Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Sejak tadi Alyssa mondar-mandir menatap pintu apartemen. Bunyi bel tak berhenti sejak beberapa menit lalu, dan ia tahu betul siapa orang yang berdiri di balik pintu itu.
Akibatnya, ia tak bisa keluar apartemen sama sekali. Junior terus mengganggunya, seolah ia tak lagi punya ruang dan waktu untuk bernapas. Alyssa bahkan takut, takut jika suatu saat Junior nekat membawa Cecil pergi. Dan itu tidak akan pernah ia biarkan terjadi.
Ia memejamkan mata erat-erat, berusaha menahan rasa jengkel saat bunyi bel terus berdentang tanpa jeda.
"Mommy, ada orang di luar," ujar Cecil polos sambil tetap fokus mewarnai bukunya.
Alyssa melirik putrinya. Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
"Jangan dipedulikan, Nak," katanya pelan sambil mengalihkan pandangan.
Namun Junior tak berhenti. Bahkan, bunyi bel semakin cepat, seperti anak kecil yang tak sabar.
Alyssa menarik napas panjang, lalu berdiri dan meletakkan mug kopinya ke meja dengan sedikit hentakan.
"Ugh," gerutunya kesal. Laki-laki ini… apa tidak ada kerjaan lain selain mengganggu hidup orang?
Baru beberapa langkah menuju pintu, ia terhenti. Terdengar langkah kaki berat menghentak lantai.
Matanya membesar ketika melihat Niko, wajahnya jelas menyimpan kekesalan. Anak itu membuka pintu dan berhadapan langsung dengan Junior.
"Apa yang ka--" Niko tak menyelesaikan kalimatnya saat melihat sosok ayahnya. Ia tertegun sesaat.
Lalu, BRAK!
Pintu dibanting keras.
"Niko!" Alyssa langsung menegur dan menghampirinya.
"Apa? Mommy mau menyambut dia?" bentak Niko tajam, nadanya pahit, terluka melihat ibunya seolah membiarkan Junior datang.
"Jangan bicara dengan nada seperti itu," tegas Alyssa. "Kamu berubah lagi, Niko. Mommy paham kamu marah pada Daddy-mu, tapi itu tetap tidak sopan."
"Terserah, Mommy," jawab Niko singkat, lalu berbalik.
"Eh--" Alyssa tak sempat melanjutkan. Niko sudah masuk kamar dan membanting pintu.
Sunyi menyelimuti apartemen. Alyssa menatap pintu kamar Niko, sementara dari balik pintu depan terdengar suara lirih.
"Tolong… buka pintunya." Suara Junior penuh permohonan. "Tolong… lihat aku, Alyssa…"
Alyssa bersandar pada pintu, mata terpejam. Hatinya berperang dengan pikirannya. Ia ingin membuka pintu, ingin memeluk Junior dan mengakui bahwa ia juga terluka. Tapi semua itu tak sesederhana itu. Kata maaf saja tidak cukup.
"Alyssa… lima menit saja. Tolong."
Cecil mendekat, membawa krayon dan kertas gambarnya.
"Mommy, Mommy nggak buka pintunya?"
Alyssa menatap putrinya, namun tak mampu menjawab.
"Itu Daddy-ku ya?" mata Cecil berbinar saat kembali mendengar suara bel dan suara lelaki di balik pintu.
Alyssa menelan ludah. "Masuk kamar dulu, Sayang. Mommy mau bicara."
"Tapi aku mau lihat Daddy," rengek Cecil, bibirnya mengerucut.
"Sayang, kita sudah bicara soal ini, ya?" Alyssa berlutut. "Ini belum waktunya kamu bertemu Daddy. Mommy akan jelaskan nanti. Iya, itu Daddy di balik pintu, tapi sekarang kamu belum boleh bertemu."
"Oke, Mommy…" jawab Cecil lirih, lalu masuk ke kamar.
Alyssa kembali berdiri di depan pintu.
"Alyssa…" suara Junior kembali terdengar. "Aku tidak mau sendirian lagi. Aku cuma ingin jadi ayah dan suamimu lagi. Tolong…"
Dada Alyssa terasa nyeri. Pikirannya kacau.
