Karena dia tahu, orang mabuk selalu kehilangan kendali pada dirinya sendiri. Dia justru cenderung menyalahkan Diana yang dengan seenaknya menuduh Keisya memiliki hubungan dengan teman baiknya.
"Sakit jiwa mantan istri kamu itu"
Bastian mengangguk. "Jadi kamu jangan sampai terprovokasi sama apapun ucapan dia"
"Tidak akan pernah"
Bagus.
Sekarang Bastian bisa fokus pada gadisnya. Mendekatinya, sampai gadis itu sendiri yang enggan menjauh darinya.
"Dan satu lagi" Bastian menunjukan raut permusuhannya lagi, dan itu membuat Gunawan kembali bingung.
"Ada apa?"
"Jangan membahas lagi tentang kejadian itu di depan anak kamu. Penyesalan kamu itu membuat Keisya sedih"
Ucapan Bastian memang benar. Dia selalu ingin meminta maaf dan menunjukan penyesalannya atas kejadian dulu. Tanpa tahu jika tindakannya itu sedikit banyaknya akan mengorek kembali luka lama yang Keisya alami.
"Tunjukan dengan tindakan. Bahagiakan dia, dan ikuti semua keinginannya. Saya rasa itu lebih baik daripada terus menerus meminta maaf atas kejadian yang sudah terjadi."
"Kamu benar" Gunawan setuju.
Yah, seperti itu. Di masa depan, turuti semua permintaan Keisya. Sekalipun nantinya dia meminta agar dinikahkan dengannya, Gunawan tidak boleh menolak.
\=\=\=\=\=
Keisya enggan melihat apa yang ada di dalam ponsel Sisi, setelah mendapatkan clue, jika dia kembali menggila pada Bastian. Pikirannya langsung tertuju pada bercak merah di leher Bastian akibat ulahnya sendiri.
Apakah dia melakukan hal serupa di hadapan temannya?
"Enggak, Gue ga mau liat"
"Lo harus liat kalau ga mau nyesel" Namun Keisya masih yakin dengan keputusannya itu. Setidaknya sebelum Sisi kembali berbicara, "Ada rival lo di video itu"
"Rival apa?"
"Mantan istrinya si Om"
Keisya sedikit bersemangat. Dia merebut ponsel dari tangan Sisi, dan langsung melihatnya tanpa ragu.
Sisi berdecih, "Masih ga mau ngaku kalau lo juga demen sama si Om?"
"Ck, diem deh. Jangan berisik"
Tidak tahukah jika dia sangat penasaran seperti apa mantan istri Bastian.
Benarkah lebih cantik darinya?
Tunggu, apa?
Untuk apa dia peduli dengan hal itu?
Atau jangan-jangan, apa yang di ucapkan Sisi benar. Dia juga mulai menyukai Bastian.
Astaga.
Bagaimana ini?
Sudahlah, ia akan pikirkan nanti. Sekarang dia ingin melihat dulu seperti apa mantan istri Bastian.
Saat video diputar, wajah Keisya langsung panas. Bagaimana tidak, jika yang di lihatnya sekarang benar-benar memalukan. Keisya menggigit bibir bawahnya, meringis sambil menunduk. Matanya melirik pada Sisi yang tengah menaik turunkan alisnya.
Ekspresinya itu sungguh menyebalkan. Kentara sekali sedang meledeknya.
Meskipun malu, Keisya tetap melanjutkan menonton. Begitu seorang wanita muncul, Keisya kembali menegakkan duduknya. Matanya menyipit, lalu menekan pause untuk melihat jelas wajahnya.
Yah, dia akui, wanita itu sangat cantik, dewasa, namun terlihat cukup galak. Mungkin cemburu karena melihat mantan suaminya sedang bersama wanita lain?
Entahlah.
Disana Bastian tidak menanggapi, bahkan terkesan marah.
"Panggilan kesayangan, heh" ledek Sisi begitu suaranya kembali terdengar.
Keisya sangat ingin mengumpati dirinya sendiri.
Video tetap berjalan sampai mencapai akhir. Dan Keisya masih tidak mengatakan sepatah katapun. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
''Sekarang percaya kan kalau kepergian Haikal memang rencana si Om?"
Keisya sudah percaya sejak percakapan mereka hari itu. Namun, mendengar langsung dari mulut Bastian, Keisya masih tetap terkejut dibuatnya. Apalagi ada kalimat yang secara tidak langsung, akan melakukan hal serupa pada David. jika itu menjadi penghalang baginya.
"Udah, jangan denial lagi, kalian emang udah saling suka. Yang perlu lo pikirin sekarang, gimana soal Papa lo?"
Papa?
"Si Om naksir lo bukan buat main-main, dia bukan remaja labil yang cuma mau deketin terus macarin cewe doang. Dia pasti mau lebih dari itu. Dan lo harus siap buat itu. Ini bukan cuma tentang kesiapan lo, tapi persetujuan Om Gunawan"
Mereka sudah saling suka. Cinta Bastian bukan cinta sepihak. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Cintanya terbalas. Rintangan yang sesungguhnya bukan lagi pada Keisya, melainkan Gunawan.
Apa Gunawan akan rela, melihat anak pertamanya dinikahi oleh seorang pria seusia dirinya?
hehe besok kamu ga akan bisa ngelak lg kei kalo liat bukti dr Sisi 🤣🤣