NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Cyan duduk tegak di depan laptop dengan jari-jemari yang menekan tombol keyboard secara cepat. Matanya fokus ke layar, tidak terditraksi apa pun meski ruangan lumayan bising. Deadline sialan ini memang penting, tapi entah sadar atau nggak matanya mulai mencari-cari spesies langka di kantor, matanya berkhianat melirik ke arah Magenta yang duduk beberapa meter jauhnya. Magenta juga terbilang sedang dalam kondisi tenang, fokus mengetik sesuatu, sesekali mencondongkan tubuh membaca dokumen.

Semua gerakan itu tampak biasa, sebagaimana orang biasa bekerja di kantor. Namun, bagi Cyan, setiap gerakan itu terlihat memikat dan mungkin agak mengganggu. Bukan karena Magenta yang berulah, tetapi tentang dirinya sendiri. Jantung berdegup lebih kencang dan rasanya sulit menarik pandangan dari lelaki itu.

Di seberang Cyan, Alya duduk sambil menyesap kopi, matanya juga tak lepas dari sahabatnya. Layaknya cenayang, Alya bisa membaca setiap gerakan dan lirikan mata Cyan. Alisnya mengernyit tanda penasaran, atau tarikan napas yang dalam seperti sedang mencoba mengendalikan sesuatu.

“Lo kenapa, Cyan? Dari tadi liatin Magenta terus,” ucap Alya ringan, menantang Cyan untuk jujur.

Cyan tersentak sejenak, tangannya berhenti mengetik. “Eh? Nggak ... gue tuhcuma mastiin kalo dia gak salah kerja,” jawabnya gagap.

“No, no. Pastinya bukan itu. Gue bisa lihat dari cara lo natap dia,” balasnya percaya diri.

“Beneran, Al. Gue Cuma fokus aja,” jawabnya cepat, mencoba meyakinkan. Namun, sialnya secara otomatis pandangan Cyan kembali ke Magenta. Pria itu cenderung santai, tak menyadari badai kecil di seberangnya.

Alya mencondongkan tubuh, kemudian menatap nyalang. Ia menaruh cangkir kopi di meja dan mematung sejenak.

“Hmm, gue yakin seribu persen ada yang nggak beres sama Cyan,” pikirnya.

Alya sangat mengenal seorang Cyan sebagai atasan yang tegas, profesional, dan jarang sekali terganggu di tempat kerja. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda memang. Sesuatu yang mungkin akan segera diketahui oleh Alya. Cepat atau lambat.

Magenta menoleh sebentar, menyadari tatapan Cyan yang terus mengikuti setiap gerakannya. Magenta melambai pelan sambil tersenyum kuda, seakan baru menyadari Cyan mengamatinya sejak tadi.

Cyan langsung mengalihkan pandangan ke laptopnya, jantungnya berdetak lebih cepat dan napasnya terasa sesak.

“Gue kenapa, sih? Biasa aja kenapa? Dia bukan aktor Korea, please!” gumam Cyan merutuki diri sendiri.

***

Notifikasi rapat di grup berbunyi. Semua anggota tim mulai berkumpul, membuka dokumen, dan membuka laptop maisng-masing. Tidak sedikit yang menghela napas kesal karena lagi dan lagi, rapat lagi. Ah, membosankan.

Dan di sisi lain semesta, Magenta baru tiba dan tentu saja terlambat ... lagi.

Langkahnya santai, seperti tidak menanggung beban, ya seperti biasa, selayaknya seorang Magenta. Cyan menatapnya dari belakang meja. Alisnya terangkat, tapi ia tidak marah. Ia menahan diri sesuai kesepakatan yang pernah mereka buat.

“Kamu telat lagi,” ucap Cyan datar, mencoba profesional meski hatinya menjerit kencang ingin mengata-ngatai lelaki itu.

“Saya tahu kok, tapi ada alasan penting,” jawabnya dengan suara halus mematikan itu.

“Alasan apa?” tanya Cyan tetap bernada datar.

“Ah, cuma mastiin kalau Anda nggak terlalu rindu Bu Bos,” jawab Magenta sambil menatap Cyan dengan alis terangkat.

Cyan menelan ludah, menahan senyum yang hampir lolos. Alya, yang duduk di samping, hanya menatapnya dalam diam.

“Ini bukan sikap biasa, Cyan,” pikir Alya.

Rapat dimulai. Cyan memimpin tegas, memberikan arahan, dan menegur dengan jelas. Namun, setiap komentar Magenta meluncur sekecil apa pun, membuat Cyan sulit menahan senyum tipis yang selalu memaksakan diri untuk terlukis di wajah cantiknya itu.

***

Setelah rapat selesai, Cyan memutuskan untuk istirahat sebentar di kafe kantor bersama Alya. Mereka memilih meja di pojok yang sepi, ditemani aroma kopi yang hangat dan menenangkan, jauh berbeda dengan atmosfer kantor yang penuh tekanan.

“Akhinya istirahat juga,” ucap Cyan sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Sekilas ia melirik pintu kafe, geraknya refleks ketika terdengar lonceng dari sana, pertanda ada yang masuk.

“Iya, kelihatan banget lo butuh ini,” ujarnya tersenyum tipis.

Belum sempat mereka menikmati suasana, Magenta dan Raka muncul dari pintu kafe. Langkah mereka memang cenderung santai, tetapi seakan sengaja menarik perhatian. Tanpa basa-basi, mereka langsung duduk satu meja dengan Cyan dan Alya.