Perlahan ia membuka pintu. Wajah Junior tampak penuh harap.
"Alyssa--"
"Junior," potongnya cepat. "Tolong. Pergi dulu. Tinggalkan kami."
Junior berkedip, kecewa jelas di matanya. Ia melangkah mendekat dan meraih tangan Alyssa.
"Aku cuma ingin melihat anak-anakku," ucapnya lirih. "Sekali saja. Biarkan aku memeluk mereka. Meminta maaf pada Niko."
Hati Alyssa mencelos. Hangat telapak tangan Junior membuat emosinya goyah.
"Junior…" suaranya hampir tak terdengar. "Aku belum mau Cecil mengenalmu."
"Kenapa?" suara Junior bergetar, air mata menggenang. "Tolong… aku sudah kehilangan banyak waktu…"
Alyssa menarik tangannya. "Tidak. Dengan keluargamu yang membenciku, terutama ibumu, aku takut. Aku takut kalian mengambil anak-anakku. Tidak. Tidak akan pernah."
"Aku tidak akan mengambil mereka," sanggah Junior. "Aku cuma ingin memeluk mereka."
"Aku tidak percaya," jawab Alyssa tegas. "Pergi."
Pintu ditutup keras.
***
Sore hari, Junior memarkir mobilnya di halaman rumah orang tuanya. Bahunya merosot.
"Aku tidak akan menyerah," gumamnya.
Ia masuk dan menemukan kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Aura.
"Alyssa tidak mengizinkanku bertemu anak-anak," jawab Junior lesu.
Aura mendengus. "Dia menahan anak-anak darimu?"
"Aku mohon, bantu aku," pinta Junior.
Aura meletakkan cangkir teh. "Cukup. Anak-anak itu bagian dari keluarga ini."
"Apa mengancamnya solusi?" sela Lazar.
Aura bangkit, mengambil ponsel. "Halo, Pak Steven. Saya butuh Anda. Sekarang."
Junior terkejut. "Ibu, jangan--"
"Kamu mau bertemu anak-anakmu atau tidak?" potong Aura tegas.
***
Di apartemen, Alyssa sedang bahagia melihat orang tuanya, Albert dan Aliana bermain dengan Cecil. Suasana ceria dipenuhi tawa hingga bel berbunyi.
Alyssa berjalan ke pintu sambil tersenyum, mengira mungkin tetangga atau kurir. Ia membuka pintu dan jantungnya berhenti sesaat.
Di luar berdiri Junior, bersama kedua orang tuanya Lazar dan Aura.
"Kenapa kalian ke sini?" tanyanya kaku, tubuhnya otomatis menghalangi pintu.
Sebelum sempat mencegah, Cecil berlari keluar.
"Mommy!"
Mata Aura membelalak. Wajahnya langsung berbinar saat melihat gadis kecil berambut ikal itu.
"Ya Tuhan… cucuku?" bisiknya sambil berlutut, air mata menggenang di matanya.
Cecil memeluk kaki Alyssa, setengah bersembunyi. "Mommy, siapa dia?"
Aura meraih tangan Cecil lembut, suaranya bergetar. "Namamu siapa, sayang?"
"Cecil," jawabnya malu-malu.
"Oh… nama yang indah," kata Aura terharu. "Aku nenekmu."
"Aku punya dua nenek?" tanya Cecil polos, matanya membulat.
Alyssa hanya berdiri terpaku, tenggorokannya tercekat.
"Apa kami boleh masuk?" tanya Lazar ramah, nadanya jauh lebih lembut daripada istrinya.
Alyssa menyingkir pelan, meski setiap sel tubuhnya menolak. "Silakan…"
Ia melirik Junior tajam, tatapannya menusuk, penuh kemarahan dan kekecewaan. Junior menunduk, tak berani menatap balik.
Dari dalam apartemen, Albert dan Aliana keluar, wajah mereka penuh kewaspadaan melihat kedatangan keluarga Brixton.