NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

21. TGD.21

Kehidupan Shelly setelah mendapatkan restu keluarga Arkan tidak lantas menjadi santai. Justru, ia kini berada di puncak tanggung jawabnya sebagai direktur Koperasi Maju Makmur Sejahtera. Kesehariannya adalah perpaduan antara manajemen modern dan lumpur sawah yang tetap ia cintai.

---

Pukul lima pagi, saat kabut masih menyelimuti pucuk-pukuk pohon kelapa, Shelly sudah berada di dapur membantu Ibunya. Meski sudah menjadi "orang besar" di desa, ia tetap tidak ingin kehilangan momen mengulek sambal atau menjerang air untuk kopi Bapak.

"Nduk, itu Mas Arkan tadi malam kirim pesan ke Ibu, katanya jangan lupa sarapan sebelum ke sawah blok utara," ujar Ibu sambil menggoreng pisang.

Shelly tersenyum kecil sambil membungkus nasi liwet ke dalam daun pisang. "Mas Arkan itu lebih cerewet dari Ibu kalau soal makan. Padahal dia sendiri kalau sudah di depan maket bangunan sering lupa waktu."

Setelah sarapan singkat, Shelly mengganti sandal jepitnya dengan sepatu bot karet berwarna hitam yang sudah setia menemaninya bertahun-tahun. Ia memanggul tas ransel yang berisi tablet untuk memantau sensor dan botol sampel air. Di saku kemeja flanelnya, terselip pulpen dan buku catatan kecil yang sudah penuh dengan angka-angka.

---

Bagi Shelly, kantor yang sesungguhnya bukan bangunan beton, melainkan pematang sawah. Pagi itu, ia harus mengecek serangan hama wereng hijau yang dilaporkan oleh sistem deteksi dini di blok utara.

"Gimana, Mbak Shelly? Aman nggak sawah saya?" tanya Pak Kardi yang sudah menunggu dengan wajah cemas.

Shelly berjongkok di pinggir galengan, matanya jeli memperhatikan bagian bawah batang padi. Ia membuka aplikasi di tabletnya, mencocokkan pola warna daun dengan data yang ia punya.

"Aman, Pak Kardi. Ini bukan serangan besar. Ini cuma pengaruh cuaca yang terlalu lembap," jelas Shelly sambil menunjukkan grafik di layar tablet. "Kita nggak perlu semprot racun. Cukup kurangi debit air di saluran primer selama dua hari supaya tanahnya agak kering. Nanti werengnya hilang sendiri karena nggak suka tempat kering."

Pak Kardi mengangguk-angguk, meski masih sedikit bingung melihat angka-angka di layar. "Untung ada Mbak Shelly. Kalau dulu, saya pasti sudah habis uang buat beli obat semprot yang baunya minta ampun itu."

"Itu gunanya kita punya data, Pak. Biar nggak boros dan tanah nggak capek," jawab Shelly ramah.

---

Pukul sepuluh siang, Shelly sudah berada di kantor koperasi. Suasana di sana sangat sibuk. Truk-truk pengangkut gabah antre di depan penggilingan, dan suara mesin pemoles beras menderu konstan.

Shelly harus membagi fokusnya. Di satu meja, ia menghadapi perwakilan dari sebuah jaringan hotel bintang lima dari Bali yang tertarik dengan "Beras Anindya".

"Kami butuh kepastian bahwa beras ini konsisten, Mbak Shelly. Tidak hanya organik, tapi teksturnya harus pulen sesuai standar tamu kami," ujar sang manajer operasional.

Shelly menyodorkan semangkuk nasi hangat yang baru saja ditanak dari beras hasil gilingan pagi itu. "Silakan dicoba dulu, Pak. Beras kami diproses dengan suhu rendah saat penggilingan agar nutrisi dan aromanya tidak hilang. Kami bukan cuma menjual beras, kami menjual kesehatan dan cerita di balik setiap bulirnya."

Setelah negosiasi yang alot namun produktif, kontrak baru pun ditandatangani. Shelly menarik napas lega. Setiap tanda tangan di atas materai berarti tambahan tabungan pendidikan bagi anak-anak anggota koperasinya.