“Halo, Bu Bos cantik. Halo, Mbak Alya.” Magenta membuka percakapan lebih dulu karena Raka begitu payah berbasa-basi.

“Kalian ngapain duduk di sini?” Cyan menatap kedua orang itu. Setengah kesal, setengah penasaran.

“Gapapa lah, Syan. Kita ‘kan mau istirahat juga,” jawab Magenta santai sambil menyeringai.

Cyan menutup mata sejenak, menahan napas.

“Kamu serius nggak marah aku telat tadi?” tanya Magenta.

“Ya, kan sesuai kesepakatan.” Cyan menjawab, menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu lebar.

“Tapi kamu tadi tenang banget, aku jadi heran.” Magenta menimpali, mengangkat alis.

Cyan menelan ludah, menundukkan kepala. “Hanya sandiwara, ingat! Hanya sandiwara,” batin gadis itu menggigit bibir.

Namun hatinya memberontak. Setiap kali Magenta tersenyum dan gerakan kecilnya, terasa seperti magnet yang menarik perhatian Cyan tanpa bisa dihindari.

Raka menepuk meja pelan. “Waduh, Bu Cyan salah tingkah, nih.”

“Rakaaa!” Cyan menutup wajahnya lagi dengan tangan, menyembunyikan kedua pipinya yang memerah seperti kepiting rebus.

Alya menatap dari samping, menahan tawa. Ini jelas bukan sandiwara biasa.

“Aku penasaran, kenapa kamu selalu merah dan salting kalo deket aku?”

“Amit-amit. Jangan kegeeran, Genta,” ucapnya cepat buru-buru klarifikasi.

Alya menatap setiap gerakannya. Menangkap semua sinyal yang coba Cyan sembunyikan.

Tatapan yang terlalu lama, senyum tipis yang nyaris lolos, dan cara Cyan menahan napas setiap kali Magenta mendekat.

“Hmm, ada apa ini sebenernya? Gue yakin ada sesuatu di antara mereka.” Alya membatin.

Ia tahu jelas, pasti sahabatnya sedang jatuh hati, tapi Cyan sendiri belum sepenuhnya menyadari hal itu. Alya menyesap kopinya, memandang Magenta, dan tersenyum samar. Ini akan menjadi perjalanan cinta yang menarik. Daftar drama Korea yang seharusnya rampung ditonton Alya bulan ini harus digeser drama percintaan seorang atasan dan karyawan ‘plengernya’.

Percakapan ringan berlanjut, tapi narasi yang terucap sepertinya bukan sesuatu yang sepele. Magenta dan Cyan saling sindir tentang hal-hal kecil, Raka yang selalu ada untuk menertawakan, menambah kecanggungan, sekaligus kelucuan di antara mereka.

Beberapa saat kemudian, Magenta mencondongkan tubuh, menatap Cyan dengan mata serius.

“Kamu nggak usah terlalu tegang, Syan. Aku nggak bakal sengaja bikin kamu salah tingkah terus,” katanya lembut.

Cyan memicingkan mata, menahan senyum yang ingin lepas dari lama. “Genta, kata siapa sih aku salah tingkah?”

“Aku. Emangnya kamu inget apa sih, cah ayu,” jawab Magenta dengan senyum samar yang membuat pipi Cyan memanas lagi.

Cyan menelan ludah dan kembali menundukkan kepala. Mengendalikan napasnya yang terengah-engah.

Alya menatap sahabatnya, menyadari semuanya. Benar dugaannya sejak tadi, ini lebih dari sekadar sandiwara. Cyan benar-benar jatuh hati dan Magenta juga menunjukkan tanda-tanda perhatiannya.

“Mampus lo, kejebak sendiri, ‘kan? Haha,” batinnya ikut salah tingkah.

Saat mereka meninggalkan kafe, Alya menatap Cyan. “Cyan, lo baik-baik aja?” tanyanya to the point.

“Iya, gue baik-baik saja. Emangnya harus kenapa-kenapa gitu, ya?” jawabnya, meski matanya kembali melirik ke arah Magenta yang sedang berjalan di depan.

“Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka berdua sebelum sama-sama terjebak sekarang? Oh, gue tau, kemarin ‘kan mereka dinas bareng keluar kota. Jangan-jangan ....”

1
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Aruna02
dih pede 🤣
Anisa Saja
air ngamuk nggak tuh? ada-ada aja bahasanya. hihi
Anisa Saja
emangnya kenapa kalau dikasih tahu ke orang lain?
Alessandro
adududu.... melting meleyot dlm 1 waktu 😍
Anisa Saja
capek emang ya kalau udah bahas "kapan nikah".
Anisa Saja
salut salut salut. percaya dirinya itu, lo, patut ditiru.
Alessandro
jomblo dari bayi 🤣
Shofiyya Nissa
gimana gimana? uninstall punggung? astaga. baru kerja gitu udh pgen uninstall punggung aja.
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣
Heni sarasvati
Seruu banget, romansanya dapet, komedinya juga, kocak kocak banget karakternya jadi bisa menikmati baca cerita ini
Heni sarasvati
heh ciuman tuh enggak masuk ke kategori 'doang' woy, ngadi ngadi lu😭
Heni sarasvati
Genta ini kalo gak jail ya modus mulu, tapi dia kalo lagi mode serius gitu keren juga ya
Heni sarasvati
ternyata pernah di tinggal nikah, kasian amat genta nasib lu😭
Heni sarasvati
kata gue lu berdua beneran pada confess dah cepetan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!