NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: VISI PENGKHIANATAN

#

Cahaya putih perlahan redup. Mahira dan Zarvan masih berpelukan—keduanya bernapas tersengal, tubuh gemetar setelah visi itu.

"Tidak—" bisik Zarvan dengan suara serak. "Itu tidak mungkin—"

"Tapi kita berdua melihatnya," potong Mahira. Tangannya menggenggam baju Zarvan yang robek. "Danial—Paman Damian—dia yang—"

"Dia yang membisikkan ide pembunuhan itu pada Khalil," Zarvan menyelesaikan dengan suara pahit. "Selama ini aku pikir—aku pikir Khalil bertindak sendiri karena cinta yang obsesif. Tapi ternyata—ternyata ada yang memanipulasi dia."

Isabelle bertepuk tangan pelan—bunyi yang menggema sinis di antara reruntuhan.

"Bravo," katanya sambil berjalan mengelilingi mereka. "Kalian akhirnya tahu kebenaran. Tiga ratus tahun terlambat, tapi—lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?"

Mahira berdiri—membantu Zarvan untuk bangkit meskipun tubuh pria itu nyaris ambruk. Dia menatap Isabelle dengan mata menyala marah.

"Kamu tahu sejak awal," tuduhnya. "Kamu tahu Danial yang memanipulasi Khalil. Tapi kamu diam. Kamu—kamu membiarkan Khalil disalahkan sendirian."

"Karena aku mencintai Danial," jawab Isabelle datar. Tidak ada penyesalan di wajahnya. "Dan cinta membuat kita melakukan apapun—termasuk membiarkan orang lain menanggung dosa kekasih kita."

"Itu bukan cinta!" teriak Zarvan. Emosinya meledak. "Itu kegilaan! Kamu membiarkan Khalil menderita tiga ratus tahun karena dosa yang bukan sepenuhnya salahnya!"

"Khalil tetap bersalah," balas Isabelle dingin. "Dia yang menggenggam pisau. Dia yang menusuk Aisyara. Dia yang membunuh Dzarwan. Danial hanya—memberi saran."

"SARAN?" Mahira tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Dia MEMANIPULASI Khalil! Dia MENGGUNAKAN perasaan Khalil untuk tujuannya sendiri! Dan tujuan itu—" dia terdiam, pikirannya berputar cepat. "Tunggu. Apa tujuan Danial?"

Isabelle tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduk Mahira berdiri.

"Kalian belum paham?" tanyanya dengan nada mengejek. "Kalian pikir Danial cuma membantu Khalil karena belas kasihan pada adik tirinya? Oh, kalian masih terlalu naif."

"Maksudmu?" Zarvan maju selangkah—mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.

"Danial punya motif sendiri." Isabelle berhenti berjalan. Menatap mereka dengan mata yang tiba-tiba terlihat—sedih? "Dia mencintai Aisyara."

Keheningan.

"Apa?" bisik Mahira.

"Danial—Pangeran Danial—adik tiri Dzarwan yang selalu hidup dalam bayangan kakaknya yang sempurna—jatuh cinta pada Aisyara sejak pertama kali melihatnya." Isabelle tertawa pahit. "Tapi Aisyara bahkan tidak pernah meliriknya. Mata Aisyara hanya untuk Dzarwan. Selalu Dzarwan."

Visi lain tiba-tiba menghantam Mahira.

Dia melihat Danial muda—tampan dengan mata yang penuh kesedihan—berdiri di balik pilar istana, menatap Aisyara yang tertawa bersama Dzarwan. Mata Danial penuh dengan cinta yang tidak terbalas. Cinta yang perlahan—sangat perlahan—berubah jadi kebencian.

"Jadi dia menggunakan Khalil," simpul Zarvan dengan suara datar. "Dia membisikkan ide pembunuhan pada Khalil, membuat Khalil percaya itu satu-satunya cara. Dan saat Khalil membunuh Aisyara dan Dzarwan—"

"Danial bisa menyalahkan Khalil untuk semuanya," Isabelle menyelesaikan. "Dan melarikan diri tanpa konsekuensi. Atau begitulah rencananya."