---

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat dan sinarnya berubah menjadi keemasan di atas hamparan padi, Arkan biasanya datang menjemput. Bukan dengan mobil SUV-nya, melainkan dengan motor tua milik Abang Shelly yang sengaja ia pinjam agar bisa lebih fleksibel lewat jalan setapak.

Mereka sering menghabiskan waktu di gubuk kecil di tengah sawah, tempat Shelly biasa beristirahat.

"Lelah, Shel?" tanya Arkan sambil menyodorkan botol air mineral.

"Lelah yang menyenangkan, Mas. Tadi kontrak dengan Bali tembus. Pak Kardi juga sudah mulai paham cara baca sistem irigasi meskipun masih pelan-pelan," cerita Shelly dengan mata berbinar. "Kamu sendiri gimana? Proyek renovasi balai desa sudah sampai mana?"

Arkan mengeluarkan gulungan kertas dari tasnya. "Tinggal tahap akhir. Aku pakai material bambu petung yang diawetkan untuk bagian atapnya. Aku mau tunjukkan kalau material desa bisa terlihat mewah kalau didesain dengan benar. Oh ya, aku juga sudah masukkan rencana laboratorium kecilmu di desain rumah kita nanti."

Shelly tersipu. "Masih lama kan itu, Mas?"

"Waktu itu relatif, Shel. Sama kayak nunggu padi panen. Kalau kita nikmati prosesnya, tahu-tahu sudah kuning saja sawahnya."

---

Keseharian Shelly ditutup dengan kegiatan di balai desa setiap Selasa dan Jumat malam. Ia membuka "Sekolah Tani Muda". Ia mengumpulkan para pemuda desa yang dulu hampir semuanya ingin pergi merantau ke kota untuk menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan.

"Jangan mau jadi penonton di tanah sendiri," tegas Shelly di depan papan tulis putih. "Kalian lihat Mas Arkan? Dia orang kota, arsitek hebat, tapi dia mau belajar tentang tanah kita. Kalian yang lahir di sini harusnya lebih hebat. Pertanian masa depan itu bukan cuma soal cangkul, tapi soal data, soal pemasaran digital, dan soal integritas."

Salah satu pemuda, Danu, mengangkat tangan. "Mbak Shelly, kalau nanti kami semua jadi pengusaha beras, siapa yang mau beli?"

Shelly tersenyum. "Dunia butuh makan setiap hari, Danu. Orang makin kaya, mereka makin cari makanan yang sehat dan bersih. Itulah pasar kita. Selama manusia masih butuh makan, petani tidak akan pernah mati—asalkan petaninya mau pintar."

---

Malam larut, saat desa sudah sunyi dan hanya terdengar suara jangkrik, Shelly biasanya duduk di teras rumah kayu bersama Bapak. Mereka sering terdiam dalam keheningan yang nyaman.

"Nduk," panggil Bapak pelan. "Bapak lihat kamu makin sibuk. Tapi Bapak senang, matamu nggak pernah kelihatan redup kayak waktu kamu baru pulang dari kota dulu."

"Iya, Pak. Dulu di kota Shelly merasa kayak robot. Di sini, Shelly merasa... hidup. Setiap butir padi yang tumbuh rasanya kayak bagian dari napas Shelly sendiri."

Bapak mengelus kepala Shelly yang kini tertutup kerudung rumahan. "Terima kasih ya, Nduk. Sudah mau pulang. Sudah mau jadi akar buat pohon yang hampir roboh ini."

Shelly memegang tangan Bapak yang kini sudah tidak sekeras dulu, namun tetap memberikan kehangatan yang sama. Keseharian Shelly mungkin melelahkan, penuh dengan angka, negosiasi, dan tantangan alam. Namun bagi Shelly, tidak ada kemewahan di dunia ini yang bisa menandingi rasa puas ketika melihat seisi desa tersenyum karena hasil tanah mereka sendiri.

Ia adalah Shelly Anindya. Sang Dewi Padi modern yang membuktikan bahwa untuk melihat dunia, ia tidak perlu meninggalkan desanya. Ia cukup membangun desanya hingga dunia datang untuk melihatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!