"Tapi Aisyara mengutuk," kata Mahira pelan. "Sebelum mati, Aisyara melihat Danial berdiri di balik Khalil. Dan dia tahu—dia tahu Danial juga terlibat. Jadi kutukan itu—"

"Mengikat tiga jiwa," Isabelle mengangguk. "Khalil, Dzarwan, dan Danial. Ketiga-tiganya harus bereinkarnasi. Harus bertemu lagi. Dan harus menyelesaikan apa yang tiga ratus tahun lalu tidak selesai."

Mahira menatap Khaerul yang masih terikat di pilar—pingsan atau tertidur, tidak jelas. Lalu menatap kembali ke Isabelle.

"Dan kamu," katanya pelan, "kamu yang mencintai Danial—membuat perjanjian dengan jin agar bisa ikut bereinkarnasi. Agar bisa terus melindungi dia."

"Tepat sekali." Isabelle melangkah lebih dekat. "Dan aku akan terus melindungi dia. Apapun yang terjadi. Bahkan kalau harus—"

Suara teriakan tiba-tiba terdengar dari belakang.

"BAHKAN KALAU HARUS MEMBUNUH KAMI?"

Damian muncul dari kegelapan—tapi wajahnya berbeda. Lebih tua. Lebih lelah. Dan matanya—matanya penuh penyesalan.

"Damian—" Isabelle berbalik dengan wajah terkejut.

"Cukup, Isabelle," kata Damian—atau lebih tepatnya, Danial yang sekarang sadar penuh di dalam tubuh Damian. "Cukup pembohongan. Cukup manipulasi. Aku—aku sudah lelah."

"Apa yang kamu bicarakan—"

"Aku ingat semuanya!" Damian berteriak. Emosinya meledak. "Semua yang aku lakukan tiga ratus tahun lalu! Semua kebencian! Semua manipulasi! Dan aku—" suaranya bergetar, "—aku tidak bisa lagi. Aku tidak bisa terus hidup dengan rasa bersalah ini!"

Isabelle mundur. Wajahnya pucat.

"Kamu—kamu tidak serius—"

"Aku sangat serius." Damian menatap Mahira dan Zarvan. "Maafkan aku. Untuk semua yang aku lakukan. Di kehidupan lalu dan kehidupan ini. Aku—aku tidak pantas minta maaf. Tapi aku harus."

Mahira tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bagian dari dirinya masih marah—masih ingin membalas. Tapi bagian lain—bagian yang Aisyara—merasakan—

Kasihan.

"Kenapa?" tanyanya akhirnya. "Kenapa kamu lakukan semua itu?"

Damian tertawa pahit. "Karena aku cemburu. Karena sejak kecil aku selalu jadi nomor dua. Dzarwan yang tampan. Dzarwan yang pintar. Dzarwan yang dicintai semua orang. Dan aku—aku hanya bayangan kakak tiri yang tidak pernah cukup baik."

"Jadi kamu putuskan untuk menghancurkan hidupnya?" Zarvan bersuara—suaranya rendah penuh amarah yang tertahan.

"Aku tidak—" Damian menutup wajahnya dengan tangan. "Aku tidak berniat membunuh kalian. Aku hanya—aku hanya ingin Aisyara melihatku. Melihat bahwa aku juga ada. Bahwa aku juga—" suaranya tercekat, "—bahwa aku juga bisa dicintai."

"Tapi caramu salah," kata Mahira lembut. "Caramu sangat salah, Danial."

Damian—Danial—mengangguk. Air mata mulai jatuh.

"Aku tahu. Dan aku—aku akan menebus itu. Aku akan—"

"TIDAK!" Isabelle tiba-tiba melesat cepat—berdiri menghalangi Damian dari Mahira dan Zarvan. "Aku tidak akan biarkan kamu menyakiti dirimu sendiri! Aku tidak akan—"

"Isabelle, kumohon—" Damian menyentuh bahunya. "Lepaskan aku. Biarkan aku menebus dosaku."

"TIDAK! Aku sudah tiga ratus tahun melindungimu! Aku tidak akan berhenti sekarang!"

"Maka kamu harus berhenti!" Damian berteriak—lalu suaranya melembut. "Karena aku tidak pantas dilindungi. Aku—aku monster. Dan monster harus—"

Tiba-tiba cahaya hitam meledak dari tubuh Isabelle. Jin yang mendiami tubuhnya keluar—marah karena perjanjiannya akan putus kalau Damian menyerah.

"KALAU BEGITU—" suara jin itu menggelegar, "—KALAU PERJANJIAN PUTUS KARENA DANIAL MENYERAH—MAKA AKU AKAN AMBIL JIWA YANG LAIN SEBAGAI GANTI!"

Jin itu melesat ke arah—

Khaerul.

"TIDAK!" Mahira berlari—tapi terlambat.

Jin itu masuk ke dalam tubuh Khaerul. Mata Khaerul terbuka—tapi bukan mata Khaerul. Mata hitam legam. Mata jin.

Tali yang mengikat Khaerul putus sendiri. Tubuhnya berdiri—tapi gerakannya tidak natural. Seperti boneka.

"Khaerul—" bisik Mahira dengan suara gemetar.

"Khaerul tidak ada di sini," kata jin dengan suara yang bukan suara Khaerul. "Hanya aku. Dan aku—aku akan menyelesaikan apa yang Isabelle gagal lakukan. Aku akan bunuh kalian semua. Dan gunakan darah kalian untuk—"

Suara ledakan tiba-tiba terdengar.

Tim keamanan Papa menyerbu masuk—diikuti Ustadz Hariz yang langsung membaca ayat-ayat pengusir.

Jin di tubuh Khaerul meraung marah. Tubuh Khaerul terlempar ke sana kemari—melawan kendali jin.

"KHAERUL!" Mahira mencoba mendekat tapi Zarvan menahannya.

"Jangan! Jin itu bisa—"

"AKU TIDAK PEDULI!" Mahira melepaskan diri. Berlari ke arah Khaerul. "DIA SEPUPUKU! AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANNYA!"

Dia menggenggam tasbih dan liontin di lehernya—keduanya bercahaya terang. Mahira menyentuh dahi Khaerul yang sedang berteriak kesakitan.

"KELUAR DARI TUBUHNYA!" teriaknya sambil membaca ayat Kursi sekuat tenaga.

Jin itu meraung—mencoba bertahan. Tapi cahaya dari tasbih dan liontin terlalu kuat.

Dengan teriakan terakhir yang memekakkan telinga, jin itu keluar—meninggalkan tubuh Khaerul yang langsung ambruk.

Mahira menangkap tubuhnya—memeluknya erat.

"Khaerul—kumohon—bangunlah—"

Khaerul membuka matanya perlahan. Mata cokelat normalnya. Mata manusia.

"Mahira—" suaranya serak. "Apa yang—"

"Ssshh. Kamu selamat. Kamu selamat."

Ustadz Hariz menghampiri—langsung melakukan ruqyah singkat untuk memastikan tidak ada sisa energi jin.

Sementara itu, Isabelle—tubuh aslinya tanpa jin—jatuh berlutut. Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar.

"Aku—aku bebas?" bisiknya tidak percaya. "Setelah tiga ratus tahun—aku—"

Damian menghampiri. Berlutut di sampingnya.

"Kamu bebas, Isabeau," katanya lembut. "Dan sekarang—sekarang kamu bisa istirahat."

"Tapi—tapi aku mencintaimu—"

"Aku tahu." Damian menggenggam tangannya. "Dan aku—aku tidak pantas mendapat cintamu. Tapi terima kasih. Untuk tiga ratus tahun kesetiaan."

Isabelle—Isabeau—tersenyum. Senyum pertamanya yang tulus.

"Aku akan—aku akan menunggu di—" tubuhnya mulai memudar. Jin sudah pergi. Perjanjian putus. Dan tubuhnya yang diperpanjang secara tidak natural mulai kembali ke usia seharusnya. "—menunggu di sana—"

Tubuhnya berubah jadi debu. Tertiup angin. Menghilang.

Hanya menyisakan liontin bulan sabit dengan ruby merah di tanah.

Damian mengambil liontin itu. Menatapnya lama. Lalu menatap Mahira dan Zarvan.

"Sekarang," katanya dengan suara lelah, "sekarang kalian tahu siapa pengkhianat sebenarnya. Dan kalian—kalian bisa putuskan apa yang harus kalian lakukan pada aku."

Mahira melepaskan Khaerul—menyerahkannya pada Raesha yang baru sampai. Lalu dia berjalan ke arah Damian.

Berdiri di depan paman—atau lebih tepatnya, reinkarnasi Pangeran Danial yang mengkhianati mereka tiga ratus tahun lalu.

"Aku—" Mahira menarik napas panjang, "—aku memaafkanmu."

Damian menatapnya dengan mata melebar tidak percaya.

"Apa?"

"Aku memaafkanmu," ulang Mahira. Suaranya lebih tegas. "Untuk semua yang kamu lakukan. Di kehidupan lalu dan kehidupan ini. Karena—karena aku tahu sekarang. Aku tahu kebencian dan dendam hanya akan perpanjang penderitaan. Dan aku—aku tidak mau terikat lagi. Aku mau bebas."

Zarvan menghampiri. Berdiri di samping Mahira.

"Aku juga memaafkanmu," katanya. Suaranya berat tapi tulus. "Untuk semua yang kamu lakukan pada Dzarwan. Pada Aisyara. Pada—pada kami."

Damian jatuh berlutut. Menangis seperti anak kecil.

"Terima kasih—" isaknya. "Terima kasih—"

Dan saat kata-kata pengampunan itu keluar—saat Mahira dan Zarvan mengucapkan dengan tulus—

Cahaya emas turun dari langit.

Membungkus Damian. Mengangkat tubuhnya perlahan.

"Apa yang—" Damian menatap tangannya yang mulai transparan.

"Kutukan putus," jelas Ustadz Hariz dengan senyum. "Pengampunan sudah diberikan. Dan sekarang—sekarang jiwa Danial bisa pergi. Istirahat dengan damai."

"Tapi—tapi aku belum—" Damian menatap Mahira dan Zarvan dengan mata berkaca-kaca. "Aku belum sempat menebus semua—"

"Kamu sudah," potong Mahira. "Dengan pengakuanmu. Dengan penyesalanmu. Kamu sudah menebus. Sekarang—pergilah. Dan—dan bahagia di sana."

Damian tersenyum. Senyum yang damai.

"Terima kasih," bisiknya terakhir kali sebelum tubuhnya menghilang sepenuhnya.

Yang tersisa hanya liontin Isabeau di tanah.

Dan keheningan.

Mahira merosot—kakinya tidak kuat lagi menahan. Zarvan menangkapnya—memeluknya erat.

"Sudah selesai," bisik Zarvan. "Satu pengkhianat sudah diampuni. Tinggal—"

"Tinggal Khalil," Mahira menyelesaikan.

Mereka berdua menatap Khaerul yang masih tertidur di pelukan Raesha.

Dan mereka tahu—mereka tahu ritual belum selesai.

Karena masih ada satu jiwa yang harus diampuni.

Satu jiwa yang—

"Tunggu," bisik Mahira tiba-tiba. Matanya melebar. "Khaerul—dia—"

Visi terakhir menghantam.

Visi yang menunjukkan kebenaran paling menyakitkan.

Khaerul bukan reinkarnasi Khalil.

Khaerul adalah reinkarnasi—

"Tidak—" Mahira menutup mulutnya dengan tangan. "Tidak mungkin—"

"Apa?" Zarvan menatapnya bingung. "Mahira, apa yang kamu lihat—"

"Khaerul—" suara Mahira bergetar, "—Khaerul bukan Khalil."

"Lalu siapa—"

Mahira menatap Zarvan dengan mata penuh air mata.

"Khaerul adalah reinkarnasi adikmu," bisiknya. "Pangeran Azka. Adik kandung Dzarwan yang—yang dibunuh Khalil karena mencoba melindungi kalian."

***

**BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!